DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Seperti Sang Idola.


__ADS_3

POV Daren.***


Sudah tiga hari sejak menerima pasien pertama, dan sampai saat ini sudah ada 6 orang pasien yang berobat kepadaKu dan dua orang Pasien yang berpura-pura sakit.


Di hatiku ini masih menyimpan nama Cantika, walaupun sampai sekarang belum mendapatkan kabar apapun darinya. apakah Cantika sudah menggugat ku di pengadilan atau tidak, belum ada kabar Apapun.


Karena merasa bosan, saya mencoba untuk pergi ke kebun kopi milik Sepupu Mama, atau tanteku. jalan kebun tersebut harus melewati area pemukiman warga.


"pak Dokter singgah sini." ujar seorang anak muda yang lagi nongkrong di salah warung.


Anak muda tersebut ku dekati, dan ternyata warung itu adalah milik Ningsih. kakak pasien pertama ku.


"Dokter ganteng, silahkan duduk" ucap Ningsih yang keluar dari warungnya sambil menarik tanganku.


Setelah Duduk, Ningsih langsung membawa menyajikan kopi serta goreng pisang. dia menyajikan nya seraya tersenyum.


"Ningsih... Ningsih, liat yang ganteng langsung kecentilan aja." ujar anak muda itu.


"cerewet amat sih, bukan urusanmu tau." jawab Ningsih dengan sewot.


"Dokter, sepupu ini memang sangat centil. maaf ya telah membuat Dokter tidak nyaman, oh ya kenalin nama saya Agus. sepupu nya Ningsih, rumahku yang di depan itu."


Agus memperkenalkan dirinya dengan sangat ramah, dan berkata kalau Agus yang mengelola sawah peninggalan almarhum kakek.


"Dokter..... " ujar beberapa anak gadis lainnya yang berjumlah 5 orang dan mereka masih terlihat muda, ya mungkin masih anak SMA lah.


Kelima gadis itu langsung mampir di warung ini, mereka semua terlihat centil dan hal itu membuat Ningsih menjadi geram.


"eh cabe-cabean, kalau ngak beli ngak usah datang kemari." kata Ningsih yang sewot.


"ih.... kepoh Deh... " ujar salah Gadis yang bernama Maya.


"sekarang baru jam 10 loh, emangnya ngak pada sekolah?" tanyaku Kepada mereka.


"sudah libur Dokter ganteng, oh ya. Dokter belum menikah kan?" tanya Maya dengan sangat penasaran.


"saya sudah menikah, Istriku lagi Kuliah untuk mengambil Dokter Speaslis kandungan."

__ADS_1


Saya sengaja berbohong kepada mereka, agar tidak mengejar-ngejar Ku. karena tidak enak juga dengan warga lainnya.


"bohong..... bilang aja biar kami tidak menggangu Dokter kan?" ujar gadis yang bernama Nina.


"saya serius, buat apa bohong."


Mencoba untuk meyakinkan mereka, karena tidak mau memberi harapan palsu. memang mereka masih remaja, tapi seumuran mereka adalah masa pubertas yang tidak mengenal batasan.


"pak Dokter, Ningsih mau kok jadi istri kedua. ayok lamar Ningsih pak Dokter." kata Ningsih yang secara tiba-tiba berada di dekatku.


"pak Dokter, mau lihat sawah yang aku kelola? yuk kita jalan...." ajak Agus sambil berdiri.


Syukurlah ada penyelamat, dan ajakan Agus langsung kuterima. karena memang itu tujuanku. selama ini saya tidak pernah melihat sawah, jadi tidak ada salahnya untuk ke sawah sekedar jalan-jalan.


"maaf ya pak Dokter, gara-gara saya mintak singgah pak Dokter jadi tidak nyaman." ucap Agus yang merasa bersalah.


"ngak apa-apa, lagian memang ingin jalan-jalan aja. terakhir kali kemari waktu kelas 5 SD lah. jadi ingin jalan-jalan karena sudah banyak berubah, jadi lebih segar melihat semuanya."


Agus hanya tersenyum menanggapi perkataan ku sambil menunjukkan jalan ke arah jalan sawah.


"wajar sih pak Dokter dikagumi gadis-gadis desa ini, pak Dokter ganteng. seperti pemain-pemain film yang di televisi itu." katanya memujiku.


