DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Imran Melebihi Iblis.


__ADS_3

Pernyataan dan pengakuan para Saksi, membuat jantung berdebar kencang. kakiku rasanya lemas. Tyas yang bersamaku langsung membantu membopongku, demikian juga dengan Remon membantu membopong Daren Suamiku.


Bukan hanya kami berdua yang terduduk lemas, demikian juga dengan Gopas. dengan bantuan rekan-rekannya untuk membopongNya pulang.


Sesampai di rumah Aku tertidur demikian juga dengan Daren Suamiku. entah berapa lama kami tertidur, suara ketukan kamar terdengar dari luar dan pemilik suara itu langsung masuk ke kamar.


Tyas dan Remon masuk dengan membawa makanan dalam nampan dan mereka masing-masing mendekati kami di ranjang masing-masing.


"kak, bang Dokter. perjuangan kita belum selesai. kakak dan Abang harus kuat, kami suapi makan ya!" ujar Remon.


Tyas menyuapi Ku makan, demikian juga Remon menyuapi Daren Suamiku. mereka berdua dengan telaten menyuapi kami makan. dan akhirnya makanan itu habis dan terakhir minum air serta jamu khas buatan Mpok Sri.


"ranjang terpisah, pasti karena bang Dokter tidurnya lasak." kata Remon dengan ekspresi sinisnya.


'bukan hanya lasak Remon, tapi karena aku takut akan pesona Abang mu itu." ujar ku dalam hati.


"tahu dari mana? sok tahu deh." Tyas langsung merespon Nya dengan nada yang cetus.


"iya, karena Remon pernah tidur satu ranjang sama bang Dokter." jawabnya dengan luwesnya.


Daren hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan dari Remon.


"kalian sudah makan? Dadang dimana?"


"kami bertiga sudah makan kok kak, Dadang di ruang tamu sedang kerja kak. karena besok harus dibawa.


"iya kak, nanti kami bantuiin lagi. Remon dan Teh Tyas datang kemari karena kakak dan Abang ngak kunjung datang makan malam." Remon menimpali perkataan Tyas.


"kakak dan Abang mandi, habis itu istrihat ya. karena besok kita harus perang lagi."


Kata Tyas, membuat Remon langsung melotot ke arah Tyas karena ucapannya yang berkata perang.


"perang di mana atuh teh? atu seram gitu, kita bawa senjata apa?"


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Tyas tertawa lepas karena ocehan receh dari Remon, mereka berdua mampu membuat hatiku yang hancur seketika menjadi tenang.

__ADS_1


"Remon, yuk keluar. mari kita biarkan kakak ku dan Abang mu untuk berduaan." Tyas mengajak Remon untuk keluar dari kamar.


Tinggallah kami berdua di kamar ini, seketika Daren menolehku dan kemudian berlalu ke kamar mandi sembari membawa pakaian dan handuknya.***


Seperti biasa, Daren selalu bangun duluan dan sudah bersiap-siap untuk berangkat ke pengadilan.


Setelah saya keluar dari kamar mandi, Daren terlihat melamun yang duduk di kursinya belajarNya.


Remon dan Tyas memaksa kami berdua untuk sarapan terlebih dahulu dan tidak perlu untuk buru-buru karena sidang akan dimulai jam 10 nanti.


Selesai sarapan, Gopas dan rekan-rekannya menjemput kami untuk sama-sama berangkat ke pengadilan. butuh waktu kurang lebih satu jam akhirnya kami sampai di ruang sidang. penasihat hukum om Imran sudah berganti dengan yang baru.


Hakim sudah tiba dan kami berdua semua, setelah dipersilahkan Duduk, kemudian hakim anggota membacakan agenda.


Tibalah saatnya giliran om Imran di jajal pertanyaan karena beliau adalah sumber malapetaka ini.


"saudara terdakwa, mulai dari BAP (berita acara pemeriksaan) anda selalu diam dan hanya penasihat hukum terdakwa yang bertindak. saudara terdakwa memang berhak untuk diam, akan tetapi itu akan menjadi poin untuk menentukan langkah selanjutnya. saudara terdakwa, berdasarkan keterangan saudara saksi Bagas Buana, yang menjadi tangan kanan Anda. mengatakan bahwa saudara terdakwa memberikan perintah untuk menghabisi para korban, apakah pernyataan saya ini benar?"


Pernyataan dan pertanyaan hakim anggota tidak ditanggapi dan tidak jawabannya, terdengar suara bisikan dari para hadirin yang kecewa dengan Imran.


tok.... tok.... "suara palu hakim.'


"terimakasih yang mulia, saudara terdakwa. berdasarkan rumor yang beredar. bahwa istri saudara terdakwa yakni Bu Dewi, terkenal mempunyai hobi mengoleksi Pria tampan yang masih brondong alias berusia muda. dan juga Pria-pria lain yang dianggap nya tampan dan menarik....


"Yang mulia keberatan karena itu masalah pribadi...


Ujar salah satu penasihat hukum pengganti dari terdakwa.


