
Nasihat dari ketiga sahabat Almarhumah Mama, Aku ingat dengan baik. mencoba untuk tegar, tapi senyuman Daren selalu terbayang-bayang.
Bahkan dalam mimpiku selalu bersama Daren, semua laki-laki yang aku lihat seperti Daren. Daren dan Daren.
Begitu kuatnya pengaruh Daren, karena tidak bisa melupakan Daren akhirnya ku putuskan untuk menyusulnya ke kampung halaman Mama Nya.
Dadang ku mintak untuk meriset kampung halaman Mamanya Daren. dan segala informasi tentang kampung halaman itu, saya sendirian menyusul Daren.
Perjalanan menggunakan pesawat terbang selama 2 jam, dan naik mobil bus seperti yang di informasikan oleh Dadang.
Seumur hidupku, ini pertama kalinya bagiKu naik bus. sesak tapi seru, memakan perjalanan selama 7 jam lebih dari ibukota propinsi Sumatera Utara ini. rasanya bakong ini sudah mau kempes. istrihat cuman dua kali selama perjalanan.
Hingga akhirnya bus berhenti di pemberhentian terakhir, dan ternyata di layar handphone sudahmenunjukkan pukul 8 pagi.
Ternyata dari stasiun bus ini, harus menggunakan ojek ke dalam. tapi para warga biasanya jalan kaki saja, karena jaraknya tinggal 20 kilometer lagi.
Saya lebih memilih untuk naik Ojek, satu motor untuk membawa dua koper ku yang besar dan satu lagi untuk membawaku ke rumah masa kecil Mertuaku.
Setelah beberapa menit motor berlalu, Ku lihat Daren bersama seorang anak Muda. dan benar itu Daren. Aku mintak di turun kan disini, karena sudah bertemu dengan belahan jiwaku.
Daren dan pemuda itu melihat ke arahku, setelah Ojek nya menurunkan kedua koper ku, kemudian membayar jasa nya sebesar 150 ribu per orang. aku langsung berlari ke arah Daren dan langsung memeluknya.
"mas... Neng kangen banget...." ujar ku sambil memeluk Nya.
Awalnya Daren, tidak membalas pelukanku. mungkin karena para warga yang sedang berjalan menuju kebun mereka yang melihat Ku memeluknya.
Dan akhirnya Daren membalas pelukanku, kemudian melepaskannya dan mencium keningku, terlihat matanya berkaca-kaca dan akhirnya air matanya mengalir di pipinya dan langsung ku seka air mata itu.
"pak Dokter. siapa? kok cantik benar ya?." tanya pemuda yang di samping Nya.
"oh maaf, lupa. Agus... kenalin namanya Cantika Istriku."
__ADS_1
Jantung ku berdebar kencang karena Daren memperkenalkan diri ku sebagai istrinya. dan pemuda itu dengan sopan menyalami tanganku.
"sayang. Agus ini adalah Sepupu Ku. karena Mama kami sepupuan." jelas Daren lagi.
Jantung ku berdebar kencang lagi, panggilan sayang yang ingin ku dengar akhirnya terucap lagi dan itu benar-benar membuat ku bahagia.
"ibu dimana mas?" tanyaku untuk mencairkan hatiku yang kaku ini.
"di rumah, Mama sekarang lagi sibuk mengurus tanaman sayur Nya." jawab Daren dengan raut wajahnya yang bahagia.
Agus nama Sepupu Daren, menaikkan kedua koper yang ku bawa ke grobak dan di tarik dua kerbau yang besar. rasanya sangat bahagia sekali melihat pemandangan seperti ini, perkampungan yang masih asri bersama Suamiku yang Tampan.
Akhirnya kami sampai di sebuah rumah khas kampung, lumayan besar Dengan halaman rumah yang Asri. dan terlihat juga lima orang gadis cabe-cabean yang nongkrong di teras rumah itu.
Agus menurunkan kedua koper ku dan membawanya masuk ke dalam, sementara aku berhenti karena melihat 5 cewek cabe-cabean itu.
"mas, siapa cewek cabe-cabean itu?" pertanyaan ku hanya ditanggapi dengan senyuman.
Ibu mertuaku yang sudah terlihat segar bugar langsung mendatangi ku, dia hendak memeluk Ku, Tapi tidak jadi karena tangannya kotor karena baru bercocok tanam.
