DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Miris


__ADS_3

Remon kembali fokus ke laptopnya, terlihat di layar melalui pancaran infokus yang telah disambungkan oleh Remon. terlihat para petugas yang memakai APD lengkap mengeluarkan alat pendeteksi seperti robot yang bergerak, robot itu bergerak ke sudut dan mengeluarkan cahaya merah.


Petugas langsung mengarahkan alat penyedot ke sudut itu, dan tidak berapa lama robot itu redup dan berjalan lagi ke arah lain. kemudian terlihat bercahaya lagi dan petugas melakukan hal Sama.


Petugas yang memegang laptop terlihat mau menekan tombol enter pada keyboard laptop itu, dan setelahnya pintu terbuka. satu persatu para petugas itu keluar sambil membawa peralatan mereka masing-masing.


Petugas yang membawa laptop itu langsung menghadap ke Remon dan memberikan laptop beserta kamera yang ada di kepalanya. kemudian menghadap ke komandan polisi.


"lapor. semuanya clear, tidak ada lagi radiasi tanda gas beracun. ruangan siap untuk di geledah, laporan selesai "


"siap, terimakasih dan silahkan pulang." jawab komandan polisi.


Komandan Polisi kemudian mendekati Remon dan menatapnya dengan mimik wajah serius.


"Remon, kenapa di layar itu masih menampilkan keadaan ruangan?" tanyanya kepada Remon.


Daren langsung memasang badan untuk Remon dan menghalangi pandangan komandan polisi kepada Remon.


"bapak ngak lihat Remon melakukan apa? masa itu pun masih bapak tanya." jawab Daren kepada komandan itu.


Komandan itu terdiam, dengan menggunakan tangannya untuk menyuruh anggota Nya masuk ke dalam ruangan itu. setelah semuanya masuk kecuali komandannya, Remon kemudian mengganti tampilan layarnya dan terlihat sebuah ruangan dengan cahaya redup.


Pasukan Polisi beserta tim forensik nya itu sudah ke dalam ruangan yang redup, dan salah satu dari mereka menyalakan lampu dan ruangan itu terlihat begitu jelas.


Seketika bulu kudukku merinding, pemandangan nya begitu miris. ada beberapa potongan tubuh yang dimasukkan di dalam botol besar dan beberapa organ tubuh di dalam botol yang terendam cairan.


Terlihat para petugas mengambil potongan tubuh serta organ tubuh yang ada dalam botol, dan yang lainnya mengemasi barang-barang medis yang tersedia disana.


Tyas dan Dadang menutup Mata mereka dengan telapak tangan, sebenarnya Aku juga tahan melihatnya tapi aku bertahan.


Hampir dua jam mereka melakukan evaluasi, hingga akhirnya semua anggota polisi itu sudah keluar dari ruangan. dan kami semua di suruh keluar dari ruangan dokter Indra ini.


Semua benda yang ditemukan dibawa oleh pihak berwajib itu, dan kemudian komandan polisi itu mendekat ke arah Remon yang memegang laptopnya. Komandan itu menatap mata Remon dan kemudian memegang pundaknya.


"nak .... kamu sangat hebat, bapak berterima kasih atas bantuan kamu dan rekan mu, bapak juga mintak maaf karena meragukan kamu nak?" ucapnya dengan tegas.


"sama-sama pak." jawab Remon.

__ADS_1


"kamu sangat luar biasa, kamu mau jadi petugas kepolisian? tanya komandan itu ke Remon.


"terimakasih atas pujian bapak, tapi saya mintak pak, Remon sudah sangat nyaman kerja Disini." jawab Remon tegas tanpa menolehku.


Remon menolak tawaran dari komandan polisi itu tanpa persetujuan dariKu, tidak ku sangka kalau Remon sudah nyaman kerja bersamaku yang di cap sebagai ratu Kejam.


Komandan Polisi itu kemudian memegang tangan kanan Remon sambil tersenyum kepadanya, terlihat wajahnya begitu sendu.


"Nak, kalau boleh Bapak. kenapa kamu lebih kerja disini dari gabung kepolisian?" tanya komandan polisi itu.


"Remon bisa kerja disini murni karena kemampuan Ku sendiri pak, bukan karena sogokan. dan perusahaan ini menghargai kemampuan yang kumiliki." ucap Remon dengan mata yang berbinar-binar.


"bapak sangat menghargai pendirian mu nak, selamat bekerja dan terimakasih." ujar komandan itu, dan berlalu.


