
tok....tok.... tok... tok....
"maaf Bu bos, saya Rey. pengawal Pak Dokter, Bu... pak Dokter membawa polisi untuk menangkap Dokter Indra Dermawan atas laporan pak Dokter suaminya Bu bos."
Sungguh di luar dugaan, kenapa Daren bisa bertindak seenaknya tanpa bertanya. apa yang ada pikirannya.
"Tyas mohon sama kakak, sabar. jangan terbawa emosi." bujuk Tyas sambil memegang pundak Ku.
Kami yang ada di ruangan langsung pergi ke rumah sakit, benar saja. Polisi sudah banyak yang datang.
Dokter Indra Dermawan selaku direktur rumah sakit, 20 orang Dokter bedah, 10 dokter anestesi, dan 25 orang Dokter umum dan 5 orang perawat, sudah di borgol. dan di tempatKan di suatu ruangan. tapi Daren tidak tidak terlihat.
"kak.... bang Dokter di ruang direktur." ujar Remon, sambil memperlihatkan laptopnya.
Langsung kami menuju ke sana, dan Daren Suamiku bersama seorang polisi duduk sedang fokus dengan komputernya masing-masing.
Komandan polisi yang ikut memperkenalkan tim-nya, tim investigasi dan tim forensik. sudah lengkap disana.
"Remon, bantuin Abang cepat?" teriak Daren setelah melihat kedatangan kami.
Tapi Daren terdiam, dan menoleh kearah Aku. dan kuberikan kode untuk menolak, dan Remon pun tidak bergerak sama sekali. Daren seperti membisikkan sesuatu ke komandan polisi.
krek.... krek.... krek....
"cepat... bantuiin Abang Mu." perintah komandan polisi itu. dan 6 orang anggota Polisi bersenjata menodong pistol ke arah Remon.
Dadang yang masih mengalungkan identitasnya sebagai tim IT, ikut juga di todong.
"bapak tidak bisa menyuruh pegawai saya dengan sesuka hati bapak, cepat turunkan senjata nya. ini adalah perbuatan yang tidak menyenangkan."
Mendengar pernyataan Ku, polisi yang mengaku sebagai komandan langsung memberikan surat perintah penangkapan dan pengeledahan.
"mohon Bu kerjasama Nya, kami melakukan ini dengan resmi. jika ibu mau menghalangi dan tidak mau membantu, itu artinya ibu melanggar undang-undang Pasal 212 KUP." jelasnya.
Remon dan Dadang menolehku dan kuberikan Kode untuk membantu Daren. seketika Suamiku itu langsung berdiri.
"gitu dong baru adek Abang." ujarnya sambil mengacak-acak rambut Remon.
__ADS_1
Satu orang anggota Polisi, Daren, Remon dan Dadang. terlihat berjuang untuk membuka pintu rahasia itu
"Jepri...ikuti Remon saja, Kamu namanya siapa?" tanya Daren kepada Dadang.
"Dadang pak,"
"ok, Dadang, bantu Remon." perintahnya.
Seketika mereka berempat fokus di laptopnya masing-masing. dan anggota Polisi yang bersenjata lengkap masih menodongkan senjatanya ke arah mereka berempat.
Krrekkk......
Akhirnya pintu rahasia di belakang meja Dokter Indra terbuka dan terlihat tim polisi yang bersenjata lengkap hendak mau masuk.
"tunggu, jangan masuk dulu. masih ada perangkap di dalam." teriak Remon, untuk mencegah petugas itu masuk.
"bang Dokter, ada ngak alat untuk menyerap gas bercaun?" tanya Remon kepada Suamiku.
Seketika semuanya terdiam, dan Remon kembali menutup pintu dengan laptopnya. dan komandan polisi itu mendekat ke arah Remon, kemudian memegang pundaknya.
"kamu mau main-main dengan pihak polisi?" ucapnya.
Komandan itu langsung terdiam, dan Daren langsung berdiri dan menyingkirkan tangan komandan polisi itu.
"kalau adekku bilang jangan, ya jangan masuk pak. adikku sudah cukup membantu, saya tidak mau adikku terjadi sesuatu yang mencelakai Nya." tegas Suamiku sambil menghalangi komandan itu.
"tenang pak dokter, tunggu sebentar." ujarnya dan terlihat komandan itu mengambil handphone nya.
Komandan polisi itu, menghubungi seseorang kemudian menatap Daren, yang berwajah tegang.
"Dokter saya mintak maaf, Remon. bapak mintak maaf ya, maaf karena bapak sudah gegabah." komandan itu mengaku bersalah.
