
Para pemegang saham sudah pulang, begitu juga dengan Farel anak Om Imran. saya juga bingung sejak kapan Farel menjadi pemegang saham.
Para wartawan sudah mengerumuni Daren, dan dengan sigap Remon dan Dadang mengatur para wartawan agar tertib. dan akhirnya para wartawan sudah duduk di tempat duduk para saham.
Bersama Daren, kami semua duduk sejajar di hadapan para wartawan. kecuali Dadang dan Remon yang sibuk dengan laptopnya masing-masing.
Daren kemudian mengambil laptopnya dan menyambungkan ke proyektor dan akhirnya tampilan layar monitornya sudah terpancar di layar putih itu.
"baiklah, setelah ditetapkan sebagai direktur rumah sakit dan ini adalah perdana saya melakukan konferensi pers ini, pertanyaan silahkan bapak-ibu." ujar Daren dengan tegas.
Seketika ada wartawan perempuan yang langsung berdiri sambil mengangkat tangan kanannya.
"berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, bahwa perdagangan organ tubuh manusia ini. dilaporkan oleh anda sendiri, apa yang mendorong Dokter untuk melaporkan hal ini?" tanya wartawan perempuan itu dan masih tetap berdiri.
"keadilan, karena saya pribadi sangat menginginkan keadilan untuk Almarhum Papaku yang organ tubuhnya di jual oleh oknum dari rumah sakit ini." jelas Daren sambil menyeka Air mata nya.
"itu berarti Dokter sengaja masuk ke rumah sakit ini? untuk mencari informasi yang dokter inginkan. dan saya juga mendapatkan laporan dari sumber lainnya, bahwa dirumah sakit sering terjadi mall praktek. karena kurangnya keahlian para Dokter, dan itu artinya ada sogok menyogok untuk menjadi Dokter. apa pernyataan saya benar Dokter?" wartawan perempuan itu bertanya lagi dan masih berdiri.
"saya memang berusaha masuk ke rumah sakit ini, mbak harus tahu kalau saya adalah lulusan terbaik dari kampus negeri. saya masuk ke sini tanpa sogokan, kenapa? yang pertama, Karena saya yakin dengan kemampuanKu sendiri. dan yang kedua saya tidak punya orang dalam disini.
Bapak-ibu para awak media, dulunya rumah sakit ini sangat transparan dan menjadi salah satu rumah sakit terbaik di kota ini di bawah pimpinan seorang Dokter yang menjadi sahabat baik dari pendiri rumah sakit.
proses perekrutan Dokter, tenaga medis lainnya. sangat-sangat berat, proses seleksi yang ketat dan saingan yang banyak. saya adalah satu pemenang dari persaingan ketat itu dan saya masuk ke sini murni karena kemampuan Ku.
Mengenai para Dokter yang mbak sebut melakukan mall praktek, itu benar apa adanya. bapak-ibu para awak media berikut saya tampilkan di layar, nama-nama dokter yang sering melakukan mall praktek di rumah sakit ini."
Ujar Daren, dan para awak media langsung melihat arah monitor. sangat luar biasa ada 30 dokter spesialis di bidangNya masing-masing. dan serentak para awak media sibuk mencatat dan juga memvideokan layar tersebut.
__ADS_1
"para awak media, saya mohon bantuannya. 10 dokter yang ada dalam daftar itu sudah berhasil kabur berkat bantuan salah satu pemegang saham rumah sakit ini, yang bernama Farel. Sudi kiranya para awak media mengekspos semua hal ini." ujar Daren dengan begitu semangatnya.
"Dokter Daren, apa benar rumah sakit menerima suap untuk menjadi dokter Disini?" tanya wartawan perempuan itu lagi.
Daren tidak menjawab pertanyaan dari wartawan itu, dan wartawan itu terlihat tetap kekeh ini bertanya lagi.
"Dokter Daren, saya mendapat informasi dari rekan saya. bahwa dokter menolak di interogasi oleh salah satu Polisi saat di kantor polisi, tolong berikan pernyataan Dokter." tanya wartawan itu lagi.
