Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Kamu anakku!!


__ADS_3

Beberapa menu makanan sudah terhidang di meja makan, dan siap di santap bersama. Opa Thamrin, Oma Helena, Tante Shinta beserta Tania sudah berkumpul bersama di ruang makan.


“Tuan, Nyonya ... silakan di nikmati sarapan paginya, kebetulan ini yang masak Non Tania,” ucap Bu Mimi yang masih berada di ruang makan.


“Oh, iyakah Tania yang masak, patut Oma coba kalau begitu,” balas Oma Helena, dengan senyuman tipisnya. Bu Mimi pun segera menuangkan beberapa lauk di atas piring kosong Tuan dan Nyonya nya, sedangkan Tante Shinta di layani oleh pelayan yang lainnya.


Di saat Oma Helena dan Opa Thamrin mencoba masakan Tania, terbitlah rona wajah senangnya. “Wah Opa gak menyangka kamu bisa masak. Masakan kamu enak banget, pasti Albert sangat menyukai masakan kamu,” ucap Opa Thamrin, setelah menyendok beberapa suap ke mulutnya.


Oma Helena seketika itu juga menyikut siku Opa Thamrin, sebagai tanda jangan menyinggung nama Albert di hadapan Tania.


“Makasih Opa, alhamdulillah jika masakan saya pas di lidah Opa dan Oma,” jawab Tania. Wanita itu terlihat tenang ketika menyendok nasi dan lauk ke atas piringnya, padahal dia sedang teringat ketika Albert menyantap masakannya begitu lahap, namun berakhir dengan hal kurang menyenangkan.


“Tania, lain kali kamu jangan masak dulu ya. Ingat pesan Dokter Mira, kalau kamu harus bedrest, tidak boleh melakukan pekerjaan berat,” lanjut kata Oma Helena.


Oma Helena semakin mengagumi Tania sebagai cucu menantunya, yang ternyata pandai memasak, berbeda dengan Marsha yang tak pandai memasak, ya walaupun di mansion sudah ada pelayan yang mengerjakan. Tapi namanya seorang suami pasti menginginkan di masakin sama istrinya, dari perut bisa jatuh ke hati.


“Saya tidak betah Oma kalau tidak mengerjakan apa pun, makanya tadi pagi saya masak buat sarapan.”


“Oma paham, tapi nanti ada saatnya kalau kamu ingin mengerjakan sesuatu. Ini bukan bermaksud Oma mengkhawatirkan kondisi kandungan mu, tapi lebih ke kondisi kamu sendiri yang masih dalam tahap pemulihan pasca kecelakaan.”


“Baik Oma,” jawab patuh Tania.


Di sela Tania menyantap sarapan paginya, wanita itu mengusap perut ratanya.


Haruskah aku menerima kehadiran kalian, sudah siapkah aku menjalani ini semua. Aku bingung ...


Tujuan Albert menikahi dirinya hanyalah untuk mendapatkan keturunan dari Tania, dan kini keinginan Albert sudah terwujud. Terlepas dari sikap kasar Albert, ada calon anak yang tidak bersalah. Di surat perjanjian menyatakan jika Tania sudah melahirkan anak untuk Albert, maka selesailah perjanjian yang telah di sepakati oleh Albert dan Hans, berarti pernikahan antara Albert dan Tania akan berakhir.


Namun sekarang Tania justru sudah terlibat jauh dalam keluarga Albert, dia sekarang sudah mengenal Opa dan Oma dari Albert, dan sekarang tinggal bersama, inilah yang menambah pikiran Tania.


Sarapan pagi telah usai, Tania memilih untuk menikmati panorama di belakang villa dekat kolam renang, duduk santai.


“Tania ...,” panggil Tante Shinta.


Wanita itu langsung menoleh. “Ya, Tante.”

__ADS_1


“Ini Tante buatkan susu coklat hangat buat kamu.” Tante Shinta menaruh segelas susu di atas meja, kemudian turut duduk, dan sama-sama memandang panorama hijau serta menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


“Jadi merepotkan Tante saja, padahal saya bisa bikin sendiri.”


“Gak merepotkan kok lagi pula, Tante juga sekalian bikin teh hangat buat menemani kita mengobrol.”


Tania dan Tante Shinta sama-sama menyesap minumannya yang masih terasa hangat, sangat cocok dengan hawa Lembang yang terasa sejuk.


