DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Daren Pria Sejati


__ADS_3

Alarm berbunyi berbarengan dengan suara getaran dari handphone, ternyata pesan WA masuk dari Remon. yang memintaKu untuk membaca link berita yang baru saja dikirimNya.


Berita tentang Om Rio yang video asusilaNya dengan sesama jenis viral di media sosial, beberapa teman kencanNya ada bersama Aktor pemula di negeri ini.


Tagar moralyanghilang menjadi trending topik di Twitter dan hal ini dikaitkan dengan istri Om Imran. aku tahu siapa yang menyebarkan video ini, siapa lagi kalau bukan Daren Suamiku.


Daren keluar dari kamar dengan memakai celana pendek dan kaos putih. ketika tatapan kami saling bertatapan dia hanya menundukkan kepalanya untuk memberi hormat.


Seketika itu langsung ku dekati, Daren memajukan wajahnya sambil menutup kedua matanya.


"tampar saja Bu bos, jika itu membuat mu bahagia." ucapnya sambil menutup matanya.


"bangsat..... " hanya itu yang bisa keluar dari mulut ini seraya mendorong tubuhnya.


Terduduk lemas di pinggir ranjang ini, sementara Daren mulai membuka kedua matanya dan melangkah ke arah ranjangnya.


Saat membuka lemari pakaian, Daren menyingkirkan pakaian yang baru aku beli dan memakai kemeja yang dibawanya kemari. mungkin Daren masih merasa Kecewa sehingga dia tidak mau memakai pakaian yang baru ku beli.


Setelah Daren bersiap untuk berangkat kerja, dia turun menuruni anak tangga dan ku ikuti. Daren menuju meja makan, Daren menarik kursi untukku dan kemudian duduk ditempat yang biasa di duduki oleh almarhum Papa.


Daren menaruh nasi di piringnya, dan kemudian di piring Ku, tapi emosiku terhadapnya belum juga sirna.


preng....tart....


Piring makan Daren, yang berisi nasi aku campakkan dan pecah saat terkena lantai. Nasi bertaburan diatas lantai bersamaan dengan pecahan piring tersebut. Mpok Sri yang datang membawa minuman di teko gelas langsung terkejut.


Ekspresi wajah Daren, terlihat sangat kecewa. dan mengambil piring yang baru serta serbet dan kemudian jongkok di lantai.


"biar Mpok saja yang bersihkan?" ujar Mpok siri sambil mengambil piring dan serbet dari tangan Daren.


Daren bangkit dan menoleh ke arahku, matanya berkaca-kaca dan hendak duduk kembali di kursinya.


"mulai hari ini, kamu tidak bisa makan di rumah ini." perkataan membuat Daren berhenti seketika.


Daren mengambil tasnya yang terletak disamping kursinya, dan berlalu tanpa menolehku. terlihat tangannya seperti menyeka air matanya.


Setelah Daren berangkat, Tyas datang dengan wajah yang bingung. menolehku dan Geleng-geleng kepala. Handphone yang dari tadi kupegang kuberikan kepadanya.


"Pria jahanam pantas menerimanya." ujarnya dan kemudian memelukku.

__ADS_1


"kak, Tyas tahu kalau kakak itu begitu kecewa dengan semua keadaan ini, tapi bukan berarti suami kakak menjadi sasaran Nya. bang Daren juga manusia kak, dia punya perasaan. kakak yang memaksanya untuk menikahi kakak. Tyas mohon, tolong Kaka kontrol emosi kakak." perkataan Tyas mampu membuat air mataku mengalir.


"T....y...a...s.... apa yang harus kakak lakukan?" Tyas hanya memelukKu.


Adikku ini jauh lebih dewasa secara pemikiran dariKu, dia begitu tenang saat menghadapi masalah.


"sekarang, kakak mandi dulu. habis itu kita ke kantor, temui bang Daren nanti siang. ajak dia makan siang." jelasnya sambil memegang kedua tanganku.


"bagaimana kalau nolak?"


"kan ada Remon, pokoknya kakak tenang saja. nanti Tyas yang atur ya. asal kakak janji untuk bisa mengontrol emosi." ungkapnya sambil menuntun masuk ke kamar.


Selesai Mandi Tyas, membantuKu merias wajahku. dan setelah selesai kami berdua sarapan, karena kata Tyas. untuk menghadapi masalah ini butuh energi yang banyak.****


Sesampai di kantor, Gopas dan Remon sudah menunggu kedatangan kami. dan Remon memperhatikan penampilanKu begitu juga dengan penampilan Tyas.


"teh Tyas gelis pisan atu, mau pasen so dimana?" ujarnya dengan memperhatikan Tyas.


"pesen,.... pesen jidatmu. yang benar itu fashion show." jelas Tyas agak sewot.


