
Wajah Albert berseri-seri saat keluar dari kamar mandi dengan kedua tangannya membopong Tania, bagaimana wajah Albert tidak berseri-seri setelah dapat asupan vitaminnya setelah empat bulan berpuasa.
Kepala Tania hanya bisa bersandar di bahu Albert, ingatannya masih terbayang dengan adegan mesra yang terjadi di bathtub.
“I love you, istriku, Tania,” bisik Albert ketika mendudukkan Tania di tepi ranjang yang hanya menggunakan handuk kimono.
“Sayang, capek ya?” tanya Albert.
“Ck ... gara-gara papa nih,” keluh Tania, sembari mengayun kedua kakinya yang tergontai.
“Tapi kan Mama juga, yang sangat menggoda Papa,” jawab Albert genit. “Tapi papa suka kalau mama kayak begini sama papa ... Bikin gemes.” Albert cubit gemes pipi Tania.
“Pipiku sakit Papa,” gerutu Tania memonyongkan bibir ranum yang sudah membengkak akibat ulah Albert yang terlalu buas.
“Papa ambil baju dulu ya, Mama tunggu di sini saja,” pinta Albert, pria itu bergegas ke ruang walk in closet, mengambil baju Tania dan baju untuknya, lalu kembali menghampiri istrinya.
Albert sengaja memilih dress hamil untuk Tania yang warnanya senada dengan kaos santai yang akan di pakainya, berwarna biru laut.
“Sini sayang, papa pakaikan bajunya dulu,” pinta Albert, yang sangat memperhatikan dan memanjakan Tania.
“Pah, biar aku pakai sendiri aja,” tolak Tania, dia malu kalau di urusi sama Albert. Pria itu menghiraukan penolakan Tania, tangannya bergegas membantu Tania memakaikan pakaiannya, setelahnya baru dia memakai bajunya di hadapan istrinya. Handuk putih yang hanya menutupi bagian pinggang Albert terjatuh di lantai, wajah Albert terlihat santai ... dan tampak poloslah di hadapan Tania.
GLEK!
Walau sudah merasakan, tetap aja Tania kalau lihat benda pusaka Albert ... bikin tercengang ... Dasar lobak import!
Pantas saja rasanya ... Ah tak bisa di gambarkan ... batin Tania.
“Sayang, kita turun ke bawah, sudah jam makan malam, pasti mereka sudah menunggu. Dan ingat apa yang sudah papa wanti-wanti ya,” ucap Albert, melihat jam dinding menunjukkan waktu 19.15 wib.
Tania duduk di meja rias, untuk merapikan penampilannya. “Iya Papa ganteng, mama ingat kok,” celetuk Tania.
Rambut Tania masih terlihat basah, Albert mengeluarkan hairdryer dari laci meja rias dan langsung mengeringkan rambut panjang Tania.
“Astaga Papa, lihat leherku kok pada merah-merah semua!” Kedua netra Tania terbelalak saat melihat dirinya di cermin.
“Itu tanda cinta Papa, jangan ditutupi,” balas Albert.
__ADS_1
“Aku malu Pah, kalau di lihat sama mama, oma ...” gerutu Tania.
Pria itu mematikan hair dryer, dan meletakkannya di atas meja rias. Pria yang masih berdiri di belakang Tania, kembali memajukan wajahnya, lalu mencium tengkuk Tania, menyesapnya dengan lembut, hingga meninggalkan kissmark baru.
“Kalau di dalam mansion, jangan sesekali menutupi tanda cinta dariku, papa gak suka,” bisik Albert, lembut tapi tegas. Tania mendesah panjang, kalau suaminya sudah mintanya seperti itu.
“Tapi kalau pergi keluar mansion bolehkan Pah di tutupi, aku kan malu kalau di lihat orang banyak.”
“Boleh,” jawab singkat Albert.
Albert segera meraih tangan Tania untuk di genggamnya, dan mengajaknya untuk turun ke bawah.
Tania jadi geleng-geleng kepala dengan sikap Albert yang sangat jauh berbeda ketika awal dia dinikahi, membuat hatinya selalu berbunga-bunga dan nyaman di samping suaminya.
...----------------...
Ting ...
Suara pintu lift terbuka, Albert dan Tania keluar dari lift. Tak sengaja Clara melihat mereka berdua.
Albert dan Tania tidak melihat Clara karena arah mereka berbeda. Clara menuju dapur kering, sedangkan Albert dan Tania menuju ruang makan.
