
"kita harus tetap menjalankan program Daren ya Bu, karena dengan program Daren kita bisa mengangkat kembali citra rumah sakit Cantika."
Ujar Gopas setelah menyeruput secangkir kopi yang telah disajikan oleh Mpok Sri, tatapan matanya begitu layu karena sahabatNya Daren yaitu Suamiku yang berhasil melindungi ku, Daren Suami Ku menjadi korban kebiadaban sekutu Imran.
"pasti pak Gopas, tadi saya sudah ngobrol dengan Profesor Azma dan Tim nya. Profesor Azma akan bertindak untuk menggantikan Daren sementara waktu."
"bagus Bu, yang menusuk Daren itu adalah kaki tangan suruhan istri Farel." ujar Gilas dan tentunya aku dan Tyas heran.
"lah, emangnya farel sudah menikah?" tanya Tyas yang masih penasaran.
"iya, tapi lebih tepatnya nikah sirih. karena orang tua farel tidak menyetujui pernikahan mereka. dan anggota Tim kita mengatakan bahwa farel yang menyuruh istrinya untuk melakukan hal itu, dan tim sudah berhasil menghajar habis-habisan keluarga istri Farel dan juga keluarga kaki tangannya."
Jelas Gopas kepada kami berdua, terlihat amarah nya sudah mulai meredup dan nada bicara sudah mulai pelan.
"saya yakin, setelah ini pasti masih ada lagi". Ucapan Ku membuat Gopas menolehku demikian juga dengan Tyas.
"tim kita sedang memburu para keluarga Petinggi negara ini yang masih tersisa dan para kaki tangan Nya. oh iya Bu, pihak berwajib yang baru melepaskan perlindungan para keluarga Petinggi negara yang terlibat. karena pihak berwajib sedang berburu para petinggi negara ini yang bekerja di kedutaan negara lain yang menjalin kerja sama terkait Cantika group.
Barusan Tim mengabarkan bahwa pihak berwajib sudah mengamankan 10 pegawai Kedubes Indonesia untuk Korea yang terlibat perdagangan organ tubuh dan hal itu viral di negara ginseng itu. yang artinya tugas kita semakin berkurang." jelas Gopas dengan begitu Yakin.
"perlahan kita akan bangkit, semoga saja bang Daren cepat sembuh ya. biar bisa kita mulai dari nol lagi dan berjuang bersama-sama." kata Tyas dengan harapan.
Aku dan Gopas langsung menatap Tyas, dia begitu tenang saat menyampaikan sesuatu yang ada dalam pikirannya.
"mohon maaf, saya hanya penasaran alias kepo. saat itu kan Remon dan warga lainnya memorgoki maling di rumah Daren dan Remon menemukan Perjanjian pranikah antara ibu Cantika dan sahabat ku Daren. dan saya sudah membacanya. tapi sepertinya Tyas sangat mendukung pernikahan sahabat ku dengan Cantika. kenapa Tyas begitu mendukung ya?"
__ADS_1
Pertanyaan Gopas langsung membuat Tyas menoleh, dan kemudian tersenyum. adikku itu juga menolah ke arahku.
"Tyas memang belum terlalu mengenal bang Daren, tapi ya firasat mengatakan bahwa bang Daren itu sangat cocok dengan kakakku ini yang keras kepala, Egois, pemarah dan sombong. ibarat sebuah botol dengan segala isinya, bang Daren adalah tutupnya yang mencegah semua isi botol tersebut agar tidak tumpah.
Alasannya, bang Daren begitu menyayangi ibu dan almarhumah Nindy adik perempuannya. kadang Tyas iri melihat itu. ingin rasanya punya Abang, dan yang paling membuat kagum bang Gopas.
Saat yang di kantor itu loh bang, kakak Ku yang cantik ini tidak mau memanggil bang Daren ke ruangan nya karena semalaman itu mereka berdua lagi berantam, Remon berpura-pura disakiti oleh pengawal saat menghubungi bang Daren. beberapa menit kemudian bang sudah tiba di ruangan kakak dengan tergesa-gesa dan ngos-ngosan.
