Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Tiba di mansion Albert


__ADS_3

Mansion Albert


Jam 16.30 wib


Gerry, Pak Firman, Bu Mimi beserta maid yang lainnya tampak bersiap-siap menanti kedatangan Tuan dan Nyonya nya, yang sebentar lagi tiba, termasuk Gisel dan Clara yang menanti pujaan hatinya, Albert.


Tak selang berapa lama mereka menanti, gerbang mansion pun terbuka, dan masuklah iring-iringan mobil mewah menuju luar lobby mansion Albert.


Securty mansion di bantu Pak Firman membuka pintu ketiga mobil tersebut.


“Selamat datang kembali Tuan Albert,” sambut Pak Firman, ketika membukakan pintu untuk Tuannya.


“Terima kasih Pak Firman,” balas sapa Albert. Sebelum turun dari mobilnya pria itu sibuk melap bibir Tania yang masih menikmati tahu gejrot, sampai belepotan.


“Sayang sudah dong makan tahu gejrot nya, jangan banyak-banyak ... Nanti perut Mama sakit, ini terlalu asam dan pedes,” tegur Albert, sembari mengambil alih wadah tahu gejrot yang sempat di belinya di rest area tol, dan memberikannya ke Bu Mimi yang berada dekat pintu mobil.


“Papa, aku lagi ke pengen makan sama tahunya,” rengek manja Tania.


Oma Helena dan Mama Shinta yang sudah turun dari mobil, jadi ikutan melongok ke dalam mobil Albert, yang belum keluar dari mobil.


“Astaga nak, kamu dari tadi masih makan tahu gejrot toh. Dengerin kata suamimu, nanti sakit perut kalau kebanyakan. Ayo turun dari mobil,” pinta Mama Shinta.


Bibir Tania mulai mengerucut, sedangkan Albert menahan diri untuk tidak tertawa kan istrinya. Pria itu turun terlebih dahulu, kemudian mengulurkan kedua tangannya untuk membantu bumil keluar dari mobil.


Para maid yang sudah lama tidak melihat Tania, sesaat terbuka melihat Tania yang sudah hamil besar, dan semakin cantik memesona di tambah penampilannya jauh berbeda, terlihat elegan ... siapa dulu dong anaknya Mama Shinta yang membantu mengubah penampilan anak perempuan satu-satunya.


Clara dan Gisel tampak kesal melihat Albert yang begitu perhatian dengan Tania, melebihi perhatiannya dengan Marsha.


Tania menyapa ramah Pak Firman, Bu Mimi dan beberapa maid yang di kenalnya, termasuk Gisel yang pernah memperlakukannya dengan kasar. Gisel memasang tampak ramahnya saat di sapa Tania bukan tampak sinis dan juteknya, namun Tania sangat memperhatikan wajah Gisel.


Selanjutnya Clara. “Halo, Tania apa kabar!” sapa Clara yang tidak ada sopan santunnya dengan kakak tirinya, tak lama gadis itu menyeringai tipis.


Kedua netra Tania memindai Clara dari ujung kaki sampai ujung rambut, memperhatikan gadis yang mengenakan seragam maid. Tania sudah tahu tentang keberadaan Clara dari Bu Mimi dan Albert.


“Siapa dia Tania, kenapa dia panggilnya Tania?” tanya Mama Shinta yang berada di samping Tania.


“Dia anak pelakor Mah, namanya Clara,” jawab Tania. Kedua netra Clara seketika membulat, di tuding sebagai anak pelakor.


Mama Shinta maju dua langkah agar lebih dekat melihat wajah Clara, tidak mirip dengan Hans, lebih mirip pria lain ... penilaian Mama Shinta. “Ooh ternyata ini anaknya Rita, anak yang dibesarkan oleh ayahmu, yang ternyata bukan anak kandung ayahmu ... ck,” tukas Mama Shinta.


Clara menatap sinis wanita yang di panggil Mama oleh Tania, untuk pertama kalinya gadis itu melihat ibu kandung Tania, yang rupanya jauh lebih cantik dari ibu kandungnya, dan jelas penampilannya lebih berkelas ketimbang Bu Rita yang sok berkelas padahal kaum menengah ke bawah. Rasa irinya semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


“Eh Tania, enak sekali lo bilang gue anak pelakor!” ucap ketus Clara.


Tak segan Mama Shinta menarik rambut Clara yang tergerai hingga Clara tersentak. “Wajar kalau anakku bilang kamu anak pelakor! Karena ibumu seorang pelakor yang merebut suami temannya, dan wanita jahat yang misahkan anak dari ibu kandungnya. Dan kamu berhati-hatilah, saya tahu maksud kamu bertahan di sini! Jangan sampai kamu yang masuk ke lubang yang kamu buat sendiri!” ancam Mama Shinta tidak main-main, kemudian menarik rambut Clara hingga gadis itu terjengkang.


