Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Maafkan Aku, Istriku


__ADS_3

Opa Thamrin selama perjalanan menuju Bandung, belum menyadari jika di ikuti oleh orang suruhan Albert. Leo asisten Opa Thamrin sibuk mengecek Ipadnya, sesaat pria paruh baya itu mengernyitkan dahinya hingga berlipat-lipat.


“Tuan Besar, sebaiknya Tuan melihat video ini,” pinta Leo sembari menyodorkan Ipadnya.


Opa Thamrin menerima Ipad tersebut kemudian menyaksikan video tersebut untuk beberapa saat.


“Sepertinya Tuan Muda sudah mengadakan konferensi pers tadi siang,” kata Leo.


Ada perasaan lega di hati Opa Thamrin, melihat cucunya segera mengklarifikasi berita viral tersebut dan membersihkan nama wanita yang tak bersalah. Opa Thamrin memperhatikan raut wajah Albert bagai pakar wajah. “Akhirnya kamu menyadari kesalahanmu, walau semuanya sudah terlambat,” gumam Opa Thamrin, seraya mendesah.


Selang berapa lama mobil yang ditumpangi oleh Opa Thamrin sudah sampai terlebih dahulu di rumah sakit H, dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, pria tua itu masuk ke lobby rumah sakit di dampingi oleh Leo. Sedangkan orang suruhan Albert sudah memberitahukan keberadaan Opa kepada Tuannya.


Waktu sudah menunjukkan jam 19.45 wib ketika Opa tiba di Bandung. Oma yang kebetulan ada duduk termenung di depan ruang rawat Tania, langsung memeluk suaminya ketika dirinya di sapa.


“Oma, sudah jangan menangis,” ucap Opa Thamrin menenangkan hati istrinya yang sedari tadi terisak-isak.


“Tania tidak bersalah, sungguh kejam sekali berita itu, Opa,” keluh Oma Helena.


“Kita duduk dulu ya,” pinta Opa Thamrin mengajak istrinya duduk terlebih dahulu sembari merangkul bahu istrinya.


Opa Thamrin memberikan kode ke Leo, dan asisten menyodorkan Ipadnya ke Opa.


“Oma lihat berita ini dulu,” pinta Opa Thamrin, sembari memplay video konferensi pers Albert. Oma Helena menontonnya dengan wajah serius, sembari mengusap pipinya yang sudah basah.


Berhubung sejak kejadian Tania pingsan, Oma Helena tidak lagi mencari-cari berita tersebut demi kesehatan mental Tania. Dan baru malam ini jika ada berita terbaru, jika cucunya sudah mengadakan konferensi pers. Sama halnya dengan Opa, Oma mulai terasa tenang.


“Sebaiknya kita segera beritahukan tentang ini ke Tania,” pinta Opa Thamrin.


Oma Helena mengulas senyum tipisnya. “Kita jangan terburu-buru Opa, Tania saat ini masih terguncang ... berikan waktunya sesaat,” jawab Oma, sembari menggenggam tangan suaminya.


“Semuanya butuh waktu ...” kembali berucap Oma Helena.


Setelahnya, Oma Helena mengajak Opa Thamrin menjenguk Tania ke dalam.


“Opa Thamrin,” sapa Tania ketika melihat siapa yang masuk ke dalam, lalu merentangkan kedua tangannya. Pria tua itu tersenyum hangat, ketika mendapat sambutan hangat dari cucu menantunya. Opa Thamrin memeluk bumil cantik, kemudian mengecup keningnya. “Semuanya akan baik-baik saja, nak,” ucap Opa Thamrin lirih.

__ADS_1


Opa Thamrin bisa melihat kedua netra Tania yang sembab dan bengkak. “Ya Opa,” jawabnya pelan. Oma Helena dan Mama Shinta saling bertatapan, mengulas senyum tipis lalu kembali menatap Tania yang sedang mengobrol dengan Opa, memang sudah lama Tania dan Opa Thamrin tidak bertemu. Bak gadis kecil sedang curhat dengan kakeknya, apa pun di adukan ke Opa Thamrin, suasana di ruang rawat terasa hangat, dan seakan berita viral itu terhempaskan begitu saja. Itulah makna arti keluarga sesungguhnya, saling mendukung dan selalu ada.


...----------------...


Di lain tempat, mobil yang ditumpangi Albert masih melaju menuju rumah sakit H. Pria itu tampak tak tenang dalam duduknya di dalam mobil, berulang kali dia menengok ke kanan dan ke kiri melihat sudah sampai di mana, belum lagi melihat aplikasi GPS untuk memastikan jam berapa akan tiba di rumah sakit H.


Sedangkan anak buah Albert sudah memberitahukan posisinya jika sudah tiba di rumah sakit H, sejak dari tadi.


“Kita akan sampai berapa jam lagi, Gerry?” tanya Albert.


“Kurang lebih dua jam lagi, Pak,” jawab Gerry.


Albert mendesah pajang, dan menyugarkan rambutnya ... mendengar kata dua jam lagi bagaikan satu tahun buat pria itu.


“Sabar Tuan, kita sedang terjebak macet,” sambung Bimo.


Kembali pria itu merutuki perjalanan kali ini, dengan menekuk wajah masamnya. Andaikan ada helikopter dekat dengannya, mungkin pria itu memilih menyewa helikopter. Mau tidak mau pria itu harus menikmati perjalanan, demi menemui istrinya sekaligus ibu dari calon anak-anaknya.


