
Sebenarnya ingin rasanya makan malam bersama Daren Suamiku, tapi nanti dia besar kepala dan bisa-bisa bertindak sesuka hatinya.
drrrt.... drrrt.... drrrt.... drrrt....
Handphone Ku bergetar, dan kulihat dilayar yang menghubungi Ku adalah nomor baru. karena penasaran langsung ku jawab.
"halo, ni siapa?"
"halo Cantika, ini aku Carol. kamu apa kabar?" tanya seseorang dari ujung sana.
Terlintas sejenak, Carol adalah teman waktu SMA, lebih tepatnya cinta pertamaku. kami berpisah karena orangtuanya pindah ke tugas Jerman.
"iya ingat, ada apa Carol?"
"sekarang saya di depan rumahmu, tapi pengawal kamu melarang Ku masuk." ucapnya melalui telpon.
"tunggu sebentar ya."
Obrolan kami melalui telpon terputus, dan pengawal Ku suruh mempersilahkan dia masuk. dan Carol sudah tiba di ruang tamu.
"kangen banget sama kamu, I Miss you so much." ucapnya dan berusaha untuk mencium Ku.
"sorry Carol, saya sudah bersuami. jadi tolong jaga sopan santun."
Ucapku kepadanya, mungkin bagi dia ciuman hal biasa tapi bagiku sebagai wanita Indonesia yang bersuami itu tidak pantas.
"come on Cantika, saya tidak perduli dengan status Mu." ucapnya.
"maaf, kamu mau ngapain? ingat iya kita sudah tidak punya hubungan apa-apa?"
Secara terang-terangan aku perjelas status hubungan kami. dulu kami berdua memang pacaran walaupun hanya 3 bulan karena keluarga harus segera pindah ke Jerman.
"I know, kamu itu wanita karir sekarang. sementara saya hanya bagian diploma pemerintah untuk negara Korea Selatan." ungkapnya dengan sedikit kesal.
"kamu tidak di Jerman lagi?"
Terlihat ekspresi Nya dengan raut wajah bangga dan memberitahu kalau dia sudah bekerja di kantor kedutaan Indonesia untuk Korea Selatan.
"saya disini selama 3 bulan, dalam rangka untuk kenaikan jabatan. dan setelah itu kembali lagi ke Seoul Korea." jelasnya
Tyas sudah pulang ke rumah, dan langsung disambut oleh Carol.
"Tyas, ternyata kamu masih seperti dulu. tetap culun ya." ujarnya sembari mendekati Tyas adikku.
__ADS_1
Tyas dari dulu tidak menyukai Carol, alasannya karena kesombongan Nya. Tyas melirikku Seakan-akan menyuruh untuk mengusir pria yang sok hebat ini.
"Saudara Carol, ingat sekarang anda berada di Indonesia. sekarang ini sudah hampir jam 11 malam. tidak etis jika anda bertamu di rumah perempuan yang sudah bersuami. sekarang kamu pulang. pengawal.... pengawal.... seret manusia ini keluar, cepaaaaat....... " teriak Tyas.
Pengawal langsung membawanya keluar, dan Tyas menatapku dengan raut wajah kecewa kemudian mendekati Ku.
"Tyas sungguh Kecewa sama kakak, kan bisa ketemuan besok. apa karena dia mantan pacar kakak?" ujar Tyas dengan rasa kecewanya dengan setengah berteriak.
"Tyas, dengarin Kakak dulu."
"cukup kak, Tyas mau istirahat. besok kita sambung lagi ya kak." ucapnya sambil berlalu.
"makan malam dulu dek."
"sudah kak, tadi kami makan bersama."
Tyas adikku langsung berlalu begitu saja, memang terlihat Tyas Sangat kelelahan. jadi aku biarkan dia untuk istirahat.
Berlalu ke kamar, Daren ku lihat sudah rebahan di atas ranjang Nya sambil memainkan handphone miliknya.
"kamu tidak bertanya siapa laki-laki tadi?" Aku yakin Daren mendengar Nya Karena suara Tyas tadi agak kencang.
"saya tidak punya hak untuk menegur Mu, karena Aku hanya suami yang kamu beli." ucap Daren sambil memalingkan badannya.
Kata itu pernah ku ucapkan dan kini dibalikkan kepadaKu, memang terasa sakit. mungkin ini yang dirasakan saat itu.**
"mau kemana?" Daren menolehku dan menundukkan kepalanya.
"Wisuda atau Sermon penerimaan sertifikat tanda kelulusan Speaslis. Bu bos bersedia menemani Ku?" Pintanya dengan raut wajah berharap.
