DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Liburan Bersama Mas Daren.


__ADS_3

Sangat lelah tapi nikmat, mas Daren yang bercucuran keringat terbaring di siku. setelah beberapa saat kami berdua menuju kamar mandi.


"sayang, masih mau lagi." tanya mas Daren dengan genitnya.


"tar malam aja, mas. ajak neng jalan-jalan Napa mas?"


Mas Daren hanya tersenyum mendengar jawaban dariKu.


"baiklah, mas juga sudah puas. dekat kebun Agus ada air terjunnya, mau mas ajak kesana?" ujar mas Daren.


Hanya mengganguk sambil tersenyum, kami akhirnya putuskan untuk melihat kebun Agus sekaligus mau ke air terjun.


Menelusuri area pemukiman warga, hingga akhirnya menelusuri jalan yang sudah diaspal lebar nya sekitar 2 meter kurang lebih. kiri kanan di penuhi dengan sawah, tanaman padinya sudah mulai menguning.


Hamparan sawah yang luas seperti lautan emas yang sangat memanjakan mata ini. para warga yang bekerja di sawah tersebut menyapa kami dengan begitu ramahnya.


Akhirnya kami sampai di pondok kebun Agus, mertuaku bersama kedua orang tua Agus serta Agus sedang beristirahat.


"Neng.... mau Kopi? kopi kami sangat nikmat." tanya Mama nya Agus.


"mau Bu." jawabku.


Aroma kopinya sangat enak, apalagi di tambah dengan ubi jalar rebus. hamparan sawah yang luas, angin sepoi-sepoi yang membuat mata, hati dan pikiran menjadi lebih tenang.


"Neng, sawah ini dan kebun Kopi serta kebun sayur itu adalah milik Kakeknya Nak Daren. selama ini hanya keluarga kami yang mengelolanya. karena kami tidak punya lahan, dulu ada tapi di jual untuk membayar biaya rumah sakit bapak mertua." ucapnya dengan nada yang rendah.


"Bude, jika seandainya lahan ini kami jual. bude mau beli?" tanya mas Daren tiba-tiba.


"mau... " jawab Bapak dan Mamanya Agus serentak.


Kami langsung menoleh ke arah suami Istri itu, termasuk Agus yang duduk di samping mas Daren.

__ADS_1


"begini Nak Dokter. Pak deh punya ternak ayam, sapi dan kambing. hasil penjualannya selama pak tabung. Almarhum kakek mu hanya punya dua orang Putri, yang satu sudah Almarhumah dan tinggal mama kamu ini.


Setelah uang dari penjualan ternak merasa cukup, pak deh ingin menghubungi Mama mu, untuk menanyakan perihal kebun dan sawah ini. dan rencana ingin pak Deh hadiah kan ke Agus, yang selama ini sudah membantu adik-adiknya untuk sekolah. jadi kebun dan sawah kelak untuk menyambung hidupnya" ujar Bapaknya Agus


Perkataan yang lembut tapi tega, mengingat Ku kepada almarhum Papa. yang selalu mengedepankan masa depan anaknya kelak nanti.


"saya setuju, Nak Daren, Neng... gimana kalian berdua setuju ngak?" tanya ibu mertuaku.


"setuju Mah...." jawab mas Daren.


Mereka semua menolehku, karena belum memberi jawaban. apa agak merasa aneh, kan warisan dari almarhum Kakek mas Daren. tapi kenapa mereka mintak persetujuan Ku?


"kak... menurut adat istiadat disini, jika suami ingin menjual kebun atau apapun itu harus persetujuan istri. terlepas dari mana asal benda yang mau di jual tersebut." jelas Agus yang tiba-tiba memanggilku kakak.


"oh begitu, setuju... tapi dengan tiga syarat." jawabku dan mereka begitu serius melihat Ku.


"syarat apa Neng?" tanya ibu mertuaku dengan penasaran.


Tyas dan Remon akan tinggal di rumah Remon atas permintaan ibu mertua adikku itu. jadi Neng ingin ibu tinggal bersama kami, biar kami berdua bisa berbakti kepada ibu.


