Dijual Ayahku Dibeli Bosku

Dijual Ayahku Dibeli Bosku
Meredakan emosi


__ADS_3

Tania langsung menampar wajah Albert sebanyak dua kali hingga wajah pria itu sesaat berpaling namun kembali menatap wanita yang berada di bawah kungkungannya.


“PRIA KEJAM, DASAR IBLIS!” maki Tania, dengan kedua netra yang sudah basah.


“Ya saya kejam dan iblis karena kamu, Tania!” balas Albert, tak menyangka Tania berani menampar wajahnya dan ini untuk pertama kalinya ada yang berani dengannya.


Deru napas mereka naik turun setelah melakukan ciuman yang sangat ganas, Albert menyentuh lidah nya yang terluka, sedangkan Tania memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah iblis itu.


“Sampai kapan pun saya tidak akan menceraikanmu!! Sebelum kamu melahirkan anak buat saya!”


Wanita itu sempat membaca surat perjanjian yang di tunjukkan oleh Albert jika semua akan berakhir kalau dirinya sudah melahirkan anaknya.


Tania kembali menolehkan wajahnya dan menatap Albert. “Sampai kapan pun saya tidak akan melahirkan anak untukmu, Pak Albert! Bangkit lah dari tubuhku ini!” sentak Tania.


Lagi dan lagi Tania mampu menyulutkan api di hati pria itu, bukannya bangkit dari atas tubuh Tania, tapi pria itu meraih pinggang wanita itu dan mendekap nya dengan erat. “Saya akan membuatmu mengandung anak ku!” geram Albert, pria itu tidak memedulikan keadaan Tania yang masih belum sehat.


Pria itu kembali menatap wajah Tania dengan tatapan tanpa arti, Tania mulai khawatir dengan dirinya ketika mereka saling bersitatap, degup jantung Tania mulai berdetak kencang, begitu pula dengan degup jantung Albert yang semakin berpacu. Tidak ada jarak di antara mereka, walau salah satu lengan Albert bertumpu di atas ranjang untuk menahan bobot tubuhnya sendiri, tapi dengan sempurna tubuh mereka sudah menempel, Tania bisa merasakan sesuatu di atas bagian feminim nya, mengeras dan membesar.


Namun tiba-tiba Albert tersentak ingat kejadian tadi pagi, saat Tania benar-benar histeris dan Dokter Irwan memberitahukan akibat jika di paksakan kehendaknya dirinya. Akhirnya pria itu terpaksa memilih bangkit dari atas tubuh Tania dengan raut wajah kecewa. Wanita itu bisa bernapas lega sesaat, dan menutup tubuhnya yang terbuka dengan selimut.


Pria itu sesaat duduk di tepi ranjang, dan menyugar rambutnya dengan kedua tangannya, kemudian sesaat melirik Tania yang sudah memalingkan wajahnya.


Hening...


Tak ada yang bicara, Tania dan Albert sesaat tenggelam dengan pikirannya masing-masing.


Setelah sekian menit berlalu, Albert mengambil baju ganti untuk Tania di lemari. “Pakailah,” pinta Albert sembari memberikan  baju ke Tania, wanita itu meraih nya dengan kasar, namun Albert masih berdiri di hadapannya.


“Kenapa masih berdiri di situ! Bukannya minggir dari sana!” celetuk Tania dengan ketusnya.


TOK ... TOK ... TOK


Pintu ruangan tiba-tiba terketuk. Pandangan Albert dan Tania langsung menuju pintu ruangan.


“Cepat pakai bajunya, apa salahnya pakai di depan saya, lagi pula saya juga sudah beberapa kali lihat tubuh bagian bawah kamu, dan tadi saya juga sudah melihat dengan jelas bagian atasnya!” balas Albert.


Tania menunjukkan wajah jengkel nya dengan terpaksa wanita itu memakai baju piyamanya tanpa menurunkan selimutnya di hadapan pria yang berstatus suaminya. Setelah mengenakan bajunya, baru pria itu membuka pintu ruangan, ternyata yang datang perawat untuk menyuntikan obat untuk Tania.


Perawat kembali memasangkan jarum infus karena tadi sempat di lepas karena tangan Tania bengkak setelahnya memasukkan obatnya, Albert dengan setia mendampingi Tania.

__ADS_1


Setelah perawat keluar dari ruangan, Albert menemui Bu Mimi yang menunggu di luar, dan meminta untuk beristirahat di ruangan yang berbeda yang sudah di siapkan di rumah sakit, sedangkan dengan ajudan Opa, pria itu hanya terlihat kesal karena masih setia berjaga.


Sekembalinya dari luar ruangan, Albert kembali mengunci pintu ruangan.


...----------------...


“Malam Nyonya Besar, maaf mengganggu,” sapa Bu Mimi melalui sambungan teleponnya, wanita paruh baya itu sengaja berdiri agak menjauh dari pintu ruangan.


“Ya gak pa-pa Mimi, ada perkembangan terbaru apa?” tanya Oma Helena dari seberang sana.


