
Hari yang ku tunggu akhirnya tiba, Gopas dan rekan-rekannya sudah untuk menjemput kami untuk berangkat ke pengadilan. kali ini kami semua ikut ke pengadilan karena ini adalah puncak bagi Imran.
Sesampainya di ruang sidang, para awak media sudah berada ditempat masing-masing dengan teratur, Imran bersama Kuasa hukum Nya sudah duduk di ditempat yang tersedia. dan tidak berapa lama yang mulia Hakim tiba dan para hadirin berdiri.
Anggota Hakim membacakan agenda persidangan dan kemudian Susana kembali menjadi hening.
Hakim anggota memulai dengan pembacaan sederetan bukti-bukti yang memberatkan Imran yang menjadi terdakwa.
Secara bergantian, anggota Hakim membacakan bukti-bukti dan juga pernyataan para Saksi. satu jam lebih pembacaan tersebut yang dilakukan secara bergantian. dan tibalah saatnya keputusan Hakim.
"atas Hukum dan keadilan, dengan ini pengadilan memutuskan. saudara terdakwa, Imran Adhana Laksana. di hukum mati. dengan ini pengadilan memutuskan dan memerintahkan kepada pihak-pihak terkait dan berwajib. untuk menyita semua aset saudara terdakwa, daftar aset sudah terlampir dengan surat keputusan ini berikut dengan penjelasan Nya.
Penasihat hukum terdakwa dipersilahkan untuk melakukan banding sebelum keputusan ini inkracht (putusan yang bersifat tetap). waktu dan kesempatan dipersilahkan kepada penasihat hukum terdakwa.
Tok...tok...tok... "suara ketukan palu Hakim.
"Dengan ini saya sebagai Hakim Ketua menyatakan untuk menutup persidangan." dan kami semua tepuk tangan untuk keputusan yang mulia Hakim.
Hakim dan Anggota Nya meninggal ruang sidang, senyuman kepuasan dari para hadirin yang mengasikkan putusan persidangan ini tersenyum bahagia, kecuali om Imran. raut wajahnya dan sorot matanya terpancar kebencian terhadap Ku.
Imran manusia biadab itu dibawa petugas yang bersenjata lengkap. dan kami beserta Gopas dan rekan-rekannya langsung keluar dari ruang sidang.
Para awak media mengikuti kami, dengan sigap pengawal menghalangi dan akhirnya kami semua bisa masuk ke dalam mobil.
Gopas dan rekan-rekannya mengantarkan kami kembali ke rumah, untuk sementara waktu kami harus stay dulu di rumah demi keamanan bersama.**
Sesampai di rumah langsung menuju kamar dan mandi setelah berpakaian baru duduk di kursi balkon ini sambil menikmati secangkir teh panas.
__ADS_1
Sore hari seperti ini sangat cocok untuk menikmati kopi sambil menikmati pemandangan tanaman belakang yang dibuat oleh Mpok Sri.
"Bu bos, rahasia apa yang ibu bos simpan?" tanya Daren yang sudah tiba di balkon ini.
"sudah kubilang, kamu tidak perlu ikut campur." Daren langsung terdiam dan kemudian duduk di salah kursi dengan meletakkan cangkir teh nya.
"Mama sudah berhasil melewati masa kritis, terimakasih atas perhatian Bu bos. jika seandainya saya patuh terhadap perintah Bu bos, pastinya Nindy masih hidup." ucapnya sambil menyeka air matanya.
"yang berlaku biarlah berlalu, kita tidak tahu nasib kita bagaimana selanjutnya. cepat atau lambat semua manusia akan mati juga."
Daren menoleh ku, karena pernyataan yang keluar dari mulut ini. Sulit untuk membaca ekspresi wajahnya saat ini.
"apakah Bu bos pernah jatuh cinta?" tanya Daren yang tiba-tiba mengalihkan obrolan.
"pernah, kamu ingat dengan laki-laki yang aku temui di kafe itu? nah itu cinta pertamaku."
"kata orang, cinta pertama selalu gagal dan kadang menyakitkan." ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
"pengalamanmu bersama wanita pelakor itu ya? atau ada yang lain?"
