Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Keberadaan Tania


__ADS_3

Empat jam perjalanan dari rumah sakit H – Jakarta menuju Kota Bandung, persis nya di daerah Lembang. Perjalanan ini benar-benar keputusan yang sangat mendadak, di saat Opa Thamrin dan Oma Helena dapat kabar dari Bu Mimi, jika Marsha datang dan melabrak Tania di rumah sakit.


Namun bukan hanya karena kedatangan Marsha saja, tapi ketika Tania mengeluh perutnya terasa kram, Dokter Irwan memanggil Dokter kandungan untuk memastikan sesuatu di bagian perut Tania.


Kebetulan Tante Shinta juga berada di sana untuk menjenguk Tania dalam waktu bersamaan kedatangan Opa Thamrin dan Oma Helena.


“Tania, perut kamu mengalami kram karena ada tiga calon baby di perutnya,” ucap Dokter Mitra yang masih menempelkan alat transducer di atas perut bagian bawah Tania, sambil menunjukkan layar monitor yang terpampang kantong rahim Tania yang terlihat seperti biji kacang hijau ke Oma Helena dan Tante Shinta.


Seketika itu juga hati Tania hancur berkeping-keping, hal yang di tolaknya ternyata kini berada di dalam perutnya. Tanpa aba-aba air mata mengalir keluar dari ujung ekor matanya, tanpa permisi.


Oma Helena yang turut berada di ruang praktik dokter kandungan, sangat bahagia mendapat kabar tersebut namun sayangnya senyum bahagia itu langsung redup, ketika Tania mulai menangis.


Sedangkan Tante Shinta yang turut ikut menemani agak shock mendengar Tania hamil, dan langsung berpikiran buruk jika Tania memiliki pergaulan bebas, karena menurut cerita dari Arkana, Tania belum menikah.


Oma Helena langsung memeluk Tania ketika wanita itu sudah bangkit dari pembaringannya di atas brankar. Dibiarkanlah Tania meluapkan hatinya yang hancur di pelukan Oma, wanita tua itu hanya bisa mengusap punggung Tania dengan lembutnya, tanpa banyak berkata, karena saat ini yang dibutuhkan Tania adalah menumpahkan isi hatinya melalui air matanya.


Setelah keadaan tenangan, baru Dokter Mira melanjutkan pemeriksaannya. “Usia kandungan cucu Nyonya baru satu minggu, dan ini sangat berisiko untuk mengalami keguguran, mohon di jaga kondisi calon ibu si kembar, nanti akan saya suntikkan penguat rahim dan meresepkan vitamin. Kalau bisa untuk saat ini harus bedrest total,” pinta Dokter Mira.


“Baik, Dokter Mira akan saya jaga cucu menantu saya,” ucap Oma Helena.


Cucu menantu ... Batin Tante Shinta mulai tanda tanya.


Setelah selesai semua diskusi dengan Dokter Mira, mereka kembali ke kamar sebentar. Tante Shinta yang masih mengganjal tentang kehamilan Tania, dengan beraninya wanita paruh baya itu bertanya dengan Oma Helena walau sebenarnya bukan urusan Tante Shinta, namun entah kenapa ada hati yang ingin selalu dekat dan sangat ingin mengenal Tania lebih jauh lagi.


Gayung bersambut, Oma Helena yang melihat kebaikan Tante Shinta menceritakan jika Tania istri kedua dari Albert, sang pemilik perusahaan tempat Arkana kerja dan cukup membuat Tante Shinta kaget. Dan Oma Helena menceritakan kondisi yang terjadi oleh Tania, tanpa sadar kedua netra Tante Shinta berembun, kemudian menatap Tania yang sedang duduk termenung di atas ranjang.


Sungguh kejam sekali orang tua Tania telah menjual anaknya yang baik ke orang lain! ... batin Tante Shinta geram.


Sekarang Opa Thamrin, Oma Helena, Tania, Bu Mimi dan Tante Shinta sudah berada di Lembang Bandung, tepatnya di villa milik Opa Thamrin, yang tidak diketahui oleh Albert.

__ADS_1


Inilah keputusan yang di ambil Oma Helena dan Opa Thamrin membawa Tania jauh dari Albert, dan berdasarkan rekomendasi Dokter Mira yang belum bisa mengizinkan Tania untuk pergi jauh menggunakan pesawat atau perjalanan lebih dari lima jam menggunakan transportasi darat.


Tante Shinta pun menawarkan diri untuk ikut mengantar Tania, dan berjanji akan menutup semua rahasia Tania.


