
Degup jantung Marsha sangat begitu kencang, dia baru menyadari jika sudah hampir seminggu lebih belum datang bulan, padahal wanita itu rutin minum pil KB. Menurutnya ini sebuah keberuntungan untuk menggaet suaminya kembali dalam pelukannya.
Wanita itu mengusap perut datarnya lalu kedua netranya menatap suaminya dengan tatapan teduh.
“Sayang, aku baru sadar sudah hampir seminggu lebih belum datang bulan.”
Rona kebahagiaan di wajah Albert tidak terbit, wajahnya masih terlihat datar, tak berekspresi, namun hatinya kalut jika benar Marsha juga mengandung, kenapa terasa menjadi beban buat dirinya. Bisa jadi dengan kehamilan Marsha, Tania akan benar-benar menjauh darinya untuk selamanya. Karena Marsha sudah mengandung anaknya! Dugaan Albert.
Gerry dan Pak Firman yang ada di antar mereka berdua hanya bisa memutar bola matanya antara ke Albert dan ke Marsha.
“Selamat Pak Albert, jika memang Nyonya Marsha mengandung, berarti semakin banyak anak Pak Albert,” ucap Gerry. Albert langsung melebarkan kedua bola matanya ke Gerry, terpaksa asisten pribadinya mengatup bibirnya kembali.
“Gerry, suamiku hanya akan memiliki anak dariku, Tania itu pasti mengandung anak pria lain!” celetuk Marsha, tidak suka dengan ucapan Gerry.
“Sayang, kamu ngidam mungkin karena aku hamil.”
Antara bahagia dan tidak bahagia itu yang tersirat dari wajah Albert. “Pak Firman, ambilkan saya kursi roda,” pinta Albert, badannya masih lemas tak bertenaga untuk berjalan.
“Mumpung kita ada di rumah sakit, sebaiknya kita cek ke dokter kandungan. Apa benar kamu sedang hamil, biar hasilnya lebih akurat!” pinta Albert, yang sudah duduk di kursi roda, lalu menutup hidungnya pakai masker.
Eh ... Tubuh Marsha tiba-tiba menegang ketika Albert mengajak untuk memeriksakan diri, tapi memang kenyataannya dia belum datang bulan, dan berharap jika kali ini telat bulan dia benar-benar sedang mengandung, demi keutuhan rumah tangganya dengan Albert.
“Kenapa diam saja, ayuk kita periksa ke dokter,” tegur Albert, melihat Marsha diam bergeming.
“Eh ... Sayang, lagi sakit, biarkan aku saja yang periksa sendiri, nanti hasilnya aku kasih tahu. Bagaimana?”
“Sepertinya kamu ingin mencoba membohongiku!” bentak Albert.
“Mmm ... Bukan begitu Kak, aku hanya kasihan lihat Kak Albert terlihat lemas,” jawab Marsha gelagapan.
Marsha sebenarnya lagi putar otak andaikan suaminya ikut dan ternyata kenyataannya berbeda, dia tidak bisa menutupi kebenaran itu. Sedangkan dia tidak ingin kehilangan suaminya, dan tak mau perhatian suaminya ke Tania, yang katanya sedang hamil, jadi harus cari cara jika dia juga sedang hamil.
Albert meminta Gerry untuk duluan ke ruangan Dokter Mira jika dia akan membawa istrinya untuk cek, lalu pria itu menajamkan tatapannya ke Marsha, menandakan jika perintah itu harus di turuti oleh wanita itu. Setelah itu Pak Firman mendorong kursi roda Albert, sedangkan Marsha mengikutinya dari belakang Pak Firman.
__ADS_1
Ck ... kenapa gue pakai bilang telat haid segala, udah tahu ini ada di rumah sakit. Harusnya gue cek dulu terus kasih hasilnya kalau gue hamil ... Duh bodoh banget gue!!
Ah semoga aja gue hamil walau terpaksa! Dari pada gue kehilangan Kak Albert direbut sama wanita murahan itu! Gue gak rela!
...----------------...
Ruang Praktek Dokter Kandungan
Dokter Mira sudah mempersiapkan dirinya menunggu kedatangan sang pemilik rumah sakit dengan istrinya, setelah sebelumnya Dokter Mira bertemu dengan Gerry.
Sejak awal Dokter Mira hanya tahunya Marsha sang model istri satu-satunya sang pemilik rumah sakit, namun rupanya ada wanita lain yang menjadi istri sang pemilik rumah sakit, itu pun awalnya di beritahukan oleh Dokter Irwan sebelum Albert sendiri yang bilang Tania istrinya, namun belum menjadi konsumsi public tentang istri kedua pria itu.
Seperti biasa, Dokter Mira menyambut kedatangan Albert dan Marsha, pria itu tanpa basa basi meminta Dokter Mira memeriksa kondisi Marsha yang katanya sudah telat datang bulan. Namun sebelumnya Dokter Mira menanyakan kapan terakhir haid, kemudian apa yang dirasakan oleh Marsha.
Wanita paruh baya tersebut lantas memberikan wadah penampung urine, dan meminta Marsha untuk buang air kecil di kamar mandi yang ada di ruang prakteknya, kemudian setelah itu perawat mengambil wadah yang sudah terisi urine Marsha dan membawa ke laboratorium.
