Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Albert memohon maaf


__ADS_3

Setiap perbuatan pasti ada balasannya baik itu perbuatan baik atau perbuatan buruk. Dan tidak mesti orang yang bersangkutan yang membalas segala perbuatan, terkadang justru dari orang lain. Seyogianya hal itu menjadi pengingat untuk diri sendiri sebelum bertindak.


Seperti yang Albert hadapi saat ini, buah dari hasil perbuatannya sendiri, dan harus bisa menerima akibatnya.


Kisah cinta Albert dan Tania, bukan kisah cinta yang indah, mereka bersatu karena sebuah keterpaksaan, walau di benak Tania ... dulu menyimpan rasa kepada orang yang menikahinya, sedangkan Albert seiring waktu hatinya jatuh kepada wanita yang dibelinya, sungguh hal di luar kuasa siapapun.


Setelah hampir memasuki waktu empat bulan, mereka bertemu kembali dalam keadaan yang menyakitkan untuk salah satu pihak. Yang satu selalu berharap untuk tidak bertemu kembali, yang satu selalu berharap untuk bertemu dengan orang yang telah berhasil mencuri hatinya, yang telah berhasil memalingkan hatinya dari wanita yang selalu dia jaga kesetiaannya untuk wanita yang bernama Marsha.


Tak akan ada yang pernah menyangka pria yang selalu bersikap dingin dan sedikit arogan terlihat rapuh di hadapan wanita bernama Tania Kanahaya, wanita yang sering dihujatnya.


Pria itu masih menatap lekat-lekat wajah istri satu-satunya, tatapan yang penuh kerinduan begitu dalamnya, bibirnya bergetar ketika ingin berucap. Namun tetap saja Tania diam seribu bahasa, hanya bisa menatapnya tanpa ekspresi.


Albert yang berlutut di hadapan Tania, menangkupkan kedua tangannya. “Aku minta maaf, aku memohon maaf atas segala kesalahanku,” ucap Albert, suaranya terdengar agak tercekat.


Opa Thamrin, Oma Helena serta Mama Shinta hanya bisa menyaksikan, begitu pula dengan perawat serta orang-orang yang berada di sekelilingnya, ada pula yang mengabadikan kejadian langkah tersebut dengan handphonenya. Siap-siap akan ada gosip yang beredar.


Tania ingin sekali mengalihkan pandangannya dari pria yang dulu dikaguminya, namun tak bisa, seakan ada yang memegang kepalanya untuk terus menatap Albert. Dalam hidupnya baru kali ini ada pria yang berlutut di hadapannya, dengan kedua netranya yang basah. Namun hati Tania seakan tak ada rasa ketika melihatnya, hilang begitu saja, mungkin karena rasa kecewanya yang begitu dalam.


“Bicaralah Tania, jangan diamkan aku. Aku mohon,” pinta Albert.


“Marahlah padaku, jangan diamkan aku! Marahlah padaku sepuas hatimu, kepada suami brengsekmu ini!” Tak kuasa hati Albert di acuhkan oleh Tania, pria itu mulai frustasi.


“T-tolong jangan diamkan aku, istriku,” ucap Albert dengan linangan air mata.


Tubuh Tania tiba-tiba saja berdesir dikala Albert mengucapkan kata istri.


“A-aku rela mendapatkan hukuman apapun darimu, namun aku mohon maafkan aku, jangan diamkan aku seperti ini. A-aku sangat merindukanmu, Tania.”

__ADS_1


Seketika itu juga Tania langsung menundukkan kepalanya, salah satunya tangannya mengusap perutnya yang tiba-tiba saja berkedut, suara rintihan kesakitannya terdengar walau pelan, perutnya semakin mengencang. Suara rintihan kesakitan Tania terdengar walau tidak terlalu kencang, Albert yang kebetulan ada di hadapannya langsung melihat raut wajah Tania.


“Kenapa Tania?” tanya Albert mulai cemas.


Tania masih diam namun terlihat wajahnya seperti orang kesakitan, Albert memberanikan dirinya mengulurkan tangannya ke perut Tania. “Anak papa kenapa? Mama kesakitan sayang ... ini papa nak. Jangan nakal di perut mama, kasihan sama mama ya nak,” ucap Albert sangat lembut walau bibirnya bergetar, akan tetapi tangannya mengusap-usap perut bulat Tania.


