
Rasanya sangat pedih hati ini, wajah suamiku Daren, jelas menunjukkan rasa kecewanya terhadap Ku. aku tidak ingin dia terlibat terlalu dalam ke dalam masalah ini, cukup dia dibalik layar saja dan biarkan saya yang bekerja.
drrrt..... drrt... drrt.... " handphone yang ku letakkan diatas meja bergetar dan kulihat ternyata Remon yang menghubungi Aku.
"halo kak, Remon sudah di ruangan biasa di rumah kakak." suara Remon dari balik telepon tersebut.
Cuci muka dan sedikit bersolek, agar bocil reseh itu tidak mengetahui kalau kami berantem. sesampai diruang pertemuan itu, kulihat Remon dan Tyas begitu serius melihat laptopnya. dan Aku duduk didepan mereka berdua.
"kak, akun YouTube tersebut sudah di takedwon oleh pihak YouTube. seperti yang Remon sampaikan tadi siang, bang Dokter. suami kakak, bukan orang bodoh kak. Abang ku itu pasti membuat aku fake untuk menyebarkan videonya. agar tidak terlacak oleh siapapun. bahkan Remon belajar dari bang Dokter. kak, tolong maafkan bang Daren ya." ujarnya dengan begitu harunya. matanya mulai berkaca-kaca.
"jadi kamu datang kesini hanya untuk membela Abang mu itu?" pertanyaan ku membuat Remon meneteskan air matanya.
"bukan kak, tapi Remon bisa merasakan apa yang dirasakan oleh bang Daren. kedua orang tuaku juga menjadi korbannya. saat kami melaporkan, bukan keadilan yang kami dapatkan tapi malah fitnah yang kejam." jelasnya sambil menyeka air matanya.
"apa maksudmu?"
Bocil itu tidak sanggup untuk bicara karena menangis dan Tyas memberikan air minum untuk Remon, setelah selesai minum barulah dia menatapku dengan sendu.
"saya ini yatim-piatu kak, kedua orang tua adalah Kuli di gudang farmasi Cantika, berdasarkan perintah yang tertulis bapak dan ibu mengirim obat tersebut ke suatu tempat seperti yang tertulis di surat perintah itu, tapi truk yang mereka bawa di tabrak oleh orang lain dan kedua orang tua di fitnah ingin membawa kabur semua obat-obat tersebut. dan akhirnya di nyatakan sebagai pencurian. Om Arif adalah adik bapak dan mengangkat sebagai anaknya." ujar Remon sambil memberikan beberapa dokumen kepadaku dan kemudian beranjak pergi begitu saja dengan air mata berderai di pipinya.
drrrt... drrrt.... drrrt..... handphone kembali bergetar, dan kali ini yang menghubungi adalah Gopas.
"maaf mengganggu Bu, saya hanya menyampaikan bahwa keberuntungan berpihak kepada kita." ujarnya di telepon itu.
"maksud pak Gopas Gimana"
"begini Bu, dengan acara reality kehidupan itu, membuka mata semua orang. dan para warga net sudah menyatakan mendukung untuk mengungkap semuanya. bahkan dengan ramai-ramai membuat tagar agar pihak kepolisian, badan pengawas keuangan untuk bergerak." jelasnya dengan nada yang girang.
"baik kalau begitu, besok kita bertemu untuk membahasnya."
__ADS_1
Sambungan telepon terputus, dan kakiku gemetar. teringat akan apa yang kulakukan terhadap Daren Suamiku, dia sudah melakukan yang terbaik tapi apa yang kuberikan kepadanya?
"kak, naik ke kamar yuk. istirahat, bang Daren di rumah lamanya kok. barusan di kabari oleh pak Arif. bapaknya Remon. besok saja kita temui ya, biarkan bang Daren sendiri Dulu." pinta Tyas.
Tyas menuntunku masuk ke kamar, dan ku rebahkan tubuh lelah ini ke kasur. sementara Tyas Aku suruh keluar, saya ingin sendiri untuk merenungi Sikap Ku terhadap Suamiku.
