
Kami bertiga langsung menemui Daren diruangan nya, terlihat kedua Pria itu begitu akrab sepertinya mereka seperti abang-adik. yang sangat kompak dan tentunya sama-sama Tampan tapi Daren Suamiku jauh lebih tampan dan berkarisma.
“Bang Dokter. Kalung ini adalah kalung yang biasa di pakai oleh almarhum Pak Deh, dan isinya ada kata sandi untuk membuka hardisk. Apa bang Dokter Tahu dimana Pak Deh menyimpan Hardisk itu?” tanya Remon ke bang Dokter itu.
“iya tahu, masih abang simpan.."
“iya udah ayok buruan...."
Ujar Remon memotong bicara abangnya, kemudian menarik tangan suamiku untuk berlalu dari ruangannya. Aku dan Tyas hanya mengikuti mereka berdua dan tiba-tiba Remon berhenti dan menoleh ke arahku, kemudian menarik tanganku.
“gini dong baru suami-istri, harus saling merangkul.” Ujar Remon sambil mengarahkan tanganku untuk memegang lengan tangan Kiri Daren.
Walau agak canggung tetap kulakukan terlihat Daren menikmatinya, sebenarnya ini yang ku inginkan tapi apa kata orang nanti, masa Imageku langsung terjatuh dengan menggandeng Dokter ini. Tapi ngak apa-apa agar Remon yang reseh itu diam.
Begitu sampai dirumah Daren, dan kami langsung menuju kamarnya. Daren langsung membuka kubin salah lantainya dan didalam itu ada sebuah box. Setelah di bongkarnya ada hardisk dan langsung diberikan kepada Remon dan seketika itu Remon langsung mengotak-atik laptop nya.
Teringat jelas diatas ranjang ini cinta satu malam itu, Daren suami Ku begitu menggairahkan malam saat hujan. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Daren, tapi dia tersenyum ke arahku dan hal itu menjadi perhatian Tyas dan Adik Ku yang Centil itu hanya tersenyum sinis.
“bang Dokter, kak... Sini deh.” Teriak Remon dan kami bertiga menghampirinya yang duduk di kursi belajarnya Daren.
“ini semua file nya sudah terbuka, tapi Remon ngak ngerti maksud dan tujuannya apa?, tapi hanya satu yang Remon ngerti. Disini ada tertulis “Ruang Sermon” saat tadi siang di kantor kakak, Remon mendeteksi ada satu ruangan yang penuh dengan IP Address yang tersembunyi. Dan setelah Aku Periksa nama ruangan itu adalah “ Ruang Sermon”. Dan kata yang kedua dari akhir file ini adalah “ Gopas Fatner”. dan Itu adalah kantor Pengacara, betulkan bang Dokter?” jelasnya dengan begitu yakin.
“iya benar, Gopas itu adalah sahabatku. Beliau selalu membantu para warga untuk mendapatkan keadilan. Dan Gopas bukan pengacara sembarangan.” Sahut Daren.
“ah....., kak. Kita memakai pengacara ini saja jangan yang tadi di kantor.” Ujar Remon.
Kami semua terdiam sejenak, hanya Tyas yang fokus ke laptopnya Remon. Saran dari Remon bagus juga, dan terlihat Daren menoleh ke arahku.
“Teh Tyas naon, kenapa nangis atu?” suara Remon membuat konsentrasi kami buyar.
Kami kembali fokus melihat apa yang dilihat oleh Tyas, ternyata dia melihat vidio Percakapan Imran dengan sekutunya yang merencanakan pembunuhan terhadap Orangtua kami, berusaha tegar agar Tyas tidak menangis lagi. Akan tetapi Remon malah memeluk suami Ku.
“ngapaiin Remon memelukku?” tanya Daren kepadanya.
__ADS_1
“Remon, kalau lihat neng gelis lagi nangis ngak sanggup atu bang. Meleleh hati ini.” Ujarnya membuat Tyas menjadi sewot melihat Remon.
“Bacot....” hanya itu yang keluar dari mulut Tyas, dan kami serantak tertawa.
“siapa yang bisa menghubungi Gopas itu.”
“bang Dokter aja kak.” Kata Remon.
Seketika itu Daren langsung menghubungi Gopas, dan beberapa saat kemudian Suamiku itu menatap mataku.
“Gopas setuju, tapi Aku mintak untuk datang ke rumah saja. Remon bisa ikut?” Jelas Daren.
“iya...
Kami semua akhirnya pulang ke rumah, Remon yang berada di mobil kami begitu kagum dengan mobil yang kami kendarai. Bocah tengik itu tidak henti-hentinya mengoceh dan Tyas memasukkan Roti kedalam mulutnya. Akhirnya Remon bisa diam karena makan roti dan minum pemberian Tyas. Setelah sampai dirumah kami langsung menuju ruangan yang menurutku sangat aman, dan terlihat Remon menulis di lembaran kertas. Kemudian menarik tanganku dan tangan Daren.
