
"Bu Cantika, permainan semakin panas dan gaduh. benar dugaan ku, bawah para elit politisi negeri ini akan memanfaatkan keadaan ini untuk menaikkan popularitas mereka.
Kita tidak boleh lengah, dan berhubung ibu telah membongkar kedok stasiun INdah TV. para warga Netizen mendesak pihak berwajib untuk menindak stasiun televisi itu.
Atas tindakan dan keberanian ibu, Saya semakin yakin kalau jalan kita ini sudah benar. tinggal eksekusi saja." Ujar Gopas dengan Yakin.
"Gopas, jika kita melaporkan Farel bisa?" tanya Daren.
"tunggu dulu, jangan kita yang melaporkan. kita kaitkan saja dengan semua perkara." penjelasan dari Gopas membuat Daren terdiam.
Daren menatapku dengan tatapan kosong, seakan-akan membutuhkan penjelasan lebih dariKu.
"jangan bertindak gegabah, lakukan seperti yang aku perintahkan. paham kan?" Pernyataan dari langsung membuat Daren menundukkan kepalanya.
"besok saat pembacaan eksepsi oleh Imran di pengadilan, alangkah lebih baiknya di imbangi dengan sensasi yang berimbang. biar permainan ini semakin panas."
"saya paham dengan maksud pak Gopas, tenang pak, sudah ku atur. tinggal nunggu aturan mainnya saja." mendengar jawaban dariKu Gopas lantas tersenyum.
Hari semakin Sore, sementara Tyas, Remon dan Dadang. tinggal di rumah, takutnya ada sesuatu hal yang terjadi dengan mereka.
Ketika kami sudah keluar dari kantor, Daren mendadak berhenti melangkah seraya melihatKu.
"bisa saya lihat Mama dan Adek sebentar?" pinta Daren dengan raut wajah memelas.
"tidak perlu, nanti nambah masalah."
Kecewa? pastinya tapi ini semua demi kebaikan, sebab jika Daren terlalu sering menjenguk Mama dan Adiknya takutnya ada orang lihat dan menjadikan itu sebagai kesempatan untuk menghafalkan rencana kami.
Akhirnya kami sampai di rumah, Daren langsung menuju kamar tanpa menyapa Remon yang sudah menunggu kedatangan kami.
Tyas, Remon dan Dadang aku mintak untuk istirahat, untuk mengumpulkan tenaga agar bisa melanjutkan misi besok pagi.
Jam 8 malam, Daren sendirian di balkon kamar. sepertinya dia terlalu banyak masalah yang membuatnya melamun seperti itu.
__ADS_1
tok... tok... tok.... tok....
"kak, bang Dokter." suara di balik pintu itu.
Jelas itu suara Remon, karena hanya dia laki-laki yang memanggil dengan panggilan kak, dan hanya yang memanggil Suamiku Daren dengan panggilan bang Dokter.
"kenapa Remon?"
wajahnya terlihat lemas dibalik pintu itu.
"kak, teh Tyas dan Dadang tidak mau makan malam. katanya mereka berdua masih kenyang. dirumah Remon selalu di temani emak dan Bapak makan, ayo dong kak temani Remon makan. tapi sama bang Dokter juga ya, biar seperti di temani emak sama Bapak." pintanya yang sok imut.
Pergi ke balkon, dan dengan setengah memaksa menarik tangan Daren. dia terlihat begitu terkejut dan ku hadapkan langsung ke depan Remon.
"nih... tanya dulu sama abang Mu ini, mau ngak diajak makan malam?"
Tanpa bicara, Remon langsung menarik tanganKu dan tangan Daren. dan kami berdua hanya bisa nurut aja. sesampainya di meja makan Remon seperti memaksa Daren untuk menarik kursi untukku dan Daren melakukan.
Mpok Sri yang melihatnya hanya tersenyum sembari menyajikan makanan dan minuman, tapi berselang beberapa menit, Tyas dan Dadang sudah tiba di meja makan untuk makan malam.
"loh... kata Remon, kalian berdua ngak makan malam, kenapa tiba-tiba mau makan?"
Mendengar perkataan Ku Dadang dan Tyas hanya saling bertatapan saja dan kemudian Dadang menatap Remon, tapi bocah itu hanya tersenyum saja.
