
Pagi-pagi sekali Aku terbangun, niatnya untuk membantu ibu masak di dapur. mas Daren masih tertidur dengan pulas. setelah mencium Nya baru aku melangkah ke Dapur.
Benar saja ibu sudah memulai masak di dapur dengan menggunakan api tungku. begitu melihat Ku datang, ibu langsung tersenyum.
"Neng dah bangun, yuk duduk Disini." ujar ibu sambil menarik bangku teplek.
"iya Bu, mau bantuin masak." jawabku kepada ibu.
"Disini gas untuk masak tidak ada Neng, jadi masih memakai tungku kayu seperti ini. neng memetik sayuran aja ya sambil menghangatkan tubuh dekat perapian." ujar ibu sembari mencontohkan cara memetik sayur bayam itu.
"Bu... warung disini jauh Bu? neng lupa bawa bawa sampo dan odol."
"ngak jauh kok dari sini, dari depan rumah ini jalan lurus dan langsung ketemu deh. ntar biar ibu temani." jawab ibu sambil memarut kelapa.
"ngak usah Bu, biar neng aja sendiri. ntar kalau mas Daren sudah bangun. tolong ibu bilangin kalau Neng lagi belanja ke warung."
Ibu hanya mengganguk kepalanya menanggapi perkataan Ku, dengan memakai baju hangat yang tebal lalu melangkah keluar untuk belanja ke warung.
Warung sudah terlihat ada beberapa ibu-ibu yang sedang belanja juga dan mereka langsung menoleh ku ketika sudah nyampe di warung tersebut.
"istrinya pak Dokter ya?" tanya seorang ibu yang sebaya dengan ibu mertuaku. tapi ibu mertuaku jauh lebih segar dan lebih cantik.
"iya Bu, baru kemarin datang. ibu kok tahu?" jawab ku sambil bertanya balik.
"kenalin nama saya inem, mamanya Agus. mertua itu Sepupuku. semalam sudah singgah ke rumah kalian, tapi kata ibu mertuamu kalian berdua lagi istrihat." ujarnya dengan jelas.
"pak Dokter ganteng dan istrinya cantik, serasi ya." ujar ibu yang disebelahnya Mama Agus.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi pujiannya. tapi tiba-tiba saja ada seorang gadis yang datang.
"cantik apaan? Ningsih jauh lebih cantik." ujarnya dengan pecicilan.
__ADS_1
Sementara ibu-ibu lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku nya yang pecicilan itu.
"Ningsih mau jadi istri kedua pak Dokter. dan kamu harus rela berbagi ya." ucapnya dengan tangan bertolak pinggang dan sok cantik.
"maaf ya gadis cantik, Pak Dokter Tampan itu hanya milikku. tidak akan ku biarkan siapapun merebut nya dariKu. paham?" ucap kepada gadis yang bernama Ningsih itu.
Dan Mamanya Agus langsung berdiri di tengah-tengah kami dan menarik tanganku untuk berdiri di sampingnya.
"eh Ningsih, kamu jangan kurang ajar. tidak ada seorang perempuan di dunia ini yang mau di madu. jika ada itu adalah perempuan yang tidak berdaya. kamu jangan memaksa kehendak mu.
Kampung kita banyak pemuda yang tampan, ada Basri, Kiko, Alim dan yang lainnya. kamu ngak pantas merebut suami orang. jika kamu melakukan itu satu kampung ini akan mengusir mu dari sini. paham kamu Ningsih." ujar Mama nya Agus dengan lantangnya membela ku di hadapan Ningsih.
"Ningsih.... kamu apa-apaan sih, ngak malu kamu mau merebut suami orang? mana pikiran mu Ningsih?" ucap seorang yang datang entah dari mana.
"Bu... saya mintak maaf atas kelakuan putriku ya. di kampung ini belum perempuan yang merebut suami orang. hanya putriku ini yang kurang waras. maaf ya Bu." ujar Mamanya Ningsih dengan raut wajah yang sedih.
"ngak apa-apa Bu. itu karena Suamiku terlalu Tampan."
