
POV Daren.**
Bersama Mama kami sudah berada di kampung, tanah kelahirannya Mama. sangat dingin dan masih Asri. Warga setempat rata-rata adalah petani kopi dan rempah-rempah lainnya.
Terakhir yang menempati rumah kakek dan nenek ini adalah Adik perempuan Mama, tapi sudah meninggal tanpa seorang anak.
Mama hanya bersaudara, kakek masih meninggalkan harta warisan berupa 1 hektar sawah yang di kelolah oleh sepupu Mama, dan 3 hektar kebun Kopi serta rumah yang besar. tidak mewah tapi sangat nyaman.
Listrik sudah masuk ke daerah ini, akan tetapi sinyal komunikasi masih agak susah. untuk jalan nya sudah Bagus. akan tetapi medis disini masih sangat minim, biasanya para warga hanya berobat tradisional dan jika memang sudah parah baru ke ibukota kecamatan.
Di rumah peninggalan almarhum kakek ini, saya ingin membuka praktek. dan setelah mengatakan Niat ku kepada kepala desanya.
Niat untuk membuka praktek dokter disambut dengan sukacita oleh kepala desa dan perangkat Nya. hanya butuh satu hari sudah mendapatkan ijin dari pak camat.
Bahkan pak camat sendiri membantu ku untuk mendapatkan alat-alat kesehatan dan keperluan lainnya.
Stok obat-obatan dan juga ranjang tempat tidur untuk memeriksa keadaan pasien. sungguh sangat mengagumkan.
Praktek Dokter sudah resmi buka, peralatan dan stok obat-obatan sudah tersedia. Mama yang sudah mulai bisa beraktivitas mencoba menanam sayur di samping rumah.
"Nak... apa benar istrimu mintak cerai?" Mama bertanya di saat kami baru selesai makan malam.
"pernikahan kami hanya sebatas perjanjian, dan itu sudah berakhir yang artinya harus bercerai ma." mendengar jawabanku Mama langsung terdiam.
"iya sudahlah Nak, semoga kamu cepat dapat istri lagi ya."
"Amin..."
Ku Amin kan harapan Mama, untuk saat ini belum bisa memikirkan wanita lain. karena di hati ini masih masih ada Cantika. istriku diatas perjanjian yang sudah berakhir. entah sampai kapan Cantika menempati hati ini.
Saat Pergi dari rumah Nya, jujur aku berharap Cantika memanggil namaKu. dan tentunya aku tidak akan melepaskan Nya. tapi saat aku pergi, jangankan memanggil namaKu. menolehku pun tidak.
tok....tok... tok.... " Dokter.... Dokter....
__ADS_1
Teriak seseorang dari pintu rumah, dan segera ku buka. seorang ibu yang menggendong anaknya laki-laki berumur sekitar 8 tahun, yang di temani seorang gadis.
Betis anak laki-laki tersebut tertancap besi yang berkarat. dengan pelan saya menyuruh ibu itu untuk membaringkan tubuh anak kecil itu di ranjang.
"Dokter, tadi anakku ini nangkap ayam dibelakang rumah dan terjatuh. dan besi itu menusuk betisnya, Dokter. tolong anakku Dokter." Pinta ibu itu sembari menangis.
"ibu tenang, biar saya, bisa menangani anak ibu ini, harap tenang biar saya bisa bekerja."
Akhirnya ibu berhenti menangis, untuk mengurangi rasa sakit anak itu. melalui pahanya ku suntikan bius lokal.
Tensi darahnya sudah turun, itu dikarenakan banyak darah yang keluar dari betis yang tertusuk itu. kemudian cek golongan darah.
"anak ibu butuh transfusi darah, Bapaknya mana? atau kakak, Abang nya pun jadi" ujar Ku kepada mereka.
"Aku Kakaknya Dokter, silahkan ambil darah ku. jangan Mama ya, karena mama takut liat jarum suntik itu." jawab anak gadis itu.
Darah anak gadis itu kucek dan ku tanya umurnya, 24 tahun katanya. dan itu sudah cocok menjadi pendonor darah. yang kebetulan golongan darahnya sama dengan adiknya.
