DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Melamar Remon.


__ADS_3

Daren sudah sudah pulih dan bisa kembali ke rumah, akan tetapi masih membutuhkan waktu untuk pulih seutuhnya.


Sampai saat ini Daren belum mau bicara dengan Ku, rasanya geram melihat Nya. apa yang sebenarnya yang disembunyikan olehnya.


Situasi keamanan sudah kondusif, Remon dan Dadang sudah tidak tinggal lagi di rumah ini. akan tetapi orang tua Dadang masih di Padang untuk sekedar berlibur dari penatnya masa-masa pengabdian menjadi tenaga pendidik.


Tyas, Remon dan Dadang beserta Gopas sedang sibuk menggarap Apertemen dan pabrik pakaian jadi. mereka terlihat sangat bersemangat untuk mengerjakan proyek tersebut.


Laporan sudah menumpuk di atas mejaKu, satu persatu Ku periksa dengan teliti. dan sesuai dengan harapanku.


Hari sudah menjelang sore, saatnya untuk pulang. Tyas datang menjemput Ku dan membantuku membawa beberapa dokumen yang ingin ku periksa di rumah.


"kak, untuk para pegawai sudah mulai traning di aula milik bang Gopas. dan perekrutan bagian keuangan sudah beres. Remon dan Gopas sudah berhasil membuat website dan sistem pemesanan produk. mudah-mudahan semua berjalan lancar ya kak." penjelasan Tyas dengan mata yang berbinar-binar.


"Amin.... dan semoga kamu sukses ya Dek, sukses dalam karir dan sukses dalam percintaan."


Mendengar tanggapan dariKu, wajahnya berubah menjadi sedih dan dia langsung memelukku.


"bang Daren belum ngomong ya sama kakak?" tanya Tyas yang masih ku peluk.


Pelukan nya ku lepas dan kutatap kedua matanya.


"Belum, kakak bingung apa yang sebenarnya dia sembunyikan."


"kita tunggu sampai pulih kembali. kita harus mendapatkan jawaban yang pasti, Tyas tidak mau kakak di gantung seperti ini."


...Perkataan Tyas membuat hatiku merasa lega, dan rasanya tenang dan damai. tanpa terasa kami sudah sampai di rumah dan aku langsung menuju kamar....


Daren sedang bekerja diatas ranjang Nya, dia terlihat begitu serius mengerjakan beberapa dokumen yang bertumpuk diatas ranjang Nya.


Tanpa mengapa Aku langsung berlalu ke kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian kemudian aku duduk di kursi.


"Bu bos, semua peralatan medis sudah terpasang dengan sempurna. dan tadi siang launching. dan sudah menerima pasien rujukan."


Ucap Daren dengan raut wajah yang penuh semangat.


"Bu bos, Terimakasih ya sudah bertindak untuk Mama. sekarang Mama sudah memberi respon yang baik walaupun belum siuman."


"sama-sama." jawabku dengan singkat.


Sepertinya Daren belum mau bicara juga tentang semuanya ku tunggu dan kutunggu. hingga dia menutup laptopnya dan merapikan semua dokumen yang ada di ranjangnya.****


Pagi harinya Daren sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja, seharusnya dia harus masih istrihat. tapi kenapa dia sudah mau berangkat kerja.

__ADS_1


Tanpa sarapan Daren berangkat kerja, sepertinya dia buru-buru. dan Aku langsung bersiap-siap.


Bersama Tyas kami berangkat kerja, dan di dalam mobil adikku ini bertingkah Aneh dan terlihat agak gelisah.


"Tyas, kenapa gelisah gitu?" Wajahnya langsung merah dan malu.


Tyas seperti mengatur kata yang disampaikan nya, dan akhirnya dia menatapku dengan tatapan Sendu.


"gini Kak, Remon mau melamar Tyas."


"apa? secepat itu Tyas? kamu hamil anak Remon?" kabar dari Tyas membuat ku sangat kaget.


"sembarang... Tyas ngak hamil loh kak, jadi begini kak. kemarin itu Tyas ngomong sama Remon. apakah dia serius kepada Tyas atau main-main saja, kan sebagai wanita. Tyas perlu kepastian Kak.


Ternyata Remon sangat serius kak, dia akan membawa kedua orang tuanya untuk melamar Tyas. tapi orang tua Remon ngak percaya kalau kami itu pacaran. bahkan Remon dianggap bermimpi kak."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Mendengar perkataan Tyas, aku malah tertawa. wajar saja kedua orang tua Remon meragukannya. anaknya aja demikian, masih Muda dan suka manja. bahkan mau menikah dengan wanita 9 tahun lebih tua darinya.


"serius lah kak." pinta Tyas yang mulai agak kesal karena aku tertawa.


"iya, terus gimana ini?"


"Tyas, masa kita ke rumah Remon dengan tangan kosong. ngak baik tau."