"mbak kira jual beli organ tubuh manusia itu gampang? tidak mbak, butuh kerja sama banyak pihak. dan itu adalah para awak media untuk mencari tahu informasi Nya, itupun jika para awak media yang ada di ruangan ini tidak menjadi bagian dari mereka." ujar Daren dengan raut wajah tenangnya.
Seketika para awak media terdiam akan pernyataan Daren, dan salah satu wartawan laki-laki berdiri dengan mimik wajah serius.
"Dokter, kami para awak media sudah bersumpah akan netral tanpa adanya embel-embel lainnya." kata para wartawan laki-laki itu.
"Anda berkata sumpah?, bagaimana petinggi para pejabat yang sudah menerima gaji besar tapi masih terlibat dengan bisnis kotor, bahkan ada awak media yang sengaja memutar balikkan fakta. Anda ingat dengan peristiwa truk pengangkut obat dari Cantika farmasi? Chanel anda yang memberitakannya, anda mau menyangkalnya kalau berkata itu sesuai dengan kejadian? Chanel anda juga yang berusaha menutupi semua peristiwa yang terjadi sekarang." Suara Daren terdengar bergetar.
"Dokter, saya tahu kalau Dokter kecewa dengan Chanel kami. tapi asal dokter tahu, ada korban wartawan senior kami saat memberitakan yang sebenarnya." ungkap wartawan laki-laki itu.
Daren langsung pergi dari ruangan ini dengan raut wajahnya yang terlihat sedih, dan para wartawan mengerumuni kami yang tertinggal di ruangan ini.
Berkat bantuan pengawal kami bisa berlalu dari kerumunan para wartawan. dan kami berhasil tanpa kejaran para wartawan.
Akhirnya kami sampai di ruangan ku, dan salah satu anggota Gopas datang membawa berkas dan diberikannya kepada Gopas
"pak Gopas, kantor Anda dan tim berada di sebelah bangunan ini. dan Tyas akan menjelaskan selanjutnya."
"sebaiknya ibu dan Tyas pulang untuk istirahat. sisanya biar kami bertiga yang urus." pinta Gopas kepadaKu.
__ADS_1
Bersama pengawal kami akhirnya pulang, dan melalui perantara pengawal untuk menyuruh Daren segera menyusul kami pulang ke rumah.
Sesampai di kamar, langsung mandi dan Kembali berpakaian. setelah beberapa saat Daren Suamiku sudah tiba dengan barang bawaan yang lumayan banyak dan langsung ke kamar mandi.
Berapa saat kemudian Daren muncul dari kamar mandi, dan sudah berpakaian. dia menghampiriku yang duduk di kursi rias ini.
"jika ada yang mau Bu bos pertanyaan silahkan?" ujarnya sambil menatapku.
Plak....
Lagi-lagi tamparan Ku melayang ke pipinya, ntah kenapa setiap tindakannya membuat emosi.
Tapi pria yang dihadapan ku ini hanya terdiam dengan kepala yang tertunduk, kemudian menatapku lagi dengan tatapan sendunya.
"Bu bos, Aku sudah lulus ujian Dokter Speaslis dan sudah bisa praktek. bagaimana kalau Bu bos, Ku traktir makan Malam." ucapnya dengan mata yang berbinar-binar.
"kamu pikir, kamu itu sudah hebat? dan jangan berharap kamu bisa mengajak Ku makan malam dengan kekacauan yang telah kamu perbuat."
Ucapan Ku langsung membuatNya terdiam, dan kemudian dia menolehku lagi dengan raut wajah yang Kecewa.
"Bu bos, ada lagi yang disampaikan?" Daren bertanya lagi.
Pertanyaan Daren tidak kujawab, dan Aku langsung beranjak ke kasur. sementara Daren beranjak ke arah ranjangnya dan kemudian meraih barang bawaannya dan berlalu ke balkon.
Di balkon itu dia membuka barang bawaannya, ternyata barang bawaannya berisi kotak nasi dan beberapa roti serta minuman. nasi kotaknya dibukanya dan kemudian dimakan olehnya.
Apakah aku terlalu Kejam?
__ADS_1
Aku ingin melindunginya, saya tidak mau dia bertindak seenaknya.