
Cerita kemesraan Mereka harus berakhir karena kami masih ada urusan lainnya, dan perjuangan kami belum berakhir. masih ada beberapa orang lagi dari kaki tangan sekutunya Imran yang belum berhasil di buru oleh pihak berwajib.
Karena hari sudah petang, kulangkah kaki ini menuju ruangan rawat Daren. ingin rasanya untuk bercerita tentang kejadian hari ini, antara Remon dan Tyas yang sudah resmi berpacaran.
Daren menyambut Ku dengan senyuman indahnya yang Manis dan dengan segera saya berlalu ke kamar mandi untuk membasuh tubuh yang sudah penat ini. pakaian yang dibawa Tyas langsung kubawa. setelah mandi dan berpakaian aku kembali duduk dekat ranjang Daren.
"sudah Makan malam Bu bos?" tanya Daren memulai obrolan kami.
"sudah, tadi bersama dengan Tyas, Remon, Dadang dan Gopas. tahu ngak Remon dan Tyas sudah resmi berpacaran."
"apa? Tyas yakin berpacaran dengan Remon? anak itu rese loh." tanggapan nya persis sama seperti tanggapan Gopas.
"tanggapan pak Gopas persis sama dengan tanggapan kamu, oh iya. seperti kamu dan pak Gopas sudah sangat mengenal Remon, dan secara kompaknya kalian berdua menyatakan kalau Remon orang nya rese. cerita dong tentang keseharian Remon."
Daren langsung menatapku dengan begitu teduhnya dan kemudian tersenyum, ya Tuhanku Senyuman Suamiku ini begitu menarik mempesona.
"Remon itu anak nya periang, dan kami adalah tetangga. orang tua kandung Remon meninggal di karena perluasan Cantika farmasi. dan saat itu adik kandung Mamanya Remon mengangkat Remon menjadi anaknya. dan tinggal dekat rumah kami.
Remon sebenarnya anak yang baik, tapi iya itu dia rese, dan kadang-kadang membuat kesal siapa saja yang mengenalnya. menandai Remon sudah berada di rumahnya sangat gampang, jika Mama nya berteriak itu artinya Remon berada di rumah. dan jika Tante Ina yaitu emaknya Remon datang ke rumah kami dengan wajah cemas itu artinya Remon pergi bersama bapaknya keluyuran di luar sana.
Pernah suatu hari Tante Ina sakit, sebenarnya hanya demam biasa. tapi Tante Ina mengajakku berbohong, kalau emaknya Remon sedang sakit keras. dan saat itu anak rese itu berjanji tidak akan bapak nya lagi keluyuran dan selalu stay bersama Emaknya.
Itulah sebabnya, bang Irfan. bapaknya Remon dengan beraninya meminta pekerjaan kepada Bu bos untuk Remon. karena dia tidak ingin Remon sama dengan dirinya yang menjadi preman dengan hidup yang tidak jelas.
Remon itu tidak merokok, tidak suka berjudi, tidak suka minum minuman beralkohol. dan jika sudah berjanji akan menyayangi seseorang dia pasti akan menepati Nya. seperti janjinya Kepada emaknya yang tidak mengikuti bapak lagi sebagai preman."
Penjelasan Daren mengenai Remon begitu lengkap, tapi masih ada yang janggal di telinga ku ini, Daren masih memanggilku dengan sebutan Bu bos.
__ADS_1
Ingin rasanya mendengar Daren memanggilku dengan sebutan sayang, seperti saat dia tertusuk pisau itu. tapi saat tidak mungkin karena masih ada jarak dan penghalang diantara kami.
"Bu bos, saya tadi menonton berita. dan buronan yang belum berhasil ditangkap oleh pihak berwajib dibunuh oleh seseorang dan keluarganya yang melawan dibantai oleh Nya. itu semua perbuatan Bu bos kan?" Daren bertanya dengan rasa curiga.
"jangan menuduh sembarangan, saya memang Dendam kepada mereka semua. dan kamu harus ingat, banyak orang lain yang dendam kepada Iblis itu."
