
"mas Dadang, tidak bagus untuk menyimpan dendam. kita harus mampu menguasai diri kita sendiri dengan cara mencoba memaafkan." ungkap Remon.
"begini ya Remon, kita sebagai manusia biasa pastinya ingin keadilan di Dunia ini. seperti sekarang ini, ingin rasanya masalah ini cepat selesai. supaya bisa bertemu dengan kedua orang tua ku yang ada di Padang sana.
Bagiamana dengan keluarga para korban, mereka kalang kabut mencari keluargaNya yang hilang. begitu tahu keberadaan yang dicarinya, eh ternyata sudah meninggal dunia dengan cara yang tragis.
Saya ni ya Remon. masih bisa video call dengan kedua orang tua ku, masih bisa melihat wajah Abi dan Umi. mendengar suaranya. tapi rasanya ngak cukup, ingin bertemu secara langsung. di omelin, kangen masakan umi, kangen sholat Jumat dengan Abi dan sebagainya.
Begitu geramnya melihat para pelakunya, rasanya terlalu sakit Remon. pedih di hati ini, ada beberapa kesalahan orang yang bisa kita manfaatkan. tapi untuk kali ini, tiada maaf bagi mereka. Remon.... kamu lihat kepala pihak berwajib yang sempat di tahan dan akhirnya ditemukan tewas di vila mewah di puncak. mana ada tahanan bisa berlibur ke puncak!.
Lihat lah berita kemarin, dua pejabat tinggi buronan itu ditemukan tewas di kamar hotel. sesusah itu mencari Nya? tapi setelah terbunuh dan keluarga di sengsara kan, dan pihak berwajib langsung menyatakan belasungkawa, ke korban karena keganasan mereka, apa maksud dengan semua ini? terus pihak berwajib tidak wajib untuk berbelasungkawa terhadap korban para iblis itu?
Jujur ya, aku... sangat bersemangat untuk ikut andil dalam Kasus ini, sebelum Nya. pak Dimas mengatakan jika mau mundur dan tidak mau terlibat dengan Kasus ini silahkan cuti, ingat bukan di pecat. hanya demi keselamatan para anggotanya pak Dimas, dan keluarganya masing-masing.
Saya dan lainnya tidak ada yang mundur, kami semua bahu membahu demi mengungkapkan siapa pelaku sebenarnya, kemananan keluarga terancam tapi jika dibiarkan. mungkin nanti nya akan lebih banyak lagi korban yang berjatuhan."
Ujar Dadang dengan begitu panjang lebar, dan air matanya mengalir di pipinya. antara kangen dengan keluarganya dan melihat begitu banyak korban jiwa yang tewas.
"iya juga mas, baiklah Remon juga ikut dukung. kak.... perlu kami cari tahu siapa pelakunya? biar bisa kami sumbang dana." Remon yang terprovokasi bertanya kepada Ku.
"tidak perlu, mereka pasti sudah tahu kalau kita yang memulai. jika seandainya mereka butuh dana operasional, pastinya mereka akan menemui Kakak."
Remon dan Dadang tersenyum melihatKu karena pernyataan yang keluar dari mulut ku dan kemudian menoleh ke Daren.
"kak, bang Dokter dan teh Tyas. jika mereka datang, apakah bersedia mendanai Nya?" tanya Remon dengan suara yang pelan.
"bersedia..."
Aku dan Tyas menjawab secara bersamaan, dan kami tertawa bersama kecuali Daren yang masih Makan.
__ADS_1
"Dadang, tunggu sampai 2 atau 3 Minggu lagi baru mintak Abi dan Umi untuk pulang balik ya, tunggu benar-benar aman dulu."
Pintaku kepada Dadang. Aku sangat yakin, kalau Dadang sudah rindu berat kepada kedua orang tuanya.
"iya Bu, lagi pula Abi dan Umi baru pensiun menjadi guru. biarlah Abi dan Umi menikmati masa liburanNya di Padang." ujar Dadang yang sudah tersenyum Kembali.**
Kami semua sekarang berada di ruang kerja di rumah ini untuk saat ini, sembari menunggu informasi dari Gopas kami harus tetap berada di rumah ini dan bekerja dari rumah.
