
Mpok Sri menyampaikan kalau Daren sudah sarapan dan membawa bekal makan siangnya, dan setelah selesai sarapan Aku dan Tyas berangkat bersama ke Kantor dan tentunya dikawal oleh pengawal berjumlah 15 orang.
“Tyas, bagaimana anak-anak mbak Titin?”
Titin adalah pengawal ku yang sedang koma dirumah sakit karena peristiwa malam itu, Beliau rela berkorban untukku dan hanya memikirkan keselamatan diriku saja. Waktu itu mbak Titin menitipkan anak-anaknya kepadaku.
“Iren, kakak paling besar mereka bersama dua adik laki-lakinya sudah di pindahkan ke rumah kita yang dibelakang dengan pengawasan para pengawal kita. Satu asisten rumah tangga sudah ditempatkan disana. Setelah memberikan pengertian kepada Iren, gadis itu sudah paham keadaannya. Kampus dan sekolah adik-adiknya sudah dipindahkan juga demi kebaikan mereka. Dua pengawal selalu mengawasinya.” Jelas Tyas kepadaku.
“syukurlah, semoga mbak Titin lekas sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan anak-anaknya.”
Suami mbak Titin juga korban kekejaman dari kedua keluarga besar kami, mereka tidak segan-segan menyingkirkan yang mereka anggap sebagai penghalang. Sesampainya di kantor Saya dan Tyas ingin berkunjung ke ruangan Mamanya Daren dan Adiknya.
“Daren, tidak seharusnya kamu ada disini, sana kerja.” Terlihat Daren menatapku dengan wajah yang tampan tapi memelas, dan dengan langkahnya yang berat keluar dari ruangan. Setelah dia pergi baru Mamanya Ku dekati.
“Ibu, sudah tahu kalau kalian sudah menikah, Daren adalah anakku yang tidak pernah sekalipun membuat ibu menangis. karena kelakuannya yang tidak baik. Ibu hanya menangis karena terharu dengan semua kebaikannya, jadi sangat yakin kalau anak Ibu mampu membuat kamu bahagia.” Ujar ibu mertuaku ini.
Memang benar bu, selain anak ibu sangat tampan. Dia juga lucu dan menggemaskan. Tapi sampai saat ini saya belum tahu perasaan anak ibu.” Hanya itu yang ku ucapkan dalam Hati ini.
“bu, Daren saya larang sering ketemu sama ibu, itu demi kebaikan kita bersama. Jika kelak ibu dan adek sembuh, ibu dan adek harus tinggal di samping rumah kami. Setidaknya ada pengawal yang akan mengawasi ibu dan adek kelak nanti sebelum semua masalah ini selesai."
Ibu mertuaku itu hanya mengangguk pelan, terlihat wajahnya sudah mulai segar. Dan saya berharap semoga beliau cepat sembuh. Setelah mengatakan demikian saya dan Tyas keluar dari ruangan itu. Terlihat Daren menunggu kami diluar ruangan.
“bu bos, perjanjian pernikahan kita tidak ada hubungan nya dengan Mama dan Adikku. Saya mohon tolong jangan libatkan mereka.” Ujarnya sambil mengepalkan kedua tangannya ketika bermohon.
“bu bos, apa yang ibu bos bicarakan kepada Mamaku?” tanya lagi dengan wajah yang begitu kasihan.
“Bukan urusanmu”, dengan mengatakan demikian, Ku tinggalkan Daren dengan wajah lesunya.
“Remon. Ngapain kemari?” Daren memanggil nama Seseorang. Dan hal itu membuat Ku untuk berhenti.
“iya bang Dokter. Hari ini jam 1 siang ini nanti mau bertemu dengan bu Bos Cantika, kata Bapak mau tes gitu. Ini sudah kubawa Laptop pemberian abang, sebelum dites Remon mau ketemu Bude dan Teh Nindi bang.” Jelasnya dengan begitu lancar.
Anaknya masih muda, bisa di kategorikan Tampan. Langsung ku temui kedua pria itu dan mereka berdua langsung tertegun melihat kehadiranku.
“Remon. Ini bu bos Cantika, istri abang. Dan yang sebelah kananya Tyas, adik ipar abang.” Daren memperkenalkan Ku sebagai Istrinya.
Anak itu langsung menyalim tanganku setelah mengetahui kalau Aku ini adalah istri dari Daren yang dipanggilnya bang Dokter. Dan Remon juga menyalin tangannya Tyas, akan tetapi Tyas malah bengong.
“Remon ikut saya sekarang.”
“bukannya jam 1 siang bu bos, Remon mau jenguk Bude dulu.” Sanggahnya sembari melihat ruangan Mertuaku.