"Tara..... Tyas sudah minta ke Mpok Sri untuk buat kue lapis kak, kue ini kesukaan calon mertuaku." sanggahnya yang ternyata sudah menyiapkan sesuatu untuk dibawa ke rumah Remon.


"trus Remon ngak kerja emangnya?"


"ngak kak, kan lagi ngambek karena kedua orang tuanya tidak percaya kepadanya."


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Hanya bisa tertawa karena jawaban dari Tyas. sungguh ini di luar nalar ku. ternyata anak yang garang itu bisa ngambek juga.


"kakak ih.... kok gitu sama Tyas....."


"iya sayang, iya... sudah kita ke sana ya."


Akhirnya kami beralih arah ke rumah Remon, tidak berapa lama kami sudah sampai di depan rumah Remon.


Emak dan Bapak nya yang menghayal di kursi depan rumahnya langsung kaget melihat kedatangan kami berdua.

__ADS_1


"selamat pagi Bu, selamat pagi pak Irfan." Aku menyapa kedua orang tua Remon.


"selamat pagi juga Neng. ayo silahkan masuk." jawab emaknya Remon sembari mempersilahkan kami masuk.


Kami berdua sudah duduk di sofa ruang tamu yang ditemani Bapak nya Remon yaitu yang biasa kupanggil bang Irfan. sementara Emaknya Remon membuat minuman di dapur sembari membawa kue lapis yang dibawa Tyas.


"ibu Cantika dan Neng Tyas, ada urusan apa datang kemari pagi-pagi begini? apa karena Remon berbuat salah?"


"bapak ini ngak adil, sama Tyas panggil Neng, tiba ke memanggilku ibu. emangnya saya sudah tua ya pak? padahal Remon memanggilku kakak loh pak!"


"maaf, sudah terbiasa. ya sudah bapak panggil Neng ya. ada apa ya Neng? apa Remon berbuat salah?" ujarnya dengan mengulang pertanyaan tapi beda panggilan.


"pekerjaan Remon luar biasa pak, yang jadi masalah nya . Adikku ini tergoda dengan ketampanan anak bapak."


Bu Ina, mamanya Remon yang sudah Tiba di meja ini bengong mendengar perkataan Ku, pasangan suami istri itu tidak yakin dengan apa yang mereka dengar.


"Bu mintak minum dong haus nih." setelah aku mintak mintak minum barulah emaknya Remon sadar.


"Remon.... " Pak Irfan Bapaknya Remon langsung beranjak untuk memanggil anaknya.


Sementara Bu Ina menyajikan minuman nya dan kue lapis yang sudah di potongnya hanya bisa terdiam dan kemudian duduk di samping tempat duduk Suaminya.


"nah.... ini pelakunya Neng." ujar pak Irfan sambil menarik tangan Remon.


Mereka berdua terlihat malu-malu dan tersenyum ngak jelas. dan pemandangan ini membuat kami tertawa bersama.


"Neng Tyas... mulai dari kemarin malam dan tadi malam juga, ini bocah mau melamar Neng, ya auto ngak percaya dah, anak pinggiran kota mau melamar Putri yang kaya Raya. mimpi ni anak bujang kami, seperti yang di bilang artis artis itu. halu... halu nya parah." Kata Emak nya Remon dengan khas bahasa Sunda.


"AA Remon ngak halu kok Bu, Neng yang nyuruh AA untuk melamar Tyas."


Jawabnya membuat suami istri itu beristigfar karena mendengar jawaban dari Tyas. ekspresi mereka sangat mengagumkan.


"benar pak, Ibu. kedatangan kami kemari untuk melamar Remon menjadi suami Adikku ini, karena bapak dan ibu ngak kunjung datang melamar adikku ini." Mereka semakin heran dan terkejut.


"neng Tyas Yakin memilih Remon jadi imam neng Tyas? apa nak Gopas atau Nak Daren ngak cerita akan kelakuan Remon yang sebenarnya?" Tanya emaknya Remon dengan serius.


"sudah Bu, dan neng semakin yakin. neng sudah lama memikirkan ini secara matang, apakah ibu dan bapak mau menerima neng jadi Menantu?" Tyas meyakinkan kedua orang tua Remon.


"subhanallah Neng, kalau ibu setuju. yang penting Remon sudah mau, toh juga nantinya Remon dan neng yang menjalani bidik rumah tangga kelak nantinya.


"bapak setuju, Remon kamu gimana? sudah bersedia menjadi Imam nya neng Tyas? siap membimbing rumah tangga yang berbahagia?"


"insyaallah siap pak, Remon sudah berpikir matang."

__ADS_1


Jawab Remon dengan tegas dan berwibawa, kali ini saya melihat sisi lain dari Remon. dan kali sisi yang ku lihat ada seorang pria yang meyakinkan orang tua Nya bahwa dirinya sudah siap untuk membina rumah tangga.


__ADS_2