Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Pindah ruangan


__ADS_3

Albert memindai wanita paruh baya yang dipanggil Tante Shinta dari ujung kaki sampai ujung rambut menurutnya secara penampilan Tante Shinta seperti orang berkelas sama dengan dirinya, dan tak bisa di remehkan atau di pandang sebelah mata.


“Bagus kalau begitu,” jawab Albert datar, pria itu kembali melangkahkan kakinya menuju ranjang Tania, terlihat Arkana belum beranjak dari duduknya di tepi ranjang. Sedangkan Gerry menunggu di luar ruangan.


“Untuk kalian berdua, saya harap besok kembali bekerja. Hari ini saya maafkan kalian tidak masuk kerja, tapi besok harus masuk, jika tidak bekerja ... Maka akan ada surat pemberitahuan pertama buat kalian berdua!” ucap tegas Albert, dengan tatapan dinginnya.


Kia langsung lemas mendengar ancaman Albert, sedangkan Arkana terlihat tenang. Tatapan Tania agak sedih ketika melihat Arkana dan Kia secara bergantian, gara-gara dirinya kedua temannya bisa kena sanksi administrasi. Dan sudah jelas wanita itu menjadi kesal dengan Albert yang menatap dirinya.


“Pak Albert, tolong jangan kasih ancaman buat kedua teman saya, ini salah saya karena keadaan musibah yang menimpa saya, mereka jadinya ke sini. Kalau bapak sampai memberikan SP 1 ke mas Arkana dan Kia, sebaiknya Bapak pecat saya saja sekarang juga! Lagi pula saya hanya staf biasa yang bisa di gantikan oleh siapa pun, betulkan!” ucap Tania, dengan tatapan dinginnya.


“Memang salah apa ya kalau ada yang menjenguk teman kerja sakit,” gumam Tania sendiri, sangat pelan, namun masih terdengar di kedua telinga Albert, karena jarak mereka sangat dekat.


“Oh ya satu lagi Pak Albert, saya kan hanya staff biasa, suatu kehormatan di jenguk oleh CEO nya. Tapi buat saya agak risih kalau di jenguk oleh seorang CEO, jadi sebelumnya terima kasih Bapak telah menjenguk. Jika sudah tidak ada kepentingan lagi mungkin Bapak bisa kembali beraktivitas,” kata lanjut Tania tanpa senyum, mengusir pria itu secara halus, karena dia merasa agak aneh, sudah dua kali di datangi oleh CEOnya.


Lidah Albert berdecak kesal, wanita itu mulai membuat emosi pria itu naik. Ingin rasanya pria itu menyumpal mulutnya pakai dasi yang di kenakannya.


Lancang sekali kamu mengusir saya!


Kia rasanya ingin merutuki dan mengetuk kepala Tania yang telah  berani mengusir CEO mereka, sifat bar-bar Tania mulai keluar.


“Baik nanti akan saya pikirkan kembali, kalau kamu minta dipecat!” jawab Albert dengan menyeringai tipis.


“Bagus deh,” celetuk Tania.


Ah semakin geram Albert, setelah kembali di jawab enteng oleh Tania, di tambah dengan wajah polos yang diperlihatkan oleh Tania.


“Saya pamit, semoga kamu cepat sembuh,” ucap Albert, dengan sengaja punggung tangan pria itu menyentuh lengan Tania, namun gerakan tangan Tania begitu cepat untuk menarik lengannya agar tak lama bersentuhan dengan pria itu.


Bos yang aneh....batin Tania.

__ADS_1


Baru saja pria itu keluar dari ruang rawat yang di tempati Tania, belum ada lima menit beberapa perawat masuk ke dalam.


“Permisi Ibu, Bapak ... atas nama pasien Tania Kanahaya, sore ini kita akan pindah kamar,” ucap salah satu perawat.


Tante Shinta mendekati perawat tersebut. “Maaf Suster kok pindah kamar, saya tidak mengajukan pindah kamar, lagi pula saya sudah deposit biaya perawatannya.”


“Maaf Bu, ini atas perintah pemilik rumah sakit di sini, pasien Tania Kanahaya akan pindah ruangan di ruang eksekutif, dan untuk uang deposit ibu bisa di ambil, karena semua biaya sudah di tanggung oleh pemilik rumah sakitnya,” kata perawat tersebut.