“Tidak perlu, ada perawat dan Dokter serta abang mu itu yang mengawasi Bude Mu, ngak usah ngebantah.”
Remon langsung terdiam dan mengikuti dari belakang, Anak lajang itu terlihat kagum melihat pemandangan interior ruangan. Dan melihat ruangan secara mendetail disetiap sudut bahkan sampai kaki meja.
“hei bocah, lo ngeliatin apa?” tanya Tyas yang terheran melihat tingkah Daren.
“sessst.........
__ADS_1
Remon menyuruh Tyas untuk diam, dengan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, terlihat anak itu mengambil benda kecil dari salah satu sudut ruangan, kemudian mengambil lagi dari sudut lainnya sehingga terkumpul 5 benda kecil itu.
Remon dengan waspada memasukkan benda itu kesuatu alat, lalu mengotak-atik laptop usang yang di pegangnya. Setelah beberapa saat anak itu meletakkan kembali benda-benda itu ke tempatnya sediakala. Lalu tangannya mengarahkan kami berdua untuk keluar ruangan.
Kami bertiga berpindah ke ruangan sebelah yang ditempati oleh Tyas, dan ditempat itu juga di amati oleh Remon, dengan sangat teliti. Setelah beberapa saat baru berhenti dan menoleh ke arah kami berdua.
“silahkan duduk teh....” ujarnya sambil tersenyum.
ini bocah benar-benar ya!, orang saya yang punya kantor malah dia yang mempersilahkan kami duduk.
“Kenapa Remon?”
“bu Bos. Eh .... kakak aja ya, karena bang Dokter, kan suami bu bos, jadi Remon panggil kakak aja ya”. Ungkapnya.
“jadi begini kak, di ruangan kakak tadi ada lima kamera pengintai yang menangkap suara dan gambar. Dan dari IP Addres berasal dari sekitar sini juga.” Ungkapnya dengan penuh percaya diri.
Langsung Ku panggil Pengawal untuk menghadap ke ruangan kami, dan seketika juga ke 6 pengawal langsung menghampiri kami.
“Kalian temani anak ini berburu.”
“siap bu bos.” Jawab mereka kompok.
Dengan laptop usang yang dipegang oleh Remon, mereka berenjak mengikuti Anak itu. Hanya butuh waktu 15 menit mereka sudah datang dengan membawa 3 orang pegawai gedung ini lengkap dengan Komputernya masing-masing, yang dibantu oleh security.
Terlihat Remon merangkai ketiga komputer itu, kemudian fokus ke loptopnya. Setelah beberapa saat Remon langsung merampas handphone milik 3 pegawai itu. Sempat menolak dan langsung di bekuk oleh Remon. Kemudian mencolokkan ketiga handphone itu menggunakan kabel USB. Sesaat Remon mengotak-atik laptopnya, kemudian menoleh ke tiga pegawai itu.
“siapa itu Pak bos?” tanya Remon sambil mendekati mereka bertiga
suara tendangan kakinya mengenai ketiga orang tersebut, terlihat saja imut tapi kelakuannya sungguh diluar dugaan.
“namanya Imran...” ujar salah seorang dari tiga pegawai itu.
Terlihat Remon hendak melayangkan tinjunya lagi, saya tidak mau anak ini terlibat akan masalahku lagi.
“ cukup Remon. Pengawal ikat mereka dan bawa ke ruangan sebelah itu. dan dapatkan data-data ini dari mereka, terserah caranya gimana” sambil menyerahkan daftar pertanyaan yang sudah Aku susun sebelumnya.
“siap.”
Dengan cekatan para pengawal mengikatnya dengan tali gorden, dan perlahan keluar dari ruangan dengan membawa ketiga pegawai itu. Dan Remon menoleh kami berdua dengan tersenyum.
“kak. Semua file yang dikirim mereka sudah ku buat dalam satu file. Remon kirim kemana kak?” tanya Remon dengan entengnya.
Tyas langsung bergegas memberikan email tapi ditolak oleh Remon, akhirnya Tyas memberikan Flashdisk barulah diterima olehnya.
“kak, ada makanan dan minuman? Lapar Remon kak! Pintanya, walau terlihat menyebalkan tapi gemas liatnya.
Tyas langsung memesan makanan dan minuman untuknya, kemudian memberikan minuman ringan yang tersedia di ruangannya. dan langsung meminumnya.
“Remon. Jelaskan semuanya.”
__ADS_1
“jadi melalui kamera pengintai dari ruangan kakak itu, yang disalurkan ke tiga perangkat komputer ini dan kirimkan beberapa file ke Nomor handphone Pak Bos itu. File berupa file Video atau MP4 itu dikirim melalui pesan WA.” Jelasnya dengan gamblang.
