Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Keadaan Ayah Hans


__ADS_3

Hati manusia itu laksana samudra luas. Tak terkira isinya. Ada yang bisa menampung begitu banyak kesedihan dan dia tetap bersyukur, ada yang muat begitu banyak pengorbanan, dan tetap lebih luas lagi isinya. Dan saat dia menangis, maka satu-dua butir tetes airnya mengalir keluar.


Setelah beberapa lama Albert menumpahkan rasa sesaknya dengan air mata yang begitu deras, pria itu perlahan-lahan beringsut, kemudian duduk di tepi ranjang. Kedua netranya yang masih basah menatap sendu wajah istrinya Tania Kanahaya, salah satu tangannya mengusap lembut pipi wanita itu.


“Cepat sembuh istriku dan calon anak-anak kita,” gumam Albert terdengar lirih.


Tatapan pria itu berpindah ke perut bulat Tania, kemudian tersenyum tipis. Wajah pria itu maju ke perut Tania lalu mengecupnya dengan lembut.


“Ini papa nak, maaf papa datangnya terlambat. Anak papa pasti kuat di perut mama ya ...Terima kasih kalian hadir di perut mama,” gumam Albert lirih.


Albert kembali mengecup perut Tania yang tertutup dengan selimut, ada rasa haru yang menyelinap di hatinya, namun lebih besar rasa sedihnya.


Jika dituruti keinginan hati, Pria itu ingin sekali menemani wanita yang sekian lama dicarinya dna yang dirindukannya, tapi logikanya masih jalan, jika itu bukan keputusan yang tepat. Dengan berat hari pria itu meninggalkan ruang rawat Tania, namun sebelumnya pria itu mengecup seluruh wajah Tania itu, meluapkan rasa rindunya.


“Aku akan menemuimu kembali, Tania.”


...----------------...


Keesokan harinya ...


Sang surya sudah menunjukkan dirinya di awan yang terlihat cerah, hiruk pikuk warga Bandung sudah memadati di setiap sudut tempat, melakukan aktivitasnya masing-masing.


Mama Shinta sedari jam 6 pagi sudah kembali ke rumah sakit dari hotel tempat menginapnya, dengan tubuh yang segar fresh untuk melakukan aktivitasnya kembali.


“Selamat pagi nak,” sapa Mama Shinta ketika masuk ke ruang rawat inap, dan melihat Tania sedang menggeliat.


“Mmm...pagi Mam,” jawab Tania, dengan menyipitkan matanya menyesuaikan sinar yang memantul di kedua netranya.


Seperti biasa Mama Shinta mengecup kening anaknya, lalu mempersiapkan sarapan yang tadi di belinya dekat hotel.


“Mama beliin kamu bubur ayam, sama sate usus, hati ayam sama telur puyuh, kamu pasti suka.”


Tania bangun dari pembaringannya lalu menyandarkan dirinya ke head board. “Mau Mam, tapi nanti ... mau ngumpulin nyawa dulu,” jawab Tania sambil menguap.


Pagi ini entah kenapa Tania merasa semalam tidurnya sangat pulas, apalagi saat ada yang mengusap perutnya serasa di buai lembut, begitu juga pipinya. Tapi ada yang membuat wanita itu kesal, kenapa tiba-tiba semalam mimpi bertemu dengan Albert, pria itu terlihat sangat sedih dan memohon ingin bertemu dengannya, dan sudah jelas wanita itu menolaknya walau hanya mimpi.


Sedangkan di tempat yang berbeda.

__ADS_1


Pria yang semalam bertemu dengan istrinya, tampak sedang bersiap-siap dengan setelan pakaian santainya, sepertinya semalaman pria itu tidak bisa tidur dengan tenang, badannya ada di hotel tapi pikirannya tertinggal di rumah sakit.


“Pak Albert, kita sarapan dulu sebelum ke rumah sakit,” ajak Gerry, ketika mereka berpapasan keluar dari kamar


“Ya,” jawab singkat Albert.


...----------------...


Jakarta


Rumah Tania


Ayah Hans dan Bu Rita sepertinya sedang bersitegang di pagi hari yang cerah ini.


“Apa maksud dengan surat ini, Mas!” Bu Rita melambaikan amplop berwarna putih itu.


Ayah Hans menghela napas panjang dan memutar kedua bola matanya. “Memangnya kamu tidak bisa baca isinya, Rita!” balas Ayah Hans.


“Iya aku bisa baca, tapi memangnya Mas gak bisa jelaskan padaku. Kenapa Mas bisa dapat surat pemecatan, huh!” sentak Bu Rita.


“Aku juga tidak tahu Rita, alasan pemecatannya.”


Rita berdecak kesal sambil berkacak pinggang. “Terus kalau Mas gak kerja, kita dapat duit dari mana buat kebutuhan sehari-hari?” tanya Bu Rita dengan kesalnya. Andaikan masih ada Tania, pasti anak tirinya bisa menutupi kebutuhannya sehari-hari, sedangkan Clara tidak ada kabarnya sama sekali semenjak tinggal di mansion Albert.


