
Gopas bersama rekannya yang akan bertindak untuk satu hari ini, Aku yakin kalau Gopas bisa menyelesaikannya.
Remon, Dadang dan Tyas kembali keruangan di rumah ini yang biasa kami gunakan untuk untuk meeting. dan aku hanya ikut saja dengan mereka.
Tyas bersama Mpok Sri pergi ke kamarnya dan tidak berapa lama mereka berdua sudah sampai diruangan ini dengan berkas dokumen yang banyak.
Sementara Remon dan Dadang fokus ke laptopnya masing-masing, dan Tyas membaca dokumen serta mendokumentasikannya, Mpok Sri sudah tiba juga dengan membawa minuman serta cemilan.
"kak, ada berita terbaru. polisi sudah menaikkan status tersangka." ujarnya dan kemudian menyodorkan laptopnya dengan siaran streaming.
Sungguh diluar dugaan, wawancara Daren sangat berpengaruh. bahkan nama pejabat tinggi negara ini yang berjumlah 20 orang dijadikan sebagai tersangka.
Pihak berwajib menetapkan para tersangka yang baru naik statusnya menjadi buronan dan pihak berwajib akan segera memburuknya.
handphone yang aku genggam bergetar, dan ternyata Gopas yang menghubungi.
"halo Bu Cantika, ada kabar yang akan ku sampaikan, pertama. para anggota Ku sudah menyerahkan dokumen bukti-buktinya. berdasarkan Kasus Nya. kabar yang kedua dan ini adalah kabar yang paling mengejutkan Bu, semua para pemegang saham yang hadir saat rapat pemegang saham saat itu mendukung kita Bu, hanya satu orang yang tidak. yang bernama Farel.
Dan untuk kasus rumah sakit, besok adalah (PH) atau mengajukan eksepsi para terdakwa. dan ibu tidak perlu ikut, dan untuk selanjutnya tunggu informasi dari saya Bu." jelas Gopas melalui saluran telepon.
Selesai bicara dengan Gopas, Remon kembali memperlihatkan laptopnya kepadaKu. sementara Dadang sedang menerima telepon dan Tyas masih sibuk dengan membaca dokumen.
"kak, masih ingat dengan bang lindung kan? nah bang lindung menerima email lagi tapi file tersebut di kunci dan Remon sudah berhasil membukanya. kak... ini adalah data-data informasi para korban yang organ tubuhnya di jual dan beserta fotonya." ujar Remon sambil memberikan laptopnya ku lihat.
Mendengar perkataan Remon, Adikku Tyas langsung mendekat perlahan file tersebut dibukanya, dan Tyas berhenti di file yang namanya tertera "Adam Kurniawan" dan melihat fotonya. perlahan air matanya langsung mengalir.
"kak... Tyas sudah ingat...ini nama P... a... p... a dan fotonya."ujarnya dengan terbata-bata.
Tidak sanggup melihatNya menangis, dan saat ini hanya bisa memelukNya. Dadang yang sudah selesai menerima telepon langsung mendekati kami.
"Bu, tim Sermon sudah berhasil melacak para penerima bitcoin dan penerimanya berasal dari pegawai bagian humas sebanyak 21 orang Bu. dan mereka sudah langsung diamankan oleh pihak berwajib." ujar Dadang dengan suara yang pelan.
Dadang kembali ke kursinya yang berada didekat Remon dan mereka kembali bekerja, sementara Tyas masih berada dalam pelukanku.
__ADS_1
ya Tuhanku kenapa begitu penghianat di sekitar Ku. kenapa mereka sampai hati menjual tubuh sesamanya? apakah mereka kekurangan gaji?
Tyas melepaskan pelukanku dan kemudian terduduk di kursi, dengan spontan Remon memberikan minum yang disajikan oleh Mpok Sri.
"Tyas, kenapa ya mereka semua tega menjual sesamanya? apa mereka semua merasa kurang gaji Nya?"
Sejenak kami semua terdiam, tapi tiba-tiba saja Remon berdiri dan menoleh ke arahku.
"kak, Remon pernah denger gosip dari para pegawai perempuan di kantin Kantor. mereka mengatakan jauh lebih enak dibawah pimpinan kakak sekarang dari pada pimpinan yang dulu, gaji lancar dan bonus besar. apa gaji para karyawan dipotong diatas ya kak?" tanya Remon dengan heran.
