DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Awal Kebangkitan


__ADS_3

Pagi ini agak terasa berbeda, biasanya pagi seperti ini aroma parfum dari Daren sudah tercium. tapi kali ini aroma itu tidak ada.


Segera bersiap-siap untuk menjenguk Daren di rumah sakit. setelah semua siap baru beranjak ke meja makan untuk sarapan, selesai sarapan bersama Tyas. kami berdua langsung menuju rumah sakit.


"kak... kata bang Gopas, saham Om Riko, om Imran dan Farel, atas kepemilikan rumah sakit Cantika akan di lelang. dan untuk sementara masih di tahan bang Gopas." jelas Tyas setelah kami dalam perjalanan.


"ok, usahakan saham itu serendah mungkin dan segera ambil. kita harus tetap menjadi pemenang saham mayoritas."


Tyas langsung mengerti akan ucapan Ku, dan dengan segera dia menghubungi Gopas. dan tidak berapa Tyas sudah selesai bicara dengan Gopas.


Tanpa terasa kami sudah sampai di rumah sakit, dan langsung menuju ruang rawat Daren. terlihat Remon sedang membersihkan wajah Daren dengan handuk basah dan segera aku ambil Alih.


Remon dan Dadang ku mintak untuk istirahat dan saya yang mengambil alih untuk merawat Daren.


Remon dan Dadang pulang ke rumah, sementara Tyas langsung menemui Gopas untuk membicarakan perihal pembelian saham yang di lelang itu.


Saat Daren hanya tidak memakai bantuan pernapasan lagi. tapi masih alat pendeteksi detak jantung di dadanya, serta infus di tangan kirinya.


Ketampanan Daren masih memancarkan aura Nya, walaupun terbaring di ranjang lemah, Daren masih terlihat Tampan.


Selesai membersihkan semua tubuh Daren, Aku hanya bisa duduk disampingnya sembari menikmati wajah tampannya, Daren tidak seperti orang sakit. dia hanya tertidur karena kelelahan.


Tok.... tok.... tok.... "suara pintu diketuk dan ternyata yang masuk adalah Profesor Azma yang didampingi dua orang Dokter disampingnya.


"selamat pagi Bu Cantika." sapanya dengan tersenyum.


"selamat pagi Profesor, Prof... panggil Cantika ya, ngak usah panggil ibu. Profesor memanggil naman ke almarhumah Mamaku, jadi Profesor panggil Cantika aja ya."


Pintaku kepada Profesor yang kira-kira masih seumuran dengan Almarhumah Mama, Profesor anggun itu hanya tersenyum menanggapi permintaan ku.

__ADS_1


"baiklah nak Cantika." ucapnya sambil tersenyum.


"ini kan lebih enak di dengar prof, ada perkembangan apa prof?" Tanyaku Kepada Nya, dan lagi-lagi Profesor Azma hanya tersenyum.


"ada tiga kabar Bagus, pertama. pemerintah daerah sudah menyetujui pembelian peralatan yang departemen pusat Kanker, dan bagian keuangan sudah memberikan panjarnya. kabar yang kedua, setelah melakukan serangkaian investigasi terhadap Cantika farmasi. akhirnya pabrik Cantika farmasi di ijinkan beroperasi lagi asal dibawah naungan rumah sakit Cantika. dan kabar bagus ketiga, Mamanya Dokter Daren, mertua nak Cantika sudah bisa di operasi lagi untuk mengangkat tumor yang bersarang di berada di dipinggir hatinya.


Tapi ibu bingung Nak, operasi harus segera dilakukan. sementara walinya belum Siuman, gimana ini ya?" ujar Profesor Aska yang membuat terlihat sedih karena Daren belum siuman setelah melewati masa kritisnya.


"Bu.... saya kan istri sahnya Daren, pernikahan kami sah secara agama dan hukum negara ini. Cantika bisa mewakili Prof?"


Mendengar pernyataan dariku, Profesor Azma langsung tersenyum. Seakan-akan permasalahannya sudah teratasi.


"bisa nak, Ntar sehabis ini ke ruangan ibu ya untuk tandatangan persetujuan wali. oh iya Nak Cantika, mengenai penggabungan Cantika farmasi dan rumah sakit Cantika apa nanti ada masalah?" Profesor Azma berkata dengan suara pelan.


