Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Ungkapan hati Albert


__ADS_3

Bayangkan bagaimana kesalnya Tania harus berduaan dengan Albert di kamar mandi di saat dia ingin buang hajat, rasanya ingin sekali ingin menyiram wajah pria itu menggunakan semprotan closet yang dia pegang nya saat ini.


“Sayang, sudah selesai kah?”


“Sayang ... sayang ...emangnya kepala gue peyang apa!” gerutu Tania sendiri, sembari menaikkan kain segitiganya.


Albert bisa mendengar jelas gerutu an istrinya, walau suara Tania pelan. Pria itu membalikkan badannya. “Mau sekalian mandi gak?”


Kedua netra Tania seketika mendelik dan mengerjap-ngerjap kan kelopak matanya.


“Gak usah macam-macam deh!” celetuk Tania, wanita itu menghampiri wastafel kemudian membasuh wajahnya dengan salah satu tangannya. Albert segera mengambil handuk kemudian melap wajah Tania yang basah, dengan lembutnya. Setelah selesai Tania mencuci muka, wanita itu ingin keluar dari dalam kamar mandi, lagi dan lagi pria itu membopong Tania, sambil menulikan kedua telinganya karena teriakan Tania yang begitu menggema.


Gerry yang sudah berada di dalam ruangan, karena pintu ruangan tidak terkunci, bibirnya mengangga melihat Albert membopong Tania dari dalam kamar mandi.


Wah telat dapat infonya nih, apakah mereka berdua sudah baik kan?


Tania menahan rasanya malunya ketika melihat kehadiran Gerry, sedangkan Albert santai aja.


“Sayang, mau duduk di ranjang, atau di sofa? Sarapannya sudah datang,” kata Albert.


Tania hanya memajukan wajahnya dan menatap ke arah sofa, Albert pun memahaminya.


“Pak Albert pesanannya sudah saya bawakan,” ucap Gerry, sambil menunjukkan dua paper bag yang ada di meja sofa.


“Terima kasih, kamu kalau belum sarapan, bisa sarapan dulu di cafe, nanti kalau sudah selesai ke sini lagi,” balas Albert, sambil mengusir halus Gerry.


“Pak Gerry, di sini saja. Kita sarapan sama-sama,” pinta Tania, gak rela kalau hanya berduaan lagi sama Albert.


Kedua netra Albert membulat dan memajukan dagunya di saat menatap asistennya seakan meminta Gerry segera keluar dari ruangan.


“Saya makan di cafe bawah saja, Tania,” jawab tolak Gerry, kemudian bergegas keluar dari ruangan, dari pada jadi ribut sama Pak Bosnya.


Tania hanya bisa mendesah ... kembali berdua dengan Albert, sedangkan Mama Shinta belum datang.


Albert mengeluarkan isi kantong paper bag. “Kita makan dulu ya sayang, pagi ini ada jadwal kontrol lagi, kan.”


Jam 9 nanti akan kontrol kembali, menentukan apakah Tania sudah bisa kembali ke rumah atau masih tetap dirawat, Albert mengingat jadwal kontrol istrinya.


“Gak usah pakai panggil sayang-sayang, biasanya juga panggilnya Tania. Sayang itu kan panggilan Marsha,” celetuk Tania kesal.


Albert terlihat sibuk membuka kotak makanan yang berisi bubur ayam cianjur dan menghiraukan tatapan kesal Tania.


“Sayang mau makan apa? Ini ada bubur ayam, nasi uduk sama lontong sayur padang. Tolong jangan marah dulu sama aku, nanti kalau sudah makan baru boleh marah-marah lagi ya,” imbuh Albert dengan menunjukkan kotak makan yang sudah di bukanya.

__ADS_1


“Errgh ....” Tania mulai ngregetan, tangannya pengen banget ngegeraus wajah tampan Albert.


“Sayang, ayo mau makan apa? Kasihan nanti anak kita lapar.”


“Tuh ... maunya makan itu!” tunjuk Tania memonyongkan bibirnya ke arah kotak yang berisi lontong sayur.


Penuh kesabaran Albert mengambilnya dan menyodorkan kotak makanannya. “Mau aku suapin gak makannya?” tawar Albert, penuh perhatian.


“Makan sendiri aja,” jawab Tania ketus, dan sudah mulai menyendok lontong sayurnya ke mulutnya.


Albert yang duduk di samping Tania hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan turut ikut sarapan dengan menu yang tersisa.


“Sayang, nasi uduk ini enak deh ... coba deh,” pinta Albert sembari menyodorkan sendok makannya ke mulut Tania.


Wanita itu tampak ragu-ragu untuk menerimanya. “Ayo sayang, kamu harus cobaiin deh,” bujuk Albert, padahal pria itu memang ingin sekali menyuapi istrinya makan namun sering ditolak oleh Tania. Akhirnya wanita itu membuka mulutnya, dan menerima suapan Albert.


Hati Albert berbunga-bunga saat Tania mau menerima suapannya. “Enakkan nasi uduknya?”


“Mmm ... iya,” jawabnya malu-malu.


Albert melanjutkan makannya, masih menggunakan sendok yang sama, Tania melirik sesaat.


