
Kami semua satu mobil untuk pulang ke rumah. Tyas, Dadang, Daren Suamiku hanya terdiam. hanya Remon yang asyik dengan handphone Nya.
"oh .... my.... God, benar kata pria iblis itu. coba deh buka handphone. para petinggi negara yang terlibat akhirnya terkuak Juga." ujar Remon.
Mereka semua langsung melihat handphonenya masing-masing, kecuali diriku yang masih teringat dengan perkataan Imran manusia iblis itu.
Hanya karena iri, dia mampu menghabisi kedua orang tua Ku dan korban-korban lainnya. hingga akhirnya kami tiba di rumah, karena situasi belum kondusif. Remon dan Dadang untuk sementara harus tinggal di rumah ini dulu sampai semuanya benar-benar selesai. saya menyeret mereka berdua dalam masalah ini, dan harus aku harus bertanggung jawab.
Setelah Mandi, Daren baru melangkah ke kamar mandi. ruangan yang biasa kupakai kerja, ruang tamu, halaman depan dan halaman belakang bisa ku pantau melalui sisi TV yang terkoneksi ke handphone Ku.
Tyas, Remon dan Dadang. sedang bersantai sambil nyanyi di ruang tamu, dari sisi TV ini terlihat mereka mencoba untuk menghibur diri dengan bermain gitar dan nyanyi.
Karena merasa jenuh, ku putuskan untuk bergabung dengan mereka. petikan gitar Remon dan suara merdu Dadang, seketika membuat rileks dari semua pergumulan hidup ini.
"bang Dokter mau kemana?" tanya Remon kepada Daren.
Remon yang tiba-tiba berhenti main gitar karena melihat Daren berpakaian rapi seolah-olah mau pergi ke suatu tempat.
"mau ke rumah sakit, jenguk Mama dan Nindy." ujarnya dengan melangkah kaki Nya.
"bang.... jangan dulu bang, situasi di luar sana belum terkendali. bude sama si Neng sudah di jaga ketat oleh pengawal. dengan cara yang berbeda, jika Abang tiba-tiba datang kesana itu artinya Abang mengundang musuh bang." jelas Remon kepada Nya.
Tapi permintaan Remon tidak responnya dan terus berlalu tanpa melihatKu. jiwaku yang sudah tenang langsung terusik kembali.
"Daren... kamu ngerti ngak sih bahasa manusia? Remon dan Dadang juga kangen dengan keluarganya, tapi karena kondisi ini mereka tetap bertahan disini walaupun sudah jenuh. kamu jangan Egois."
Nada suara yang tinggi, Tyas, Remon dan Dadang. tidak bergeming dan terdiam, tapi Daren seolah-olah mengacuhkan dan hendak melangkah keluar. kerah bajunya ku tarik.
Plak.... ' tamparan ku melayang di pipinya.
__ADS_1
"Kembali ke kamar, cepat...." perintah ku kepadanya dengan berteriak.
Akhirnya Daren masuk ke kamar dengan raut wajah nya yang terlihat malu, marah dan kecewa. sebenarnya saya juga tidak bertindak kasar kepada Nya.***
Pagi-pagi sekali Daren sudah bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit, dia berkata hanya sekedar monitoring.
Seperti biasa Daren pergi tanpa sarapan, saya hanya bisa terdiam dan berharap semuanya baik-baik saja. tiba-tiba saja handphone Ku berdering, ternyata yang menghubungi adalah Gopas. yang mengatakan akan segera membuat konferensi pers agar para awak media tidak berseliweran di depan rumah.
Saran tersebut saya terima, karena takut aja ada penyusup diantara awak media itu. Tyas, Remon dan Dadang saya suruh untuk bersiap dan mereka begitu antusias.
Konferensi pers akan di mulai jam 11 siang nanti, sementara kami sudah sampai di kantor jam 9 pagi. Tyas, Remon dan Dadang. kutinggalkan di ruangan Ku, saya ingin menemui Daren dan ingin menjelaskan tentang kejadian semalam.