“bang Dokter, kak. Menurut Remon. Alangkah lebih baiknya kita melaporkan si Imran ini.”
“jangan dulu Remon, Pertama kita harus melaporkan kasus Korupsinya. Kenapa? Karena jika langsung melaporkan Imran ke polisi pastilah dia akan memberontak dan kaki-kakinya akan langsung beraksi. Ingat dengan kejadian itu? Ketika warga di pemukiman itu melaporkan Imran bukannya mendapat keadilan malah menjadi korban fitnah.”
“bang Gopas ada bawa makanan?” tanya Remon. Bukan nanya kabar malah nanya makanan.
Benar saja Gopas memberinya nasi goreng, katanya kesukaan Remon. Sementara Gopas memeriksa semua dokumen itu, kami terdiam kecuali Remon yang sibuk mengunyah makanannya.
“semoga pengorbanan almarhum Pak Rido tidak sia-sia.” Pengacara itu berkata demikian sembari menghela napas panjang.
“matcud bang?”
“habiskan dulu makananmu itu baru ngomong, tersedat baru tahu rasa kau.” Ujar pengacara itu kepada Remon, yang bicaranya tidak jelas karena sedang makan.
“tolong jelaskan dengan rinci, tadi hardisk ini baru dibuka oleh Remon.” Pinta Daren.
“iya bang, nanta..
__ADS_1
“kau.... makan, habis makan baru ngomong ya.” Cegat Gopas, yang mengomeli Remon yang mencoba untuk bicara.
“maaf, apa kalian saling mengenal?”
“ya benar bu. Saya dan Daren dulunya satu sekolah, dan Remon Pegawai panggilan dikantor Ku, semua komputer yang dikantor itu dirakit oleh Remon. Imbalannya semua biaya sekolahnya saya yang tanggung dan emak nya Remon kerja dikantor.” Tuturnya dengan jelas.
“emakku bukan pengacara kak, tapi cleaning servis.
“habiskan dulu makanan kau.”
Gopas setengah berteriak kepada Remon , dan bocah itu langsung tertunduk dan mengunyah kembali makanannya.
“baiklah, ini saran dari saya. Pertama kali kita melaporkan kasus korupsi ini. Dengan bukti yang ini kita bisa melaporkannya. Ini memang berat, karena lawan kita sudah memegang kendali disemua bidang. Tapi itu bukan suatu hal rumit, dengan bukti ini pasti kita bisa menyeret mereka. Dan perlahan-lahan kita ungkap semua kasus pembunuhannya.” Jelas secara rinci.
Setelah penjelasan dari pengacara itu, dan akhirnya sarannya yang kami ikuti. Dan mereka akan memulainya besok pagi hari. Gopas bersama Remon pulang. Dan kami bertiga beranjak meninggalkan ruangan. Setelah pertemuan ini rasanya sangat lelah, bukan karena lelah bekerja tapi ingatan akan semuanya, semua tentang hal yang dilakukan oleh keluarga sendiri.
Saya hanya terbaring di ranjang, pengelihatan seperti buram. Daren sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai celana pendek dan kaos oblong, kemudian menatapku tanpa aba-aba langsung mencek suhu tubuhku. Dengan cepatnya suamiku itu mengambil peralatan Medisnya.
“mau ngapaiin?, ingat kamu tidak berhak menyentuhku tanpa seijinKu.”
tanpa memperdulikan omonganku, Daren langsung mencek tensiku dan kemudian mencek dadaku dengan teteskopnya.
“suhu tubuh Kamu sangat tinggi, dan tekanan darah rendah. Kata Remon, kalian berdua belum makan. Jadi Aku infus saja ya.” Ujarnya. Dan tanpa persetujuanku Daren melakukannya.
Setelah infus terpasang, Daren menyuntikkan sesuatu di infus tersebut katanya Vitamin. Dan menggulingkan sedikit bokongku.
“bu bos, ini adalah obat untuk menurunkan demam. “ ujarnya sambil menyuntikkan cairan melalui bokongku.
Beberapa saat kemudian kedua mata ini terasa berat, dan Daren datang lagi membawa mangkok serta handuk ditangannya.
“sepertinya obat tidur itu sudah mulai beraksi, tenang bu bos. Saya tidak akan berbuat macam-macam. Agar bu bos cepat istirahat makanya saya beri sedikit obat tidur.
Telapak tangan Daren yang besar masih terasa memegang tanganku sembari membersihkannya menggunakan air hangat, sekalipun kamu macam-macam saya akan terima. Karena kamu adalah suamiku. Aku berharap kamu mencium ku malam ini.
__ADS_1
Samar-samar kulihat Daren membersihkan wajahku kemudian kebagian Dada, ketulusannya terlihat nyata. Ketika tatapan bertemu dia hanya tersenyum dan itu sangat mempesona. Kancing bajuku masih terasa dibukanya dan hanya bisa berharap Daren melakukannya.