Tante Shinta, Arkana dan Kia sentak terkejut lalu menatap ke arah Tania. Apa hubungan Tania dengan pemilik rumah sakit?


“Tania, loe kenal sama pemilik nih rumah sakit?” tanya Kia.


“Enggak kenal.” Wanita itu mengangkat kedua bahunya saja.


Empat orang perawat yang sudah masuk langsung mendorong ranjang yang di tempat Tania tanpa banyak bertanya kembali, mereka hanya menjalankan tugas dari atasannya.


...----------------...


Tania tidak bisa berbuat apa-apa di atas ranjang hanya bisa pasrah, terserah  dirinya mau di pindah ke mana.


Namun tak di sangka ternyata ruang kamar yang akan ditempati nya lumayan besar dan terkesan mewah, gak kaleng-kaleng, melebihi ruang rawat kelas VIP.


Siapa pemilik rumah sakit ini, kayaknya gak pernah kenal orang-orang penting dan hebat ... Gumam batin Tania.


Kia yang baru pertama kali masuk ke ruang rawat eksekutif juga terpukau, berasa masuk ke kamar hotel suite presiden, mulai dari dekor dan furniturenya terkesan nyaman buat pasien, dan tidak terasa kalau berlama-lama di sini.


Tante Shinta dan Arkana tampak biasa saja, bukan hal yang baru buat mereka berdua. Lalu mereka berdua meletakkan barang belanjaan serta tas milik Tania di dalam lemari yamg tersedia.


“Mohon maaf Ibu dan Bapak, mulai saat ini pasien tidak boleh ditunggui di dalam kamar, nanti akan ada perawat yang menjaga di dalam karena ini untuk mempercepat masa pemulihannya, jadi mohon pengertian dan di maklumkan karena ini atas perintah dokter. Jika ingin menjenguk nanti ada jamnya, jadi pasien bisa full istirahat,” kata sang perawat.

__ADS_1


Salah satu perawat sudah menyuntikan cairan di dalam infus Tania, membuat kedua netra wanita itu tiba-tiba berat, ingin dipejamkan.


“Tania, kamu enggak pa-pa kan sendiri di sini. Kami tidak boleh menemani kamu?” tanya Tante Shinta.


“Gak pa-pa Tante, lagi pula akan ada perawat yang menemani,” jawabnya.


Tante Shinta merasa tidak enak meninggalkan Tania, tapi harus ditinggalkan, maka dari itu mereka bertiga berpamitan, dan akan berkunjung saat jam besuk. Sungguh luar biasa kekuatan sang pemilik rumah sakit, gara-gara tidak suka dengan satu pria yang dekat dengan Tania, akhirnya semua orang tidak boleh menemani Tania di ruang rawat inap.


Wanita itu mulai memejamkan kedua matanya, dan sudah tentu seorang diri di kamar yang begitu luasnya.


...----------------...


Perusahaan Maxindo.


Albert menyempatkan diri untuk ke perusahaannya, karena ada beberapa berkas yang belum selesai di cek dan di approve, dan menurut Gerry berkas itu sangatlah penting.


BRAK!


Tiba-tiba saja pintu ruangan CEO terbuka dan terbanting saat di tutup. Albert mengangkat wajahnya, melihat siapa yang telah berani membanting pintu di hadapannya. Berdirilah sosok wanita cantik dengan pakaian sexy dan minimnya, sedang berkacak pinggang.


“Apakah sikap sopanmu sudah hilang, Marsha!” tegur Albert, dengan memicingkan kedua netranya.


Wanita itu mulai menunjukkan emosinya, lalu mendekati suaminya. “Apa maksud Kak Albert semalam tidak tidur denganku lalu pergi tanpa berpamitan denganku seperti biasanya, dan apa maksudnya Kak Albert membawa seorang wanita di mansion kita!” gertak Marsha, yang sedang terbakar api cemburu.


“Oh Clara ... Dia sudah tiba di mansion!” balas Albert dengan sikap tenangnya.


Bersambung......


Kakak Readers yang ganteng dan cantik jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen, vote, dan lain-lainnya. Dan terima kasih buat Kakak Readers yang sudah memberikan votenya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2