“Aduh yang lagi berduaan di kamar sampai lupa ada kita-kita yang orang tua nungguin di ruang makan, hampir saja Oma mau pingsan menahan lapar,” gerutu Oma Helena, tapi wajahnya nyengir. Tak sengaja kedua mata Oma Helena melihat leher Tania merah-merah.
Wah ganas amat si Albert ... leher istrinya udah kayak totol macan ... Batin Oma Helena.
“Maaf semuanya kalau menunggu lama, maklumlah namanya juga pasangan baru,” balas Albert, mengulas senyum lebarnya.
Albert menarik kursi kosong untuk Tania. “Makasih Pah.” Setelahnya pria itu mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Tania.
“Kayaknya menantu Papa, habis dapat suplemen nih. Wajahnya tambah terlihat berseri-seri,” celetuk Papa Dimas.
Albert garuk-garuk tengkuknya yang tak gatal. “Papa Dimas tahu aja,” balas Albert, jadi agak malu pria itu.
Setelah semuanya berkumpul lengkap di ruang makan, para maid menghidangkan makan malam istimewa. Bu Mimi, Yuyun khusus melayani menu makanan untuk Tania.
Gisel dan Clara mengurus yang lainnya, namun kedua orang tersebut main lirik-lirikan.
__ADS_1
“Bu Mimi sudah mencicipinya?” bisik Tania ketika Bu Mimi menghidangkan makanan untuknya. “Makanan yang saya hidangkan, aman Nyonya ... sudah saya cicipi terlebih dahulu,” balas berbisik Bu Mimi, tanpa membuat kecurigaan.
Perut Tania sudah lapar sekali, apalagi habis dikerjai suaminya. Sebelum Tania makan, Albert terlebih dahulu mencobanya satu sendok, lalu diam selama lima menit. Dirasa aman di perutnya, baru memperboleh Tania memakannya.
Setelah selesai menghidangkan makan malam, Clara, Gisel bersama Yuyun kembali ke dapur kering, untuk mengambil menu penutupnya. Gerry yang tidak turut makan malam, memperhatikan dua wanita itu.
“Yuyun, nanti buatin saya kopi pahit ya, terus anterin ke sini ya,” pinta Gerry saat Yuyun melewatinya, sambil memberikan kode.
“Baik Pak Gerry, segera saya buatkan,” balas Yuyun.
Sesampainya di dapur kering, Gisel dan Clara terlihat biasa saja, mereka berdua terlihat sibuk mengambil beberapa buah untuk di buat jus, kemudian mengambil puding dari dalam lemari pendingin, sedangkan Yuyun sibuk membuat kopi buat Gerry.
Tanpa sepengetahuan Clara dan Gisel, Yuyun meletakkan handphone di salah sudut yang menyorot aktivitas Clara, agar dapat terlihat jelas, serta menempelkan alat penyadap yang sudah tersambung di earphone Gerry di balik meja dapur. Bimo sudah sejak dari tadi standby di ruang keamanan, memantau CCTV.
Sesekali Clara melirik Yuyun yang masih ada di dapur kering, begitu juga dengan Gisel, memperhatikan Yuyun dan beberapa maid yang masih bolak balik ke dapur kering.
Sekitar sepuluh menit, Yuyun sudah selesai membuatkan kopi, kemudian beberapa maid yang lain meninggalkan dapur kering, tinggallah Gisel dan Clara, yang sedang mengupas buah untuk bikin jus.
“Akhirnya mereka keluar juga,” celetuk Clara lega, kedua netranya memindai ke sudut dapur kering, memastikan keadaan aman.
“Hush ... jangan kencang-kencang ngomongnya,” sahut Gisel, sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.
“Ups ... sorry.”
Gisel mendekatkan dirinya ke Clara. “Lo jadi mau—?”
“Jadilah, menurut lo ... bisa campur ke jus ini kan?” tanya Clara sedikit berbisik.
bersambung ....... siap-siap terima nasib Clara dan Gisel!
...----------------...
Apa rasanya ketika kamu melihat tunanganmu berhubungan intim dengan wanita lain, dan wanita lain itu sangat kamu kenal!! Pasti akan sangat menyakitkan! Itulah yang dilihat oleh gadis yang bernama Ayasha Elshanum.
Stay Tune di tanggal 1 April 2023
__ADS_1