Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Teguran Jelita


__ADS_3

Gerry yang sudah mendengar perbincangan Kia dengan Vivian tampak meragu untuk memberitahukan ke Albert, ada rasa tak rela.


“Sebaiknya pura-pura tidak tahu, lagi pula biarkan saja Pak Bos sengsara, siapa suruh waktu itu nikah lagi,” gumam Gerry sendiri, akhirnya pria itu tetap di ruangannya melanjutkan pekerjaannya, dan membuang rasa bimbangnya itu.


“GERRY!” suara teriakan yang kencang terdengar jelas dari dalam ruangan CEO.


“Iis ... bisa gak sih dalam sehari gak teriak sekencang itu si Bos!” kesal Gerry, sembari bangkit dari duduknya menuju ruangan Albert.


“Pak Gerry!” panggil Mila, ketika melihat Gerry melewati meja kerjanya.


“Apa, panggil-panggil ... kangen ya,” celetuk Gerry, sambil mengedipkan salah satu matanya.


Mila berdecak kesal. “Ck, siapa juga yang kangen sama situ. Cuma mau bilang itu si Bos bisa di kasih obat gak, obat tidur kek! Gak capek apa tiap hari kerjaan marah-marah terus, lihat kerjaan aku gak selesai-selesai ... dikit dikit salah ... gak ada bener nya aku kerja! “ngedumel Mila dengan raut wajah betenya.


“S A B A R Mila, pawangnya belum ketemu, jadi si Bos bawaannya marah-marah terus!” sahut Gerry dengan santainya.


“Si Marsha pawangnya, ck ... dasar perempuan gak tahu di untung, punya suami sekeren Pak Albert, masih aja mau deket sama cowok lain!” gerutu Mila.


Gerry hanya bisa menggeleng kepalanya, dengan memutar malas kedua bola matanya.


“GERRY!!” kembali namanya di panggil.


“Aku mau masuk, gak dengar apa lolongannya, udah kayak tinggal di hutan,” kata Gerry, kemudian melanjutkan langkah kakinya. Mila hanya menggerak-gerakkan bibirnya tanpa ada suara.


Saat Gerry masuk, Albert sudah memasang tampak garangnya dan menunjukkan sorot mata tajamnya.


“Lama sekali kamu masuk ke ruangan, apa perlu aku berteriak kayak Tarzan di hutan!” bentak Albert.


GLEK!


Tenggorokan Gerry tercekat, baru saja di luar dia bilang kata hutan ke Mila, eh ternyata Bosnya bilang kata Tarzan, sepertinya Bosnya bisa membaca pikirannya.


“Apa jadwal saya siang ini?”


Gerry langsung menyalakan notenya yang kebetulan dibawanya. “Nanti siang  jam dua siang ada meeting dengan beberapa investor property di hotel Raffles, mereka mengharapkan Pak Albert bisa hadir.”


Tanpa banyak berpikir pria itu menyetujui untuk mengikuti meeting tersebut, lagi pula sudah dalam tiga bulan terakhir banyak sekali pertemuan yang di cancelnya.

__ADS_1


...----------------...


Hotel Raffles Jakarta


Sudah hampir sebulan, Marsha sepi job pemotretan ... semua gara-gara videonya yang sempat viral di sosial media, dan Albert benar-benar tidak membantu mentake down semua gosip yang beredar, yang ada dia dan manajernya yang menghadapi awak media. Production house yang berada di bawah naungan perusahaan Maxindo juga menghentikan segala kegiatan yang berkaitan dengan Marsha atas perintah Albert.


Jelita menyesap macha lattenya dengan tatapan sedikit sinis, sambil mendengar curhatan Marsha. Mereka berdua memang sekarang bertemu, janjian di restoran mewah yang ada di hotel Raffles, Kuningan - Jakarta Selatan.


“Kamu masih enak, walau sepi job ... paling tidak uang belanja masih mengalir dari suami kan?” tanya Jelita.


“Ya iya sih duit dari suamiku masih banyak, gak bakal kekurangan. Tapi kan kamu tahu aku tuh gak betah kalau gak ada kerjaan,” jawab Marsha, yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Sudah dalam tiga bulan, Albert memblokir semua kartu hitam, biru dan kuningnya tanpa alasan yang jelas. Sedangkan uang nafkah yang dia terima saat ini hanya sebesar 50 juta dalam tiga bulan ini dan itupun diberikan secara tunai, lalu setiap Marsha minta penjelasan selalu dijawab sebagai istri harus menerima berapapun nafkah dari suami. Menurut Albert itu sudah cukup, karena semua keperluan, gaji maid, dan kebutuhan di mansion tetap menjadi tanggung jawab oleh Albert.


