
Tidak terasa hari sudah Malam, satu persatu para wartawan mulai meninggalkan halaman rumah, dan itupun karena dibantu oleh Gopas. kuasa hukum kami itu mengatakan kepada wartawan untuk melakukan konferensi pers besok pagi jam 10.
Sudah jam 7 malam, Daren terlihat bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. dan segera ku dekati.
"mau kemana?"
Pertanyaan dariku tidak langsung dijawabnya, tapi dia malah merapikan pakaiannya. kemudian menolehku.
"saya mau melihat keadaan Mama dan Nindy, takut terjadi sesuatu terhadap mereka." ujar Daren.
Jawabnya membuatKu geram, dan ingin rasanya menampar lagi. tapi ekspresi wajah yang seolah sudah pasrah yang membuat ku urung untuk menampar Nya.
"kamu itu memang benar-benar keras kepala ya. Mama dan Adikmu sudah dijaga dengan ketat, dulu Mama kamu celaka karena kamu sering mengunjungi Nya. Mama dan Adikmu sudah ku pindahkan ke ruang lain. untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan."
Daren hanya menatap Ku dengan raut wajah curiga, dan sepertinya dia ingin tahu alasannya kenapa Mama dan Adiknya saya pindahkan.
"Mama dan adikku Ku pindahkan demi kemananan. tolong dengarkan aku ya."
Ucapan Ku tidak di indahkan olehnya, bahkan dia terus berlalu. aku sudah mulai mual melihat Nya, sulit rasanya untuk mengekspresikan Daren yang sekarang.*
Sudah jam 10 malam sejak Daren pergi ke rumah sakit, tidak ada kabar darinya. panggilan telepon dariku tidak dijawabnya. apa sih mau Daren?
Perlahan-lahan tarik napas, hembuskan dan mulai terasa lega. mengingat Daren bersama 6 pengawal, setidaknya ada perlindungan untuknya.
Karena merasa ngantuk, dan kucoba untuk merebahkan tubuhku. perlahan tapi pasti akhirnya kedua mata ini bisa terpejam juga.*
tok.... tok.... tok.... " kak.... iks..... hiks.....
__ADS_1
Baru saja rasanya tertidur, suara Remon terdengar dari luar pintu yang sedang menangis, setelah pintu ku buka ternyata Remon sudah berada dibalik pintu.
"Remon. kenapa menangis?" Remon yang berdiri di depanku menangis hingga dia Sulit untuk bicara.
"neng Nindy meninggal kak?" ujar sambil mencoba untuk tenang.
"apa yang terjadi Remon?"
Remon mencoba tenang, dan kemudian menyeka air matanya. setelah itu baru lah dia menatapku.
"ada penyusup yang masuk ke ruangan Bude dan neng Nindy setelah melihat bang Dokter keluar dari ruangan itu. sasarannya adalah Bude, tapi karena neng Nindy mencoba melindungi Bude akhirnya neng Nindy tertusuk pisau dari belakang punggungnya." ujarnya dengan raut wajah yang berduka.
Inilah yang aku takutkan, saya berharap hanya Dokter dan perawat secara khusus yang seharusnya masuk ke ruang rawatnya. tapi Daren bersikeras untuk bertemu MamaNya. dan hasilnya seperti ini. saya tidak niat untuk menghalangi nya bertemu dengan Mama dan Adiknya semua Ku lakukan demi kebaikan bersama.
Jam dinding sudah menunjukkan ke angka 3, yang artinya sudah jam 3 pagi dini hari. Gopas dengan segera menelpon Ku, dan kuasa hukum kami itu tidak mengijinkan kami untuk pergi ke rumah sakit saat ini. karena jam segini sangat rawan diluar sana.
"iya Remon, barusan kakak di WA oleh Gopas dan mengatakan seperti itu. benar jam segini sangat rawan di luar sana, sebaiknya kita tunggu sampai pagi saja baru kita berangkat ke rumah sakit."