Tyas langsung memeriksa beberapa dokumen lagi, dan setelah beberapa saat kemudian dia menolehku.
"kak, sepertinya benar gaji mereka dipotong atas. lihat lah, laporan gaji pusat keuangan sesuai dengan perincian. dan setoran pajak karyawan tidak seharusnya segini jika gaji mereka tidak dipotong." ujar Tyas sambil menyerahkan dokumen.
Ya... semua permasalahan berawal dari sini, mungkin mereka terpaksa menerima tawaran yang sangat menggiurkan ini.**
Bahkan sampai sore pun para wartawan tidak kunjung pulang, hingga menjelang jam 7 malam, secara berangsur para wartawan sudah beranjak pergi.
Tepat jam 8 malam, Daren sudah pulang dan langsung berlalu ke dalam kamar tanpa menghiraukan kami yang berada di ruangan ini.
Mereka langsung beres-beres, dan langsung menuju kamar Nya masing-masing. sesampainya dikamar Daren sudah berganti pakaian dengan pakaian yang biasa dipakainya untuk tidur.
Daren terduduk di kursi belajarnya, dan menundukkan kepalanya seperti biasa. ingin rasanya menampar tapi ku tahan.
"kenapa sih kamu begitu egois?"
Pertanyaan dari membuanya mengangkat kepalanya dan menatapKu.
"aku bukan egois, tapi untuk mendesak pemerintah untuk segera menangani kasus ini, sudah terlalu lama dan semakin berlarut-larut. jika dibiarkan sampaikan korban akan berjatuhan karena manusia biadab itu." jelas Daren.
Pernyataan begitu menyesakkan hati ini, tapi Aku ingin semuanya harus terorganisir dan kenapa Daren bertindak seenaknya saja.
"sekarang terserah kamu, lakukanlah sesuka hatimu. biar puas."
__ADS_1
"ini bukan masalah terserah, tapi ini mengenai keadilan yang harus ku perjuangan." jelasnya dengan suara yang meninggi.
Plak...
Akhirnya tamparan ku melayang juga ke pipinya, dan Daren langsung terdiam setelah kutampar.
"Aku hanya lah sebagai suami bagi mu, tapi tolong ijin aku untuk melakukan yang menurut baik." pintanya dengan sedikit memohon.
"mulai besok jangan pernah keluar dari kamar sebelum mendapatkan ijin dari dariku, paham."
Daren hanya terdiam dan kemudian langsung memalingkan badan dariKu, terlihat dia menyeka air matanya.***
Pagi harinya, padahal ini masih jam enam pagi. Daren dan tas kerjanya sudah tidak ada lagi, berarti dia tidak bisa patuh pada perintah ku lagi.
Sepucuk surat diletakkan diatas meja riasku, dia mengatakan kalau dirinya tidak bisa tinggal diam seperti yang aku mau.
"Dasar pria egois tidak tahu diri, kurang ajar. sekarang dia sudah berani membayangkan ya. awas kamu ya." hanya caci makian yang keluar dari mulut ini.
Segera mandi dan bersiap-siap, dengan buru-buru ku ketuk pintu kamar Tyas.
"Tyas, tetap dirumah bersama Remon dan Dadang. jangan biarkan siapapun masuk kedalam rumah ini."
Perintah Ku kepadanya tapi entah dia ngerti atau ngak, tapi aku langsung berlalu. bersama pengawal untuk pergi ke rumah sakit menemui Daren.
Sesampai disana Daren belum berada diruangan Nya, begitu juga di departemen Nya Daren tidak kutemukan.
Melalui Perawat yang menjadi Asistennya. aku hanya menitipkan pesan jika kelak Daren sudah pulang untuk segera menghadap ke ruangan Ku.
Belum juga berlalu dari ruangan ini, ada seorang perempuan muda yang sok cantik mendatangi ruangan ini.
"eh perempuan kamu siapa? dan apa urusanmu datang kemari?"
"kenalkan saya Sisy, pacar Daren waktu kuliah. dan Lo siapa?"
__ADS_1
Tanpa menjawab Nya, bersama pengawal Kami pergi meninggalkan perempuan yang sok cantik itu.