DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Terlalu Banyak Rahasia.


__ADS_3

"ok. kita sudahi acara bersedih kita, tidak ada gunanya lagi kita bersedih. kita hanya butuh keadilan." Remon dan Gopas langsung tegak mendengar pernyataan Ku.


"Bu. Imran, sudah di jadikan tersangka atas Kasus korupsi dan penggelapan di Berlin bank. jadi tolong ibu kosongkan jadwal besok jam 11 agar kita menghadap ke Kantor polisi." pinta Gopas dengan tegas.


Hanya mengganguk kepala tanda setuju, dan Remon terlihat membuka tasnya. kemudian memberikan kepada kami berdua map yang berisi dokumen.


"apa ini dek?" tanya Gopas kepada Remon.


"itu berasal dari handphone salah penjarah rumah bang Dokter, yang Remon rampas saat itu. tapi Remon ngak ngerti bahasanya. seperti tulisan cina gitu." ujarnya sambil mengangkat alisnya.


Bukan tulisan China, tapi ini adalah tulisan Korea. Gopas menoleh ke arah Remon sembari memegang pundaknya.


"Remon...,


"iya bang Gopas.....,


"ngak usah kau jawab sontoloyo, tulisan dokumen ini bukan tulisan China, tapi tulisan Korea." jelas Gopas kepadanya.


"tahu ah, sama aja Remon lihat." ujarnya yang terlihat sedikit kesal. dan membuka kembali tasnya dan mengeluarkan cemilan lagi.


"Remon, tas mu itu seperti kantong ajaib Doraemon ya. semua ada kayaknya." sindir Gopas, tapi Remon hanya nyengir saja.


"Remon. kenapa baru sekarang di kamu berikan?"


"maaf kak, pasword membuka file sangat ribet. Remon butuh waktu 3 hari untuk membuka 1 pasword. benar-benar sangat rahasia kak." jelas Remon.


Sebenarnya Aku tidak mengerti akan tulisan ini, tapi kenapa di kunci dengan begitu rapat. dan ada apa di balik semua ini. semakin kesini semakin banyak rahasia yang belum terungkap.


Tok...tok.... tok.....


Pak Dimas kepala divisi ruang Sermon, masuk dengan ekspresi wajah yang cemas. dan hampir terjatuh ke lantai karena berusaha menerobos pintu


"kenapa pak Dimas?"


"Bu, kami boleh pinjam Remon? server kami di serang." ungkapnya dengan wajah ketakutan.


"Remon, pak Gopas. mari ikut saya ke ruangan Sermon.".


Remon langsung menutup laptopnya dan bergegas, dan tentunya bocah itu tidak lupa dengan cemilan Nya, kami bergerak mengikuti pak Dimas dari belakang.


Setelah sampai di ruang Sermon, Remon langsung mencolokkan kabel USB ke komputer pak Dimas. dari laptop baru di hubungkan lagi ke laptop lamanya.

__ADS_1


"pak Dimas, tugas bapak hanya menekan enter di laptopKu itu dan atas perintah Ku ya pak." ujarnya kepada pak Dimas.


Kali ini wajah pak Dimas tidak seperti pertama kali bertemu dengan Remon, bahkan dia dengan nurutnya menuruti perintah Remon.


"bapak-bapak Mohon perhatian sebentar, kita bermain memakai Pascal saja. dalam hitungan 5 detik ke depan, layar monitor bapak-bapak akan menjadi biru. bapak-bapak hanya perlu menyambungnya dengan kode algoritma dasar." perintah Remon dan terlihat dia begitu gagahnya. tapi matanya mengarah kepada satu orang di pojok kiri.


"satu, dua, tiga...." hitungan ketiga. semua layar monitor berubah jadi biru dan layar monitor di pojok kiri yang berbeda sendiri. layar monitornya hitam.


Prak....brammm.......


Buku tebal yang ada diatas meja pak Dimas di lemparkan hingga mengenai batang lehernya hingga tersungkur. karena pria yang dipojok kiri itu, yang hendak beranjak dari tempat duduknya.


"bang Gopas, tangkap dia." perintahNya sambil kembali duduk di kursinya.


Gopas bergerak dengan cepat, dia tidak bedanya dengan Remon. Langsung main hantam, seketika terlihat pria itu babak belur.