"oh... itu Bu, tadi Remon ngomong. bang Dokter sama kakak seperti berantam lagi ya? ini tidak tidak bisa di biarkan, suami istri itu harus dibuat duduk meja makan. itu kata Remon Bu." jelas Dadang sembari menyendok lauk ke piring Nya.
"tapi kan Remon hanya ingin seperti di rumah mas Dadang, bang Dokter dan kakak. ibaratkan bapak sama emak, dan kita bertiga anak-anaknya." ujarnya sambil tersenyum.
"ya sudah kita maka ya. selamat makan."
Seperti kata Remon, saya harus bertindak dan bersikap seperti Mamanya agar dia merasa seperti di rumahnya. tapi ku akui kehangatan keluarga kembali tercipta di meja makan ini, bahkan Mpok Sri meneteskan air matanya karena melihat Susana meja makan seperti suasana yang dulu ketika kedua orang kami masih Hidup.
Ocehan Remon mampu membuat Daren tertawa lepas seperti tanpa beban, Persis Seperti Almarhum Papa, ketika Tyas ngoceh di meja makan.
__ADS_1
Seketika kerinduanku terhadap keluarga Ku yang dulunya utuh, terobati. terimakasih Ramon, berkat Mu meja makan menjadi penuh dengan kehangatan cinta kasih.***
Bersama Daren Suamiku, Tyas, Remon dan Dadang. kami berada di ruangan khusus ini sambil menonton persidangan Imran yang di siarkan secara live. selain menonton acara itu, kami juga menonton Remon dan Tyas yang sedang asyik mengunyah cemilan secara bersamaan. mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bersantai sambil menonton televisi.
Seperti biasa, terdakwa saat membacakan eksepsi Nya (Nota pembelaan) selalu menangis. dan Sepertinya Eksepsi itu sangat panjang dan sudah tentu membosankan.
"Bu, pak Dokter. ada akun Anonim di Chanel YouTube kak, yang bertentangan dengan apa yang di bacakan orang yang di televisi itu." kata Dadang yang memecahkan konsentrasi kami menonton.
Remon langsung berhenti mengunyah dan langsung mengambil handphone, demikian juga dengan Tyas, dan Daren Suamiku.
"kak, perlu kami hack?" tanya Remon sembari melihatKu.
"ngak perlu, kita nikmati aja semua permainan ini dan kita lihat seheboh nantinya."
Jawaban dariku langsung membuat mereka semua terdiam, hanya sesekali Remon dan Dadang terlihat kagum dengan penuturan orang di Chanel YouTube Anonim itu.
"Kren, gila abis ni orang. sepertinya dia seperti penyidik yang sangat Ahli. semua yang dipaparkan Nya berdasarkan bukti dan tentunya bersimpangan dengan apa yang di ucapkan di ucapkan manusia yang di televisi itu. ck.... ck..... ck..... ck.... " ujar Dadang dengan berdecak kagum.
'uhm.... itu belum seberapa Dadang." ucapku dalam hati.
"waouuuuu.... langsung trending topik si Anonim, gokil..... " Remon juga kagum dengan Chanel Anonim itu.
Daren dan Tyas masih belum mengerti, Tyas yang sedari tadi duduk di samping Remon langsung menatapnya serta menarik lengan baju Remon.
"apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tyas yang penasaran.
"begini teh Tyas, Chanel Anonim ini sepertinya sudah mengetahui kalau Imran akan membacakan nota pembelaan atau eksepsinya. dan sepertinya juga si Anonim sudah tahu kalau si Imran yang duduk di kursi pesakitan itu akan berbohong di nota pembelaan Nya.
Jadi si Anonim membuat tandingan untuk menyangkal semua Nota pembelaan si terdakwa melalui Chanel YouTube.
Tujuannya adalah untuk mengajak masyarakat Indonesia berpikir logis. dan ini luar biasa dan tentunya ini sudah dirancang khusus. tapi terlepas siapa yang merencanakannya, Remon angkat dua jempol untuknya.
Ya benar kata Remon, ini semua demi membongkar kedok manusia iblis itu.
__ADS_1