Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Ibu kandung


__ADS_3

Tante Shinta sudah menyandarkan punggung di head board ranjang, sambil menyesap teh manis hangat sedikit demi sedikit. Tatapan wanita paruh baya itu begitu teduh ketika menatap lekat wajah Tania, sekarang hanya mereka berdua yang ada di kamar itu.


“Tania, dulu Tante pernah menikah dan memiliki bayi perempuan begitu cantik, Tante bersama suami memberikan nama Kirana Larashati. Namun sayangnya rumah tangga Tante goyah, entah kenapa suami Tante tiba-tiba berubah drastis, hingga akhirnya suami Tante menceraikan Tante tanpa alasan yang jelas, serta menguasai anak Tante yang masih bayi. Tapi setelah Tante bercerai, ternyata mantan suami ada main dengan sahabat Tante,” tutur Tante Shinta dengan suara yang terdengar serak, menahan rasa sedihnya.


Tania masih menyimak cerita Tante Shinta. “Wah sahabat Tante kok tega banget rebut suami sahabatnya sendiri. Terus Tante kenapa tidak merebut anak Tante?”


Tante Shinta menghela napas panjang, memory nya kembali ke 21 tahun yang lalu. “Di saat Tante ingin merebut anak Tante, sahabat Tante yang sudah dinikahi oleh mantan suami, mengancam anak Tante dengan sebilah pisau di lehernya, jika Tante berniat mengambil anak Tante maka nyawanya akan menghilang. Tante tidak bisa berbuat apa-apa,” jawab Tante Shinta, ujung ekor matanya mulai mengeluarkan buliran bening.


“Ya Allah, Tante ... begitu jahat sekali sahabat Tante!” balas Tania.


"Dia juga selalu meneror kalau Tante berkeinginan untuk menengok anak Tante, maka anak Tante akan terancam keselamatannya."


Tante Shinta mengusap air mata yang ada di pipinya, “Tania bisa minta tolong ambilkan handphone Tante,” pinta Tante Shinta sambil menunjukkan keberadaan handphone yang ada di atas nakas. Tanpa menjawab Tania segera mengambilkannya.


“Ini Tante handphonenya.”


“Makasih.”


Tante Shinta membuka galeri fotonya, dan milih salah satu foto yang ada di galeri.


“Tania, Tante mau tanya, benarkah ini ayah kamu Hans Kurniawan?” tanya Tante Shinta, sambil menunjukkan foto pernikahan.


Tania yang awalnya biasa saja ketika melihatnya, tiba tiba membulatkan kedua bola matanya, memastikan pria yang memakai baju pengantin itu adalah ayahnya Hans, lalu memperhatikan wanita yang ada di sampingnya mirip dengan wajah Tante Shinta namun terlihat muda.


Berulang kali Tania menatap foto yang ada di handphone lalu beralih menatap Tante Shinta.


“Benarkah itu ayahmu, yang juga mantan suami Ta—.”


“Tante Shinta ...” Lidah Tania terasa keluh ketika menerima kejutan ini. “B-benar ini ayahku ... jadi Tante?”


“Ya Allah ... anakku Kirana.” Tante Shinta langsung mendekap Tania, hatinya membuncah tak terkira rasanya.


Tania masih dalam keterkejutannya. “Ini mama nak, ini mama. Maafkan mama,” ucap Tante Shinta sambil terisak-isak.


“M-mama ...” Air mata Tania pun ikut tumpah membasahi pipinya, setelah sekian lama merindukan kasih sayang seorang ibu, akhirnya dia dipertemukan oleh ibu kandungnya.


Namun di lubuk hatinya banyak pertanyaan kenapa mamanya tidak pernah menemuinya, tapi untuk sementara ditepis dulu. Biarkanlah dia merasakan pelukan hangat dari seorang ibu kandung, dan biarlah Tante Shinta meluapkan rasa rindunya pada putri semata wayangnya.


Cukup lama Tante Shinta dan Tania menangis bersama, sampai Bu Mimi merasa heran ketika kembali ke kamar untuk mengantarkan cemilan.


“Bu Shinta dan Non Tania gak pa-pa kan?” tanya Bu Mimi.

__ADS_1


Tante Shinta dan Tania sama-sama menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis walau kedua netra mereka sudah sembab.


“Ada cemilan khas Bandung, selamat menikmati Bu Shinta, Non Tania,” ucap Bu Mimi, sembari menaruh nampannya di atas nakas.


“Makasih ya Bu Mimi,” balas Tania.


“Sama-sama Non,” jawab Bu Mimi sebelum keluar dari kamar.


Tante Shinta dan Tania sama-sama saling bersitatap walau terlihat sedikit canggung, setelah tahu hal yang baru saja terjadi.


