DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Keresahan Hati.


__ADS_3

Tyas mencari pendamping hidup berbeda dengan caraku, Tyas tulus mencintai mencintai Remon dengan segala kekurangan maupun kelebihan Nya.


Sementara Aku, berawal hanya untuk asas manfaat. pertama untuk mendapatkan harta warisan almarhum Kakek dan kedua untuk misi balas dendam.


Daren yang tampan rupawan, Dokter hebat dan berbakat punya banyak kenalan yang menjadikannya sempurna untuk alat balas dendam. tapi pada akhirnya aku jatuh cinta kepadanya.


Jujur Aku kecewa terhadap Daren, tapi tidak mengurangi rasa cintaku kepada-nya. tapi inilah hatiku yang penuh dengan kebimbangan.


Bersama Tyas kami pulang ke rumah karena hari sudah Sore. sepanjang perjalanan dia terlihat sangat bahagia walaupun Remon hari ini tidak masuk kerja.


"kak... malam ini kan weekend, boleh ngak jalan-jalan sama Remon?" tanya Tyas dengan senyuman membujuk.


"jangan dulu Tyas, kakak bukan melarang kalian untuk berduaan terus. tapi tunggu benar-benar kondusif ya. kakak juga bosan tau, ingin ke salon, Spa, medi pedi dan sebagainya."


Mendengar perkataan Tyas langsung terdiam, walaupun kecewa dia tetap tersenyum kepadaku.


"iya juga kak, kita belum tahu keadaan yang sebenarnya. untuk jalan-jalan Nya nanti aja deh." ucap dengan tersenyum.


"terimakasih Tyas Adikku sayang, kakak hanya ingin kita selamat. cuman kamu keluarga yang kakak punya."


Tyas langsung memelukku karena ucapan Ku barusan. tanpa terasa kami sudah sampai di rumah.


Langsung mandi dan memakai baju tidur, dan Daren baru sampai di kamar ini dan langsung menyambar handuk serta baju ganti kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Untuk mengurangi rasa kejenuhan, televisi aku Nyalakan. dan berita yang membuat ku bahagia karena satu persatu pihak terkait yang terlibat Kasus Cantika group tewas dengan cara yang tragis.


Sepertinya dari daftar terkait Kasus Cantika group sudah hampir selesai, sekarang ini giliran Mertua Tante Rina. Nama keluarga itu tidak terdaftar di pihak berwajib tapi terdaftar dalam timKu.


Aroma tubuh Daren terasa, dan dia langsung mematikan televisi dan kemudian menatap ku dengan raut wajah yang curiga.


"Bu bos kita harus bicara kita harus bicara." ujarnya sambil menarik kursi dari meja rias Ku.


"baik, diawali dari pelakor dulu baru om Riko."


Daren terlihat seperti kebingungan setelah mendengar kata om Riko, dan kecurigaan ku semakin besar terhadap Nya.

__ADS_1


"saya tahu Bu bos tidak akan percaya dengan apa yang akan saya ucapkan. pertama adalah Sisy, dia hanya memancing emosi kita dan membuat kita semakin gaduh."


"trus kami memanfaatkan dia untuk memuaskan nafsu mu dengan mengajak dia ke Hotel." Daren terdiam setelah ucapannya saya potong.


"bukan Begitu, saya hanya memanfaatkan dia untuk menggali informasi tempat tinggalnya Farel, dan berhasil dengan cara lain dan kuberikan kepada Tim Bu bos. saya tidak pernah berhubungan badan dengannya. kedatangan ke rumah sakit saat itu hanya untuk memintak perlindungan."


"omong kosong, ok anggap saya percaya dengan semua omongan mu. kamu sakit hati kan setelah mengetahui kalau pelakor itu akhirnya bunuh diri?" dan lagi-lagi Daren terdiam.


"bukan bunuh diri, tapi dibunuh oleh Tim kamu wahai Bu bos." ujarnya dengan nada yang sinis.


"kamu sakit hati karena belum menikmati keindahan lekuk tubuhnya bukan?" ucapku kepada Daren, dan hal membuanya terlihat emosi.


"saya bukan pria tukang obral barang sembarangan." ucapnya dengan nada yang tinggi.


"anjing..... kamu bilang bukan pengobral barang sembarangan, tapi kamu bermain laga pedang dengan Riko pria belok itu. nikmat ya? ada sensasi baru. anjing......"


