DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU

DOKTER TAMPAN ITU MILIKKU
Bisnis Kotor Rumah Sakit Terkuat.


__ADS_3

Rasa kagum masih menyala-nyala melihat tindakan Daren Suamiku ini, baru kali ini aku bertemu dengan pria sejati seperti ini.


"apa yang bisa ku bantu?" tanya Daren dan Remon langsung melotot ke arahnya.


"baku banget bahasanya, bukan gitu Abang.... seperti ini nih ya" apa yang bisa AA bantu sayang." gitu, coba ulangi." perintah Remon kepadanya.


"buruan.... "Remon semakin mendesaknya.


"neng.... apa yang bisa AA bantu?" tanya Daren.


Wajahnya langsung merah, dan itu menghiasi wajah tampannya. Remon terlihat tersenyum puas, dan bersandar di lengan Gopas.


"aaaaa..... AA bawa neng shoping, atau jalan-jalan, ngak usah yang mahal-mahal. makan bakso pentol pun neng dah Bahagia kok, yang penting bersama dengan AA ganteng terus dan lengket kyak perangko............


hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha


Ocehan receh dari Remon, langsung membuat Gopas tertawa lepas sambil memukul-mukul meja dan kemudian menjewer telinga Remon. sebenarnya sangat malu tapi aku usahakan tegas. ekspresi wajah Daren yang terlihat cool sekarang terlihat lebih menggemaskan.


Setelah agak tenang, baru lah berkas dalam map, Ku sodorkan ke hadapannya. dan Daren membuka sarung tangan medisnya dan mulai membaca berkas tersebut.


"apa yang jadi motivasi Mu untuk membongkar kedok busuk rumah sakit?" pertanyaan dariku membuat Daren berhenti membaca.


Seketika itu juga wajahnya berubah menjadi sangat serius, air mata mengalir membasahi pipinya. Remon dengan refleks langsung menyeka air matanya dengan tissue.


"Kedua ginjal, jantung dan paru-paru Papa, sudah hilang ketika pemulung di TPA itu menemukan jasad Papa di dalam koper. perut dan dadanya sudah terbuka tanpa jahitan yang layak. berdasarkan hasil autopsi lanjutkan, hati dan sebagian kulitnya juga hilang. terdapat luka robekan di *****, dan area vitalitas Nya terdapat bekas cairan dari ****** wanita. alat kelamin almarhum Papa, lecek dan itu terjadi karena penetrasi yang dipaksakan." air matanya semakin deras mengalir.


Penjelasan dari Daren sungguh menyayat hati, ingin rasanya memeluknya tapi malah Remon yang berhasil memeluknya.

__ADS_1


"belajar siang dan malam untuk menjadi dokter, dan berusaha keras untuk bisa masuk ke rumah sakit. dan untungnya peraturan yang dulu masih berlaku di rumah sakit dalam hal merekrut karyawan.


Dokter, tenang medis dan karyawan lainnya. dipandang berdasarkan kemampuan dan keahliannya tanpa perlu uang sogokan.


sesuai dengan kata almarhum Papa, kalau pemilik rumah sakit sangat profesional. setelah masuk ke dalam rumah sakit, ternyata berbeda. ada beberapa dokter yang masuk dengan sogokan akhirnya terjadi mall praktek.


jual-beli organ tubuh menjadi bisnis yang menggiurkan, awalnya aku mengira ini ulah dari orang tua Mu.


Sesuai dengan pernyataan rekan-rekan kerjaku sesama Dokter, bahwa aku memanfaatkan rupa yang diberikan Sang Pencipta kepada Ku untuk menggoda Mu. dan itu kulakukan.


Aku sering tebar pesona, untuk menarik perhatianMu, tapi selalu gagal. karena aku belum pernah bertemu dengan Mu. Aku hanya mendengar gosip kalau pemilik rumah sakit memiliki seorang putri yang cantik.


dan ternyata nasib baik berpihak kepadaku, kita di pertemuan di malam kelam itu.


menikah denganMu adalah tujuan utamaku, agar bisa mengakses banyak sistem di rumah sakit. dan itu berhasil, setelah menjadi suami dari CEO, akhirnya langkah itu dipermudah.


berselang beberapa hari, baru aku ketahui kalau kamu dan kedua orang tua Mu juga korban.


kebenaran itu pahit, tapi itu kenyataannya. Jalan yang harus ku tempuh ternyata tidak mudah. begitu banyak batu sandungan dan terjal tebing yang sulit kujalani.


