
Tyas dan Remon sudah hadir di ruangan ini, wajah mereka berdua terlihat sangat serius. Remon langsung konsentrasi dengan laptopnya Begitu juga dengan Dadang. sementara Tyas sibuk menulis dan membaca beberapa berkas.
"Remon, mas sudah mengerti arti algoritma itu, nah ini dia." ujar Dadang sambil memberikan buku catatan kepada Remon.
"waouuuuu... mas Dadang memang hebat, yuk kita Hajar...." balas Remon kepada Dadang.
Hanya mereka berdua yang asyik dengan obrolan mereka, tentang program komputer itu, dan seketika langsung fokus.
"yes.... " ungkap Remon.
Drrrt drrt drrrt drrt drrrt drrt drrrt" handphone Dadang bergetar yang terletak diatas meja.
"halo pak, gimana dah bisa kita hajar?" tanya Dadang melalui sambungan telepon.
Hanya itu pertanyaan Nya dan langsung mengedipkan mata ke arah Remon, mereka berdua langsung kompak mengetik di laptopnya masing-masing. raut wajah mereka berdua begitu terlihat serius.
"yesssss..... "teriak mereka berdua.
pruk..... pruk.... pruk....pruk....."terdengar suara tepuk tangan dari meja kerjanya Remon, mereka yang bertepuk tangan adalah tim ruang Sermon yang dibagi oleh pak Dimas yang merayakan keberhasilan.
Tyas yang penasaran langsung mendekati mereka berdua, dan Remon memperlihatkan sesuatu dari laptop Nya kepada Tyas.
"oh my God. ini orang?... ini kan pak Lukman, yang kerja di kantor imigrasi." ujar Tyas dengan geleng-geleng kepala.
"teh Tyas kenal?" tanya Remon kepada-nya.
"iya, dia ini teman almarhum Papa. jadi pak Lukman juga ikut dalam hal jual beli organ tubuh ini?" tanya Tyas yang tidak percaya tentang apa yang dilihatnya.
"bukan hanya terlibat dalam jual beli organ tubuh, tapi ikut juga terlibat dalam ekspor senyawa kimia yang diproduksi oleh Cantika Farmasi." Tyas begitu lemas ketika mendengar penjelasan Remon dan kemudian mendekatiku.
"kak, masalah kita semakin berat. ternyata yang terlibat banyak pejabat." ucapnya kepada ku dengan raut wajah sedihnya.
__ADS_1
Remon mendekati kami berdua dan kemudian memberikan permen kepadaku dan juga Tyas, memang anak ini ada-ada saja kerjanya. tapi ntah kenapa kami berdua menerimanya Begitu saja kemudian membuka plastiknya dan ku masukkan dalam mulutku.
"itu permen jahe perpaduan dengan gula aren asli, buatan emak." ujar Remon sambil tersenyum.
Situasi seperti ini, Remon si tengil ini masih bisa tersenyum. permen jahe dari Remon ini bisa menyegarkan otakku seketika.
"kak, teh Tyas. tenang ya, jangan dibawa panik. jika panik kita tidak bisa berpikir jernih, bersama-sama kita hadapi. pasti bisa. permen jahe Nya enak teh Tyas?" tanya Remon kepada Tyas yang menikmati permen jahe darinya.
Tyas hanya mengangguk kepalanya, permen jahe yang diberikan Remon selain enak dapat menyegarkan pikiran yang sudah runyam ini.
"kata bang Gopas, kita semua harus tetap berada disini sampai bang Gopas pulang dari kantor kejaksaan." ungkapnya lebih jelas lagi.
"mangnya ada apa?" tanya Tyas penasaran.
Dadang yang di duduk di sofa datang menghampiri Remon dan mengambil permen jahe dari saku bajunya.
"karena kita harus ekstra hati-hati, karena musuh kita bukan cuman dalam negeri saja teh Tyas, tapi sudah menyangkut masalah diplomasi negara dikarenakan ekspor senyawa kimia yang diproduksi oleh Cantika farmasi." ungkapnya sambil menikmati permen jahe dari Remon.
