
Albert dan Marsha kini sama-sama sudah berada di dalam mobil, suasana terasa hening, tak ada pembicaraan antara mereka berdua. Marsha mencoba membuka suara nya dan sedikit membujuk namun masih saja di acuhkan oleh suaminya.
Sedangkan Albert pandangannya lebih banyak melihat handphonenya, untuk membaca serta membalas semua pesan yang masuk, dan sesekali juga menatap ke arah keluar jendela mobilnya.
Marsha menarik napasnya dalam-dalam, terlihat jelas dia tidak menyukai suasana seperti ini.
“Apakah Kak Albert tidak mau bertanya kenapa wajahku terlihat lebam?” tegur Marsha, menunjukkan rasa kecewanya kepada pria itu.
Albert sedikit menoleh dan menjawab, ”jika terluka ya tinggal diobati, bukannya tadi kamu ke rumah sakit!”
Jawaban Albert begitu datar dan dingin, tidak ada rasa perhatian atau peduli nya melihat istrinya sendiri, pria itu kembali fokus dengan handphonenya.
“Begitu pentingkah handphone itu, ketimbang aku sebagai istrimu yang sedang mengalami luka!” gerutu Marsha.
“Mmm....!” gumam Albert tanpa menoleh.
“Sungguh suamiku sekarang benar-benar berubah!” gumam Marsha sendiri.
Dari benak hati Albert memang tidak tergugah untuk menanyakan apa yang terjadi dengan istrinya, rasanya sudah malas untuk berdebat atau beradu argumen.
“Buat apa Kak Albert berada di rumah sakit?”
“Kamu tanya buat apa aku di rumah sakit! Sudah jelas rumah sakit itu milik ku, dan wajar jika aku ke sana untuk mengecek!” jawab Albert dengan ketusnya, dan tanpa menatap Marsha, wanita yang selalu dipujanya.
Marsha sejenak terdiam, memang tidak salah jika Albert datang ke sana dan wajar, tapi tidak salahkan jika seorang istri mencurigai suaminya sendiri.
Mobil yang mengantar Albert dan Marsha sudah tiba di mansion Albert, begitu tiba di luar lobby... Albert bergegas keluar dari mobil, di susul Marsha, wanita itu mulai menggamit lengan pria itu, dan Albert kembali menepis tangan istrinya, ada rasa jengah padahal Albert tidak seperti itu biasanya, justru selalu memperlihatkan kemesraan mereka berdua.
“Selamat datang Tuan Albert,” sapa Pak Firman, pria itu langsung mengambil barang bawaan yang dibawa Albert.
__ADS_1
Dari dalam lobby mansion tampak gadis muda tersenyum bahagia ketika melihat siapa yang datang, dan buru-buru menghampirinya.
“Pak Albert,” sapa Clara, sembari menunjukkan wajah sedih nya.
Pria itu menatap wajah Clara yang terlihat babak belur, sama seperti dengan wajah Marsha.
“Sayang, wanita ini yang telah berani menghajar wajahku, sampai terluka begini!” adu Marsha.
“B-bukan aku Pak, wanita ini yang duluan memukul dan menjambak rambut ku saat makan, aku gak ngerti kenapa, apa salah ku. Aku datang ke sini karena di minta Bapak kan?” sanggah Marsha, suara nya terdengar memelas.
Pria itu menghirup oksigen sebanyak mungkin, sebelum menghadapi kedua wanita yang sudah berdiri di hadapannya.
“Bu Mimi!” panggil Albert.
Wanita paruh baya yang namanya di panggil bergegas menghampiri Tuannya. “Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”
“Ambilkan seragam maid yang baru, dan kasihkan ke wanita ini!” seru Albert dengan menunjuk wajah Clara.
“Dasar wanita licik! Kamu ada di sini untuk bekerja menjadi maid! Pak Firman, Bu Mimi tempatkan dia kebagian kebersihan khusus toilet di seluruh mansion ini, dan wanita itu tidak di gaji, dia harus menembus perbuatannya sendiri!” ucap Albert dengan suara tegasnya.
“Serta satu lagi Bu Mimi, kamar dia sama kan dengan maid yang lainnya!”