Langsung ku peluk, dan akhirnya ibu mertuaku membalas pelukanku. dan akhirnya aku bisa menyalin tangannya.
"he... anak gadis, ini istri pak Dokter, menantu ku sudah pulang. kalian berlima jangan datang lagi, sana pulang." mertuaku mengusir kelima cewek cabe-cabean itu.
Setelah cewek cabe-cabean itu pergi, barulah kami masuk ke dalam rumah. walaupun tidak mewah tapi susana rumah begitu damai. demikian juga anak muda yang bernama Agus juga pergi setelah menaruh kedua koper ke dalam rumah.
Ibu mertuaku langsung masuk ke Dapur, sementara aku dan Daren duduk di ruang tamu yang beralaskan tikar pandan. Daren hanya tersenyum melihat Ku dan mulut ini terdiam karena belum bisa berkata apapun.
"selamat datang kembali Neng, beginilah keadaan di desa." ujar ibu mertuaku sembari menyajikan teh panas dan ubi jalan yang di rebus.
"tapi Neng senang kok Bu, di Jakarta Susana seperti ini hampir tidak ada. plong rasanya dada ini karena menghirup udara segar Bu."
__ADS_1
Ibu mertuaku hanya tersenyum menanggapi perkataan ku, seraya duduk duduk disamping Ku. dan kemudian memegang tanganku.
"Neng Cantika datang kemari bukan mengantarkan surat perceraian kan Neng?" tanya ibu mertuaku dengan mata yang berkaca-kaca.
"neng datang kemari untuk menemui Suami neng dan sekaligus untuk berlibur. dan itu pun jika Suamiku mau menerima ku kembali."
Setelah berkata demikian, ibu mertuaku langsung melihat ke arah Daren dan meraih tangannya serta menyatukan tangan Daren ke tanganKu.
"Nak.... Istrimu sudah kembali, ibu sangat berharap kamu mau menerima Istrimu lagi. Mama tidak ingin pernikahan kalian hancur. dan Mama masih melihat dari sorot mata kalian berdua yang saling mencintai. ibu sangat berharap sekali kalian berdua membina rumah tangga yang bahagia."
Pinta ibu mertuaku, dan itu juga harapan Ku. Daren menghapus air mata mertuaku yang telah mengalir di pipinya. dan kemudian menatap mata Ku.
"Bu bos yang Cantik, terimakasih karena sudah kembali ke pelukan Ku. Jujur, aku masih mencintaimu. sayang... masih mau kan jadi Istriku?"
"mau mas sayang. neng sudah jauh-jauh datang kemari, tapi jangan panggil Bu bos lagi ya. panggil neng sayang aja."
Seketika itu Daren langsung mencium keningku di hadapan MamaNya. dan akhirnya kami bertiga berpelukan.
"Neng, apa yang membuat neng mau menerima anak ibu jadi suami mu lagi?" tanya ibu mertuaku sambil melihat ke arah ku.
"sudah ku coba untuk melupakan mas Daren Bu, tapi semakin ku coba semakin hatiku sakit. bahkan di mimpiku mas Daren selalu hadir dan tersenyum. neng merasa tersiksa setelah mas Daren pergi dari hidupku Bu.
Mas... maafkan Neng ya, maafkan semua segala kesalahan Neng. hari ini di hadapan ibu mertuaku neng mengakui kalau neng egois keras kepala dan neng juga mengakui kalau Neng masih sangat mencintaimu kamu mas."
Daren memelukku lagi dan kemudian melepaskan pelukan, dengan tangan nya besar Daren menghapus air mataku yang mengalir di pipiku.
"mas juga Mintak maaf dengan semua kekurangan mas. dan mas sangat mencintaimu sayang."
Sungguh terharu dan sangat bahagia rasanya, akhirnya aku dan Daren bisa bersatu lagi. ibu mertuaku beranjak ke dapur untuk memberikan kami berdua waktu bersama.
Tidak berselang lama, ibu mertuaku memanggil kami untuk makan siang, menu sederhana tapi begitu enak dan nikmat.
__ADS_1
Hujan tiba-tiba turun deras, dibawah guyuran hujan deras ini kami bertiga menikmati makan siang dengan nikmat.