Kemanakah sikap Albert yang selalu royal kepada Marsha, yang selalu memberikan kemewahan, uang yang berlimpah? Semua lenyap begitu saja, semenjak Tania menghilang.


“Hubungan kamu sama Pak Robby, ngimana semenjak video viral itu?” tanya Jelita dengan tatapan menyelidik.


Marsha tersenyum tipis. “Mau tahu atau mau tahu banget?”


Jelita melihat senyuman Marsha bisa memastikan jika temannya masih berhubungan dengan Pak Robby, secara sembunyi-sembunyi, buayalah di kadalin, ya ... pasti bisa ke baca gerak geriknya.


Memang betul sih jaman sekarang tidak perlu lagi menunjukkan prestasi kepada dunia, dengan melakukan hal yang buruk saja bisa jadi terkenal, dunia sekarang memang sudah aneh! Gara-gara hal sepele pasti akan di undang ke beberapa acara talk show di stasiun televisi


“Aku kalau berada diposisi kamu, lebih baik mengurus suami ku yang tampan dan kaya itu. Buat apa capek-capek mengejar popularitas di jagat raya. Lebih nikmat menikmati hidup bahagia dengan suami dan anak-anak. Memangnya kamu gak kepengen apa punya anak, biar suami makin cinta?”


Pertanyaan Jelita sudah mulai menyudutkan Marsha. “Aku penganut childfree, dan suami aku fine-fine saja, tidak masalah,” jawab dusta Marsha, tapi ada rasa yang tidak enak di hatinya ketika dirinya memang benar-benar dinyatakan mandul setelah melalukan pemeriksaan diri di rumah sakit yang berbeda.


“Aku gak percaya suami kamu tidak mendambakan anak dalam rumah tangga, Albert pasti butuh pewaris untuk meneruskan perusahaannya dan kekayaannya!”


Marsha mengambil cangkir coffenya lalu menyesapnya pelan-pelan, sebenarnya ingin mengalihkan perbincangan tersebut.


“Suatu hari kamu jangan menyesal Marsha, jika suamimu akan berpaling darimu jika kamu penganut childfree, suamimu akan terpikat dengan wanita lain, walau wajahmu cantik badanmu sexy, hal itu tidak akan menjamin suamimu setiap!”


DEG!


“STOP Jelita, aku ingin bertemu denganmu ingin curhat bukannya minta diceramahi sama kamu,” sentak Marsha.


Jelita mendengus, se nakal-nakalnya Jelita yang sama-sama merintis di dunia modelling dengan Marsha, wanita itu lambat laun mulai menyadari kesalahannya ketika melakukan pergaulan bebas demi mengejar ketenaran, ternyata hal itu tidak membawa kebahagiaan, justru tidak ada ketenangan dalam kehidupannya.

__ADS_1


“Sebagai teman, aku hanya mengingatkan saja, jika kamu tidak bisa terima ya terserah. Kalau aku masih single belum punya suami, masih bebas melakukan apapun. Tapi kamu sudah menikah seharusnya bisa menghargai pernikahan itu. Dan kamu sadar gak segala kebusukan kamu, lambat laun akan terbongkar!” jawab Jelita begitu tenangnya.


Marsha berdecak kesal. “Sok pakai nasehat segala, udah tobat kamu rupanya ya!” cemooh Marsha.


Jelita hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam, ketika mendapat cibiran dari teman karibnya, ya walaupun dia bukan orang suci, paling tidak bisa mengingatkan temannya yang telah berumah tangga.


Tidak ada perdebatan lagi antara mereka berdua, sekarang sibuk dengan mengecek handphonenya masing-masing. Marsha terlihat tersenyum sendiri ketika membaca pesan dari seseorang.


Pesan dari siapakah?


 


bersambung ... ✍🏻✍🏻✍🏻


 


 Kakak readers terima kasih yang telah meninggalkan komentarnya di bab sebelumnya, semua komentarnya di tampung 🙏🏻🤗.


Sambil menunggu bab selanjutnya, mampir yuk ke karya author Melisa



 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2