"gila benar..... dukungan untuk pembunuh para buronan itu trending topik di Twitter. luar biasa." ujar Dadang dengan berdecak kagum.
Remon dan Tyas langsung melihat handphonenya masing-masing, tapi Daren masih sibuk dengan laptopnya.
"upssss.... sekarang para kaki tangan dan juga para keluarga buronan yang di hajar habis-habisan." ujar Remon.
"ini baru namanya balas dendam yang berimbang." ucap Dadang dengan berdecak kagum juga.
"panas..... haredang...... pihak berwajib semakin terpojokkan, mereka mencoba melindungi tapi mereka yang blunder. mampus kalian semua, lindungi saja semampu Kalian."
Tyas langsung meraih remote control televisi dan menyalakan televisi. Humas pihak berwajib sedang melakukan konferensi pers.
Dari keterangan bagian Humas (hubungan masyarakat) menyatakan sudah berhasil mendata para keluarga petinggi negara yang terlibat dalam kasus Cantika Group.
Beberapa sudah diamankan, sementara yang lainnya tidak ketahui keberadaan Nya. pihak berwajib tidak menginginkan pelaku pembunuh para buronan bertindak arogan.
Sebagai alat negara yang melindungi segenap masyarakat Indonesia, mereka merasa kecolongan karena membiarkan pelakunya membantai keluarga para buronan demi rasa kemanusiaan.
"kampret.... terus bagaimana dengan korban yang berjatuhan selama ini? apa korban yang lain bukan warga negara Indonesia? gila benar ini manusia. pasti ada hubungannya dengan manusia buronan itu." ucapan Dadang yang terlihat kesal.
Bagian Humas nya seakan-akan berusaha melindungi para buronan, aku yakin dia juga ikut terlibat.
__ADS_1
"benar mas Dadang, liat ini mas Dadang, netizen langsung membeberkan jejak rekamannya." timpal Remon dengan berdecak kagum.
Tyas dan Dadang juga demikian, mereka berdua geleng-geleng Kepala akan melihat jejak rekam Nya di media sosial yang dibagikan oleh seseorang warga Net.
"semoga ini menjadi target selanjutnya, 99.99 % pasti manusia yang sok berhati mulia ini ikut menikmati bisnis haram itu." Dadang ngomel-ngomel sendiri.
"sepertinya jajaran Nya terlibat kayaknya mas, yuk kita cek."
Kata Remon kepada Dadang sambil mengedipkan mata ke arah Dadang, dan mereka berdua langsung meraih laptopnya masing-masing dan menghubungkan laptopnya dengan kabel USB.
Remon memakai dua laptop sekaligus sementara Dadang hanya satu laptop. entah apa yang akan mereka perbuat. seketika itu juga mereka langsung konsentrasi ke laptop mereka.
Hampir setengah jam mereka konsentrasi di laptopnya, dan beberapa saat kemudian mereka berdua tos. pertanda mereka berhasil melakukan misi.
"kak, kami berhasil membobol handphone para jajaran petinggi pihak berwajib itu, dan ternyata..... "
Ujar Remon yang kemudian berhenti berbicara seraya menunjukkan hasil data yang mereka dapatkan.
Sungguh menakjubkan, ternyata ada 10 orang jajarannya yang terlibat dengan kasus Cantika Group. mereka telah menerima dana yang fantastis dari Tante Rina sebagai tangan perpanjangan dari om Imran.
Rasanya darahku mendidih, seharusnya mereka yang menjadi pelindung rakyat. tapi mereka ikut menikmati dari bisnis kotor itu dan melindungi para iblis itu.
"Remon terusan ke email kakak."
"siap kak."
Jawab Remon dengan tegas, hanya hitungan detik data-data itu sudah sampai ke email ku dan dengan segera ku teruskan.
"pantas semua kasus berbalik menjadi fitnah, ternyata mereka dalang Nya." ujar Tyas dengan suara yang mulai bergetar.
__ADS_1
Tyas langsung ku peluk, dan tangisannya langsung pecah di pelukanKu. aku tahu yang dirasakannya. Aku hanya sekali menjadi yatim-piatu tapi Tyas dua kali menjadi yatim-piatu.
Pertama Karena kematian kedua orang tua kandungnya, dan terakhir kedua orang tua ku yang sudah menjadi orang tuanya juga.