 Bangunan villa yang cukup mewah, ditambah spot panorama yang indah, tempat yang sangat menyejukkan buat refreshing dari segala kepenatan.


“Duduk lah di sini, nak,” pinta Oma Helena, menunjukkan sofa panjang agar Tania bisa merebahkan dirinya sekaligus meluruskan kedua kakinya di atas sofa.


Bu Mimi yang memapah Tania, membantunya untuk duduk dan mengangkat kedua kakinya.


Raut wajah Tania masih terlihat sedih, tatapan sendu nya masih tersirat di kedua netranya, walau bibir tidak berkata namun semuanya ter baca oleh Oma Helena jika Tania menginginkan kehamilan ini.


Oma Helena dan Tante Shinta duduk berdampingan dengan Tania, sedangkan Opa Thamrin berada di ruang kerjanya, sedangkan Bu Mimi berada di dapur untuk menghampiri pelayan yang bekerja di villa.


Sebelum menyiapkan minum dan cemilan untuk Tuan dan Nyonya nya, Bu Mimi mengaktifkan handphonenya dan melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Albert.


“Maafkan saya Tuan Albert, untuk saat ini saya tidak bisa memberitahukan keberadaan Non Tania,” gumam Bu Mimi sendiri, lalu wanita itu mengirim pesan ke Pak Firman memberitahukan jika keadaan dirinya baik-baik saja tanpa banyak bercerita, dan meminta untuk tidak mencarinya.


...----------------...


“Kenapa kalian hadir di perutku ...?” ucap Tania lirih, salah satu tangannya mengusap perut datarnya.


Oma Helena yang duduk di samping Tania mengelus lembut lengan wanita itu. “Mereka tidak bisa memilih ada di mana Tania, namun itu sebuah anugerah buat seorang wanita yang sudah menikah. Ini sudah kehendak Allah, walau kamu terasa berat untuk menerima kenyataan ini,” ucap Oma Helena dengan lembut.


Tania menundukkan kepalanya untuk menatap perut datarnya dan kembali meneteskan air matanya. “T-tapi tidak secepat itu Oma, dan bukan dengan Pak Albert,” jawab Tania, hatinya terasa sesak kembali jika mengingat anak yang di kandungnya adalah anak dari Albert, pria yang kini sangat dibenci nya.


Tania dulu sangat mengagumi Albert sebagai CEO tempatnya bekerja, namun setelah dinikahi oleh Albert dan menerima perlakuan kasar dari pria itu, rasa mengagumi itu mulai terkikis, sekarang yang tumbuh hanyalah rasa kecewa dan benci. Andaikan Albert dari awal bersikap biasa saja, walau pria itu tidak mencintainya, mungkin kehamilan ini membuat Tania sangat bahagia.


...----------------...

__ADS_1


Hotel Pasific


Restoran


Marsha setelah kecewa dengan sikap Albert yang meninggalkan dirinya ketika menangis, tetap memutuskan untuk bertemu dengan temannya Jelita. Rupanya di saat tiba di restoran sudah ada beberapa teman yang lain termasuk Robby sang sutradara terkenal.


“Kamu masih saja terlihat sexy dan cantik ya, Sha,” ujar Robby memuji dengan mengerlingkan kedua netranya.


“Bukankah memang seorang model dituntut untuk selalu cantik dan sexy, Pak Robby,” jawab Marsha dengan suara yang terdengar manja. Wanita itu langsung menyilangkan kedua kakinya agar semakin tersingkap dress mininya, hingga paha mulusnya terlihat jelas di hadapan Robby.


“Ngomong-ngomong Pak Robby lagi cari artis pemeran utama buat film terbarunya, ya?” tanya Jelita, yang duduk di samping Marsha.


“Ya ... saya mau buka casting untuk artis film terbaru. Kalian berdua berminatkah buat mencoba nya?” tanya Robby, sambil menyesap kopi espresso nya.


Marsha dan Jelita saling bertatapan. “Ada persyaratan kah agar bisa lolos castingnya Pak Robby?  Pak Robby kan tahu kalau aku sudah lama berada di dunia entertainment,” ucap Marsha, lalu wanita itu pindah duduknya ke samping Robby, dan salah satu tangannya meraba paha pria itu dengan gemasnya.


  bersambung......📝


 Kakak Readers jangan lupa tinggalin jejaknya ya 😊😊


Lope-lope sekebon 🍊🍊🍊🌻🌻🌻🌹🌹🌹


 Sambil menunggu up selanjutnya, mampir yuk ke karya Lady Mermad.



 


 

__ADS_1


 


__ADS_2