"tidak bisa, sudah janji mau bertemu Carol. pria yang datang tadi malam."
Sebenarnya saya tidak ada janji bertemu dengan Carol, aku hanya ingin melihat ekspresi Daren. dan benar saja Daren terlihat sangat-sangat kecewa.
Daren berlalu begitu saja dengan kekecewaan Nya, dan Aku bersiap untuk mandi. setelah selesai persiapan langsung turun kebawah. terlihat Tyas sudah menunggu Ku di meja makan.
"kenapa Tyas? wajahMu kok kyak di tekuk gitu?"
"ngak ada kak, percuma juga Tyas ngomong." ujarnya dan kembali Makan.
Hanya melihat ekspresi Tyas, aku paham kenapa jawabannya ketus. pastinya karena melihat Daren pergi tanpa sarapan.
Bahkan Tyas sampai selesai makan tetap diam, dan akhirnya kami pun berangkat kerja. sepanjang perjalanan menuju kantor, Tyas masih tetap saja diam.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Remon, Dadang dan pak Gopas sudah menunggu kami di mejaNya Remon dengan setumpuk dokumen di depan Mereka.
Ruangan langsung dibuka ajudan dan kami langsung masuk. Remon dan Dadang terlihat kerepotan membawa berkas di meja mereka dan ajudan pun ikut membantu mereka.
"ada dengan semua berkas ini?"
Seketika Dadang langsung berdiri dengan ekspresi serius.
"Bu, Dadang bersama pak Dimas dan dibantu oleh Remon, melacak semua IP Address komputer yang dipakai para pegawai di gedung ini. dan data-datanya sangat mengejutkan Bu." ungkapnya dengan yakin.
"pak Dimas mana?"
"masih di ruang Sermon Bu, untuk mengurus arus data yang yang mengalir. karena begitu banyak hal-hal yang terjadi yang diluar dugaan kami, pak Dimas bersama tim masih fokus menganalisis data Bu, karena itu pak Dimas mengirim Ku kemari. atau Dadang panggilkan pak Dimas sekarang Bu bos?" jelas Dadang.
"tidak perlu, cukup di wakili oleh kamu saja."
Tyas dan Gopas membaca dokumen-dokumen itu dengan teliti, sementara Remon sibuk laptopnya.
"mas Dadang, tolong sini bentar." panggil Remon ke Dadang.
"iya.. iya .. kenapa masih ada lagi aliran data Nya, geografis dimana itu?" tanya Dadang lagi.
"Indonesian, tapi IP address nya seperti di lindungi dari negara lain." ungkap Remon.
"hei.... maksud kalian berdua apa?" tanya Gopas yang penasaran dengan mereka berdua.
Remon dan Dadang saling bertatapan, sebenarnya Bukan cuman Gopas yang penasaran demikian juga denganku.
"jadi begini bang, Dari rumah sakit inchan. maksudnya email resmi dari rumah sakit inchan mengirim email, dan isinya memberitahu kalau mereka sudah dapat bitcoin. Remon bersama Tim-nya pak Dimas sudah berhasil melacak semuanya, tapi ternyata bang masih ada orang lagi. tapi kali ini agak susah kami bobol." jelas Remon kepada Gopas.
"emangnya yang si penerima nya berada dimana sekarang?" tanya Gopas sambil meletakkan dokumen yang dibacanya.
"di Indonesia bang, tapi email orang ini dilindungi oleh seseorang dari negara lain. sebentar ya, Remon butuh konsentrasi."
Jelas Remon kepada Gopas, ya seperti biasa. jika butuh konsentrasi pasti ngemil. tapi syukur Nya cemilan buatan emaknya sendiri yang artinya bisa dipastikan bahwa cemilannya itu aman untuknya.
"Remon, Lo makan apa?" tanya Tyas penasaran.
Cemilan yang dimakan Remon, berbentuk unik warnanya kuning. cemilan itu keluar dari tasnya yang mirip seperti kantong Doraemon.
"namanya luluh teh Tyas, emak yang buat sendiri. ini terbuat dari labu dicampur dengan tepung maizena dan didalamnya gula merah." Remon menjelaskan tentang cemilannya.
"digoreng ya" tanya Tyas lagi.
__ADS_1
"ngak, ini dipanggang. kata emak tidak bagus terlalu banyak makan yang berminyak, teh Tyas mau coba? enak loh.!" Remon menawarkan cemilannya ke Tyas.
Tyas tanpa ragu mencobanya, pertama dia agak ragu. maklum lagi diet katanya. satu, dua, tiga dan seterusnya. sekarang Tyas mengambil berkasnya ke meja sofa dan sambil makan cemilan yang dibawa oleh Remon.