“Pak Albert, kok di kamar pembantu. Aku ini pengganti Tania sebagai istri Pak Albert, bukan pembantu di sini. Aku ini seorang model, gak mungkin melakukan hal yang menjijikkan seperti itu. Seumur hidup aku tidak pernah melakukan nya, semua pekerjaan itu kerjaan Tania di rumah!” balas Clara tidak terima. Marsha rasanya bahagia, melihat suaminya bertindak tegas dengan wanita muda itu.
Albert menajamkan kedua netranya, apalagi mendengar kata Tania yang mengerjai semuanya. “Kamu lebih memilih masuk penjara atau menjadi maid di sini beberapa bulan! Karena kamu dan ibumu sudah memberikan surat keterangan palsu! Kamu tahu itu kan!” seru Albert, hatinya mulai meradang, sensitif kalau sudah mengenai Tania.
“S-surat keterangan apa, Pak?” jawab Clara terbata-bata, jantungnya mulai berdegup kencang karena tahu yang dimaksud pria itu.
Albert berdecak kesal. “Ck ... Pintar sekali kamu pura-pura tidak tahu, kamu dan ibumu akan mendapatkan ganjarannya secara hukum! Telah membuat surat keterangan jika Tania sakit dan tak bisa hamil dari rumah sakit. Dan kamu tahu Clara, saya sudah menyelidiki kebenarannya, karena rumah sakit itu adalah milik saya!”
__ADS_1
DEG!
Seketika sekujur tubuh Clara lemas, tidak menyangka jika Albert pemilik rumah sakit tersebut. “Pak Albert, aku tidak tahu tentang hal itu, karena i-itu u-urusan ibu bukan aku ... Sumpah,” sanggah Clara.
“Saya tidak peduli, manajemen rumah sakit sudah melaporkannya, karena sudah menyangkut nama baik rumah sakit!” tegurnya, lalu Pria itu berlalu begitu saja.
Aduh bagaimana ini, kenapa gak ke pikiran sejauh itu. Gue gak mau di penjara.
Marsha melipat kedua tangannya di dada lalu tersenyum jahat ketika menatap wajah Clara, yang mengaku-ngaku jika dia adalah istri muda Albert.
“Well ... ternyata kamu babu baru di sini, aduh kasihan banget ternyata kamu bukan istri suamiku, pakai ngaku-ngaku segala! Jadi sekarang bersiap-siaplah ganti seragam, kerja kan tugasnya dengan baik. Ayo Bu Mimi kasih seragamnya, aku rasanya senang sekali ... hahaha,” kata Marsha dengan tertawa jahat.
“Dan kalian semua, keluar kan barang babu baru ini dari kamar tamu, dan bersih kan kamar tersebut sampai sebersih-bersihnya jangan sampai ada wangi babu ini!” perintah Marsha kepada para maid yang ada di sana.
Clara terlihat mengepalkan kedua tangannya, dan menunjukkan wajah marah nya, gadis itu tidak menyangka harga dirinya dijatuhkan oleh Albert di depan para maid. Padahal kemarin dan tadi pagi dia menunjukkan kekuasaannya sebagai Nyonya Muda, sekarang dinyatakan sebagai maid.
Baiklah lebih baik gue bertahan dulu di sini, paling tidak jika gue masih ada di sini bisa merebut Pak Albert dari Marsha. Akan gue rebut!!”
Gisel sudah membawakan seragam yang di minta Bu Mimi, lalu melemparkannya pas di wajah Clara, membuat gadis itu terkesiap.
“Eeh ... Babu baru, ganti baju loh sana di kamar mandi dekat dapur, jangan berani balik ke kamar tamu. Dasar jadi babu aja, ngaku-ngaku jadi Nyonya Muda di sini ... Cih!” celetuk Gisel dengan gaya angkuhnya.
“CEPETAN!” teriak Gisel, tidak peduli masih ada Bu Mimi di dekat mereka. Tapi kali ini Bu Mimi tidak membela Clara, biar jadi hukuman buat Clara atas sikap nya yang tak tahu diri.
“Eeh...kuping loe budek ya, apa perlu gue gerek!” geram Gisel, melihat Clara masih bergeming.
Dengan kesal nya Clara menyentak kedua kakinya di lantai. “Bakal gue balas loe!” gertak Clara, kemudian jalan ke belakang, menuju dapur.
“Woow berani ngelawan nih bocah, siapa takut!” sahut Gisel.
__ADS_1
bersambung...📝.