
POV Imran.**
Posisinya sudah mulai tidak nyaman, acara stasiun televisi reality kehidupan itu menyeret Namanya dan juga kasus korupsinya. serta kasus penggelapan dana pajak yang harus disetor ke kas negara. tentunya ini akan menyeret banyak pihak.
mereka pasti akan menghindari nya dan berusaha menutupi kasus ini dan melimpahkan kepada dirinya. ditambah lagi Video asusila Nisa putrinya dan Dewi istrinya viral di jagat Maya.
"Arif... Arif.... Arif.... "teriak Nya kepada bawahannya.
"ya pak. " plak.....plak...plak..."
Suara tamparan Imran di kedua pipi. dengan sekuat tenaganya terhadap bawahannya itu, dan bawahannya itu langsung menunduk.
"apa kerja kau, kenapa video itu bisa menjadi viral. panggil tim x suruh kumpul di ruang biasa. dan satu lagi, suruh Nisa dan istriku menghadap kemari." perintahnya kepada bawahannya itu.
Beberapa saat kemudian, Arif sudah menghadap ke di hadapan Nya dengan pandangan yang menunduk.
"pak, tim X sudah kumpul." ungkapnya dan mereka berlalu ke suatu ruangan dan di ikuti oleh Arif.
Imran melotot melihat tim itu, dan duduk disalah satu kursi tempat biasanya. dan para tim yang ada di ruangan tidak ada yang berani bicara.
"sekarang apa?" kenapa video itu bisa beredar. dan kenapa stasiun televisi itu bisa mendapatkan dokumen-dokumen rahasia itu? jawaaaaaaab" tanya Imran dengan begitu emosi kepada segenap orang yang di ruangan itu.
"maaf pak, kami tidak berhasil melacak IP address penyebar video itu. tapi video itu bersumber dari laptop seseorang yang terdaftar a.n Riko. dan file serta bukti berkas yang di siarkan acara televisi itu berasal dari sumber yang sama." ujar salah satu dari anggota tim itu.
"banci kurang ajar, tunggu saja. lihat apa yang aku lakukan kepadamu." ujar sambil melemparkan buku Harian yang diberikan Arif.
Seketika itu juga Susana ruangan menjadi mencekam, karena amarahnya Imran yang meluap-luap.
"sekarang hubungi orang kepercayaan kita, dan lakukan rencana B, seperti biasa." perintah Imran sembari meninggalkan ruangan.
Arif mengikuti Bos Nya itu dari belakang, dan mereka Akhirnya sampai di ruangan Imran. dan kemudian terlihat Nisa putrinya dan serta istrinya sudah tiba di ruangannya.
Plak.... plak.... plak..... plak...
Pram.... Pram.... Pram...
Putri dan istrinya di tampar dan juga di tendang, putri dan istrinya itu meringis kesakitan.
"sudah puas kamu bangsat, sekalian saja kamu bunuh kami berdua." ungkap istrinya sambil berusaha berdiri.
"saya tahu kalau kau selingkuh, tapi kenapa harus kau rekam dan kau sebar. sudah gila kalian berdua?"
__ADS_1
Nisa dan istrinya langsung terdiam, dan kemudian Arif berbisik ke telinga Imran. seketika itu juga Putri dan istrinya langsung di tendang sekuat tenaga Nya hingga berdarah.
"kenapa file-file laporan medis bisa bocor dari handphone Mu, anjing." teriak Imran kepada istrinya sambil menjambak rambutnya dengan kuat.
"ampun pak, sakit...." teriaknya karena kesakitan.
"bangsat kalian dua, kurang ajar." bentak nya lagi.
Seketika ruangan jadi hening, dan istrinya terduduk di lantai dengan lemas. demikian juga Nisa. mulut dan hidungnya mengeluarkan Darah.
"pasti Dinda yang mengambil datanya dari handphoneKu." ucapnya dengan pelan.
"oh.... jadi mereka sudah berani melawan, tunggu saja ya. di kasih hati mintak jantung. farel mana..... Farel mana....." teriaknya lagi sambil menoleh ke arah istrinya.
Arif seketika langsung menghubungi Farel, anak lajang yang sangat minim akan sopan santun dan akhlaknya.
Terlihat Imran menghubungi seseorang, sambil bertolak pinggang dengan tangan kanannya.