Raut wajah Kecewa dari Daren masih terlintas di benakku, dan hal itu membuat dadaku sesak, saya ingin mintak maaf tapi nanti dia besar kepala karena aku yang duluan mintak Maaf. ya sudahlah besok di bahas.****
Melangkah kaki ke dapur, Daren tidak ada disana. biasanya dia makan di dapur di temani oleh Mpok Sri kemudian menyiapkan bekal makan siangnya. hummm saya kalah dengan Mpok Sri.
Setiap pagi Mpok Sri menemani pria tampan sarapan, tapi aku hanya menyia-nyiakan pemandangan langkah itu .Bersama Tyas kami berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor ku sempatkan ke ruangan Daren, tapi Suamiku itu tidak berada di sana. Setelah berjalan ke area departemen Kanker, ternyata Daren berada disana sedang mencek beberapa file di komputer itu yang berada di depan administrasi.
Perawat yang melihat ku langsung menunduk tanda memberi hormat, dan Daren Suamiku melakukan hal sama tanpa menoleh Ku.
Aku dan Tyas berlalu menuju kantor, sesampainya disana yang ku temui adalah Imran dengan senyuman sinisnya.
"kenapa? merasa takut?"
"takut kamu bilang, itu tidak dalam kamus hidupku." ungkapnya dengan segala kesombongan Nya.
"Cantika..... saat ini, keberuntungan masih berpihak kepadamu. dan dengan segera itu akan om putar balikkan." jelasnya dengan sinis lagi.
"Anda bukan om ku, anda itu iblis yang menyerupai manusia. baik kita lihat saja siapa yang akhirnya menang."
Setelah mengatakan demikian kepadanya, pria rakus itu pergi dengan di susul oleh kedua bawahannya.
Setelah masuk ke ruangan, beberapa saat kemudian Gopas datang bersama Remon. wajah Remon tidak terlihat galau lagi dan sudah kembali riang seperti biasanya.
__ADS_1
"maaf kak Remon telat. tadi bantuin emak dulu buka toko." ujarnya dengan sedikit wajah memelas Nya. tapi kemeja yang dipakainya seperti pernah kulihat.
"Remon, itu kemeja siapa yang kamu pakai?"
"bang Dokter kak, tadi pagi ku mintak. sekaligus ngecek keadaan abang ku itu." terangnya.
Iya kemeja itu yang dipakai Daren saat menolongku malam kelam itu, dan ku perhatikan Remon yang gagah memakai kemeja itu, tapi lebih sempurna di pakai oleh Daren Suamiku.
"Remon, bisa kamu lepas baju mu itu? kakak ngak suka kamu memakai baju Suamiku." pintaku membuat Nya garuk-garuk kepala.
"tapi kak, Remon ngak bawa baju cadangan. masa Remon hanya memakai kaos dalam ini di ruangan!" ungkapnya dengan mengerutkan dahinya.
Tyas ku Wa untuk menyiapkan kemeja untuk dipakai oleh Remon, hanya beberapa menit Tyas langsung datang dengan membawa sepasang baju.
"Remon, ni pakai. mudah-mudahan pas untukmu." Tyas menyerahkan sepasang pakaian itu kemudian langsung berlalu.
Itukan pakaian yang di belinya saat itu, tapi ya sudahlah. mana mungkin Tyas menyukai menyukai Remon yang bertingkah selengean dan aneh kayak gitu.
Remon langsung pergi, dan beberapa saat kemudian dia sudah kembali memakai pakaian pemberian Tyas. memang terlihat berbeda. dia jauh lebih segar. dan kemudian menyerahkan kemaja Daren yang dipakainya yang sudah di bungkus dengan plastik kresek. tapi Remon malah duduk disamping Gopas, sambil menunjuk laptopnya.
"bang Gopas, kak.. " Remon sudah mendapatkan file dan berkas yang dikirimkan bang Dokter ke stasiun televisi itu." ujarnya sambil menyodorkan beberapa berkas di hadapanku.
"kau mintak sama Daren?" tanya Gopas kepadanya.
"iya-iya lah bang, masa ku curi. Abang ini ada-ada aja." jelasnya sewot.
"slow lah muncong kau itu, ngak usah kreak.
"kreak itu apa bang?"
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Daren, pengacara itu fokus membaca dokumen yang disodorkan oleh Remon.