"semuanya fokus..... pak Dimas enter." teriak Nya dan terlihat yang lainnya sangat fokus di layarnya monitor masing-masing.


Suara rintihan kesakitan dari pria yang dadanya di pijak oleh Gopas dan suara keyboard komputer yang terdengar.


bur.....


"pak Dimas enter." teriak Remon. dan hanya suara ketikan keyboard yang terdengar.


"bang Gopas, ambil benda yang disakunya." perintahnya lagi.


Gopas dengan sigap mengambil sesuatu dari sakit celana kiri dari laki-laki yang pijaknya itu dan menyerahkan benda itu kepada Remon.


Ternyata benda itu adalah flashdisk, seketika Remon mencolokkan itu ke komputer lamanya. terlihat beberapa layar monitor berubah menjadi hitam dan kembali lagi ke layar biru.


"hajar terus, jangan kasih Ampun."


"siap, laksanakan.... " jawab mereka serantak.


"pak Dimas enter..." teriak Remon lagi


Pruk....pruk ..... pruk .... pruk......


Suara tepuk tangan yang meriah di ruangan ini, dan Remon dengan berlagak sok dewasa tepuk tangan sambil berdiri.


"pak Dimas, naga hitam itu sudah berhasil di musnahkan. Remon mintak imbalan, besok traktir Remon makan ya." dengan bertolak pinggang Remon berkata demikian.

__ADS_1


Pak Dimas tidak menyahutnya tapi malah memeluk nya dan kemudian.


muach.....muach.....


"ih ... pak Dimas nakal, Aku ternoda. aku s...u...d...a...h kotor..... " aktingnya itu loh, buat greget.


Remon dengan sekuat tenaganya berusaha melepaskan pelukan pak Dimas, dan dia terlihat jijik Karena dicium oleh pak Dimas.


Sementara yang lainnya berusaha menahan tawa karena sikap dan perilaku Remon. syukurlah Aku masih bisa menahan tawaku, dan perlahan yang disamping pojok itu mendekat ke arah Remon. dan memberikan benda seperti flashdisk.


huachim....


Pria muda itu bersin mungkin karena terkena serbuk putih tadi yang menyiram komputer disisi kanannya.


Flashdisk langsung dicolokkan oleh Remon di komputer barunya, dan seketika serius. beberapa saat kemudian terdiam dan menarik tanganku untuk melihat isi file Nya.


Ada beberapa foto dokumentasi, seperti warga negara Korea yang berjabat tangan dengan om Imran dan om Rio.


File selanjutnya berupa foto juga, Dokter Indra Dermawan. direktur rumah sakit Cantika, orang kepercayaan Almarhum Papa berjabat tangan dengan orang asing itu.


Kemudian file berkas, yang bertulisan sama seperti yang diberikan Remon kepada kepadaKu saat di ruangan tadi


"sekali lagi saya minta maaf Bu." ujar pak Dimas sambil menundukkan wajahnya.


"pak Dimas, tolong periksa semua anggota bapak. mulai orang-orang yang disini sampai anggota keluarganya masing-masing. besok jam 10 pagi laporan itu harus ada di ruangan Ku."


"siap Bu." jawab pak Dimas dengan tegak.


Seketika itu pak Dimas langsung bergegas, yang ditemani oleh dua anggota nya meninggal ruangan ini.


"diantara kalian ada yang mengerti bahasa Korea."


Pria Muda yang memberikan Flashdisk tadi angkat tangan dan seluruh perhatian berpusat kepadaNya.


"Nama saya Dadang Bu, saya mendapatkan beasiswa ke universitas Seul Korea Selatan. setelah lulus kuliah saya kembali ke Indonesia dan diterima kerja disini Bu." jelasnya dengan suara yang pelan.


"ikut saya ke ruangan. Remon, tolong panggil kan pengawal. suruh mereka membawa manusia penghianat ini ke ruangan sebelah kakak. habis itu kamu masuk ke ruangan kakak nanti."


"siap kak,." semua orang langsung tertuju ke Remon, mungkin karena kata Kakak.


Remon langsung meninggalkan ruangan, sementara Gopas masih menginjak kakinya di dadanya. bersama Dadang kami pergi ke menuju ruanganKu.

__ADS_1


__ADS_2