Tubuhnya ku dorong hingga tergeletak di ranjang Ku, dan seketika itu juga dia langsung membuka pakaiannya sampai telanjang.


"ini yang Bu bos inginkan, ayo Bu bos biar saya puas kan." ucapan Daren benar-benar membuat ku emosi dan ku tinggalkan dia dalam kamar dan berlalu menuju ruang kerja.


Merasa jenuh dan emosi bercampur menjadi satu, membuat larut dalam minuman beralkohol ini. rasanya melayang-layang dan seketika jiwaku tenang.


Setelah merasa puas, dengan setengah sadar. Aku kembali ke dalam kamar sementara Daren sudah tidak ada di kamar ini.


Kemudian ku rebahkan tubuhku diatas ranjang ini dan perlahan semuanya terlihat gelap dan agak goyang.***


Jam alarm berbunyi membangunkan tidurku, dan kemudian beralih ke kamar mandi. setelah berpakaian baru turun ke bawah untuk sarapan.


"Tyas, kakak mau pergi ke rumah mertua Tante Rina. mau ikut?"


"iya kak, tapi kita tunggu Remon ya kak." jawab Tyas dengan tegas.


Setelah kami selesai sarapan, tidak berapa lama Remon sudah tiba dengan tersenyum dan disambut Senyuman oleh Tyas.


"yuk kita berangkat." ajak ku kepada mereka berdua.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan kami hanya terdiam, setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang mewah tanpa pagar rumah.


Wanita tua akhirnya muncul setelah mendengar suara mobil kami dan sambutan yang tidak bersahabat langsung menoleh kami dengan tatapan sinis.


Kami hanya dipersilahkan duduk kursi taman di halaman rumahnya, tanpa disuguhkan Apapun.


"jangan kira Riko memberi kami uang haram itu?" ujar wanita tua itu memulai obrolan.


"uhmmm.... pemulung yang naik kasta, untuk membangun rumah ini, butik putrimu dan bengkel menantaku itu uang dari mana? memelihara tuyul atau pesugihan?" wanita itu langsung terdiam.


"apa mau mu?" tanya wanita tua itu yang sudah terpojok.


"suruh putri dan menantu mu keluar sekarang, baru saya utarakan mau ku apa?"


Firasat Ku benar, putri dan menantunya itu berada di rumah tapi tidak berani untuk menghadapi Ku.


Wanita tua itu akhirnya berteriak memanggil putri menantu Nya, dan akhirnya mereka berdua keluar dari dalam rumah dan menemui kami.


"Duduk " perintah ku kepada mereka.


Mereka berdua langsung duduk dengan raut wajah yang ketakutan. bahkan mereka berdua tidak berani menatap ku secara langsung. kepala a mereka tertunduk.


"sekarang katakan apa mau?" wanita tua itu bertanya lagi.


"baik, hari Selasa depan adalah sidang Pembuktian dan saksi akan kasus yang menimpa om Riko. saya ingin kalian bertiga mau bersaksi atas semua yang diperoleh Riko dan kalian harus bersaksi atas nama keluarga yang memperoleh keuntungan." Perkataan ku membuat putrinya akhirnya menatap wajah Ku.


"di bengkel dan butik, banyak orang yang mengantungkan nasibnya. apa keuntungan yang akan kami peroleh jika kami mau bersaksi?" ujar putrinya dengan penuh kecemasan.


"tentunya jika kalian bersaksi, maka semua harta kalian akan di sita dan lelang oleh negara, keuntungan yang kalian peroleh dari ku jika mau bersaksi. harta kalian yang di lelang akan saya tebus dan akan ku kembalikan kepada kalian lagi. tapi jika kalian berkhianat, saya tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi."


"baik, akan segera kami diskusikan. berhubung banyak orang yang menggantungkan hidupnya di bengkel dan butik. segera kami akan menghubungi kalian." ucapnya dengan sedikit wajah yang cerah.


"baik, segera hubungi pengacara kami jika sudah selesai diskusi." ucapku kepada mereka dan memberikan nomor handphone Gopas kepada putrinya itu.


Kami langsung pulang dari rumah halaman rumah mewah itu, dan rencananya tujuan kami adalah lokasi penampungan sementara warga pemukiman kumuh.

__ADS_1


__ADS_2