Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Menemani Tania


__ADS_3

Cukup lama Tania menonton video konferensi pers Albert, raut wajahnya begitu serius namun terkadang menghela napas panjang nya, sedangkan Albert masih setia duduk di tepi ranjang menatap wajah serius istrinya.


Perasaan Tania agak bingung dengan pernyataan Albert di konferensi persnya, namun terselip rasa terkejutnya akan pengakuan Albert jika dirinya adalah istrinya, di tambah buku nikah yang di tunjukkan oleh Gerry. Sejak kapan Albert telah meresmikan pernikahannya secara negara? Itu yang terlintas di benak Tania.


Video yang di tunjuk oleh Albert telah selesai di tonton, kemudian wanita itu mengembalikan handphone milik Albert.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Tania, malah wanita itu menarik selimutnya yang sedikit turun, agar menutupi perut bulatnya.


Lalu tak lama merebahkan dirinya di ranjang tanpa menatap wajah Albert. Pria itu jadi heran, kenapa Tania diam saja, tidak ada tanggapannya.


“Kamu, baik-baik sajakan?” Albert berharap Tania menunjukkan reaksinya setelah melihat video tersebut, mungkin terharu, terkejut atau bahagia ... namun yang terjadi ...datar! Tidak sesuai dengan ekspetasi yang di harapkannya.


“Aku mengantuk pengen tidur,” sahut datarnya.


“Ya sudah istirahatlah, biar mama si baby triple cepat sehat,” jawab Albert pasrah, dan kecewa ... tapi tak berdaya. Pria itu mengingatkan diri sendiri untuk tidak memaksa, dan menekan egonya.


Setelah melihat Tania memejamkan kedua matanya, pria itu kembali duduk bersama dengan yang lainnya.


“Tidak ada tanggapan dari Tania?” tanya Mama Shinta yang tahu jika Tania telah menonton berita Albert.


“Tidak ada Mam, malah katanya ngantuk.”


“Sabar Albert, sebuah nya butuh proses, yang penting Tania sudah mengetahuinya,” sambung kata Oma Helena.


“Mam, izinkan malam ini aku tidur di sini menemani Tania,” ucap Albert.


Mama Shinta langsung melirik Oma Helena, seraya mencari dukungan yang lain atas permintaan Albert.


“Gak pa-pa Shinta, biar Albert yang menjaga istrinya, kita yang sudah tua sebaiknya istirahat di hotel, lagi pula diakan suaminya Tania, bukan orang lain,” sahut Oma Helena.


Mama Shinta mendesah sembari menganggukkan kepalanya. “Ingat Albert, jangan bikin anak mama kesal, ibu hamil tuh moodnya gampang berubah. Dan kamu juga jangan ikutan emosi kalau Tania marah, kalau enggak mama cabut restu buat kamu,” ancam Mama Shinta dengan tatapan matanya yang mendelik tajam.


“Siap Mam, Albert akan belajar tahan emosi,” ucap janji Albert.


“Jangan janji aja Albert, tapi di bukti kan,” sambung kata Opa Thamrin.


“Siap Pak Bos!” seru Albert, berusaha meyakinkan ketiga orang tua tersebut.


Tania yang pura-pura tidur, sayup-sayup mendengar perbincangan mereka berempat. Ck ... kenapa juga dia yang nemenin gue di sini.

__ADS_1


Si Bumil menggigit ujung selimut yang di kenakannya ... gregetan, pengen sekali berteriak agar Albert tidak menemaninya dirinya. Dia sengaja bilang mengantuk karena ingin menghindari pria itu, dan untuk sementara dia tidak ingin bicara dengan suaminya. Walau bagaimana pun Tania masih bingung harus bersikap apa ke Albert, yang ternyata sudah membersihkan namanya serta mengakui keberadaannya, meski dia sudah terlanjur kecewa, namun semua yang di lakukan Albert sebenarnya menyentuh hati kecilnya.