Orang Tua Remon juga adalah korban perdagangan organ tubuh. jika ada menyatakan kalau orang tua Remon terbakar hangus di truk itu, fix itu rekayasa.


Penjelasan Daren langsung membuat Remon mewek, dan kali ini mereka berdua berpelukan dan kemudian dipeluk oleh Gopas.


Lidahku kelu, tidak sanggup lagi rasanya untuk berkata lagi. karena begitu banyak kepedihan dalam jiwaku sehingga menahan air Mataku untuk mengalir.


"setelah mengetahui hal ini semua, bagiamana perasaan Abang terhadap kakak?" tanya Remon dengan tiba-tiba di tengah keheningan kami.

__ADS_1


Itu sebenarnya yang kutanyakan, tetapi terlalu egois jika bertanya demikian disaat keadaan seperti ini, tapi Gopas menutup mulut Remon agar tidak terlalu lancang bertanya mengenai perasaan.


"Remon, itu mengenai hati. tak perlu kau pertanyakan." jelas Gopas kepada Remon.


Agak kecewa dengan tindakan Gopas, tapi terlihat Daren ingin mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Daren mengangkat dagunya kembali dan menatapku kemudian menoleh ke arah Remon.


"Abang juga ngak Tahu Remon, terlalu banyak Luka untuk di obati dan bingung harus memulainya dari mana." ungkap Daren sambil menundukkan kepalanya.


"dari hatimu yang paling dalam bang, Remon tahu kenapa bang Dokter berkata demikian." ungkapnya kepada Daren.


Seketika itu Daren langsung menolehnya, dan Remon menatap Daren dengan air mata bercucuran di pipinya.


"Abang ingat ngak, waktu malam-malam saat hujan itu? handphone Abang ngak aktif. dan besok paginya Abang sudah di tiba rumah lama Abang, dan melihat kondisi rumah Abang yang di jarah orang. Abang bilang tidak ada yang hilang. tapi nyata ada bang, surat perjanjian pranikah ini Remon rampas dari salah satu penjarah rumah Abang." ucap Remon sambil menyerahkan dokumen dari tasnya kepada Daren.


"Remon mintak maaf bang, karena sudah lancang membacanya. kak, Remon mintak maaf ya. tidak seharusnya dokumen perjanjian itu Remon baca." ungkapnya.


Daren berdiri dan berjalan menuju arah pintu, dan keluar sambil membawa surat perjanjian pranikah yang diberikan oleh Remon.


"Remon. kamu terlalu lancang mengurus pribadi hidup orang. kenapa baru sekarang kau serahkan?" pernyataan dan pertanyaan Gopas membuat Remon tertunduk.


"Ngak apa-apa pak Gopas, cepat atau lambat pasti akan terungkap akan perjanjian itu. Remon ngak salah. namanya kejadian, jika rumah Daren tidak dijarah orang, pasti lah dokumen itu tidak akan di baca olehnya. sedikit banyaknya saya sudah tahu sikap Remon, dia tidak panjang tangan, sopan dan jenius. Remon angkat dagu Mu. apapun yang terjadi dengan pernikahan Ku dengan Abang mu itu, kamu harus tetap memanggilKu kakak. paham.! seketika itu wajahnya langsung ceria kembali.


"terimakasih Kak." ucapnya sambil tersenyum.


"nah itu dong, baru Remon yang kakak kenal."


Gopas pun berusaha untuk tersenyum walaupun sedikit dipaksakan. Gopas kemudian mengelus pundaknya.

__ADS_1


"Remon. hanya kamu yang berani memanggilku dengan sebutan kakak, kamu itu garang. ngak cocok dengan wajah manyun ngak jelas kyak gitu."


Senyuman Remon sudah terlihat ikhlas, mungkin rasa sakitNya tidak separah Daren. karena saat kejadian kelam kedua orangtuanya, Remon baru berumur 10 tahun. berbeda dengan Daren Suamiku, sudah dewasa saat almarhum Papanya meninggal dengan cara tragis.


__ADS_2