Mendengar jawaban dariKu, Daren tatapan matanya begitu redup dan seakan-akan kecewa dengan jawaban ku.
"maaf karena telah mengecewakan Bu bos." ujar Daren tanpa menolehku.
tok... tok... tok... " seseorang mengetuk pintu rumah sakit.
Ternyata itu adalah pelakor yang bersama Daren saat di hotel kemarin yang dihajar oleh seorang wanita paru baya.
Daren berkata kalau pelakor ini sudah di penjara, tapi kenapa dia bisa di sini? tatapannya begitu sini melihatKu.
"eh pelakor, ngapain kamu ke sini. dan kenapa kau bisa masuk? pengawal... pengawal.....
Pengawal langsung menyeretnya keluar, dan pelakor itu tetap memanggil nama Daren. mulai dari panggilan sayang dan sebagainya, seketika itu juga Daren langsung terdiam.
Setelah suara pelakor itu tidak terdengar lagi, Daren menatapku dengan raut wajah yang mencoba untuk tenang.
"kenapa pelakor itu masih bisa datang kemari? kamu bilang dia sudah dipenjara, tapi apa dia datang kemari dan memanggil mu sayang. apa yang kamu sembunyikan terhadap pelakor itu." dengan nada agak tinggi saya bertanya kepada Daren tapi dia begitu tenang nya menatapku.
"dengar dulu penjelasan ku, tolong dengarkan." ujar Daren dengan suara lirihnya.
"penjelasan apa lagi bangsat, dasar pria buaya, anjing, bangsat...."
__ADS_1
Karena merasa emosi, ku tinggalkan Daren di ruang rawat itu, dengan bersama pengawal aku pulang ke rumah dengan rasa kecewa terhadap Daren.
Setiba di rumah, Tyas, Remon dan Dadang. Yan duduk di ruang tamu kaget melihat kedatanganku yang penuh emosi dan mereka tidak satupun diantara mereka berani bertanya.
Masuk dalam kamar dan diatas ranjang ini, air mata ini tumpah di pipiku. rasanya begitu sakit akan penghianatan Daren.
Tyas datang dengan pelan-pelan menuju ranjang Ku ini, dan Tyas memeluk Ku. pelukannya terasa hangat dan sedikit memberikan ketenangan bagiKu.
"sabar ya kak, segera kita akan mendapatkan jawaban ini dari sumbernya langsung. Tyas ngak tega melihat kakak seperti ini."
Ucapkan Tyas membuat lebih tenang, sepertinya dia sudah permasalahan ku saat ini. dan perlahan Tyas melepaskan pelukannya dan menatap kedua Mataku.
"kakak istrihat ya, biar besok bisa tenang dan bersama-sama kita hadapi. Tyas akan mendampingi kakak dan akan selalu bersama kakak."
Ucap Tyas sambil menyeka air matanya, saya tahu dia berusaha menahan air matanya. walaupun pada akhirnya tumpah juga.
Tyas keluar dari kamar ini, dia ingin memberikan ku waktu untuk sendiri. dan memang saat ini saya butuh waktu untuk sendiri dulu.
Belum habis rasanya kekecewaan Ku terhadapnya, saya pikir pelakor itu sudah lenyap dari dunia ini terapi pelakor itu masih tetap muncul.
Ada satu hal Pertanyaan Ku yang belum dijawab oleh Daren, apa yang dilakukan terhadap Riko, pria belok itu saat berada di Hotel.
Bagiamana sebenarnya orientasi s**k**ul Daren yang sebenarnya?
kenapa dia bersama om Riko saat itu? apa yang mereka lakukan di kamar hotel itu?
Pertanyaan-pertanyaan itu masih bersemayam di benakku, tidak habis pikir tentang kepribadian Daren yang sebenarnya.
__ADS_1
Terlepas dari perjanjian pranikah yang kami buat, apakah pernikahan ini layak untuk di pertahankan?
Pikiran ku buntu, dan bingung harus berbuat apa. mudah-mudahan saya bisa mendapatkan semua jawaban yang logis akan semua pertanyaan ini.