SERR!


Hati Tania terasa bergetar, seperti kena sentruman.


Oma Helena mengusap ujung ekor matanya begitu juga dengan Mama Shinta, entah kenapa tiba-tiba moment ini sangat menyentuh siapapun yang melihat. Termasuk pengunjung rumah sakit yang menyaksikan dari awal.


Sentuhan tangan Albert ternyata mampu menghilangkan rasa sakit di perut Tania yang tiba-tiba menegang dan berkedut. Tangan Tania dan Albert hampir saja bersentuhan, dengan terpaksa pria itu menarik tangannya dengan wajah yang terlihat kikuk, sedangkan Tania akhirnya mengalihkan tatapannya.


“Maaf, aku tidak sengaja menyentuhnya.”


Perawat yang berada di belakang kursi roda, terlihat melirik rekan sejawatnya seakan memberi kode.


“Oh ... maaf suster.” Albert akhirnya berdiri dan memberikan jalan untuk mereka, kontrol ke dokter lebih penting menurut Albert. Akan tetapi pria itu mengekori mereka yang mengantar Tania.


“Pak Albert,” panggil Gerry, sembari memberikan tisu.


Albert mengambil tisu tersebut, lalu mengusap air matanya. Semua orang memandang Albert juga Tania.


Breaking News


Mantan suami Marsha ada di rumah sakit H Bandung, terlihat sedang menemui seorang wanita berbadan dua. Dengar-dengar wanita berbadan dua itu bernama Tania. Ternyata Tania lebih cantik dari pada Marsha. Pantas saja Albert berpaling dari sang model Marsha.

__ADS_1


Video Albert berlutut di hadapan Tania beredarlah di dunia maya dalam hitungan menit, bukan lagi hitungan jam.


...----------------...


Mama Shinta, Oma Helena dengan terpaksa membungkam mulutnya ketika Albert turut masuk ke ruang praktek Dokter Dewi, demi menjaga ketenangan di rumah sakit, dan mencegah keributan untuk sementara.


Namun sayangnya walau Albert turut masuk ke dalam, pria itu hanya bisa berdiri jauh dari jangkauan Tania, karena sorot mata Tania yang terlihat sangat tidak menyukai kehadirannya. Dokter Dewi hanya bisa melirik antara Tania dan Albert, yang terlihat masih bersitegang.


Tania sudah naik ke atas brankar di bantu oleh salah satu perawatnya, kemudian perutnya di olesi gel sebelum melakukan USG.


“Saya mulai ya Nyonya, kita periksa kondisi si dede nya ya,” ucap Dokter Dewi, sembari menempelkan transducer di kulit perut bulat Tania.


Albert hanya bisa menatap layar monitor ukuran 32 inci, dan memperhatikan gambar yang ada di monitor.


“Coba dilihat si triplenya Nyonya, tubuhnya sudah lengkap ada tangannya, kakinya, kepalanya walau ukurannya masih kecil, mereka bertiga baru sebesar buah alpukat,” ucap Dokter Dewi sembari menggerakkan alat transducer di perut Tania.


Albert untuk pertama baru kali ini melihat calon ketiga anaknya di layar monitor, mulai terisak menangis ... terdengar jelas suara tangisnya di ruangan tersebut. Hatinya tak karuan  antara bahagia, haru namun juga sedih karena hubungannya dengan Tania belum bisa dibilang membaik.


Oma Helena yang awalnya masih lihat layar monitor, beranjak dari duduknya lalu menghampiri pria yang berpostur tinggi gagah.


Pria itu langsung mendekap Oma Helena. “Me-mereka a-anakku Oma, a-aku papa nya,” ucap Albert, dalam isak tangisnya. Bagaimana tidak menangis pria itu, pria itu sudah lama menanti kehadiran seorang anak selama empat tahun, dan baru kali ini terwujud. Oma Helena hanya bisa menepuk punggung Albert, menenangkan cucunya.


bersambung ......


"Aku akan berjuang mempertahankan rumah tangga kita, Tania!" gumam Albert bermonolog.


__ADS_1


 


 


__ADS_2