Ibu-ibu yang lain tertawa karena jawaban dariKu dengan memuji Suamiku sendiri, memang benar kok suamiku sangat tampan. bahkan cewek-cewek cantik disini berlomba-lomba untuk mendapatkan simpati dari Suamiku.
Selesai belanja di warung, aku kembali ke rumah. mas Daren Suami tampanku sedang membelah kayu bakar.
"dari mana Neng cantik?" tanya suamiku ketika melihatKu yang datang menghampirinya.
"belanja di warung mas." ujar ku tapi senyuman manis dari Suamiku ini sangat begitu menggoda di pagi hari ini.
"sarapan dulu yuk." ajak ibu mertuaku yang datang menghampiri kami.
Kami ke rumah untuk sarapan, dan setelah itu baru mandi. mas Daren kembali melanjutkan aktivitas Nya membelah kayu bakar.
Selesai mandi, mas Daren sudah di kamar bersiap untuk mandi. setelah mempersiapkan handuknya mas Daren langsung menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Mas Daren keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya, dengan rambut Nya yang masih basah, Dadanya yang bidang membuat gairahku bangkit Seketika.
Langsung ku peluk dari belakang ketika mas Daren hendak mengambil pakaiannya dari dalam lemari, dan aktivitas itu langsung dihentikan olehnya.
"mas ibu kemana? kok sepi?" tanyaku sambil meraba dadanya yang bidang.
"ke kebun Agus, katanya kangen waktu masih kecilnya. kebun itu milik keluarga Mama yang di kelola oleh Agus dan keluarganya." jawab mas Daren sambil berbalik badan.
Tangan mas Daren ku tarik menuju ranjang dan akhirnya mas Daren telentang, melihat posisi Suamiku yang telentang. pakaian ku langsung ku buka. mas Daren hanya tersenyum genit melihat aksi ku, dan perlahan handuk yang terlilit di pinggangnya ku buka. batang besar itu sudah mulai bangkit.
Hanya mencium dada bidangnya, sudah terasa batang besar MilikNya sudah berdiri dengan sempurna. bulu-bulu yang tumbuh di dadanya membuatku semakin bergairah.
Dengan duduk di atasnya dan perlahan rudal besar itu, ku masukkan ke lubang ku dan Begitu masuk terasa nikmatnya.
Gerakan demi gerakan membuat ku sudah hampir mencapai puncak dan akhirnya cairanku sudah keluar.
Tubuhku perlahan dianggap oleh mas Daren dan merebahkan tubuhku di ranjang, puncak KembarKu dimainkan olehnya dengan cara yang sangat menggairahkan.
Mas Daren menarik tubuhku sampai dekat pinggir ranjang dan mengangkat kedua kaki ku ke pundaknya.
blassss.... batang besar itu masuk ke lubang ku dan itu sangat nikmat. permainannya berawal pelan dan hingga akhirnya cepat dan semakin cepat.
ahhhhhhh....... ' suara kenikmatan kami berdua '
Cairanku keluar hingga muncrat, dan lahar panas milik mas Daren sangat terasa di dalam, goyangan berhenti sejenak dan kedua matanya tertutup, sepertinya sedang menikmati keluar nya cairan lahar panasnya.
Perlahan-lahan mas Daren menggoyang nya lagi dan lagi. terasa nikmat dan setelah itu mas Daren mencabut batangnya dari Lubang Ku, tapi batang itu masih berdiri tegak sempurna.
Dengan berpegangan ke meja, mas Daren menghujani lubang ku lagi. setelah cairanku keluar, Suamiku mengangkat tubuh ku ke ranjang. mas Daren kini berada di atas tubuhku.
Batang besar itu masuk lagi, dan nikmat. goyangan demi goyangan membuat ku serasa di awan-awan. dan permainan mas Daren begitu nikmat.
__ADS_1
Hingga akhirnya kami berdua tergeletak karena cairan kenikmatan kami sudah keluar secara bersamaan. dan cairanku keluar untuk kesekian kalinya.