Langsung menuju ruangan Nya, sungguh hatiku sangat sakit rasanya. Daren terlihat mesra dengan seorang perempuan.
Perempuan itu yang pernah Ku temui saat hendak melihat Daren di ruangan saat itu, dan perempuan itu mengaku pacarnya Daren waktu kuliah.
"Sisy. kenalin ini Cantika Istriku." ungkap Daren dengan memperkenalkan Ku sebagai istrinya.
"Daren, jam 11 nanti datang ke Aula." perintah Ku kepadanya.
Setelah mengatakan demikian, saya langsung pergi meninggalkan mereka berdua. situasi seperti ini Daren masih sanggup berduaan dengan perempuan lain.*
Sudah hampir 11 siang, para awak media sudah mulai memenuhi Aula dengan segala peralatan dan perlengkapan mereka, tapi Daren belum terlihat disini.
Akhirnya ku susul, ternyata Daren masih berada di depan administrasi departemennya dan perempuan itu masih bersama Daren.
mereka berdua tidak melihat Ku di lorong ini, tapi suara sok manja itu terdengar jelas di kupingku ini.
"Daren, Sisy kembali kepadamu. tinggalkan wanita saiko itu, dia tidak pantas untukmu. dia itu tramental dan Egois." ucap perempuan itu kepada Daren.
__ADS_1
"Sisy, maaf saya harus ke aula. ada urusan penting. silahkan kamu pulang." pinta Daren kepadanya.
"ah... kok gitu sih, Sisy masih ingin bersama kamu." ujar perempuan itu. dan mereka tidak menyadari bahwa saya sudah tiba di samping Nya.
"eh perempuan, lo tuli ya. Daren sudah bilang ada urusan nya di Aula, apa kuping Mu sudah rusak. Daren ayok....
Tangan Daren ku tarik, muak rasanya melihat perempuan itu. dan akhirnya kami berdua sudah tiba di Aula.
Konferensi pers di Mulai, para wartawan satu persatu bertanya. Daren dan Gopas menjawab semua pertanyaan itu dengan sempurna.
Setelah selesai konferensi pers, kami semua makan siang bersama kecuali Daren. perasaanku tidak enak, dengan dalil mau ke toilet, saya pamit kepada mereka.
Ternyata Daren dan perempuan itu makan siang juga di restoran ini di lantai dua dan langsung ku tinggalkan karena merasa Kecewa.
Daren lebih memilih makan siang dengan perempuan yang ngak jelas itu ketimbang makan siang dengan kami. jika memang Daren menganggap pernikahan hanya sebatas perjanjian diatas kertas, tapi setidaknya Daren ikut kami makan siang teman seperjuangan untuk mencari keadilan.
Hari sudah semakin Sore, Remon dan Dadang Mintak ijin untuk balik ke rumahnya malam ini saja, karena Remon sudah kangen dengan emaknya. tapi Ku mintak Gopas dan rekan-rekannya untuk mengantar Remon dan Dadang sampai ke rumah.
Bersama Tyas, kami berdua pulang ke rumah yang dikawal para pengawal. sesampainya di kamar aku langsung mandi dan kemudian rebahan.
Sudah jam 8 malam Daren belum kunjung pulang, jadi kwatir dan sedikit curiga. mungkin saja dia bersama perempuan itu.
Setelah jam 9 malam akhirnya Daren tiba di kamar ini, aroma parfum dari perempuan itu tercium di baju kemeja Nya.
"hebat kamu ya, berapa Ronde sama kamu main sama perempuan murahan itu?"
Pernyataan Ku membuatnya terlihat bingung, dan kemudian menatap kedua mata Ku dengan tatapan Sendu.
"apa maksudmu Bu bos?"
__ADS_1
plak.... ' tamparan ku melayang di pipinya.
Pertanyaan Daren ku jawab dengan tamparan, sungguh saya sangat kecewa terhadap Daren.