Sehabis berbincang santai sekitar jam 10 malam, Mama Shinta, Opa Thamrin dan Oma Helena pamitan untuk beristirahat di hotel, Albert hanya mengantar sampai pintu lift saja, kemudian kembali ke ruang rawat.


Sekembalinya ke ruangan, pria itu membersihkan muka, tangan dan kedua kakinya, lalu kembali menghampiri ranjang Tania.


Tania masih memejamkan matanya, namun jantungnya berdebar-debar. Walau kedua netranya tertutup, dia bisa memastikan jika Albert duduk di tepi ranjang karena aroma maskulin pria itu menguar sampai ke indra penciumannya.


Tangan pria itu terulur mengapai perut bulat Tania, kemudian mengusap lembut.


“Anak-anak papa sama mama, sehat-sehat ya di perut mama. Papa bahagia mama kalian mengandung anak-anak papa. Tahukah nak, sejak awal melihat mama kamu untuk pertama kali, papa memang menginginkan mama yang mengandung anak papa. Eh ternyata ketemu lagi sama mama kalian, nak,” gumam Albert sendiri, tangannya masih mengusap perut bulat Tania.


Sebentar-sebentar ... Maksudnya pertama kali yang mana nih Pak Albert ... yang waktu kejadian tumpahin kopi bukan?


Tania tidak menggubris tangan pria itu yang mengusap perutnya, karena sedang menyimak ucapan Albert dan masih pura-pura tidur.


“Kalian tahu tidak nak, saat papa tahu mama mengandung kalian, dan pergi menghilang ... entah kemana! Hati papa sangat hancur, papa sudah berusaha mencari mama kalian tapi tidak ketemu. Baru kali itu papa merasa kehilangan seseorang dan seseorang itu mama kalian, Mama Tania,” ucap Albert lirih.


Ck ... bohong banget bilang merasa kehilangan .... Batin Tania menyanggah.


Albert memajukan wajahnya ke perut bulat Tania, lalu mengecupnya dengan lembut dan lama.


“Nak bantu papa ya, papa sangat mencintai mama kalian, sayang. Tapi mama masih marah sama papa. Papa harus bagaimana?”


DEG!


SERR!


Jantung Tania tiba-tiba saja berdenyut, tanpa di sadarinya wanita itu menggigit bibir bawahnya, untungnya Albert tidak melihatnya.


Me-mencintai gue ... maksudnya????


Tiba-tiba saja di dalam perut Tania ada yang bergerak.


“Akh....” Tania tersentak kaget, begitu pula dengan Albert yang masih mengusap perut Tania, bisa merasakan ada yang bergerak.


Terpaksa Tania membuka matanya, dan Albert yang melihat Tania terbangun langsung menarik tangannya dari atas perut bulat Tania.


“Kamu gak kenapa-napa kan? tadi aku merasakan anak kita bergerak.”

__ADS_1


Tania menghembuskan napasnya dan membulatkan kedua matanya.


“Maaf kalau aku lancang pegang perut kamu, aku kangen sama anak-anak kita,” kata Albert pelan, setelah dapat pelototan dari Tania.


Wanita itu memiringkan tubuhnya dan memunggungi Albert.


Sabar ... Sabar Albert.


Albert hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya, tapi setelahnya mencondongkan wajahnya ke daun telinga Tania.


“Mama nya anak anak, maafin papa ya, selamat mimpi yang indah,” bisik Albert, lalu mengecup daun telinga Tania. Bulu halus wanita itu langsung merinding seketika di saat napas hangat pria itu berembus di tengkuknya ditambah adanya benda kenyal mengecup daun telinganya.


Pria itu tersenyum hangat walau Tania tidak meresponsnya, kemudian pria itu pindah tempat ke bed tambahan yang ada di samping ranjang Tania.


Sepertinya Pak Albert butuh ke dokter jiwa ... Aneh! Batin Tania.


 


bersambung .....


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2