Sembari melanjutkan makan lontong sayur, dia juga melihat kotak nasi uduk yang sedang di santap oleh Albert ... tiba-tiba rasanya pengen lagi di suapi lagi sama Albert. Albert merasa jika dirinya di perhatiin sama Tania, terutama kotak makannya.


Tania tak berani menjawab, akan tetapi kedua netra berbinar-binar menatap nasi uduk. Tania tidak tahu jika kondisi ibu hamil punya hormon yang menginginkan keberadaan suaminya tanpa disadari, ada naluri si calon bayi yang ingin diperhatikan oleh papanya melalui mamanya, kata orang bawaan bayi.


Pria itu ingin sekali menggoda Tania, tapi kasihan, tak lama pria itu menyodorkan sendok makan yang telah terisi. “Aaa....”


Tania cepat membuka mulutnya, dan dengan senang hati Albert menyuapinya.


Aduh nak ... Kenapa mama jadi begini! Ketagihan makan di suapi sama papa kalian ...batin Tania meronta-ronta, tapi kepengen makan di suapi oleh Albert, rasanya sangat beda.


Jadilah makan nasi uduk iya, makan lontong sayur padang juga iya sih Bumil. Albert pagi ini sangat menikmati makan sepiring berdua sama istri tercinta untuk pertama kalinya.


Tak lama selesai menghabiskan sarapan pagi, salah satu perawat datang untuk membantu membersihkan diri Tania, lalu rekam jantung si baby kembali tanpa di dampingi Dokter Dewi. Albert masih setia mendampingi Tania setelah mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


“Rekam jantung si dede nya sudah selesai ya Nyonya, nanti hasilnya akan di bacakan oleh Dokter Dewi saat kontrol ya,” ucap sang perawat sebelum keluar dari ruangan.


“Ya suster, terima kasih.”


Kok mama belum datang juga sih ... bete Tania.


Albert duduk kembali di tepi ranjang. Pria itu menatap penuh damba ke wajah istrinya, dan Tania memberanikan dirinya untuk membalas tatapan pria itu.

__ADS_1


“Tania ...”


“Bolehkah aku berbicara serius denganmu kali ini?”


“Bukannya dari kemarin sudah bicara terus,” jawab Tania ketus.


Pria itu tersenyum tipis. “Tapi ini bicara dari hati ke hati, mengenai kita berdua.”


Dag Dig Dug


Pikiran Tania langsung teringat ucapan Albert ketika mengatakan mencintainya ke anak-anaknya yang masih berada di perutnya.


Albert sengaja menatap lekat iris mata Tania yang berwarna abu-abu, hingga wanita yang di tatapnya agak grogi tapi berusaha terlihat tenang.


“Aku sudah tidak mau membohongi diriku sendiri Tania, kalau aku sebenarnya....” Albert sejenak menghentikan ucapannya, tangan pria itu meraih tangan Tania, lalu menggamitnya.


“Aku jatuh cinta padamu, saat kamu tak sengaja menabrak ku,” kata Albert pelan.


HAH!!!


“Tapi aku menekan perasaanku saat itu juga, karena sudah memiliki istri...Marsha. Tapi hatiku bahagia ternyata wanita yang aku beli adalah dirimu, wanita bermata abu-abu.”


GLEK!!


“Karena itulah di awal kita berhubungan intim, aku meminta kamu menutup matamu. Karena aku takut semakin jatuh cinta denganmu, dan aku takut kalau kamu menyukaimu, karena aku tidak bisa menjadikan istriku seutuhnya demi menjaga perasaan Marsha saat itu.” ungkap Albert.


Entahlah apa yang dirasakan oleh Tania atas pengakuan Albert, yang jelas tangannya sudah meremas tangan Albert yang sedari tadi menggamitnya. Haruskah dia percaya akan isi hati Albert, walau dari kilatan matanya tidak ada sesuatu kebohongan.


“Aku tidak meminta kamu memercayai apa yang aku katakan. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku yang selama ini kurasakan sendiri, aku pun juga tidak meminta kamu membalas rasa cintaku. Karena aku tahu sudah banyak melukai hatimu, namun kamu sangatlah berarti untukku ... bukan karena kamu sedang mengandung anakku, tapi karena aku sangat mencintaimu, Tania ... Istriku,” tutur Albert, pria itu tertunduk sesaat kemudian mengecup  punggung tangan Tania yang di genggamnya.


Kali ini hati Tania berdesir, kedua netranya mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya wanita itu memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah bunga mawar putih yang terpajang di atas nakas dekat jendela.


Dari semua sikap kasar Albert selama ini, rupanya menutupi perasaan nya sendiri, agar dia tak semakin dalam mencintai istri keduanya kala itu, dan tak ingin juga istri keduanya menyukai dirinya, demi kesetiaan dirinya sebagai suami Marsha. Tapi nyatanya Marsha tidak membalas kesetiaan Albert selama empat tahun, miris! Wanita itu yang kini sudah menjadi mantan istrinya ternyata sudah lama menduainya.


 bersambung ......


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like ... komen ... Vote nya. Buat yang sudah kasih vote terima kasih banyak ya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


 Ikuti terus kisah Tania dan Albert sampai tamat ya 🤗🤗


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2