“Bukannya kamu masih menyimpan uang kelebihan waktu kita jual Tania, masih ada 300 juta kan?” tanya Ayah Hans, mengingat-ingat transaksi beberapa bulan lalu dan semua sisa uangnya di simpan oleh Bu Rita.


Bu Rita menggigit bibir bawahnya ketika di tanyakan uang tersebut oleh suaminya.


“Aku rasa dengan uang 300 juta itu untuk sementara bisa mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari dan membuat usaha kecil-kecilan,” lanjut kata Ayah Hans, sembari menyesap kopinya yang masih hangat.


Ayah Hans masih menatap wajah istrinya, menunggu jawabannya. “Kamu ingatkan, aku rela menjual anakku demi membayar hutangmu karena Clara, dan meminta sisa uangnya di simpan. Sekarang kenapa kamu diam aja!” ucap Ayah Hans dengan tenangnya.


Bu Rita menurunkan kedua tangannya yang tadi sempat berkacak pinggang, lalu duduk di hadapan suaminya.


“Begini Mas, uangnya tinggal 10 juta,” jawab Bu Rita pelan, lalu menundukkan kepalanya.


BRAK!

__ADS_1


Meja yang ada di ruang tamu di gerbrak oleh tangan Ayah Hans, kedua netranya terlihat berapi-api. “Apa kamu bilang uang sebanyak 300 juta, kamu bilang tinggal 10 juta ... huh!” murka Ayah Hans.


Bulu kuduk Bu Rita mulai merinding, melihat kemurkaan suaminya.


“Kamu ke mana kan uang sebanyak itu Rita?” teriak Ayah Hans, yang sudah beranjak dari duduknya.


Bu Rita masih menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Ayah Hans.


“JAWAB RITA!” kembali berteriak Ayah Hans, sambil menyugar rambutnya yang masih terlihat tebal, walau umurnya sudah menginjak 50 tahun. Di saat Ayah Hans di pecat dari perusahaan tempat bekerjanya, sedikit ada rasa tenang karena masih berpikir jika masih ada simpanan uang di istrinya, tapi rupanya di pagi hari ini pria itu mendengar uangnya tinggal 10 juta, sudah pasti kalut pikirannya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.


Bu Rita jangan di tanya lagi kemana uangnya berada, sudah jelas habis untuk berfoya-foya, belanja sana sini ... membeli barang-barang yang tidak jelas, lalu mentraktir teman-temannya dengan menunjukkan jika dia beruang, dan hal itu memang tanpa sepengetahuan Ayah Hans, karena dipikirnya Ayah Hans membebaskan dia untuk memakainya.


“Itu uang hasil menjual Tania, bukan Clara!! Aku tidak mau tahu ... hari ini juga kamu tunjukkan uang 300 juta ke hadapanku, atau silahkan kamu keluar dari rumah milik anakku, TANIA!” sentak Ayah Hans, lalu masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu.


Bu Rita hanya bisa ketar-ketir, mau kemana di cari uang yang sudah dia habiskan. “Aarrgh!” teriak Bu Rita ikutan kesal sendiri.


“Sebaiknya pergi ke mansion Albert menemui Clara, lagi pula Clara pasti sudah mengikat Albert buat jadi suaminya,” gumam Bu Rita bermonolog.


Tak lama kemudian ...


“Bu Rita ... Bu Rita .....,” beberapa ibu-ibu memanggil nama wanita paruh baya itu di luar rumahnya.


Bu Rita beranjak dari duduknya. “Ya tunggu ...” Bu Rita keluar lalu menghampiri tetangganya yang sudah berdiri di luar pagarnya.


“Ada apa ya Bu, kok tumben rame-rame ibu-ibu pada ke sini?”


“Kita ke sini mau klarifikasi nih, ini betul Tania bukan anak tiri kamu?” tanya Bu Yuni sambil menunjukkan handphonenya.


“Iya ini anak tiri saya, ada apa ya. Kok bisa ada fotonya di handphone Bu Yuni?” Bu Rita kembali melihat foto Tania, yang sedang bekerja.


“Wah Bu Rita ketinggalan gosip, ternyata Tania itu istrinya pria konglomerat. Di berita gosip aja udah beredar tuh, kita di sini cuma memastikan aja jika Tania itu tetangga kita, gak nyangka punya suaminya orang kaya, ya walau jadi istri kedua tapi sekarang jadi istri satu-satunya.”


Bu Rita tercengang mendengar ucapan Bu Yuni, di raihnya handphone Bu Yuni dan membaca berita yang di tunjukkan oleh tetangganya itu.


bersambung .... ✍🏻✍🏻✍🏻


__ADS_1


__ADS_2