Sabar Albert ... Kamu akan bertemu dengan Tania ... batin Albert.


Sesuai prediksi GPS dan Bimo, dua jam kemudian, mobil Albert tiba di lobby rumah sakit H. Jantung Albert mulai berdegup kencang tak karuan, berulang kali pria itu mengatur napasnya, begini kah rasanya kalau mau bertemu sosok yang dirindukan.


Wajah Albert pias ketika mendapat teguran dari Gerry, ada benarnya, pertemuan kali ini jangan gegabah! Kali ini dia di tuntut untuk menahan dirinya, padahal hatinya sudah tak kuasa untuk menahan rindu yang sudah membuncah.


Albert melirik jam tangannya, sudah jam 10 malam, bisa di pastikan Tania sudah beristirahat. Sedangkan dari kejauhan tampak beberapa orang mengenakan jas putih menghampiri Albert dan Gerry.


“Selamat malam Pak Albert, mohon maaf saya telat menyambut kedatangan Pak Albert,” ucap Dokter Wijayanto, selaku Direktur RS. Sesuai koordinasi dari Dokter Yohannes, jika pemilik rumah sakit akan datang berkunjung, dan memberitahukan jika ada istri Albert yang di rawat di sana.


“Malam, Dokter Wijayanto,” balas sapa Albert.


Dokter Wijayanto mengiring Albert ke ruang kerjanya. Tanpa basa basi pria itu minta bertemu dengan dokter yang menangani Tania, karena ingin mengetahui kondisi istrinya.


Untung saja Dokter Dewi malam ini sudah selesai tugas operasi SC, jadi bisa langsung menemui Albert. Dengan kata yang tugas serta bukti USG, Dokter Dewi menjelaskan secara detail kondisi Tania, hati Albert bagaikan di hantam sebongkah batu di saat Dokter Dewi menjelaskannya, sangat memilukan.


“Sekarang istri saya dengan siapa?” tanya Albert kepada Dokter Wijayanto dan Dokter Dewi.

__ADS_1


“Tadi saya cek dengan perawat yang bertugas di lantai tiga,  Nyonya Tania sendiri tapi perawat selalu stand by berjaga dan selalu mengontrol.”


Opa Thamrin, Oma Helena dan Mama Shinta di minta oleh Tania, untuk beristirahat di hotel terdekat, wanita itu tidak ingin ketiga orang tua itu kelelahan menjaga dirinya, lagi pula Tania juga memberikan alasan ada perawat yang menjaganya dan dia juga ingin sendiri.


Buat Albert mendengar Tania sendiri di kamar, pria itu bernapas lega, berarti bisa menemui Tania tanpa hambatan.


“Dokter Wijaya, tolong di cek terlebih dahulu, istri saya sudah tidur belum? Saya ingin melihatnya,” pinta Albert, dengan rasa berharap.


“Sebentar saya tanyakan dulu,” jawab Dokter Wijayanto, segera menghubungi perawat melalui line teleponnya lalu minta apa yang di perintahkan Albert.


Tak lama kemudian line telepon yang ada di ruangan berbunyi, Dokter Wijayanto pun segera menjawabnya karena memang sedang menunggu kabar dari lantai 3.


“Pak Albert, Nyonya Tania sudah tidur sejak tadi.”


Albert beranjak dari duduknya dan minta di antarkan ke ruang rawat istrinya.


...----------------...


Dokter Wijayanto sudah mengantarkan sampai depan ruang rawat, dan Albert minta di tinggal. Pria itu sebelum masuk, sejenak menatap pintu ruangan dan berdoa di dalam hatinya, berharap Tania tetap dalam keadaan tidur.


Pria itu memutar handel pintu, kemudian masuk ke dalam-dalam dengan langkah kaki yang begitu pelan dan tidak menimbulkan suara, bagaikan maling.


Jantung Albert mulai tak sikron dikala kedua netranya sudah menangkap ranjang yang ditempati oleh Tania.


Tatapan rindu tersirat di kedua netra pria itu, perlahan-lahan namun pasti, akhirnya pria itu sudah berdiri di sisi ranjang.


Terlihat putri tidur yang sangat cantik, lelap dalam tidurnya. “Tania,” ucap Albert lirih, pria itu langsung membungkam mulutnya dengan salah satu tangannya, buliran bening jatuh ke pipinya, hatinya yang merindu akhirnya pecah. Wanita yang di cari sudah ada di hadapannya, dan tentu saja dalam keadaan berbeda, jika dulu perut Tania rata, sekarang perutnya menonjol.


“Is-istriku....” Pria itu bahagia, tak lama Albert mencondongkan dirinya lalu memajukan wajahnya.


CUP


Kecupan hangat diberikan oleh pria itu di pipi Tania dengan lembutnya, lalu salah satu tangannya terulur dan menyentuh perut bulat Tania dengan hati yang sesak. “Maafkan aku, Tania.”


Tak berdaya pria itu melorot ke lantai, lalu menekukkan kedua kakinya, pria itu menangis dalam keheningan malam. Bahagia, penyesalan dan sedih tercampur aduk dalam hati pria itu. “Maafkan Aku, istriku.”

__ADS_1


bersambung ... ✍🏻✍🏻



__ADS_2