"habisi keluarga cicak itu." ujarnya sambil menutup obrolan dari telepon seluler.
Imran mendekati istrinya dan menjambak rambutnya lagi, kemudian meludahi wajahnya.
plak....plak...plak .... plak...." dasar pel***ur, bangsat.....
"saya berusaha kerja keras supaya hidup kalian enak, tapi kau setan.... malah main serong dengan laki-laki lain." teriaknya lagi kepada istrinya.
Istrinya bangkit karena sudah geram, yang menuduhnya selingkuh.
"hei.....kamu berkaca dulu dengan dirimu sendiri, kamu kira saya tidak tahu kalau kamu juga selingkuh. dasar laki-laki buaya." teriak Dewi di hadapan suaminya.
Plak.... "tamparan Imran dengan keras melayang di pipinya.
"tapi kau lebih setan, dengan entengnya kau mengajak putrimu untuk berhubungan seksual dengan laki-laki yang sama." teriak Imran dan mendekati Nisa kemudian menjambak rambutnya.
Plak....plak....plak....plak....."suara tamparan secara berulang mendarat di pipi putrinya.
"dasar anak Biadab." teriaknya.
"Pah.... hentikan, jangan sakiti ibu dan Nisa." teriak Farel yang baru saja tiba diruangan Papa Nya.
"kamu dari mana saja? ngak lihat keadaan genting seperti ini?" tanya Imran dengan suaranya yang mulai pelan.
__ADS_1
"Pah... farel mencoba mengajak kerja sama dengan suami Cantika, tapi dia malah berbalik menyerang Farel." ujarnya dengan suara pelan.
"anjing kau,.... otak mu kau taro di mana?" sudah jelas dia memberontak. ntah dimana otak mu." teriak Nya kepada farel.
"emangnya kenapa dengan suami Cantika itu? apa yang salah Nya jika Farel kerja sama dengan Nya.?" tanya Dewi kepada suaminya.
Imran hanya melotot ke arah istrinya, kemudian menjambak rambutnya lagi. seketika itu juga Farel mencoba melerai.
Pram.......guabuk......" dengan tendangan sekuat tenaga Nya, Farel tersungkur di lantai dan kepalanya ke mentok ke pinggir sofa. dan rambut istrinya di lepas dengan kasar.
"kau mencoba selingkuh dengan Papa Nya, dan kau bunuh dia. sekarang anaknya yang kau bela. atau jangan-jangan kau sudah tidur dengannya? jawaaaaaaaaab?" teriak Nya lagi.
guadabuk....guadabuk....guadabuk....
Berkali-kali istrinya di tendang nya, mulai dari bokong sampai ke punggungnya. tapi Istrinya malah diam.
Arif dengan inisiatif membawa keluar istri bos-nya dan Farel yang sudah bangkit membantu Nisa untuk keluar dari ruangan Papanya.
"kurang aja semuanya, berani nya anak penghuni pinggiran itu melawanku, lihat saja apa yang ku perbuat dengan Mu."
Imran terduduk lemas di kursinya, dan tidak berapa lama Arif asisten nya datang menghampiri Nya.
"pak..., pengacara kita sebentar lagi akan datang. mau langsung kesini atau di ruangan lain?" tanya Arif kepada bos-nya.
"disini saja." jawab singkat.
tok....tok....tok....
Pintu di ketuk seseorang, ada tiga orang pria yang datang, dan itu adalah mantan pengacara Cantika group. anggota dari Raden yang pernah di hajar Remon karena mencoba merekam pembicaraan Cantika saat itu.
"apa yang kalian dapatkan?" tanya Imran tanpa basa-basi.
"maaf kami bertiga gagal, kami ketahuan pak. kamera dan rekaman lainnya di sita pengawal Cantika." jelas salah satu dari tiga pria itu.
"bangsat.... keluar..... keluar...." teriak Imran lagi.
Dengan buru-buru dan ketakutan Ketiga Pria itu langsung keluar dari ruangan Imran.
Kemudian mengambil handphone lagi dan terlihat menghubungi seseorang.
"habisi Raden cs." Perintahnya kepada seseorang melalui handphonenya.
__ADS_1
Imran kembali duduk di kursinya dan menghela napas panjang. hanya dalam hitungan beberapa hari rencananya berantakan.