"Remon, ada apa di dalamnya? kenapa belum masuk masuk?. tanya Gopas yang penasaran.
Sebenarnya Aku juga sangat penasaran, bukan cuman Aku tapi semua yang ada diruangan terlihat penasaran. dan polisi yang bernama Jepri itu berdiri menghadap kami semua.
"berdasarkan sensor dari program terdapat jebakan gas bercun di sepanjang jalan dalam ruangan itu."
__ADS_1
"ya benar, program Ku mendeteksi adanya Senyawa 3-quinuclidinyl benzilat, bang Dokter gas ini sejenis apa sih bang?" jelas Remon dan kemudian bertanya kepada Daren.
"itu senyawa kimia, yang biasa disebut agen 15, sifat tidak berwarna dan tidak berbau. senyawa kimia ini sangat berbahaya. bisa menyebabkan kelumpuhan total pada organ tubuh manusia. senyawa kimia ini masuk melalui pernafasan dan juga pori-pori kulit." jelas Daren.
"Cl-CH2CH2)2S, itu apa Dokter?, sistem Ku melacak huruf dan angka aneh ini?" kata Dadang sambil menoleh ke arah Daren.
"Gas mustard atau mustard belerang, bahan kimia yang berbahaya. menyebabkan luka bakar parah pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. Gas mustard pertama kali digunakan selama Perang Dunia I, gas ini mampu melumpuhkan secara massal. Gas mustard umumnya tidak berwarna dalam keadaan gas, meskipun memiliki warna kuning atau hijau samar. Gas mustard paling mudah dikenali dari bau khas "mustardy"." jelasnya dan hal itu membuat seisi ruangan terlihat cemas.
Tidak beberapa lama, datang rombongan dengan berjumlah kira-kira 15 orang. berpakaian APD lengkap, lebih tepatnya seperti astronom yang biasa kita lihat di televisi. mereka membawa 3 mesin yang aneh dan 10 tabung besar. salah satu dari mereka memberikan surat kepada komandan polisi itu.
"baik, bapak-ibu. mereka semua adalah Petugas Penanganan Bahaya Gas H2S, dari syenery solusi. yang ditugaskan secara resmi oleh kepolisian. mohon kerjasamanya, Remon buka pintunya." jelasnya sambil memberi perintah kepada Remon.
"pak, selama mereka di dalam pintu akan Remon kunci kembali." ujar Remon sambil berdiri.
Petugas yang berpakaian APD, yang memberikan surat tadi. Langsung mengangguk kepalanya. dan Remon kembali fokus ke laptopnya.
Remon mengambil kabel tipis dan terlihat sangat panjang dari tasnya, kemudian mencolokkan satu ujungnya ke laptopnya dan mencolokkan ujung satunya ke laptop Daren.
Kemudian fokus lagi ke laptopnya, beberapa saat kemudian Remon berdiri dan menghampiri petugas yang berpakaian APD itu dan menyerahkan laptop Daren kepadanya.
"jika bapak sudah selesai bertugas di dalam, tolong tekan enter pada laptop ini ya pak. karena didalam kedap suara dan tidak ada sinyal. dan Remon taro kamera di kepala bapak ini ya, ijin ya pak" kata Remon sambil menyerahkan laptopnya dan melilitkan kamera itu di kepalanya.
Petugas itu hanya mengangguk kepalanya, Remon kembali ke kursinya dan terlihat mengotak-atik laptop itu.
"mas Dadang, bang Polisi. kita sama-sama nanti tekan enter jika Remon sudah teriak ya. para petugas. hitungan ketiga harap masuk semuanya." perintah Remon, dan mereka semua hanya mengangguk.
Ketiga ahli komputer itu fokus, begitu dengan para petugas yang sudah bersiap dengan alatnya masing-masing.
"bang Polisi, mas Dadang. enter......" perintah Remon.
kreak..... "pintu rahasia terbuka dengan pelan.
"satu, dua, tiga...... " Remon menghitung tapi tetap fokus ke laptopnya.
Para petugas itu langsung berlarian ke dalam dengan membawa peralatannya masing-masing, dan petugas terakhir yang membawa laptop masuk perlahan, karena kabel tipis itu terlihat merepotkan.
Setelah petugas terakhir masuk, perlahan pintu rahasia itu tertutup kembali. kebetulan di atas meja Dokter Indra ini ada infokus, seketika itu juga Remon menyambung laptop nya ke infokus tersebut dan mengarahkan cahayanya ke dinding.
__ADS_1
Melalui pancaran sinar infokus kami yang di ruangan ini melihat aktivitas para petugas itu di lorong-lorong ruangan ini. Remon terlihat mengetik serius di laptopnya.