
"Aku sangat mencintai kamu sayang, aku suka dengan semua hal mengenai kamu". ujar Nisa dan hal itu benar-benar menjijikkan.
"Daren. Tante dan Nisa sudah sepakat akan berbagi cinta Mu, Tante janji akan memenuhi semua keinginan Mu." ungkap Tante Dewi.
Kelakuan mereka berdua benar-benar menjijikkan, tapi Daren malah melangkah hendak meninggalkan mereka berdua.
"Daren, kembali kepadaku. aku sudah mencintai sejak dulu." teriak Tante Dewi dan hal membuat Daren berhenti dan menoleh.
"setelah kau dapatkan apa yang kalian mau, dan kemudian kalian akan membunuhku?" pernyataan dan pertanyaan Daren membuat mereka berdua terdiam.
"jangan harap kalau kalian bisa melakukan hal sama lagi. saya benar-benar muak melihat tingkah kelakuan kalian berdua." ujar Daren sambil melangkah dengan cepat.
"pengawal usir mereka dari sini, dan jangan pernah menerima manusia sampah seperti ini, paham."
"siap, paham Bu." para pengawal dengan kompak menjawab.
"Daren.... Daren..... Daren....
"Daren.... Daren..... Daren....
"Daren.... Daren..... Daren....
Teriak kedua perempuan sinting itu, tapi Perkataan Daren barusan sangat membuatku penasaran. sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan olehnya dariKu.
Ada hubungan apa antara perempuan sinting itu dengan keluarga Daren? apa yang sebenarnya terjadi? apakah kelakuan keluarga besar Ku begitu menyakitkan bagi banyak orang?
Begitu sampai di kamar, Daren sudah rebahan di ranjangnya. dan kemudian bangkit duduk sambil menundukkan kepalanya ke arahku, sama seperti para pegawai saat berpapasan Denganku.
Walaupun agak bingung dengan sikap Daren tapi itu sungguh menyakitkan. tapi itulah yang ku hadapi sekarang. akan kah Aku mampu memperbaiki masalah ini?
Melangkah ke kamar mandi dengan membawa pakaian seksi milikku, selesai Mandi dan berpakaian. aku kembali duduk di meja rias ku, mengeringkan rambut dan menyemprotkan sedikit parfum ke area tubuhku.
__ADS_1
Dan saat Badanku berputar ke arah Daren, dirinya yang rebahan langsung duduk di ranjangnya dan menatapku. ku dekati dan ku raba dadanya.
Responnya sangat baik dan terlihat menikmati sentuhan Ku, perlahan-lahan bajunya di bukanya dan terakhir celananya hingga telanjang di hadapan Ku.
Daren mulai mencumbui leherku dan dan memainkan puncak gunung kembar Ku, Karena gairahku sudah bangkit dan terlihat ruda miliknya sudah sempurna. baju seksi yang kupakai langsung ku lepas.
Terlihat Daren memasang pengaman di rudal, dan telentang. kini aku duduk diatas area rudalnya dan perlahan ku tuntun rudal berpengaman itu, pelan dan perlahan goyang membuat sangat terangsang hingga akhirnya cairanku keluar.
Setelah berlalu dari atas rudalnya, dan ingin Menganti posisi, tapi Daren sudah membuka pengaman rudalnya dan membersihkan sekeliling dengan kain kasa yang sudah basah yang beraroma alkohol.
Daren masih telanjang dan memakaikan gaun seksi ku, setelahnya menundukkan kepalanya dan kemudian berbalik badan untuk memakai kembali pakaiannya.
"selamat malam Bu bos." ucapnya lalu rebahan serta menarik bedcover itu ke tubuhnya serta berbalik Badan.
Saya paham maksud Daren, dia mencoba untuk mematuhi perjanjian pranikah kami. Daren tidak menyentuh Ku selama belum ada ijin dariKu. sesuai dengan perkataan kemarin itu, kalau Daren hanya pemuas nafsu bagiku.
Itulah yang membuatnya seperti itu, bukan salah Daren, tapi aku yang tidak bisa menempatkan posisiKu sebagai istri baginya.*****
Seperti biasa Daren sudah berada di dapur untuk sarapan, Mpok Sri sudah menyiapkan makanan untuk Nya di piring beserta dengan minuman berikut kopi hitam kesukaan Daren.