Daren lagi-lagi menanggapinya dengan tersenyum sembari menatapku kembali dan kemudian menyeruput teh Nya.
"Sisy namanya, dia sekarang masuk penjara karena perselingkuhan dengan suami pemilik rumah sakit. ibu-ibu yang yang menjambak rambutnya saat di Hotel.
Dia dituduh memporoti suami pemilik rumah sakit, pemilik rumah sakit tersebut adalah keluarga Istrinya. dan mereka memperlakukan Sisy sebagai manusia biadab. mereka tidak melihat apa yang telah dilakukan suaminya itu terhadap Sisy." jelasnya dengan rinci.
"tidak ada gunanya kamu menjelaskan itu kepadaKu."
__ADS_1
"dia memang cinta pertamaku, dia datang untuk meminta bantuan kepada Ku atas kasus rumah sakit di bawah asuhan suami pemilik rumah sakit."
Sangat muak mendengar penjelasan Daren tentang wanita pelakor itu, dan Aku bangkit berdiri karena Daren masih membahas pelakor tersebut.
"jika memang pelakor bangsat itu hanya meminta bantuan mu, kenapa dia membujuk Mu untuk kalian bersama lagi. dan kamu berkata bahwa kalian murni bersahabat tapi menuju hotel. jika kalian berdua sudah berhasil masuk kamar hotel, tidak mungkin kalian hanya bermain Ludo atau saling bertatapan."
Setelah mengatakan demikian Ku tinggalkan Daren yang terduduk di kursi di balkon itu, dan ku langkahkan kaki untuk naik ke atas ranjang.**
Pagi hari tidurku dibangunkan oleh alarm, Daren Suamiku sudah berangkat ke kerja. Gopas mengirimkan pesan WA, dia ingin bertemu dengan Ku secara empat di suatu tempat yang sudah dipesannya.
Bersiap dan turun ke bawah untuk sarapan pagi secara bersama-sama. Remon dan Dadang, aku suruh untuk beristirahat dan mereka berdua meminta untuk kembali ke rumah Remon dan ku ijinkan asal diantar oleh pengawal dan mereka berdua menyetujuinya.
Setidaknya Remon merasa lebih bebas di rumahnya dan Dadang yang sudah sangat akrab dengan Remon, nantinya akan bisa merasakan kasih sayang orang tua dari Remon.
Aku dan Tyas berangkat bersama dan tentunya dikawal oleh pengawal, setiap pertemuan pribadi dengan Gopas, adikku Tyas selalu aku ajak. dia adalah keluarga satu-satunya yang bisa ku percaya.
Tyas yang lebih muda dari tapi lebih dewasa dari segi emosi dariKu. sering sekali Tyas sebagai pendengar curhatan ku dan adikku ini sudah sebagai psikolog bagiKu.
kami berdua memang selalu curhat akan kehidupan kami sehari-hari. mulai dari persahabatan kami, produk-produk yang kami sukai hingga laki-laki yang di taksir.
Tyas dengan sangat lantang menyuarakan keberadaan jika seseorang yang dekat dengan Ku, yang menurut nya tidak baik untuk menjadi pacarku.
Carol, cinta pertamaku dan dengan beraninya Tyas melabraknya karena melihat Carol jalan dengan wanita lain. bahkan Tyas tidak segan membayar orang untuk menghajar Carol Karen mencoba untuk mengejar ku lagi.
Awalnya saya memang suka dengan Carol, tapi semenjak Tyas melihat nya bersama wanita lainnya saya menjadi Ilfill dan jijik melihatnya.
Pernah Tyas menyukai seorang Pria, dan tidak henti-hentinya dia menceritakan itu kepadaKu. tapi nasib percintaannya harus pupus, karena pria itu ku pergoki sedang bersama dengan wanita lain.
__ADS_1
Tapi kali ini Tyas sepertinya sedang jatuh hati, dan pria itu adalah Remon. pria tampan, masih muda tapi tengik. tapi Tyas belum cerita kepadaKu, mungkin karena kasus yang belum selesai ini.