DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Daren Kecewa Lagi.


__ADS_3

Cahaya Bulan menggantikan sinar matahari, di balkon kamar sinar itu begitu indah. apalagi ditambah pemandangan Suamiku Daren pulang.


Melangkah keluar kamar untuk menyambutnya, dan berhenti di ruang tamu. Tyas yang kebetulan berada di ruang tamu sedang menonton televisi acara reality kehidupan. lagi-lagi pembawa acara menyentil rumah sakit dengan Mall praktek yang dilakukan oleh para dokter.


Hal itu membuat emosi bertambah karena pembawa acara menyentil rumah sakit ku. pastilah ini ulah Daren.


Begitu Daren tiba di ruang tamu, seperti biasa dia menundukkan kepalanya untuk memberi rasa hormat kepadaku.


"ikut saya." terlihat wajahnya begitu bingung.


Daren mengikuti dari belakang, sesampai dikamar pintu langsung Ku tutup sementara Daren melangkah ke ranjangnya dan meletakkan tas yang biasa dipakainya.


'plak..... plak.... plak.... plak....


"bangsat.... beraninya kamu mengganggu rumah sakit Ku."


"maksud Bu bos apa?" tanya pura-pura tidak tahu.


Hal itu membuat Ku semakin emosi, dan kutampar lagi. matanya terlihat berkaca-kaca.


"apapun yang Aku katakan pasti tidak akan bos percaya. sekarang terserah Bu bos, karena saya adalah suami yang dibeli oleh Bu bos." ujarnya sambil menyeka air matanya.


"apa? kamu ingin menguasai hartaku? apa kamu sudah bekerja sama di perempuan sinting itu? jawab bangsat...."


plak.... plak.... "Saking emosi, wajah Daren Kutampar lagi dengan sekuat tenaga Ku. dengan perlahan di matanya menatap Ku.


"saya memang mengetahui kalau rumah sakit itu melakukan mall praktek, jual beli organ Tubuh, tapi bukan itu cara Ku." ujarnya dengan air matanya yang berurai.


Segala makian di terima oleh Daren, dan setelah Aku terdiam dia mengambil tasnya dan kemudian mendekat ke arahku.


"Bu bos, saya pamit dulu. mau melihat Pasien di pemukiman kumuh itu, kemarin ada pasien yang saya obati jadi Aku ingin melihat perkembangan kesehatanNya. pengawal akan bersama Ku." ujarnya dengan nada yang pelan.


Tidak ku jawab dan Daren berlalu begitu saja, tanganku gemetaran. bukan karena kesakitan tapi karena menampar Suami sendiri.


Drrrt... drrt... drrt....

__ADS_1


Handphone Ku yang diatas meja bergetar, dan yang menghubungi adalah Remon.


"halo Kak....." suaranya terdengar sangat kwatir.


"kenapa Remon?"


"kak, saat menonton televisi tadi ada 3 orang yang mengaku bahwa keluarga mereka menjadi korban mall praktek rumah sakit, serta 2 orang korban yang organ tubuhnya di jual di rumah sakit Cantika. Remon berhasil membobol email pembawa acara televisi itu, dan pengirim email itu adalah warga pemukiman kumuh kak." jelas Remon dari seberang sana.


Seketika itu, air mataku mengalir deras. dan penyesalan tiba-tiba menghampiriKu. kalau ku bergetar dan lemas hingga akhirnya Aku terduduk dipinggir ranjang ini.


"halo kak, kak...." suara kwatir dari Remon.


"ya..." ya sudah tolong hubungi Gopas ya. suruh dia untuk mengurus hal ini." perintah Ku Remon.


"siap kak." jawab Remon dan mengakhiri obrolan kami.


Mulut ini Ku tutup dengan tanganku untuk menahan teriakan. tangisanKu pecah, apa yang harus Kulakukan? bagaimana caranya mintak maaf kepada Daren?.


Aku paham betapa sakitNya hatinya akan perlakuan Ku. bahkan sampai keluar kalimat dariNya sebagai suami yang di beli.


"kak... kakak sudah tidur?" suara Tyas dari balik pintu.


"masuk dek." Tyas langsung masuk dan membawa berkas kemudian menyerahkan kepadaKu.