Remon akhirnya bisa paham dengan keadaan saat ini, dan dia pamit untuk kembali ke kamarnya. demikian juga denganku.
Terduduk lemas di pinggir ranjang ini, geram rasanya akan ulah Daren. seharusnya dia nurut kepadaKu demi kebaikan bersama, dasar pria Egois, kurang ajar.....
Duduk termenung di atas ranjang ini, rasanya baru sebentar dan jam alarm sudah berbunyi yang biasa membangunkan tidurku tepat 6 pagi.
Mandi dan siap-siap, lalu turun kebawah. Tyas, Remon dan Dadang sudah menunggu ku di meja makan. setelah selesai sarapan kami akhirnya berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Daren terduduk lemas di kursi tunggu yang berada di dekat administrasi Umum. sebenarnya sudah naik pitam melihat nya, tidak mungkin aku lampiaskan disaat dia sedang berdua.
__ADS_1
Menurut penuturan Dokter, Nindy mengeluarkan banyak Darah. kedua paru-parunya sobek karena tertusuk benda tajam dari punggungnya.
Saat di operasi, Nindy menghembuskan nafasnya terakhirnya. dan Mamanya Daren Kritis karena perutnya tertusuk juga. dan pendarahan hebat yang di deritanya.
Setelah mengurus administrasi, jenazah Nindy akhirnya dikeluarkan dari ruang mayat dengan naik ambulans untuk membawa Nya ke rumah duka untuk disemayamkan.
Sesampainya di rumah Daren, Gopas dan rekan-rekannya sudah berada disana untuk mengurus para tamu. begitu juga dengan kedua orang tua Remon.
Bersama-sama kami ke pemakaman, dan jenazah Nindy sudah masuk dalam liang kubur. setelah baca doa terakhir, satu persatu para tamu yang melayat pulang kerumahnya masing-masing.
Bersama kedua orang tua Remon, kami berusaha untuk menguatkan Daren dan membujuknya untuk pulang ke rumah. dari kejauhan terlihat Gopas dan rekan-rekannya, Remon dan Daren, menemani Tyas ke dua makan yang saling berdampingan. mungkin itu adalah makam orang tua kandung Tyas Adikku.
Dirumah Daren, Suamiku itu terduduk lemas. antara iba yang bercampur emosi yang bisa ku tahan. seketika itu juga aku merasakan betapa pedihnya di tinggalkan oleh orang yang ku sayangi.
Hanya bisa terdiam duduk beralaskan tikar yang dilapisi ambal, Daren masih larut dalam dukanya. tapi aku masih emosi melihat Nya.
Dengan segala upaya kulakukan untuk menjaga orang-orang di sekitarku. tapi Daren Suamiku tidak memperdulikan semua yang ku perbuat.
Saya tidak ingin ada korban lagi, mertuaku yaitu Mamanya Daren yang masih kritis terpaksa harus dipindahkan ke ruangan lain dengan fasilitas yang mempuni. setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan.
Daren menolehku, tapi ekspresi raut wajahnya tidak bisa ku prediksi. tapi jelas terlihat raut wajahnya dan sorot matanya ada penyesalan dan dendam.
Karena terlalu banyak orang di rumah Daren, dan aku tidak ingin Daren berlarut dalam kesedihannya, karena di rumah ini penuh dengan kenangan almarhumah Nindy. akhirnya Daren berhasil kami bujuk untuk pulang ke rumah kami.
Bersama pengawal, Tyas, Remon serta Dadang. kami berangkat menuju rumah, dan sesampainya di dalam kamar. Daren langsung menuju kamar mandi.
Sejenak terdiam, dan beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan dari Daren. dia berteriak dari dalam kamar mandi untuk melupakan semua duka yang dia alaminya.
__ADS_1
Semuanya sudah terjadi, dan tidak seharusnya itu terjadi jika sesuai dengan prosedur yang telah aku tetapkan. duka cita ini saya anggap sebagai pelajaran yang begitu berharga dan menyakitkan.