"Remon, Dadang. silahkan balik kerja, kita kembali besok pagi di ruangan. Pak Gopas, sampai ketemu besok ya. Daren ikut saya pulang."


Remon dan Dadang mengikuti Tyas untuk kerja lagi, sementara Gopas langsung pulang dan Aku dan Daren Suamiku pulang ke rumah.


Selama perjalanan kami berdua hanya terdiam, bahkan saling melirik pun tidak hingga sampai di rumah dan langsung menuju kamar.


Sesampai di dalam kamar Daren langsung duduk sujud di hadapanKu sambil menundukkan kepalanya.


"bangun dan angkat kepala Mu bangsat."


Daren bangkit dan matanya berkaca-kaca, seraya menatap mataku.


plak....plak....plak...plak....


Tamparan Ku melayang di kedua Pipinya dengan bolak-balik, emosiku benar-benar meluap karena tingkah Daren.


"sudah berapa kali Ku ingatkan, jangan bertindak, jangan gegabah, dan sabar. tapi apa? kamu bertindak tanpa kompromi dulu. kurang ajar."


"aku hanya melakukan apa yang menurutku baik, hanya itu." balasnya tak membuat Ku semakin geram.


plak..... tamparan Ku melayang lagi di pipi kanannya.


Daren Kemudian menatapku dengan air matanya yang mengalir di pipinya, dan tatapan begitu sendu.

__ADS_1


"kamu tidak merasakan sakitnya ketika melihat orang kamu sayangi, di mutilasi, dan organ tubuhnya di jual. kamu juga belum merasakan sakitnya di tinggalkan oleh orang kita sayangi tanpa kabar dan jejak. bertahun-tahun Aku sabar dan selalu hati-hati. dan inilah saatnya untuk bertindak. dan kamu dengan gampangnya menyuruhKu untuk sabar!. hati nurani kamu dimana?"


Pertanyaan Daren begitu pelan tapi menusuk Hatiku, setelah mengatakan demikian. dia meraih tasnya dan hendak pergi.


"kemana kamu bangsat?"


"mau ke rumah lamaKu." jawab Daren.


"tidak bisa, diluar banyak wartawan. nanti kamu salah ngomong lagi."


Tasnya langsung diletakkannya, dan meraih handuk serta sepasang pakaian dan berlalu ke kamar mandi.


Hanya bisa terduduk lemas di meja rias ku ini, tanganku gemetaran. dan otakku mumet, ada rasa penyesalan terhadap apa yang aku lakukan barusan terhadap Daren Suamiku.


Dari meja rias ini, aku lihat Daren sudah keluar dari kamar mandi, memakai celana pendek dan kaos oblong. kemudian meraih tasnya dan pergi ke balkon.


Balkon terlihat jelas dari meja rias ku ini, dari sore sampai malam jam 7 Daren masih di balkon yang terlihat sibuk dengan laptopnya.


Daren membuka tasnya dan kemudian mengeluarkan roti dan juga Minuman mineral dan perlahan memakan rotinya.


Tadi pagi Daren aku larang untuk makan di rumah ini, itulah sebabnya dia makan roti di balkon itu.


Sangat tidak melihatNya, dan Aku turun kebawah menuju meja makan. Mpok Sri langsung menyiapkan makanan untukku.


"Mpok, tolong siapkan makanan dan antar ke balkon. berikan kepada orang yang di balkon itu." Mpok Sri hanya mengganguk.


Mpok Sri sudah menyiapkan makanan dan minuman di atas nampan, kemudian membawaNya ke atas menuju kamar.


Tidak berselang lama, Mpok Sri sudah tiba dihadapan Ku dengan wajah yang lemas dan nampanNya masih seperti tadi.


"kenapa makanan nya tidak diberikan?


"Nak Dokter menolak neng, katanya mau tidur." ucap Mpok Sri sambil membereskan makanan yang nampan itu.


Aku hanya memberiNya makan, tapi di tolaknya. jadi begini rasanya di tolak, perih dan sesak di dada.


Selera makan ku seketika hilang, dan langsung kembali ke kamar. ku lihat Daren sudah tertidur, padahal sekarang masih jam 8 malam.

__ADS_1


Kulangkah kakiku menuju kamar mandi, dibawah pancuran air shower ini, untuk melepaskan penatnya aktivitas satu hari ini.


__ADS_2