"baik Bu bos." ujarnya dengan singkat.
Daren langsung berlalu membawa piring yang makanan itu ke meja makan, antara kasihan dan merasa Iba. suamiku ini persis pesuruh bagiku.
Selama makan Daren tidak menoleh ke arahku, agak terasa sakit hati. suamiku menganggap Aku sebagai atasnya baik dirumah maupun di tempat kerja.
"pak, ini bekal makan siang sudah Mpok siapkan ya, jangan lupa untuk di bawa" ujar Mpok Sri dan seraya memberikan bekal makan untuk Daren.
Mpok Sri pamit ke dapur lagi, dan Daren memasukkan bekal siangnya itu ke dalam tas, selesai makan Daren hanya meneguk 3 kali dari gelas kopinya dan kemudian menatapku.
"Bu bos, saya dulu ya. hari ini saya mau ke kampus dulu untuk mengambil toga Wisuda karena lusa kami akan wisuda." ungkap Daren sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Daren berlalu bersama 6 orang pengawalnya, lemas Rasanya dengan sikap Daren seperti ini. Setelah Daren pergi barulah Tyas menuju meja makan ini. Tyas sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
"Tyas nanti duluan ke kantor ya, kakak mau pergi ke rumah itu, karna Papa nya Remon sudah mengabari bahwa mereka berhasil menangkap buronan kita." mendengar perkataan Tyas langsung berhenti mengunyah makanan dan fokus melihat Ku.
"kak, Tyas ikut ya" pintanya sambil menatapku.
"tidak Tyas, salah satu diantara kita harus berada di kantor. kita ngak kecolongan lagi." akhirnya Tyas paham apa yang saya maksud.
Kami membagi pengawal menjadi dua Tim, satu tim berjumlah 15 orang bersamaku dan 5 orang bersama Tyas. sementara 4 pengawal stay di rumah untuk berjaga-jaga.
Sekitar satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di tempat itu, dan di gudang bekas orang Video tersebut sudah disekap di kursi yang besar.
"Bu.... ini orangnya, sesuai dengan yang ada di video itu. dan kami sudah mengumpulkan beberapa rekaman suara dari handphone." ujar bang jago, sambil menyerahkan handphone dengan memutarkan beberapa panggilan Suara.
Suara itu sangat familiar, yah... itu suara om Imran yang menyuruh menghabis keluarga cicak dan Raden cs, serta beberapa orang lain. bahkan beberapa rekaman lainnya salah satunya adalah perintah untuk membunuh Mertuaku di rumah sakit dan sisanya terkunci.
File-file rekaman itu kemudian dikirim Bang Irfan ke anaknya yaitu Remon untuk di buka agar bisa mengetahui isi percakapan tersebut.
"Bu... Remon akan segera mengirim hasilnya ke ibu. sekarang apa yang kita lakukan?" tanya bang Irfan dengan mimik wajah serius.
"bangunkan dia bang, rekam semua apa yang di ucapkanya." bang Irfan mengganguk tanda mengerti.
Akhirnya pria yang disekap itu terbangun, dan begitu melihatku dia tersenyum sinis menatapku.
"kenapa kamu merekam semua panggilan masuk dan keluar mu?" pertanyaan itu disambut dengan senyuman sinisnya.
"saya sudah tahu akhirnya akan seperti ini, dan saya juga tahu seberapa kejamnya Om kamu itu. saya yakin anda mengerti yang aku katakan." jelasnya dengan tenang.
"berapa orang yang sudah kau bunuh?" pertanyaan kali membuat berhenti bersikap sinis
"entahlah, sudah lupa jumlahnya berapa. dan anda tidak perlu bertanya alasan kenapa saya membunuh mereka semua. itu pantas anda tanyakan kepada om kamu sendiri." jelasnya dengan nada yang pelan.
__ADS_1
"Istrimu dan anak mu yang sedang sakit kanker dan yang sudah menerima donor ginjal membuatmu harus membayar seluruhnya. dan kamu merasa berhutang Budi dan uang kepada Om Imran. padahal istri mu sudah menolaknya." Matanya jadi merah mendengar ucapan Ku.
Benar informasi dari tangan kanan ku, pria ini menjadi kaki tangan Om Imran karena istri dan anaknya.