"ngak pak Dokter, kami sekeluarga yang mengolah tanahnya untuk biaya Adek-adek yang lagi sekolah." jelasnya dengan suara pelan.


Akhirnya kami sampai di sawah, sangat luas dan padinya sudah mulai menguning. mengagumkan sekali, terlihat seperti hamparan emas yang luas. di Jakarta pemandangan seperti sangat sulit untuk di temukan.***


Saya kembali ke rumah karena dijemput oleh seorang warga yang mengunakan sepeda motor, ada Pasien yang terluka saat berburu.


Betis pasien sobek, dan beruntung Nya langsung di obati menggunakan daun yang di biasa digunakan warga untuk mengobati luka.


Efek dari dari daun itu sangat luar biasa, darah langsung berhenti mengalir dan lukanya terlihat mengering.


Sekitar luka ku bersihkan, dan langsung ku jahit. setelah itu pasien ku Infus untuk memberinya nutrisi yang baru. serta menyuntik ke tubuhnya anti tetanus.


Setelah ku jahit, daun yang dibawanya ku remas hingga mengeluarkan getah Nya dan ku tempel disekitar luka dan kemudian ku perban.


Setelah satu jam, infus sudah habis dan langsung ku copot agar darah tidak naik ke infus. perban kakinya ku buka, sangat ajaib bagiKu. bekas jahitan itu sudah seperti mengering.

__ADS_1


Kemudian sekitar bekas jahitan itu ku bersihkan lagi menggunakan alkohol murni dan campuran air steril media, dan kemudian menempelkan daun yang sudah di remas. dan menutupi luka dengan perban.


Resep obat yang kuberikan hanya vitamin, dan besok pagi akan ku lihat perkembangan Nya.


Pasien sudah pulang, tapi aku penasaran dengan daun yang dibawanya yang bisa membuat luka cepat kering.


Menurut warga sekitar, nama daun itu adalah daun bintang. Aroma nya sangat khas seperti aroma daun pandan tapi lebih menyengat. lebar daunnya seper daun cabai.


Beberapa daun ku ambil dan ku rendam menggunakan air steril. saya ingin menyelidiki kandungan dari daun itu


"pak Dokter.... pak Dokter....." suara para gadis itu memanggil Ku.


Maya, Nita, Lisa dan Mega. dan terakhir Ningsih nyusul. mereka datang ke rumah dengan membawa banyak makan dan minuman.


Supaya tidak menjadi omongan warga, Mama saya mintak untuk menemani kami ngobrol di teras rumah ini.


"pak Dokter, entah kenapa ya. setiap Maya melihat Dokter jantung ku berdebar kencang. apakah ini namanya jatuh cinta?" ujar Maya yang mencoba merayu ku.


"huuu...... ' teriak yang lainnya.


"Dokter harus memilih diantara kami berlima, wajib." kata Maya dengan raut wajah yang berharap.


"pastinya pak Dokter memilih Ningsih dong, karena saya paling matang. Dokter..... Ningsih sudah siap di petik, silahkan pak Dokter." ucap Ningsih.


"huuu.... mangga kali di petik, dasar ganjen." ucap Maya ke Ningsih.


Mereka semakin menjadi-jadi, dan Mama yang duduk di pojok akhirnya mendekati kami, dengan bertolak pinggang Mama menatap kami dengan tatapan marah.


"anak gadis, sudah mau magrib, sana pulang. pamali anak gadis mendatangi rumah laki-laki." ujar Mama dengan tegas.


"ibu ini lah, kayak Nenek Ku. dikit-dikit pamali" kata Maya yang terlihat kesal.


"sama orang tua melawan ya, sana pulang." Mama berkata demikian yang terlihat mulai kesal.


"siap calon ibu mertuaku." ujar Ningsih sambil berlalu.


Akhirnya mereka pulang juga, dan Mama menatapku dengan tatapan mata yang kesal dan masih bertolak pinggang.

__ADS_1


"Daren. kalau mereka yang datang biar Mama yang meladeni. kalau pasien yang datang baru Daren yang meladeni." ujar Mama sambil meraih tanganku masuk kedalam rumah.


Dikampung halaman Mama ku ini, saya seperti Idola baru. begini rasanya punya fans cewek-cewek cantik ya.


__ADS_2