“Tuan muda sekarang ada di rumah sakit, sempat berkelahi dengan ajudan agar bisa menemui Non Tania.”


“Berarti dia datang karena foto yang kamu kirim kah? Wajahnya waktu datang kelihatan marah kah?”


“Iya Nyonya, sangat kelihatan emosi.”


“Sekarang ada di mana Albert nya?”


“Tadi sempat keluar waktu ada perawat, sekarang sudah masuk ke ruangan dan pintu ruangan di kunci lagi.”


“Fix kalau begitu, Albert sudah ada hati dengan Tania. Kalau begitu kamu tetap awasi saja, jika ada kekacauan langsung beritahu saya.”


“Baik Nyonya Besar.”


“Opa dengar semua kan?”


“Mmm ... ya dengar. Ternyata cucu kita memang tidak bisa di larang rupanya. Semakin di ancam semakin tertantang untuk melanggarnya,” sahut Opa, sambil membolak balik majalahnya.


“Tapi menurut Oma, kali ini cucu kita sepertinya sudah terpikat dengan Tania. Bukankah Opa tahu jika Albert selama ini tidak bisa berpisah lama dengan Marsha, tapi sekarang kayak malam ini bukannya pulang ke mansion, tapi malah ke rumah sakit menemui Tania. Berarti itu tanda nya Albert—“


“Jatuh cinta dengan Tania,” sambung Opa Thamrin.


“Nah iya betul Opa, tapi sayang anak itu belum mengakuinya.”


Opa Thamrin menutup majalahnya lalu menatap istrinya. “Kita tunggu kapan cucu kita menyadari nya, apakah cepat menyadari atau telat menyadari perasaan nya.”


Semua kembali ke perasaan Albert, jika tidak cepat memahami perasaannya maka yang ada hanyalah sebuah penyesalan.


...----------------...

__ADS_1


Kembali ke rumah sakit


Albert telah mengunci pintu, kemudian mengambil segelas air hangat. “Minumlah, Tania,” pinta Albert, menyodorkan segelas air.


Tania menaikkan salah satu alisnya, tumben-tumbenan pria itu memberikan minum tanpa diminta.


“Gak haus!” jawab Tania ketus.


“Minumlah, tadi kamu sudah menggigit lidah saya sampai berdarah,” ucap Albert, tidak ada kata yang meninggi.


Benar juga yang diucap Albert, pantas saja mulutnya terasa anyir, terpaksa wanita mendudukkan dirinya kembali lalu meraih gelas dari pria itu lalu meneguknya sampai tandas.


“Mau makan sesuatu?” tawar Albert.


“Udah kenyang!” jawab Tania masih ketus, lalu wanita itu kembali merebahkan dirinya, kemudian memiringkan tubuhnya.


Pria itu meletakkan gelasnya di atas nakas, lalu membuka kemejanya karena ingin ganti baju. Tania yang tak sengaja melihat dada Albert yang begitu atletis sekejap terbelalak, sungguh sempurna tubuh pria itu, namun wanita itu memejamkan kedua netranya, sedangkan Albert memang sengaja memperlihatkan badannya yang selama ini belum dilihat oleh Tania, entah apa maksudnya.


Dan untuk pertama kalinya Albert mengganti pakaiannya di hadapan Tania, menurunkan celana panjangnya hingga meninggalkan boxer di bagian tubuh bawahnya, Tania kembali tak sengaja melihatnya sesaat membuka kedua netranya, pemandangan yang super wow. 


GLEK!


Pria itu dengan santainya memakai baju ganti nya, tidak risih jika Tania melihatnya, justru hal itu yang diinginkannya. Setelahnya Albert mengambil gelas yang tadi dipakai oleh Tania lalu mengisi kembali dengan air mineral dari mesin dispenser kemudian meneguknya sampai tandas. Kenapa pakai gelas bekas Tania? Padahal ada gelas yang lain, yang belum dipakai oleh siapapun.


Albert kembali mendekati ranjang Tania, lalu duduk di tepi ranjang dengan menghela napas panjangnya, kemudian menatap Tania.


"Sudah tidur?”


“Mmm.....,” gumam Tania, yang lagi berusaha memejamkan matanya, tapi hatinya was-was karena masih ada Albert di ruangannya.


“Keluarlah dari kamar ini, saya tidak bisa tidur jika masih ada pria iblis di sini!” pinta Tania, sambil memiringkan tubuhnya ke posisi yang berbeda, memunggungi Albert.


“Jangan bikin saya kembali emosi Tania,” balas Albert.


Tania berdecak kesal. “Ck ... Situ aja yang bawaannya emosi, lebih baik pulanglah, pasti Nyonya Marsha menunggu suaminya yang belum pulang!” sarkas wanita itu, dengan mata terpejam.


bersambung .... 📝 Albert di suruh pulang! Ck ... mana mau ... obat tidurnya ada di rumah sakit 🤧🤧


" Besok waktunya menjemput Tania dari rumah sakit dan membawa pulang ke mansion utama," gumam Oma Helena sendiri.

__ADS_1



"


__ADS_2