"kak, ini berkas dari bang Daren. berkas ini adalah nama-nama Dokter dan petugas Medis serta para perantara yang terlibat. dan Map biru adalah daftar korban, mulai dari mall praktek sampai dengan para korban yang orang tubuhnya di jual." jelas Tyas.


"kapan Daren memberikan ini kepadamu?"


"tadi kak, saat Tyas dan Mpok Sri nonton di ruang tamu. kak... bang Daren itu pria yang baik." ungkapnya sambil memeluk Ku.


Pelukan begitu hangat, tanpa berkata apa-apa Tyas menyeka air Mataku dan memelukku lagi, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap mataku.


"kita harus kuat." ujarnya dan melangkah keluar dari kamarKu ini.


Lemari ku buka, dan terlihat pakaian yang dulu ku beli belum sempat kuberikan kepada Daren Suamiku. akhirnya ku letakkan di lemari bajunya.*****

__ADS_1


Jam Alarm berbunyi, Ku coba untuk membuka kedua mataku tapi begitu berat. rasanya sangat sakit. pandangan tidak jelas, terlihat sekilas Daren Suamiku memegang pergelangan tangan Ku.


Rasanya seperti mimpi, karena tadi malam saat tidur ranjangnya kosong. baju tidur yang berkancing yang kupakai di bukanya dua kancing Nya. stetoskop Nya begitu nyata di dadaku. benar Daren Suamiku yang memeriksa keadaan Tubuhku.


"jangan kurang ajar kamu bangsat." entah kenapa Aku masih bertenaga untuk memakinya.


"tenang Bu bos, Aku tidak akan menyentuh Mu, aku disini sebagai Dokter sekaligus sebagai Suami Bu bos." ujarnya sambil menaruh alat tes cek suhu tubuh di ketiak kanan Ku.


"Bu Bos, Ku kasih suntikan Ya." tanya Daren, tanpa persetujuan Daren sudah mempersiapkan obat dalam suntikan itu dan dengan pelan membalikkan tubuhku sampai bokong Ku menghadapnya.


Dua suntikan menancap dalam bokong kananku, setelah selesai Daren Menaikkan celanaku dan membalikkan tubuhku lagi.


Terlihat Mpok Sri datang dengan membawa makanan dan minuman di atas nampan, dan diterima oleh Daren. seketika itu juga Mpok Sri langsung berlalu.


"Bu bos, makan ya. sedikit aja." Daren membujuk Ku untuk makan.


Sendok yang berisi makan sudah mengarah ke arah mulutku. tapi ku tolak, langsung saja wajahnya terlihat kecewa. dan langsung meletakkan piring diatas meja.


"kalau begitu, bos bos harus infus ya." ujarnya langsung menyiapkan alat Infus.


Tangan yang besar dan telapak tangannya begitu lembut, menyentuh pergelangan tangan Kiri Ku.


Akhirnya jarum infus itu menusuk di pergelangan tangan kiri ku, dan infus itu sudah terpasang. terlihat Daren menyuntikkan sesuatu dari lubang antara infus itu.


"Bu bos, harus istirahat ya. biar cepat sembuh." ungkapnya sambil berlalu.


Terlihat Daren baru keluar dari kamar mandi dengan memakai celana pendek dan bertelanjang dada, perut yang hampir terbentuk sixpack dan dadanya bidang. rambut yang sedikit basah, dan senyuman yang menghiasi wajah tampannya.


"maaf Bu bos, tadi dalam tidak sempat memakai baju." ujarnya sambil memakai kaos oblong Nya.


Daren, sekalipun kamu telanjang di hadapan Ku itu tidak jadi masalah bagiku. Daren kemudian berlalu, tidak berapa lama datang membawa baskom berikut dengan handuknya.


"Bu bos tenang ya, Dokter Pribadi mu hanya mau membersihkan wajah mu saja. Saat ini aku sebagai dokter Mu, adik Mu Tyas sudah menitipkan Mu kepadaku." ujarnya seraya tersenyum.


Handuk kecil di basah itu di usapnya ke wajahku dengan sangat lembut, perlakuan membuat tidak berdaya.

__ADS_1


Tapi sikapKu kepadanya yang membuat sakit hati, tapi itu tidak terlihat ketika Suamiku ini mengurusku yang terbaring lemah di ranjang ini.


__ADS_2