Besi itu tidak terlalu dalam menusuk betisnya, tapi darah yang keluar sangat banyak. setelah memastikan tidak sisa yang tertinggal, area luka ku bersihkan. kemudian menjahit lukanya. lalu kasih perban untuk menutupi luka tersebut.
Akhirnya selesai Juga, Perlahan wajah anak itu kembali normal dan tidak pucat lagi. pengaruh bius mulai berkurang, bocah tersebut mulai merasakan sakit pada betis nya.
"sakit doktel..." ucapnya dengan cadelnya.
"sabar ya dek, biar dokter kasih obatnya biar ngak sakit ya."
Berusaha membujuknya untuk tidak menangis, Melalui rangkaian infus. ku suntikan obat penenang agar anak itu tertidur setidaknya untuk mengurangi rasa sakit pada betisnya.
"Bu, tunggu habis dulu darah dan Infus baru di bawa pulang."
"berapa lama itu baru habis Dokter?" tanyanya kepadaKu.
"kalau darah setengah jam lagi, tapi infusnya mungkin satu jam lebih baru habis Bu. oh ya belum sempat kenalan. nama saya ...
__ADS_1
"Dokter Daren kan? saya Ningsih dan Mama Ku, namanya Saodah. Dokter ganteng banget, sampai besok pagi ngak apa-apa nungguin adek Disini." ujarnya gadis yang bernama Ningsih itu dengan pecicilan.
"jaga sopan santun kak, Dokter maafkan Putri ku ya." ujar Saodah dan meminta maaf atas kelakuan anaknya yang centil.
"ngak apa-apa Bu. nama adik ini siapa Bu?" aku bertanya untuk mencatat rekam medisnya.
"namanya Dafa Firmansyah Dokter, Dokter. terimakasih ya atas bantuannya."
"sama-sama ibu." jawabku kepadanya.
Mama datang sembari membawa teh panas dan ubi rebus untuk wali pasien pertamaku ini, Mama menyajikan nya sambil tersenyum.
"kenalkan Bu, nama saya Ida. Mamanya Daren anakku ini." ujar Mama sambil perkenalan dengan ibu Saodah.
Mama dan Bu Saodah terlihat asyik ngobrol, dan Ningsih kakak dari pasien terus menerus menatapku.
Tanpa terasa, darah dan Infus nya sudah habis dan satu persatu ku copot peralatan medis tersebut. ibu Saodah terlihat ngilu saat melihat ku mencabut jarum suntik infus tersebut.
"baik Bu, Dafa nya sudah bisa dibawa pulang. dan ini obat Nya sekali minum untuk besok pagi setelah makan ya. besok biar saya yang ke rumah ibu untuk mengganti perban nya sekaligus meracik obat untuk Dafa."
Ibu Saodah menerima obat Nya, dan membayar jasa sebesar 300 ribu Rupiah. ibu Saodah terlihat ikhlas saat memberiNya.
Ketika mereka mau pulang, tapi Ningsih masih tetap ingin berada di rumah ini. setelah di paksa Mama nya baru dia nurut.
Memang cantik, tapi Centil. Cantika jauh lebih cantik dariNya. ya ampun... kenapa tiba-tiba aku mengingat Cantika ya.
Malam semakin larut dan semakin dingin, dan aku kembali ke peraduanku untuk beristirahat. disela-sela kebahagiaan karena berhasil menangani Pasien pertama, lagi-lagi wajah Cantika terbayang-bayang di benakku.*
Pagi hari yang dingin, Mama membangunkan Aku dari tidurku. biasanya Aku langsung mandi tapi disini tidak mungkin karena sangat dingin.
Hanya cuci muka dan gosok Gigi, setelah itu menemui Mama di meja makan untuk sarapan. menu nya sederhana tapi pagi yang dingin membuat menu sederhana itu menjadi sangat nikmat.
Selesai sarapan, Mama menyajikan kopi panas untukku dan itu sangat cocok untuk di minum di lagi hari yang dingin ini.
__ADS_1