"masalah itu nanti akan kita bicarakan di rapat pemegang saham, Profesor harus mewakili Daren Suamiku untuk menjelaskan semuanya. Profesor mau kan?"


"jelas mau dong nak Cantika, ibu ingin memanggil kembali para karyawan pabrik Cantika farmasi yang sudah dipecat secara sepihak karena tidak sepemahaman dengan om kamu itu nak." ucap dengan hati-hati agar tidak ada kesalahpahaman diantara kami berdua.


"Cantika paham dengan apa yang ibu rasakan, bukan hanya Cantika yang mengalaminya kepahitan Bu, tapi banyak orang-orang yang jujur dan baik yang harus menderita akan perbuatan manusia iblis itu."


Profesor Azma hanya terdiam menanggapi perkataan dariku, terlihat dia menyeka air matanya dan kemudian menatapku seraya tersenyum lagi.


"baiklah kalau begitu, nak Cantika mari ikut ibu ke ruangan. kita selesaikan satu persatu."


"siap Bu"


Jawab Ku kepadanya, dengan menggandeng tangannya kami pergi menuju ruangannya. Daren Suamiku ku titip ke perawat jaga dan juga dua pengawal.


Selama perjalanan menuju ruangan Nya, Profesor Azma hanya tersenyum, senyuman mengingatkanku pada almarhum Mama. mereka berdua kadang-kadang seperti ini jika sedang bersama, Almarhumah Mama dengan Profesor Azma adalah sahabat sejak mereka duduk di bangku SMA.

__ADS_1


Penandatanganan persetujuan wali untuk melakukan operasi terhadap ibu mertuaku telah selesai, dan seketika itu ibu mertuaku langsung masuk ruang operasi. di depan ruang operasi aku menunggu hasilnya, rasanya sangat lama, bosan dan kwatir bercampur menjadi satu dan Sulit untuk mengekspresikan Nya.


Hampir 4 jam lamanya, lampu merah berubah menjadi lampu hijau. pertanda operasi sudah selesai, Profesor Azma yang didampingi oleh satu Dokter bersamanya keluar dari ruang operasi.


Profesor Azma keluarga sambil tersenyum, dan memelukku dengan erat. tanpa terasa air mata ini mengalir, apakah ini air mata bahagia atau air mata kesedihan. tapi karena senyuman dari Profesor Azma membuat ku menangis.


"nak Cantika, operasi mertua mu berjalan dengan lancar. mudah-mudahan bisa cepat Melawati masa kritisnya." ucapnya sambil memegang kedua tanganku.


"terimakasih Profesor atas kabar bahagia ini, oh ya Profesor. bisa ngak satu ruangan dengan Suami untuk dirawat?"


Profesor Azma hanya tersenyum menanggapi permintaan ku dan kemudian menoleh ku dengan tatapan kasih sayang seorang ibu.


"belum bisa nak, mertuamu harus dirawat di ruang intensif dulu, setelah melewati masa kritisnya baru bisa satu ruangan."


Aku hanya tersenyum malu menanggapi perkataan dari Profesor Azma, antara pengetahuan Ku tentang medis yang minim dan keinginan ku agar bisa menjaga kedua orang yang ku sayang itu bisa secara bersamaan.


"nak Cantika, ibu mau ke ruangan ICU dulu untuk menyiapkan segala keperluan perawatan mertuaku kamu nak." ujarnya sambil berlalu bersama Dokter yang bersamanya.


Berselang kemudian, Mertuaku sudah keluar dari ruang operasi yang dibawa oleh 3 perawat dan Satu Dokter. setelah mereka berpamitan kepadaKu, mereka membawa mertuaku menuju ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif selama masa kritisnya.


Teringat dengan pernyataan Profesor Azman, perihal penggabungan Cantika farmasi dengan rumah sakit Cantika. dan handphone ku raih untuk menghubungi Tyas.


"halo Tyas, bisa menemui Kakak di ruangan Daren sekarang?"


"bisa Kak." jawabnya dari seberang telepon.


"jangan lupa ajak Gopas ya."


"siap Kak, segera kami menemui kakak."

__ADS_1


Jawabnya sambil menghahiri sambungan telepon, dan kaki melangkah menuju ruang ICU. terlihat Mertuaku dengan selang medis yang menempel di tubuhnya.


Setelah memastikan semua baik-baik saja, ku langkahkan kakiku untuk menuju ruangan Daren. untuk menunggu Tyas dan Gopas.


__ADS_2