
Kami berempat Sudan tiba di ruang tunggu, untuk bertemu Imran. tidak berapa lama Imran yang didampingi petugas lapas datang menghampiri kami.
"Akhirnya kata-kata anda tidak terbukti, saya yang menjadi pemenang Nya. dan anda sendiri akan mati membusuk disini."
"hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
kamu kira, kamu sudah menang? belum tentu. anakku masih ada beserta dengan istri sirihnya. dan masih banyak lagi yang harus kamu hadapi." ujarnya dengan dengan begitu kebencian.
"tidak tahu kan kabar terbaru? wajarlah anda tidak mengetahui Nya, karena iblis anda tepat untuk dikurung. dan sebentar lagi akan menjadi penghuni neraka."
Mendengar jawaban dariKu, dia terlihat begitu emosi. dan itu yang Ku inginkan, iblis ini akhirnya terpancing emosi Nya.
Lembaran jual beli saham Ku sodorkan melalui celah kaca tebal tersebut. seketika dia manusia iblis itu membacanya dan kemudian merobek dokumen tersebut.
"hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kamu kira gampang mendapatkan tanda tangan dariku, jangan mimpi perempuan gila, itu semua akan aku wariskan kepada Farel, dan tidak akan pernah kuberikan kepadamu."
Ucapnya dengan begitu kebencian, dan itulah yang ku inginkan, Remon dan Dadang sudah merekam semua kejadian ini. untuk dilampirkan sebagai bukti bahwa manusia iblis ini melawan hukum Negara.
"Bagus, tetaplah nikmati iblis yang bersarang di hatimu itu."
"anjing, bangsat. akan ku buat kau menderita seumur hidup mu."
Ujar Imran manusia iblis itu, dan seketika itu dia langsung dibawa petugas masuk kembali ke kandangnya.
Ada keuntungan yang Kuperoleh dari sini, jika Imran menolak untuk menandatangani jual-beli sahamnya. Maka instansi pemerintah terkait yang bertindak untuk mewakilinya, tentunya harga sahamnya akan turun. karena saya pimpinan Cantika group masih berhak menentukan kepada siapa saham tersebut dijual.
Setelah mendapatkan Bukti, baru kami kemudian bergerak ke instansi terkait untuk mengurus pengalihan sahamnya. untuk kali ini adalah tugas Gopas.
__ADS_1
Sesampainya di instansi terkait, kami sama-sama masuk tapi kami bertiga menunggu di ruang tunggu, hanya Gopas yang masuk untuk menghadap ke atasan pihak terkait.
Hanya berselang beberapa menit, Gopas sudah keluar dari ruangan tersebut dengan tersenyum. dan kami kembali ke dalam mobil meninggalkan gedung itu.
"Bu... mereka menjual Nya seharga 45 persen dari harga sahamnya, kita tinggal transfer uang nya ke rekening Pemko yang terdaftar yang di dalam surat jual belinya."
"waouuuuu... terimakasih pak Gopas, ini adalah suatu keuntungan bagi kita. oh iya, jika seandainya saya mau memberikan bonus. Remon, Dadang dan pak Gopas. bonus berupa apa yang di harapkan?"
Mereka bertiga langsung terdiam mendengar perkataan Ku, dan kemudian Remon terlihat mencubit lengan Gopas agar dia mau bicara.
"jadi Begini Bu Cantika, orang-orang yang tinggal di daerah pemukiman kumuh itu adalah orang yang di gusur dari tempat tinggalnya yang lama, yaitu pabrik kedua dari Cantika farmasi yang sekaligus jadi gudang. Rata-rata pekerjaan mereka adalah penjahit.
Dulu disana ada sekolompok ibu-ibu yang dibantu oleh suaminya masing-masing, sebagai penenun ulos dan berbagai songket khas Batak.
Bahkan daerah tersebut pernah ramai karena hasil produksi pakaian yang berkualitas, yang akhirnya bencana yang datang. dan terakhir sebagai pemulung. Modal dan harta mereka sudah tertanam di semua mesin-mesinnya. tanah yang mereka tempati sekarang adalah tanah milik almarhum kakek saya.