Sudah cukup rasanya Mama Shinta mendengar cerita Tania yang selalu diperlakukan buruk oleh Bu Rita dan Clara, dan kini  Mama Shinta hadir untung melindungi anaknya selain Albert yang lebih utama menjaga keselamatan Tania.


Clara meringis kesakitan ketika jatuh terjengkang ke belakang, dan tak ada satupun yang menolong nya, hanya diam menontonnya.


Brengsek Ibu dan anak sama aja! Awas gue akan segera beraksi! ... Batin Clara tak terima di perlakukan kasar oleh Mama Shinta.


“Mama Shinta, mari kita ke ruang tengah,” ajak Albert dan merangkul pinggang Tania agar turut mengikutinya.


“Ya nak ...”


...----------------...


Sekarang mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah untuk beristirahat sambil menikmati teh beserta kue di sore hari. Bu Mimi dan Yuyun yang menyiapkan hidangan tersebut, dan sudah di cobai sebelum di hidangkan.


“Mama, Papa, Oma sama Opa sore ini nginap di sini kan?” tanya Tania dengan wajah memelasnya, sangat berharap ke empat orang tersebut mau menginap.


“Aku sudah menyiapkan kamar, jadi Oma, Opa, Mama dan Papa mau menginap di sini ya,” sambung Albert.


Sebelumnya menjawab Mama Shinta tanya terlebih dahulu ke Papa Dimas. “Kalau Papa ikutin Mama aja. Kalau mau menginap, pasti Papa turuti kok,” jawab Papa Dimas.


Kalau Oma Helena jangan ditanya sudah pasti mengiyakan, Opa Thamrin pasti juga jawab iya.


“Makasih, berarti malam ini mansion kita ramai ya, Pah,” jawab Tania kegirangan.


“Iya sayangku...,” balas Albert, hati pria itu terhenyuh dengan Tania karena mereka berempat mau menginap di mansionnya, Tania terlihat senang seperti orang yang diberikan hadiah mewah saja.


“Mama Shinta sama Papa Dimas mau keliling mansion kah? Biar aku antar?” tawar Albert.


“Boleh, Mama mau lihat-lihat,” balas Mama Shinta semangat, walau mansion Albert sama besarnya dengan mansion miliknya, tapi ini perdana Mama Shinta menginjakkan kakinya di mansion menantunya, tempat tinggal anak dan cucunya.


Tania langsung merangkul mesra lengan besar Albert, dan ikut menemani suaminya berkeliling mansion. Sedangkan Oma Helena dan Opa Thamrin memilih beristirahat di ruang tengah sambil menikmati teh.


...----------------...


Paviliun


Gisel sengaja mendekati Clara yang sedang duduk sendiri di depan pavilun dekat pintu. “Gue kalau dipermalukan kayak lo tadi, gue bakal balas dendam,” ucap Gisel, sengaja memanas-manasin Clara.

__ADS_1


Clara langsung menoleh ke samping, menatap sinis Gisel. “Ck ... gak usah ikut campur sama masalah gue deh!” sahut Clara, berdecak kesal.


“Gue gak ikut campur, cuma bilang kalau gue jadi lo. Bakal balas dendam, bakal gue musnahin tuh calon anak yang ada di kandungan si Tania biar mati di dalam, kalau bisa Tanianya ikutan ma ti juga! Biar di rasa sakitnya Nyonya Marsha, sudah ngerebut suami orang!” kata Gisel menggebu-ngebu, sengaja komporin Clara.


DEG!


Jantung Yuyun rasanya mau copot.


Yuyun yang ada di balik pintu tak sengaja mendengar, dan tak sengaja juga lagi videoin cake buatannya, jadi suara Gisel dan Clara ikut terekam.


Ya Allah jangan sampai terjadi, ini harus di kasih tahu ke Tuan dan Nyonya ... batin Yuyun.


bersambung ......


Kakak Reader jangan lupa tinggalkan jejaknya. Terima kasih sebelumnya.


Lope lope sekebon 🍊🍊🍊🌻🌻🌻🌹🌹🌹



 



Beberapa hari lagi launcing karya baru ya, stay tune ya Kakak Readers



Ayasha Elshanum, usia 18 tahun baru lulus SMU



Rafael Alviansyah, usia 30 Tahun, Pemilik perusahaan BARA Nusantara



Delia Ayuningrum, usia 25 tahun, sekretaris Rafael Alviansyah



Darial Syahreza, usia 30 tahun, Pemilik PT. Praja Land

__ADS_1



__ADS_2