“Tania bolehkah Tante bertanya sesuatu, mungkin ini mengenai hal yang sangat sensitif. Tapi kalau sekiranya kamu tidak mau menjawab juga tidak pa-pa kok. Cuma Tante penasaran saja,” tutur Tante Shinta.


Tania memiringkan tubuhnya biar bisa menatap Tante Shinta. “Tante ingin bertanya apa?”


“Begini Tante baru tahu jika kamu menikah dengan Albert, karena dijual sama orang tuamu. Kok orang tua kamu tega sekali! Kalau boleh tahu siapa nama orang tua kamu, Tante pengen kasih pelajaran, mbok tuh punya anak disayang-sayang bukan di jual!” gerutu Tante Shinta.


Ingin rasanya Tania tertawa melihat wajah Tante Shinta yang terlihat kesal. “Mungkin ini sudah jalan takdir saya Tante, lagi pula dari kecil hidup saya sudah terbiasa diperlakukan tidak baik, ya seperti tidak di anggap sebagai anak,” jawabnya.


“Loh kok tidak di anggap sebagai anak, bagaimana ceritanya?” balas Tante Shinta, penuh rasa ingin tahunya.


“Waktu saya masih bayi, ayah saya berpisah dengan ibu saya, lalu ayah kembali menikah. Pikir saya wanita itu ibu kandung, ternyata ibu tiri ... sejak kecil saya diperlakukan layaknya pembantu di rumah sendiri, Tante, ayah lebih menyayangi anak dari istrinya itu,” ucap Tania pelan.


Tante Shinta langsung meraih tangan Tania lalu menggenggamnya. “Maafkan Tante ya, ikut prihatin dengan keadaanmu. Sungguh bejat sekali orang tuamu!”


Wajah Tante Shinta mengeram dan merutuki perbuatan orang tua Tania.


“Siapa nama ayah dan ibu tiri kamu?” tanya Tante Shinta untuk kedua kalinya, rasanya wanita paruh baya itu ingin bertemu dengan orang tua Tania.


“Ayah saya namanya Hans Kurniawan, ibu tiri saya Rita Kumalasari.”


Bak petir di pagi hari tanpa hujan! Tubuh Tante Shinta mendadak menegang, kedua netranya seperti orang terkejut, serta genggaman tangannya pun terlepas begitu saja.


“Tante ...!” Tania mengibaskan salah satu tangannya ke wajah Tante Shinta, namun tidak ada responsnya.


“Tante Shinta ...” Tania kembali memanggil, namun sekejap Tante Shinta tak sadarkan diri dalam keadaan duduk.


“Bu Mimi, siapa pun yang ada di dalam... tolong!!” teriak Tania panik.

__ADS_1


Orang yang ada di dalam villa langsung ke belakang villa.


“Astaga ... Ada apa dengan Shinta, Tania?” tanya Oma Helena, yang ikutan menyusul ke area belakang.


“Gak tahu Oma, tadi Tante Shinta tiba-tiba pingsan begitu saja,” jawab Tania dengan raut cemasnya.


Oma Helena langsung menyuruh beberapa pelayan untuk menggotong Tante Shinta ke kamar, dan cepat memanggil dokter untuk mengecek keadaan Tante Shinta.


Tania hanya bisa duduk di tepi ranjang, tidak boleh melakukan apapun oleh Oma Helena.


Tante Shinta kenapa tiba-tiba pingsan, apa tadi aku salah sebut atau salah dalam berkata?


Dokter yang dihubungi oleh Bu Mimi sudah datang dan langsung memeriksa kondisi Tante Shinta, dan bersyukur tidak ada hal yang serius.


Bu Mimi sudah mengolesi minyak angin di bagian tubuh tertentu untuk merangsang Tante Shinta agar cepat sadar. Sedangkan Tania sabar menunggu sembari memijat tangan wanita paruh baya itu.


Tak lama Tante Shinta mulai ada tanda-tanda siuman dengan melihat jemari tangannya mulai bergerak.


“Tante Shinta,” ucap Tania begitu lembutnya.


Wanita paruh baya itu mengerjapkan kedua netranya, lalu menatap Tania yang duduk di sampingnya.


Tania ... benarkah kamu anak dari Hans Kurniawan, mantan suamiku ... Kamu anakku!


 bersambung.... ✍🏻✍🏻


 Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Makasih sebelumnya 🙏🏻🤗🤗🤗


 


Sambil menunggu bab selanjutnya, mampir yuk ke karya Author Saputri90



 

__ADS_1


 


 


__ADS_2