Saya ingin ada pabrik tenun atau pabrik pakaian jadi yang bisa merekrut mereka kembali bekerja. dan saya ikhlas tanah tersebut di bangun Apertemen untuk tempat tinggal mereka dengan catatan tidak untuk diperjualbelikan."
Mendengar jawaban dari Gopas, saya langsung teringat dengan Tyas. cita-cita Nya yang membuat pabrik produksi pakaian dan segala bentuk.
"saya paham maksud pak Gopas, dan lebih tepatnya ini dibicarakan dengan Tyas. karena cita-cita Nya adalah untuk membuka pabrik pakaian jadi. laba dari saham nya tidak pernah itu dipergunakannya. demikian juga dengan laba saham yang kuperoleh.
Nanti kita bicarakan dengan Tyas lebih lanjut, oh ya, bagaimana dengan pribadi pak Gopas? apa ada permintaan khusus?"
Gopas langsung tersenyum, dia sepertinya mengharapkan suatu harapan yang besar itu terlihat dari senyuman nya dan juga sorot matanya.
"Honor sebagai tim Kuasa Cantika group sudah sangat cukup bagiKu dan timKu, kami masing-masing sudah punya rumah. diantara kami cuman aku yang belum menikah. istri-istri dari rekan-rekan Ku sudah punya usaha yang di modalnya berasal dari almarhum Kakek Ku, secara perlahan utang modal tersebut sudah mulai lunas.
Saya pribadi juga punya rumah yang nyaman, kendaraan dan juga usaha lain berupa rumah makan khas Batak yang selalu ramai dan bahkan sudah punya cabang.
__ADS_1
Yang terpenting adalah cita-cita almarhum kakek terlaksana, cita-cita Nya adalah membuat para penghuni pemukiman kumuh itu hidup layak dan punya tempat tinggal yang layak.
Dari hutang yang sudah lunas, saat ini sudah terkumpul sekitar 2 milyar Rupiah. jika perlu dana maka saya investasi kan uang tersebut untuk mewujudkan cita-cita almarhum kakek, dan dari hasil rumah makan yang selama ini ku tabung akan investasi juga Bu."
Remon dengan spontan menyeka air mata Gopas, ketika menceritakan semua tentang warga pemukiman kumuh itu.
"cup.... cup.... Abang jangan nangis, banjir pula nanti mobil kita ini."
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Remon dan Dadang tertawa karena tingkah dari Remon. dan dua pengawal dalam mobil ini ikut juga tertawa.
"kalau Remon gimana dek?"
Remon garuk-garuk kepala karena pertanyaan dariKu, dia malah melihat ke arah Gopas dan kemudian tersenyum.
"apa ya kak, rumah sudah Remon renovasi. jualan emak juga sudah banyak dan bahkan sudah punya anggota, anggota nya bapak ku sendiri. gaji dan bonus yang Remon terima juga besar. untuk saat belum adalah kak, semuanya sudah terpenuhi kak."
"baik lah Remon, kalau Dadang gimana?"
"sederhana Bu, Dadang hanya ingin membangun masjid besar yang ada disekolah yang dibangun oleh almarhum atok. sebagian gaji dan bonus Dadang sudah ku tabung tapi masih belum cukup.
Rumah sudah dan kos-kosan peninggalan atok yang diberikan kepadaku sudah Dadang renovasi. kalau full gaji dan bonus, jika tidak Dadang sisihkan untuk membangun masjid. mungkin bisa menambah bangunan kos-kosan.
Jika seandainya ibu mau ngasih hadiah, sekiranya mau mendonasikan atau berinfaq untuk pembangunan masjid yang ada disekolah itu. karena didaerah-daerah situ hanya masjid itu yang paling besar. hanya butuh renovasi saja."
"mulia sekali hati mu mas Dadang, jika hutangku sudah lunas ke teh Tyas. akan ku sumbangan dari penghasilan nanti ya. "
Lagi-lagi kami harus tertawa atas sanggahan Remon terhadap Dadang. anak rese itu meledek cara bicaranya Gopas.
__ADS_1