Albert terlihat tenang menunggu hasil urine Marsha, sedangkan Marsha terlihat tidak tenang dalam duduknya. Untung saja Albert memakai masker double tiga, jadi tidak merasakan mual ketika duduk berdampingan dengan Marsha.
Semoga hasilnya gue positif hamil.
“Nyonya Marsha, silahkan naik ke atas brankar, biar saya cek rahimnya terlebih dahulu,” pinta Dokter Mira.
Marsha menganggukkan kepala lalu beranjak dari duduknya kemudian naik ke atas brankar di bantu sang perawat. Sesuai prosedur USG, terlebih dahulu perut Marsha di olesi oleh gel, selanjutnya alat tranducer menempel di perut bagian bawah wanita itu. Cukup lama Dokter Mira menggerakkan alat transducer tanpa komentar, karena wanita itu sedang mengamati layar monitor kemudian menscreen shoot beberapa posisi, setelahnya mencetak hasil USG perut Marsha.
Marsha sudah merapikan dressnya dan kembali duduk di samping suaminya.
Dokter Mira sebelum menjelaskan apa hasil pemeriksaannya, sejenak menarik napasnya dalam-dalam.
“Nyonya Marsha selama ini mengkonsumsi pil KB kah?”
“Iya, aku minum pil KB.”
“Sudah berapa lama?”
__ADS_1
“4 tahun,” jawab Marsha.
“Jadi begini Nyonya Marsha, Pak Albert, sebenarnya masalah haid yang datang terlambat itu sebenarnya lumrah buat wanita, kadang bisa maju kadang bisa mundur tanggalnya. Setelah dilihat dari hasil cek urine dan cek rahim, sebenarnya ada sesuatu di rahim Nyonya Marsha.”
Wajah Marsha yang awalnya tegang mulai terlihat santai. “Aku hamil ya, Dokter?”
Marsha langsung menyentuh tangan suaminya, namun sayangnya Albert menarik tangannya ... enggan untuk di sentuh Marsha.
“Sayang, kita bakal punya anak.”
Dokter Mira ada rasa tidak enak ketika ingin melanjutkan penjelasannya setelah melihat raut wajah bahagianya Marsha, sedangkan ekspresi Albert tidak terlihat karena tertutup oleh masker.
Sebagai dokter harus berkata jujur. “Maaf Nyonya Marsha, dari hasil pemeriksaan sementara, Nyonya tidak sedang mengandung ... Nyonya telat haid karena efek dari konsumsi pil KB yang berkepanjangan dan hormonal yang tidak bagus, serta efek obat-obat tertentu yang dikonsumsi seperti obat diet. Dan sepertinya Nyonya akan sulit untuk hamil, karena ada indikasi ... maaf Nyonya,” terjeda sejenak. “Ada indikasi Nyonya mandul, tapi untuk memastikan kita bisa melakukan tes yang lebih akurat.”
Senyuman yang mengulas bibir Marsha, seketika itu juga pudar. “Mandul.”
Albert sangat terlihat tenang dan tak terguncang mendengar kata mandul untuk istrinya. Kenapa? Apakah Albert tidak mengharapkan Marsha mengandung anaknya lagi? Atau pria itu sudah tenang hatinya karena Tania sudah mengandung anaknya, yang sekali hamil kembar tiga?
“Dokter pasti salah, aku gak mungkin mandul, badan aku ini sehat,” sanggah Marsha, memang dirinya menolak untuk hamil dan tak suka anak kecil, tapi bukan berarti dirinya di nyatakan mandul. Tapi kenyataannya Sang Maha Pencipta mengabulkan apa yang diucapkan dan yang diinginkan dengan caranya, yaitu mencabut kesempurnaannya sebagai wanita!
“Sayang, kayaknya dokter di sini kurang bagus, sebaiknya aku cek di Singapura saja, Rumah Sakit Elizabeth lebih bagus di sana. Aku tidak terima di bilang mandul, Sayang kan berharap aku hamil anakmu kan,” imbuh Marsha, mendesak Albert untuk mempercayai omongannya.
“Semua Dokter yang bekerja di rumah sakit milik adalah dokter yang terpilih dan berkompeten dalam bidangnya, dan alat penunjang kesehatan di sini juga sudah lengkap. Jadi kamu tidak perlu bilang dokter di sini tidak bagus, jika kamu tidak bisa menerima hasilnya, silahkan cari opsi kedua di rumah sakit yang lain!” geram Albert, yang secara tidak langsung Marsha menjatuhkan harga dirinya sebagai pemilik rumah sakit.
“Pak Albert seperti yang saya sampaikan sebelumnya, untuk lebih memastikannya kita lanjut pemeriksaan rahim Nyonya Marsha.”
Marsha mendengus kesal. “Tidak perlu, aku tidak mandul dan bisa hamil!” wanita itu lantas beranjak dari duduknya dan keluar begitu saja.
bersambung ... ✍🏻✍🏻✍🏻
"Entah kenapa hatiku lega, Marsha tidak mengandung, padahal dulu aku ingin sekali Marsha mengandung anakku," gumam Albert sembari menatap foto USG Tania yang di pegangnya. "Tunggu papa ya nak, jangan bikin susah mama, sehat sehat di perut mama. Nanti papa akan jemput mama ya." Pria itu mengecup foto USG tersebut.
__ADS_1