DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Menjebak Imran


__ADS_3

Pagi harinya terbangun dan rasanya sangat segar dan pakaian sudah berganti, terlihat Daren tertidur di kursi dan wajahnya berada dipinggir ranjang sambil memegang tanganku. Wajah Nya terlihat adem dan sangat begitu berwibawa. Saya yakin Suamiku pasti begadang semalaman untuk menjagaku.


Uhmmmm.....


akhirnya Daren terbangun dan perlahan dia mengangkat kepalanya kemudian tersenyum. Setelah sadar barulah tanganku dilepasnya. Kemudian mencek suhu tubuh dan sebagainya.


“syukurlah bu bos sudah sembuh.” Ujarnya sambil membuka jarum infus di tangan kiri ku.


Setelah itu barulah ke kamar mandi, setelahnya bersiap-siap. Dan Daren kemudian melangkah ke kamar mandi. Selama Daren dikamar mandi Ku mintak mpok Sri untuk mengantarkan makanan ke kamar ini. Beberapa saat kemudian Daren sudah keluar dengan memakai celana Pendek dan Kaos kutangnya.


“hari ini kamu tidak perlu ke rumah sakit, istirahat saja. Jangan membantah.”


Setelah mengatakan demikian, terlihat suamiku itu agak lemas. Untuk meyakinkan suamiku ini istirahat, Aku mintak pengawal mengawasinya.


Setelah sampai di Kantor, Remon sudah duduk di samping pintu ruangan Ku. memang sengaja meja kerjanya disitu, karena saat ini Aku membutuhkannya.


Sesaat Terdengar sedikit keributan, setelah Aku lihat dari sisi TV ternyata Gopas bersama 3 orang rekannya sudah datang. pastinya Bocah itu mintak sesuatu dari Gopas.


"selamat pagi Bu." Gopas menyapa Ku dengan raut wajah serius tapi sedikit kesal.


"selamat pagi juga pak, Kenapa pak Gopas, kok terlihat kesal?"


"biasa Bu, si Remon. memang sih salahku belum bisa menepati janji, tiga hari lalu Ku janjikan sama dia untuk membeli gitar listrik untuknya. tadi si Remon nagih janji ku, sudah Aku kasih uang tapi di tolaknya, dan harus gitar. dia ngak mau uang. bocah itu kadang-kadang membuat Ku naik pitam Bu, tapi Anehnya setelah Aku marahi tiba-tiba saja Aku kasian melihatnya." jelasnya dengan raut wajah yang merindukan sosok seseorang.


"Remon itu Bu, persis seperti almarhum Adikku. setelah melihat Remon, sejenak kerinduanku terhadap adik Ku terasa terobati." jelas terlihat dari raut wajahnya begitu sendu.


"kok jadi curhat ya, maaf ya Bu." ujarnya setelah menyadari sikapnya.


"santai aja pak."


"terimakasih Bu. oh iya kedatangan kami kemari untuk memberitahu kalau kami sudah membuat pengaduan dan telah diterima. Bu... Saya mau mintak satu hal, bisakah ibu memberi kami pengawal juga? untuk kami pribadi dan untuk di kantor Bu." pintanya, tapi itu wajar karena lawan kami bukan orang sembarangan.


"saya paham, mohon tunggu sebentar ya pak."

__ADS_1


Langsung menekan tombol yang ada di samping meja untuk memanggil Tyas adikku, hanya beberapa saat Tyas sudah datang bersama Remon.


"Remon, hanya Tyas yang kakak panggil. kenapa kamu juga ikut?"


"kak, saya hanya penasaran dengan satu kalimat yang dikunci dari ruang Sermon itu kak. bisa kita kesana?" tanya Remon dengan raut wajah penasaran.


"tunggu sebentar ya, Tyas... tolong hubungi pak Mulyo. kita butuh tambahan pengawal laki-laki sebanyak 20 orang."


"siap kak." Tyas langsung beranjak pergi dari ruangan ini. dan Remon kembali menoleh Ku.


"ayo Kak." ujar Remon sambil menarik tanganku dan tangan kirinya memegang laptop Nya.


"bang Gopas, ikut kami." perintahnya kepada Gopas, dan pengacara itu langsung nurut.


Setelah berpesan kepada Tyas, jika pengawal tersebut datang untuk menunggu di ruangan sebelah. setelah beberapa saat kami bertiga sampai di ruangan Sermon.


"ruangan Sermon" adalah ruangan pengendali aliran data dan juga para penjaga server gedung ini. ruangan ini dan juga stafnya adalah inisiatif saya sendiri. Dimas adalah kepala Divisi ini yang langsung menghadap Ku.