“Jadi Tan—“


“Mama ... panggil mama nak,” pinta Mama Shinta begitu lembutnya.


“Mmm ... Mama jadi tadi pingsan karena mendengar nama ayah kah?”


“Iya nak, Mama terkejut dengar nama ayah kamu dan jelas juga nama mantan sahabat mama.”


Mama Shinta kembali bercerita apa yang terjadi saat Tania masih bayi, dan kenapa dia tidak pernah datang mengunjungi Tania, ternyata semua ada campur tangan Rita si ibu tiri, hingga Mama Shinta tidak bisa menemui Tania, dan akhirnya Mama Shinta memilih tinggal di luar kota, dan baru kembali ke kota Jakarta dalam beberapa bulan ini.


“Mama bahagia ternyata dibaliknya musibah, mama bisa bertemu dengan putriku yang cantik ini,” ucap Mama Shinta, sembari mengusap pipi anaknya.


“Tania juga senang, Mam.”


Tega sekali kamu Hans, telah menjual anak kita ke orang lain hanya untuk membayar hutangmu. Tunggu kedatanganku Hans, Rita!!


...----------------...


Rumah Sakit H.


Pria yang memiliki postur tubuh besar, tinggi serta berwajah tampan, terlihat lemas di atas ranjang. Menyantap makan siangnya antara mau dan tidak mau karena perutnya terasa mual, hingga akhirnya makanan itu kembali keluar dari perutnya.


Padahal Dokter Irwan sudah memberikan obat mual sebelum makan, namun sepertinya tidak buat  Albert.


“Sepertinya Pak Albert harus bersabar dalam beberapa bulan,” ucap Dokter Irwan.


Albert menaikkan salah satu alisnya, dan wajahnya seperti bertanya.


“Tania sedang hamil, kemungkinan besar Pak Albert bukan hanya sakit maag tapi juga mengalami hamil simpatik, yang biasa di rasakan oleh kebanyakan ibu hamil, seperti mengidam ... kayak Pak Albert alami sekarang jika makan terasa mual,” tutur Dokter Irwan menjelaskan.


Nyess ... rasa hati Albert, mendengar kata hamil dan mengidam.

__ADS_1


“Calon anak Pak Albert, sepertinya ingin ayahnya merasakan yang di alami sama ibu nya,” lanjut kata Dokter Irwan.


“Betulkah, yang saya rasakan seperti yang di rasakan oleh istri saya?” Seketika kedua netranya terlihat sedih.


“Ya kemungkinan besar seperti itu, jadi kalau bisa walau Pak Albert merasa mual, tetap makan dalam takaran sedikit namun sering, dan banyak minum air putih.”


Ini pengalaman pertama buat Albert memiliki istri yang sedang hamil, namun sayangnya keberadaan Tania entah ada di mana. Pria itu sudah menghubungi Opa Thamrin namun sayangnya tidak ada jawab, dan Gerry yang sudah diminta ke mansion utama untuk mengecek keberadaan Tania, membawa kabar jika tidak ada Tania di sana.


Hati Albert juga tiba-tiba bawaannya sedih, sensitif, apalagi kalau ada hal yang menyentuh tentang Tania, mungkin perubahan suasana hatinya bawaan si triple calon anaknya.


Ke mana Opa membawa Tania, aku ingin bertemunya ... Batin Albert.


Albert kembali menyantap bubur ayam sebagai makan siangnya walau perutnya mual, dirinya langsung termotivasi harus cepat sembuh agar bisa mencari keberadaan istri keduanya.


“Sayang ...” Suara wanita yang sangat dikenal Albert tiba-tiba saja terdengar jelas.


Gerry, Pak Firman dan Albert sama-sama melihat siapa yang datang, ternyata Marsha yang datang, bersamaan ketika Dokter Irwan keluar ruangan.


Wajah wanita itu memasang raut sedih. “Sayang, kenapa bisa di rawat. Maaf aku baru tahu,” ucap Marsha, wanita itu menghampiri ranjang yang di tempati Albert, lalu mencondongkan wajahnya agar bisa mengecup bibir Albert.


“Stop jangan dekat-dekat!” ucap Albert, langsung menutup hidungnya.


Marsha langsung menarik wajahnya tidak jadi mengecup bibir Albert.


“Kenapa Kak? Kok tutup hidung?”


Albert mengibaskan salah satu tangannya. “Kamu ganti parfum ya? Bau banget bikin perutku mual, menjauhlah!”


“Aku gak ganti parfum kok, masih pakai parfum yang Kak Albert beli.” Marsha mengendus tubuhnya sendiri, dan wangi tidak bau.


bersambung ..... ✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2