"iya itu pun jadi teh...., kakak mau kencan ya sama bang Dokter? tenang biar Remon bantuiin." ungkapnya.


"tadi Remon bertemu dengan bang Dokter, wajahnya begitu lesu. biasanya kalau bang Dokter seperti itu, Remon kesusahan membujuknya untuk mentraktir Remon makan." jelasnya, dan Gopas langsung menggenggam lehernya.


"sudah.... mari kita masuk, kita ngobrol di ruangan saja." pergulatan Gopas dan Remon berakhir karena ku ajak masuk.


Remon langsung membuka laptop barunya dan juga mengeluarkan beberapa cemilan dan minuman ringan dari tasnya. Gopas hanya geleng-geleng kepala melihat kekakuannya.


"Remon, tunjukkan apa kau peroleh." perintah Gopas kepada Remon.


Seketika itu juga Remon mengambil berkas dari tasnya serta menyodorkan kepadaku. dan kemudian memperlihatkan file dalam laptop Nya itu.


"kak, berkas yang di map adalah berkas yang sama yang diberikan bang Dokter kepada kakak, apa kakak sudah menerima?" tanya Daren dan aku hanya mengganguk.


"bagus, dan Remon berhasil membobol data base rumah sakit Cantika. Hasilnya Remon berhasil melacak penerima organ tubuh yang diperjualbelikan itu. serta arus dana hasil penjualannya. dana itu mengalir ke tiga pemilik rekening bank yang berbeda dan nama yang berbeda. silahkan kakak baca karena Remon sudah lampir kan."


krek...krek...krek...krek... " suara dari mulutnya yang mengunyah setelah selesai menjelaskan isi file tersebut.


"Remon, bisa kamu panggil bang Dokter itu kemari?" perintah Ku membuat berhenti mengunyah.

__ADS_1


"yah... kok Remon, bang Dokter itu suami kakak, kenapa Remon yang sibuk memanggil suami kakak? panggil aja sendiri." ujarnya dengan begitu belagu.


"mau kakak potong gaji dan bonus Mu? uhmmm" mendengar ancaman Ku baru dia mengeluarkan handphone nya.


"halo bang Dokter.... bang....t...o...l...o..n....g Remon bang, Remon di tuduh kakak mencuri uang nya. bang.... tolong bang, pengawal kakak sudah menyiksa Remon....bang.......


Lagi-lagi tingkahnya aneh, dan Gopas dengan beraninya menjewer telinga Remon dan sangat kuat.


"Ampun bang.... sakit bang....." Remon merengis kesakitan.


Gopas berhenti menjewer kupingnya, dan menatap Remon dengan ekspresi wajah marah.


"kenapa kau mesti berbohong?" tanya Gopas.


"Sabar dulu bang, kakak dan bang Dokter pasti habis berantem. makanya kakak nyuruh Remon untuk memanggil bang Dokter. jika dengan permintaan biasa pasti bang Dokter menolak untuk datang kemari, tapi dengan sedikit akting pasti bang Dokter akan datang. bang Dokter akan datang dengan nafas yang tersengal-sengal karena buru-buru datang kemari. mau taruhan?"


"ok, 5 juta..." Gopas mengeluarkan uang segepok nominal 50 ribu rupiah.


"kak, talangin dulu ya. nanti kita bagi dua." ujarnya.


Tidak tahu kenapa rasanya seperti tersihir, permintaan Remon langsung kupenuhi dan mengambil uang dari laci mejaku.


"satu... dua...tiga....tiga...... " hitungan tiga kedua kalinya oleh Remon.


Langsung terdengar suara gaduh, dan benar saja. Daren langsung menerobos masuk dengan raut wajah kwatir.


"uang 5 jutanya Remon kembalikan ke kakak, dan Remon dapat dua setengah juta dan kakak dapat dua setengah juta." dengan santai Remon membagi uang hasil taruhan tersebut.


"Remon....." ujar Daren dan terlihat lemas seketika.


"bang Dokter.... silahkan duduk bang." pinta Remon tanpa merasa bersalah karena sudah berbohong.


Remon duduk diantara Gopas dan Daren, masih belum percaya dengan apa yang kulihat, Daren Suami pasti buru-buru datang kemari. itu terlihat sarung tangan medis masih ada di tangan kirinya sementara satu lagi sudah berada di saku jasnya.


"Remon. apa sih?" tanya Daren kepada Remon dengan ekspresi sewot.


"tanya aja sama binik Abang itu." ujar Remon yang sibuk menghitung uang hasil taruhan.


Terlihat wajah Daren yang lelah dan kecewa, tapi itulah dia pria yang baik dan polos. aku hanya bisa menyimpulkan kalau Daren adalah pria penyayang yang rela berkorban Apapun demi orang yang disayanginya.

__ADS_1


__ADS_2