"jadi Dadang tinggal dimana sekarang." tanya Tyas kepada Dadang.
Remon menatap Tyas seraya melepaskan permen jahe dari mulut Nya, sementara Dadang kembali duduk ke sofa.
"pekerja intim dibagi tiga teh Tyas. tim pertama di rumah lama bang Dokter, tim kedua di rumah Remon dan tim ketiga di rumah bang Gopas. semua biayanya di tanggung oleh bang Dokter.
Rumah bang Dokter dengan rumah Remon itu bertetangga. dan kebetulan rumah bang Dokter lumayan besar jadi bisa menampung beberapa orang dan sisanya di rumah Remon.
Bapak punya banyak sahabat dan telah di pekerjaan saat ini. sementara bang Gopas telah mendapatkan perlindungan dari pengawal yang di diberikan oleh kakak.
Remon dan Mas Dadang adalah striker, maka kami berdua tinggal satu kamar sambil begadang." jelas Remon dengan sikapnya yang lucu.
"jadi siapa masak untuk semua orang yang ada di rumahmu?" tanya Tyas yang masih penasaran.
__ADS_1
"emak yang dibantu oleh tetangga." ujar Remon.
"bagiamana dengan keluarga tim Sermon?" Tyas bertanya lagi dengan raut wajah cemas.
"pak Dimas tinggal di kompleks mewah yang memiliki keamanan yang bagus, dan kebetulan juga pak Dimas mempunyai 2 rumah disana, sisanya ada 3 rumah di komplek itu yang di sewakan. yang sejajar dengan rumah pak Dimas.
Totalnya ada tiga rumah yang di tempati oleh para keluarga tim Sermon." jelas Dadang dari sofa tempat duduknya.
"bapak sudah mengirimkan orang suruhannya untuk menjaga rumah-rumah itu, agar terhindar dari yang tidak di inginkan." ungkap Remon yang menyambung omongan Dadang.
Tyas dan Remon duduk kembali ke sofa, Tyas terlihat lemas. sementara Remon membuka tas dan mengeluarkan cemilan. dan kali ini cemilannya beda lagi dari yang semalam.
"Remon, siapa yang membiayai semua ini?" mendengar pernyataan dariku Remon berhenti mengunyah dan menolehku.
"suami kakak, kata bang Dokter. kakak telah memberinya uang yang banyak untuk biaya semua ini. dan di tambah hadis dari hasil penelitian bang Dokter."
Penjelasan Remon membuat dadaku sesak, separah ini kah keadaannya? sampai-sampai keluarga para pegawai ku terancam keselamatannya demi kasus ini.
"bagiamana para keluarga tim Sermon yang tinggal di kompleks itu Dadang?" tanya Tyas lagi kepada Dadang.
"istri pak Dimas adalah mantan Polwan. dan anak lajang pak Dimas yang masih kuliah di fakultas kedokteran. ikut membantu Mamanya untuk menjaga para keluarga dari tim Sermon.
"benar kak, jadi timnya om jago nantinya akan dibagi dua. 10 orang akan ikut kakak pulang ke rumah dan 5 orang ikut pak Dimas pulang ke rumahnya dan 5 orang lagi akan ikut Remon pulang." jelas Remon.
"apa kedua orang tua mu tidak kerepotan Remon?". pertanyaan dariku membuat Remon mengangkat kepalanya.
"rakyat jelata seperti kamu sudah terbiasa saling membantu kak, kejadian seperti ini bukan yang pertama kak. tapi yang kedua bagi kami. dan kejadian ini adalah menjadi pengalaman kami yang ke-dua.
Pengalaman pertama adalah penggusuran lahan tempat tinggal kami, yang memakan banyak korban jiwa dan derai air mata. semuanya berkaitan dengan kasus ini.
Remon menceritakannya dengan mata berkaca-kaca, dan akhirnya air mata Remon mengalir. Remon tidak sanggup lagi untuk bercerita, cerita masa lalu suram dan menyakitkan.
__ADS_1