
"ya... Anda benar, istriku bisa hidup kembali karena donor ginjal itu, dan semua dilakukan di rumah sakit Anda. dan itu semua adalah bantuan om kamu." jelasnya lagi.
"korban yang lain gimana?" seketika pria itu terdiam.
"saya tidak tahu alasannya apa, yang jelas semua atas perintah." ujarnya sambil melihat Ku.
"sampai kapan anda akan menahan saya seperti ini?" tanya pria itu dengan sinis nya.
"sampai Aku dapatkan yang Ku inginkan." pria itu terdiam lagi.
Bang, jago, Arif dan Irfan terdiam. dan bang Irfan melangkah ke arah pria biadab itu, wajah bang Irfan begitu sendu dan matanya berkaca-kaca.
"apa yang lakukan kepada supir truk pengangkut hasil bahan kimia?" tanya bang Irfan sambil menyeka air matanya.
"supir truk itu mau menyeleweng, dia mau membawa truk itu ke dinas pemeriksaan obat dan Makanan. sebelum semua terlambat maka kami bunuh."
"haaaaaaaa haaaaaaaa
Mendengar penjelasan pria itu bang Irfan berteriak dan menangis, baru kali Aku melihat preman berbadan tegap dan besar menangis di depanku. tapi bang Irfan masih sanggup menahan emosinya, terlalu banyak luka dan kepedihan Disini.
Sebenarnya saya tidak sanggup mendengar jeritan luka dan kepedihan itu, tapi harus biar semua terang dan terbukti.
"bagaimana dengan Rio? " tanya bang Irfan lagi. dan hal itu membuat berpikir sejenak.
Rio adalah nama Almarhumah Papa Daren, bapak mertuaku. apa ini yang dimaksud Daren saat bertemu dengan kedua perempuan sinting saat dirumah?.
"terlalu banyak kesalahan yang dibuat Nya, pertama istri dari si bos menyukai Nya dan mengajaknya selingkuh, tapi pria itu adalah tipe pria sejati akan cintanya, sehingga menolak permintaan biadab dari istriku si bos, dan Pria itu terlalu pintar dan mempunyai segudang bukti akan kejahatan yang telah kami lakukan." ujarnya dengan wajah yang tertunduk.
Ya Tuhan..... segitu bejatnya Tante Dewi, apa dia kekurangan Pria? mulai bapak mertua, sampai Suamiku sendiri mau di embat nya juga. benar-benar gila itu perempuan.
Bang Irfan langsung terduduk lemas, dan dibantu bang Jago untuk berdiri. bang Irfan menatap wajahku dengan air matanya yang mengalir.
"Bu bos, ini semua terlalu pahit dan pedih." ujarnya sambil berlutut dihadapan Ku.
"Bu bos, saya mohon tolong pastikan pria ini dan sekutunya untuk di musnah dari dunia ini."
Bang Irfan memohon kepadaKu, sambil menyeka air mataku sendiri. Ku bantu bang Irfan untuk berdiri. karena beliau tidak pantas bersujud dihadapan Ku.
__ADS_1
Saya memang punya uang yang banyak, tapi Kuasa sepenuhnya ada di tangan Pencipta Alam Semesta ini. Ku tatap wajah bang Irfan yang penuh dengan kepedihan itu.
"bang Irfan. kita harus sama-sama menyelesaikan semua ini, sudah terlalu banyak kisah pilu yang mereka ciptakan. bersama kita buat mereka membayarnya dengan sepantasnya."
Perkataan Ku ditanggapi dengan ketegaran hati, walaupun terluka beliau masih sanggup untuk tersenyum.
Senyuman rakyat jelata yang mengharapkan keadilan akan atas semua ketidakadilan yang mereka dapatkan.*****
Karena tidak sanggup lagi mendengar kenyataan dari pria biadab itu, Ku putuskan untuk pulang ke rumah. hanya bisa merenungi apa yang telah terjadi.
Tok... tok....
"Neng.... ada tamu bersama Neng Tyas." ujar Mpok Sri dari luar pintu kamar.
"iya Mpok, neng segera turun." setelah mengatakan demikian Mpok Sri terdengar menuruni anak tangga.
Ternyata yang datang adalah Tyas bersama Gopas dan Remon. Tapi bocil itu makan ice cream sambil menenteng laptop barunya yang di beri oleh Daren Suamiku.
"laptop lama kamu kemana?" Remon langsung mengeluarkan laptop lamanya dari tas punggung yang di pakainya.
"ini kak, jadi Remon memakai dua laptop sekaligus untuk jaga-jaga. tapi kan kak, ada satu orang yang sudah janji tapi ingkar janji. memang benar-benar payah orang itu kak." ungkapnya dan Aku tahu siapa orang yang dimaksud.