"keberatan ditolak, silahkan lanjutkan Penasihat hukum pelapor." kata Hakim dengan tegas.


"terimakasih yang mulia Hakim. saudara terdakwa, hobi aneh dari istri Anda. dikarenakan anda tidak sanggup melayani nafsunya. dan salah satu pegawai Berlin bank sudah digarapnya. Anda merasa cemburu kan? wajar lah, tapi kemana sekarang selingkuhan istri anda itu? oh tidak ada yang tahu. salah satu dari pegawai pria Tampan dari kantor pusat Cantika grup juga diembat oleh istri anda yang maniak itu, dan kepergok oleh anggota anda bukan? dan lagi-lagi pria selingkuhan nya itu menghilang. dan bahkan security Berlin Bank juga di garap oleh istri anda. karena senjata security bank pastinya lebih menggoda dong, istri anda dan putri anda yaitu .....


"cukup....." teriak om Imran.


Pancingan Gopas berhasil, om Imran terlihat begitu emosi. wajahnya merah dan sorot matanya begitu merah yang menandakan dendam yang tiada berkesudahan.


"karena itu setiap pria selingkuhan saya perintahkan untuk dibunuh, dan dari pada sia-sia anggota tubuhnya membusuk nantinya lebih baik dijual. " ujar yang terlihat emosi.

__ADS_1


"oh..... lalu bagiamana dengan kepala divisi Micro finance Berlin bank itu? istri anda di tolaknya dan.....


"dan terbunuh karena melawan, seluruh organ tubuh nya sangat bagus dan akhirnya terjual dengan harga yang tinggi." ungkapnya dan air mata Daren Suamiku langsung berurai.


"selain istri anda mengngyukai Pria lainnya, istri anda menyukai iparnya dan menggoda Nya, apa benar....


"Herman Baktiar, yah.... dia selalu beruntung dalam segalanya. Istrinya baik, cantik, kaya raya dan istriku sendiri menyukainya. kamu tahu lah apa yang terjadi." ujarnya sambil tersenyum sinis ke arahku."


Ya Tuhanku, mendidih rasanya darah ini. dan pelukan Tyas mampu menenangkan hatiku ini, hati yang hancur karena manusia saiko yang berbaju orenge itu.


"keuntungan Anda dari ekspor senyawa kimia dari pabrik Cantika farmasi juga lumayan ya, cukup lah untuk menutup mulut para petinggi negara ini, tapi saya dengar-dengar mereka yang dibelakang anda mangkir kayaknya... "


"jangan harap mereka semua mangkir, daftarnya sudah tersusun rapi. tinggal nunggu waktu yang tepat saja."


Lagi-lagi pancingan Gopas berhasil, dan bisa mengorek informasi lagi dari om Imran. dimana selama ini dia hanya terdiam.


"oh.... ternyata banyak ya, yang menjadi backing anda? saya dengar ni para backing anda hanya dapat rumah seharga 1 milyar saja. padahal anda dapat lebih bahkan sangat berkelimpahan." pancingan Gopas memang luar biasa.


"hanya rumah, itu omong kosong. kelompok mereka bisa bergerak dan bertahan karena dana dariKu."


"tapi cara anda memang luar biasa, mengusir orang-orang satu kecamatan. pasti cuman satu instansi terkait yang anda sogok kan?"


Perkataan dari Gopas membuat Nya semakin tertarik. sorot matanya begitu penuh kebencian.


"jika hanya satu instansi, tidak perlu saya mengeluarkan uang Banyak. tanah, air dan udara di kuasai oleh instansi masing-masing. dan mereka tidak akan bisa lepas."


"dari tadi anda Hanya mengatakan, mereka tidak akan bisa lepas. Nyata hanya anda duduk di kursi pesakitan itu. mana tuh power Anda?" ucapan Gopas semakin memancingnya.


"setelah persidangan selesai maka kalian semua akan melihat siapa saja yang terlibat, dan akan kita lihat. pihak berwajib mampu ngak membuat mereka duduk di kursi ini."


"oh..... jadi benar ya, semua karena anda, dan tentunya di lindungi oleh pejabat tinggi negara ini." tanya Gopas dengan hati-hati dan suaranya mulai bergetar.


"iya, karena saya. supaya semua orang tunduk terhadap Ku, lihat saja petinggi negara ini berlomba-lomba untuk menemui Ku demi kepentingan mereka."


Plak..... prak.....


Gopas menampar pipinya dan menendang kursi yang di duduki nya hingga tersungkur di lantai, mulut dan hidungnya mengeluarkan Darah. Gopas tidak puas hanya sampai disitu saja, setelah Imran tersungkur di lantai Gopas menendangi perut, mulut dan wajah Nya. dan sesegera mungkin diamankan oleh petugas.

__ADS_1


Demikian juga dengan seisi ruangan ini, yang rata-rata adalah keluarga korban yang melakukan kekerasan terhadap Imran, dan lagi-lagi petugas keamanan berhasil mengamankan persidangan. dan akhirnya persidangan di tunda Sampai Minggu depan.


__ADS_2