Padahal Remon bukan adik kandungnya bang Daren, tapi kepedulian nya terhadap Remon begitu luar biasa. dan Jujur bang Daren itu Persis seperti almarhumah Papa. pembawaannya tenang, tutur bahasanya sopan, pintar, pokoknya sangat cocok lah sama kakakku ini. ah....ah.... kok Tyas jadi teringat ya sama papa dan Mama.
Oh iya bang Gopas, almarhumah Mama kami Persis seperti kakak ku ini, dan almarhum Papa kadang-kadang bingung dengan sikap Mama. tapi dengan segala kelakuan Mama, dihadapi Papa dengan begitu kasih sayang dan cintanya. akhirnya Mama selalu luluh terhadap Papa.
Tyas melihat itu semua ada di dalam jiwa bang Daren, kakak ngomel-ngomel ngak karuan tapi bang Daren menanganinya dengan begitu tenang." ujar Tyas panjang lebar dengan tersenyum ke arahku.
"baiklah, saya rasa cukup untuk hari ini ya. kalau ada perkembangan tolong segera sampaikan ya pak Gopas."
"siap Bu." jawab Gopas singkat.
Gopas pulang bersama pengawal yang bersamanya, sementara Aku dan Tyas kembali ke kamar masing-masing.
Sesampainya dalam kamar, mandi dan berpakaian. terduduk di atas ranjang ini. teringat jelas akan Senyuman dari Daren sebelum di tusuk oleh pria itu.
Untuk melindungi Ku, Daren harus terluka Parah sampai Kritis seperti ini, apakah Daren benar-benar mencintai Ku?
Tapi saat di ruangan saat itu, Daren belum tahu akan isi hatinya. bagaimana perasaan Nya yang sesungguhnya terhadap Ku?
__ADS_1
Pernikahan kami berdasarkan kesepakatan dan perjanjian dan akan berakhir kelak nantinya, jujur dari lubuk hati yang paling dalam. Setiap kali bertemu dengan Daren, jantung Ku selalu berdebar tidak karuan.
Saat Daren mencium kening dan bibirku ketika proposal Nya ku tandatangi ada getaran cinta dari dalam diriku.
Saat ini Hatiku penuh dengan kebimbangan, masalah demi masalah yang tidak kunjung selesai di tambah lagi rasa kasmaran yang melandaku.
Perasaanku ini selalu bimbang dan selalu Aku pertanyaan kan, tapi selalu nyaman bersama Daren. Hatiku selalu tentram saat bersamanya walaupun tidak saling menegur saat berada di kamar ini.
Biasanya aku melihat Daren tertidur di ranjang itu, tapi sekarang hanya guling nya yang lihat. sungguh sangat rindu melihat wajahnya yang lelah karena bekerja dan tertidur di ranjang itu.
Drrrt.... drrrt.... drrrt.....
handphone ku bergetar yang terletak diatas meja, dan segera ku raih. ternyata Remon yang menghubungi Ku.
"ya... Remon, ada perkembangan Abang mu?"
"iya Kak, kata Dokter tadi, bang Daren sudah melewati masa kritisnya dan saat ini bang Daren sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. dan sekarang Remon dan mas Dadang nginap di ruang rawat bang Dokter. kakak besok aja datang, kami berdua di tetap di jaga pengawal kok kak. Remon menghubungi kakak agar kakak bisa tenang istirahat." ucapnya melalui sambungan telepon.
"terimakasih ya Remon, kakak titip abang mu"
"siap kak, kakak istirahat ya."
Jawab Remon dan percakapan kami berakhir, syukurlah Daren Suamiku sudah berhasil masa kritisnya.
Ingin rasanya ke sana hanya untuk melihat wajahnya yang tertidur, tapi berhubung keadaan masih genting mau tidak mau niat ini harus ku urungkan.
__ADS_1