Tapi Tyas sibuk menganalisis file-file yang diberikan oleh Remon kepadanya melalui Notepad nya, Kemudian mendekat ke arahku.
“pantasan kak, bukti yang kemarin itu hilang dari ruangan kakak karena mereka tahu dimana kakak menyimpan semua filenya.
Saya mulai mengerti akan permainan ini, dan perlahan ku tatap Remon yang asik minum dengan sedotan.
“Remon. Kamu lulus, kakak beri bonus akan kerja keras Mu ini, oh ya kamu mintak gaji berapa?”
“haaa, terimakasih kak. Terima kasih juga bonusnya. Masalah gaji ngak muluk-muluk kak, Remon bersyukur diterima kerja disini. Kalau tidak kerja disini palingan Remon akan sama seperti Bapak, jadi preman.” Ujarnya tanpa segan mengungkapkan jati dirinya.
“bonus kali ini kakak kasih 30 juta, dan gaji mu 20 juta perbulan.”
Remon langsung bersujud di hadapanku sambil menangis, dan Ku suruh berdiri karena dia tidak pantas sujud di kaki Ku, setelah berdiri langsung menyalin tanganku lagi. Remon ngak cocok menangis makanya ku suruh diam.
“kok sampai segitunya loh nangis? Mangnya kenapa?” tanya Tyas yang heran melihat tingkah Remon.
“iya Teh Tyas, Remon ingin membuka Warung untuk emak. Sejak Bude tidak jualan warga sekitar kesusahan untuk membeli bahan-bahan kebutuhan sehari-hari.” Ujar Remon dan terlihat sudah tidak menangis lagi.
“emangnya cukup 30 juta buat beli sembakonya?” tanya Tyas lagi.
“nantinya akan ditambah dengan uang tabungan Remon Teh, dan juga nantinya pinjam di koperasi untuk kekurangannya. Kalau steling dan perlengkapan lain sudah ada. Dihibahkan Bude kepada kami.” Ungkapnya dan terlihat Tyas merasa iba.
“iya sudah, dari pada minjam ke Koperasi Teh pinjamin uang ya 50 juta, tar tiap bulan Remon cicil tanpa Bunga. Itu karena Remon bilang untuk membuka usaha.” Jelas Tyas dan Remon malah menangis lagi, tadi begitu garang tapi sekarang mewek. Dasar cowok aneh.
“Remon, sudah bisa kita keruangan kakak?”
“sudah kak, karena server komputernya sudah aman.” Jelasnya.
Setelah kami kembali keruangan Ku, Pengacara perusahaan datang bersama 3 orang rekannya. Dan setelah mempersilahkan mereka duduk. Tyas memaksa Remon untuk stay di ruangan ini. Baru saja ngomong, Remon merampas kembali File berkas yang telah di berikan Tyas kepada Rekan pengacara itu. Kemudian Remon langsung merampas kacamata yang dipakai 3 orang itu dan mencopot kancing bajunya.
“Remon.....
“kak, mereka ini sama dengan 3 pegawai tadi.” Ungkapnya.
Seketika itu Raden, ketua dari pengacara itu bingung dan merasa heran, dan pengawal langsung datang membekuk 3 rekan pengacara itu.
“bu Cantika, apa yang anda lakukan?” tanya Raden yang terlihat cemas.
“pantas saja pak kita tidak pernah menang, mulai hari ini anda dan rekan anda saya pecat. Dan semua fasilitas saya cabut.”
Pengacara itu langsung Aku usir, ternyata mereka semua ada kongkalikong dengan musuhku. Hanya orang dari pinggiran ini yang mampu mengungkapnya. Remon memang Jenius, kamu berhak untuk mendapatkan imbalan yang sesuai.
“kalung yang kakak pakai seperti pernah Remon lihat, oh..... kalung Pak Deh, pantasan kakak berjodoh dengan bang Daren ya. Tapi.... itu seperti flashdisk kak.” Ujar bocah selengean itu dengan bertolak pinggang.
Langsung Ku berikan kalung itu kepadanya, dan Remon seketika mencek isi dari kalung tersebut, kemudian menoleh ke arahku.
“kak, isinya cuman kata Sandi, pasti Bang Dokter menyimpan Hardisk dari Almarhum Pak Deh. Sepertinya bang Dokter harus sama-sama memecahkan ini bersama kakak. Iya-iya lah namanya juga suami-istri.” Demikian ujarnya sambil cengengesan.
__ADS_1
Betul kata Remon, harus melibatkan Daren suamiku. Karena biar bagaimanapun dia adalah suamiku. Dan Papanya juga jadi korban dari keganasan keluarga besar ku.