"maaf bu bos, kami belum bisa mengetahui apa maksud dari kalimat tersembunyi itu." ujarnya dengan wajah lesu.


Seketika semua sibuk dengan komputernya masing-masing. tidak terkecuali dengan Remon. yang Aktif di laptopnya yang duduk disamping salah satu pegawai ruangan ini.


"Bu bos, kalimat yang tersembunyi itu adalah kata "Nilam"." ujar Remon, dan perhatian semuanya tertuju kepadanya.


"he.... kamu menerobos ke sistem dan melakukan hack ke sistem tertutup itu?" tanya pak Dimas kepada Remon.


"maaf pak, bukannya kita sedang perang ya? " tanya Remon dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.


"sudah-sudah, Remon apa itu "Nilam" ?"


"Bu bos, Nilam itu adalah nama tanaman merambat. yang banyak di budidayakan di daerah pedalaman Sumatera Utara dan Sumatera Barat, tanaman Nilam yang siap panen dan kemudian di suling untuk diambil minyaknya. kata bang Dokter, minyak Nilam hasil sulingan itu digunakan untuk kebutuhan Farmasi dan juga Serum kecantikan. kata bang Dokter, minyak Nilam ini mengandung senyawa kimia alami yang sangat bermanfaat. Remon lupa namanya, nanti kita tanya sama bang Dokter ya" tutur Remon dengan sangat santai.


"eh bocil, siapa itu bang Dokter?" tanya Pak Dimas yang terlihat kesal melihat Remon.

__ADS_1


"suami Bu bos lah, masa Suamiku."


Jawaban Remon mampu membuat seisi ruangan ini menahan tawa.


"Remon, apa yang kamu ketahui dari Nilam ini?"


Seketika itu juga, Remon langsung mencolok kabel untuk menghubungkan laptopnya ke proyektor dan langsung muncul grafik dan penawaran saham.


"Bu bos, ini maksud nya apa?" tanya Remon setelah menampilkan database tersebut.


"pak Dimas, lakukan penawaran. ambil 200 lembar saham dengan harga 1 juta per lembarnya."


Seketika itu pak Dimas langsung mengambil Nya dan terlihat Remon langsung berdiri dengan tersenyum sinis dan memperhatikan grafik.


"Remon paham Bu bos. opsss PT. Amos masuk lagi, pak Dimas ambil 2 kali lipat." ujarnya Remon dan pak Dimas menoleh Ku, dengan menganggukkan kepala langsung di ambil oleh pak Dimas.


"masuk lagi dia, pak Dimas. ambil 10 kali lipat, kita lihat siapa yang menang." perintah Remon dan pak Dimas langsung Geleng-geleng kepala tapi setelah melihatku mengganguk kepala langsung dilaksanakan.


"yes, masuk perangkap dia. pak Dimas, batalkan pembelian." perintahnya lagi, setelah melihatku pak Dimas melaksanakan perintah Remon.


Pembatalan pembelian saham Langsung diproses dan PT. Amos dinyatakan sebagai pemenang saham mayoritas, dengan total pembelian 150 Milyar Rupiah.


"yes.... hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


mampus kau PT. AMOS. Bu bos, cabut yuk. traktir Remon makan ya." Ujar Remon dengan wajah yang berbinar-binar.


"eh..ee.... main cabut aja Lo, jelasin dulu apa maksudnya semuanya ini?" tanya pak Dimas yang terlihat sangat kesal karena dari tadi diperintah oleh Remon.


Remon melirikku dengan mengedipkan mata kepadanya, kemudian Remon menatap pak Dimas dengan raut wajah puas.


"bapak Lihat di grafik! pemilik Nilam itu adalah PT. ANGIN, dan Perusahaan pertanian itu baru mau mengolah tanahnya, belum juga menanam Nilam, emangnya siapa yang mau beli saham seharga 150 milyar dengan angan-angan seperti itu? syukurlah kalau benar, kalau penipuan siapa yang nanggung 150 milyar? kedua ginjal Remon ngak bakalan cukup untuk membayarnya pak Dimas." jelasnya kepada pak Dimas.


"siapa Pemilik PT.Amos itu?" tanya pak Dimas dengan Penasaran.

__ADS_1


"tanya Bu bos lah, tadi Bu bos kok yang memulai." jawab Nya singkat dan langsung menarik tangan pak Gopas keluar.


Tidak ingin mengecewakan Remon, akhirnya kami bertiga langsung pergi untuk makan walaupun sebenarnya ini belum waktunya makan siang. tapi ada beberapa hal yang ingin Ku tanya kepada Remon dan Pak Gopas.


__ADS_2