Tok...tok... tok....
"masuk Mpok." Mpok Sri dan satu ajudan perempuan yang datang ke ruangan kami dengan membawa bungkusan persegi panjang dan ajudan perempuan itu membawa minuman serta cemilan.
"Mpok cuman mau nganterin ini, mungkin mas Gopas nya kelupaan." ujarnya Sambil menyerahkan bungkusan itu ke Gopas.
Mpok Sri dan pengawal itu pergi setelah menyajikan minuman dan snake. dan langsung di sambar oleh Remon.
"asyik makan aja kerja kau." ucap Gopas sambil mengambil snack dari tangan Remon.
"Remon selamat ulang tahun, sehat selalu dan panjang umur. ini hadiah dari Abang seperti yang Remon inginkan." ucapan dari Gopas disambut oleh Remon dengan senyuman dan memeluk Gopas.
Kado tersebut langsung di bukanya, isinya adalah gitar listrik dan beberapa baju kemeja dan satu pasang sepatu Kets dan satu pasang lagi sepatu pentopel.
"bang Gopas memang yang terbaik, semuanya pas buat Remon." ungkapnya dengan penuh kegirangan.
__ADS_1
"sepatu Kets dari Neng Tyas." ungkapnya tapi sambil menutup mulutnya.
Mungkin keceplosan, iya benar. Tyas adikku langsung pura-pura membuka beberapa dokumen dan menyerahkan kepada kami masing-masing. tujuannya adalah untuk mengalihkan pembicaraan.
Remon langsung konsentrasi ke berkas yang diberikan oleh Tyas dan menyingkirkan hadiah-hadiah yang di peroleh nya.
"kak.... Remon tidak sanggup mendengar rekaman suara itu, kakak dengarkan saja." Remon berkata demikian lalu menutup kupingnya dengan earphone di kedua telinganya. sambil membaca berkas yang didepannya.
Earphone yang dipakainya ku buka, dan kupegang pundaknya serta kutatap kedua bola matanya.
"Remon. ntar malam saja kakak dengar rekaman itu, kita bahas dulu yang lain. kakak tahu apa kamu rasakan, orang tua kakak juga menjadi korbannya." mendengar perkataan Ku Remon langsung menyeka Air mata nya dan terlihat berusaha untuk tegar.
"baik, kita tidak waktu untuk bersedih saat ini. Istri dan putrinya Imran sudah di panggil kepolisian atas desakan Netizen. tapi dengan kekuasaannya sampai sekarang mereka belum menghadap ke kantor polisi, demikian juga dengan Imran." ungkap Gopas dengan sedikit lesu.
"tenang aja bang, acara reality kehidupan tadi malam sudah mendesak kepolisian dan pihak berwenang lainnya. lihat dong tagar di Twitter ini bang." jelas Remon sambil memberikan laptop lamanya.
"maksudnya gimana?" tanya Gopas.
"gini bang, dengan pancingan di reality kehidupan itu, ada beberapa warga lain yang mengirimkan berkas ke stasiun televisi itu. dan dengan kecepatan jari super ini yang sangat lincah dan bantu oleh bang Dokter tagar adili menjadi trending topik.
atas desakan ini, polisi sudah melakukan konferensi pers. silahkan di tonton." dengan sangat percaya diri Remon membuka siaran televisi streaming melalu laptop Nya.
Kami semua terdiam dan fokus menonton siaran streaming itu, dan pihak kepolisian dengan tegas akan segera memproses semua laporan.
Drrt.... drrt..... drrt.....
suara getaran handphone Gopas yang diletakkan di atas meja langsung membuyarkan konsentrasi kami.
Gopas menerima panggilan telepon tersebut, setelah beberapa saat. Gopas melihat kami dengan tersenyum.
"Napa bang, kok nyengir gitu?" tanya Remon dengan ekspresi sewotnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Remon, malah memeluk anak itu dengan sangat kuat sampai terlihat Remon kesakitan.
"lepas bang, sakit tahu. mangnya Remon pria apaan? main peluk aja." ungkapnya dengan kesal tapi Gopas malah tertawa.
"pihak kepolisian sudah dua kali memanggil Imran, tapi manusia iblis itu selalu mengirim pengacaranya dan berdasarkan bukti-bukti yang kita lampirkan dan juga bukti dari stasiun televisi. akhirnya Imran menjadi tersangka." jelasnya kepada kami.
__ADS_1
Wajahnya begitu bersemangat saat mengabarkan hal tersebut, dan tentunya ini masih tahap awal.