Jika ibu bertanam sayur atau tanaman lain, bisa Bu. di belakang rumah masih ada tanah kosong yang cocok untuk bertanam. dan syarat kedua, rumah almarhum kakek jangan di jual ya. jika kita kelak mau jalan-jalan ke mari masih ada rumah yang bisa kita tempati, lagian itu rumah peninggalan. banyak kenangan dan sejarah dalam rumah itu.


Syarat ke tiga, Neng mau mintak tolong kepada Agus untuk merawat rumah peninggalan almarhum kakek mas Daren setelah kami kembali ke Jakarta nanti."


"Setuju." jawab mereka serantak, kecuali ibu mertuaku.


Mas Daren langsung memegang tangan ibu mertuaku, karena mungkin syarat pertama mungkin agak berat baginya.


"kenapa Ma? Kami berdua hanya ingin bersama Mama, lagian nanti Mama akan sendirian tinggal di rumah. siapa nanti yang nengok in Mama." ujar mas Daren membujuk ibu mertuaku.


"rumah ibu tidak akan di jual kok, ibu bebas ke sana kapan pun. asal ibu lebih menghabiskan waktu bersama kami berdua Bu."

__ADS_1


Ibu mertuaku langsung tersenyum, Aku tahu rumah itu begitu banyak kenangan disana bersama almarhum ayah mertuaku.


"iya, ibu setuju." ujar ibu mertuaku.


Ibu mertuaku langsung ku peluk, dan berikut kami berdua di peluk oleh mas Daren. Terlihat Agus tersenyum dengan mata yang berbinar-binar.


"baiklah kalau begitu, untuk masalah rumah dan kebun sayur bude biar Agus yang melanjutkan nya sembari membersihkan dan merawat rumah." ucap Agus.


Kami semua hanya tersenyum satu sama lainnya. dan setelah itu Aku dan mas Daren melanjutkan perjalanan menuju air terjun.


Hanya berjalan kaki sekitar sepuluh menit, kami berdua akhirnya sampai di air terjun tersebut. sangat menakjubkan, begitu seger di area air terjun ini. bersandar dada bidang mas Daren, dengan bersandar di batu besar ini kami memandangi air terjun yang indah itu.


"mas tahu ngak, tadi pagi di warung. si Ningsih berkata ingin menjadi istri kedua mas, dan langsung neng labrak. dan ternyata ibu-ibu lain mendukung neng loh."


"uhmm, terus kenapa?" jawab mas Daren sambil membelai rambut ku.


"mas... neng ngak mau ya di madu."


"mas ngak kepikiran sampai ke situ, mas berada disini hanya untuk pelarian saja sambil berlibur. jika seandainya neng ngak datang, mas akan kembali ke Jakarta untuk membujuk neng balik ke mas lagi. itu karena mas sangat mencintaimu kamu Neng. dari awal melihat Neng tidak ada niat bagiku untuk berselingkuh.


Jika neng masih meragukan mas, tidak ada salahnya kita buat perjanjian yang baru. apapun yang tertulis di perjanjian tersebut, asal jangan memisahkan mas dengan Neng. pasti akan setuju dan mas tandatangani."


Ujar mas Daren dengan jelas dan tegas untuk meyakinkan diriku ini. jujur memang aku sangat mempercayai mas Daren.


Pemandangan ini yang mempesona ini, dan bersama mas Daren Suamiku yang tampan membuat gairahku tiba-tiba bangkit.


Dada bidangnya aku elus, dan berakhir ke bawah menuju batang milik Suamiku yang tampan dan mempesona. tapi tanganku langsung di pegang mas Daren.


"Nanti aja di rumah ya sayang, kita berada di hutan dan kita tidak tahu apa yang menjadi penghuni area ini." kata mas Daren sambil mencium keningku.


Aku paham maksud Nya, dan memang benar adanya. harus menghormati tempat orang lain dimana pun berada.

__ADS_1


__ADS_2