
Tanpa terasa kami menikmati liburan di kampung kelahiran ibu mertuaku selama sepekan, pengalaman yang berharga yang tidak bisa ku lupakan. disinilah kami merajut kembali cinta kami yang sempat kandas.
Kebun dan sawah sudah di beli oleh keluarga Agus, dan seluruh hasil penjualan tersebut untuk ibu mertuaku. setelah sebagian di sumbangkan untuk membangun masjid dan juga klinik di desa ini yang di bantu oleh kami berdua.
Kami bertiga akhirnya kembali ke Jakarta, dengan mengendarai mobil sewaan. kami bertiga berangkat yang diantarkan oleh warga.
Jujur warga desa sangat ramah dan pemandangan desa yang luar biasa menambah kesan tersendiri yang tersimpan di hati. desa Asri dan warga ramah, bersama Suamiku mas Daren serta mertuaku yang membuat liburan ini sangat bermakna.
Kami bertiga sudah berada di dalam pesawat, menuju Jakarta, dan tanpa terasa kami sudah sampai di bandara Jakarta yang disambut oleh Remon dan istrinya yaitu Tyas Adikku.
"selamat datang kembali." ujar Remon sambil memeluk Suamiku dan kemudian mertuaku.
"Remon, maafin bude ya karena tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian berdua." ujar mertuaku kepada Remon.
"ngak apa-apa bude, lagian Remon dan istriku ini paham benar akan keadaan bude." jelas Remon dengan nada yang tegas.
Ada perubahan signifikan, Remon terlihat jauh dewasa. kira-kira apa ya dilakukan oleh Tyas terhadapnya.
Kami akhirnya naik mobil yang dikendarai oleh salah satu pengawal, dan terlihat Remon dan Tyas sangat bahagia akan kedatangan kami kembali.
"Remon, apa yang dilakukan oleh istrimu terhadap mu?" Tanyaku Kepada Remon dan terlihat Tyas tersenyum malu.
"banyak kak, Remon di ajari banyak hal terutama uhmmm itu kak." ungkapnya.
hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha
Kami semua tertawa lepas, tapi Tyas hanya tersenyum malu-malu menanggapi perkataan dari Remon.
"oh ya, bawa apa dari kampung?" tanya Tyas yang tiba-tiba bertanya.
"ngak banyak, hanya bubuk kopi dan bibit sayuran. untuk ibu tanam di belakang rumah nanti." jawab mertuaku.
"loh.... pekarangan Bude kan ngak luas, dibelakang rumah bude hanya tempat jemuran dan gudang. mangnya bude mau bongkar gudang itu?" sanggahan Remon.
__ADS_1
"ngak dong, ibu akan tinggal bersama kami dan bercocok tanam di belakang rumah." jawabku kepada Remon.
"syukurlah kalau ibu mau tinggal sama kakak dan Abang ya, karena Tyas dan AA Remon akan tinggal di rumah mertua." ungkap Tyas seraya tersenyum.
Tanpa terasa kami sudah sampai di rumah, sementara Tyas dan Remon langsung bertolak pulang.
Ibu mertuaku langsung masuk ke kamar untuk istirahat demikian dengan kami berdua. saat masuk kamar, mas Daren terlihat terkejut dan kagum dengan keadaan kamar yang baru.
"sayang, ranjang mas dimana?" tanya Daren ketika melihat ranjang nya sudah tidak ada lagi.
"neng ngak mau pisah ranjang lagi." jawab Ku.
Mas Daren langsung menggendong tubuhku ke atas ranjang yang baru tersebut, lebih lebih lebar dan tentunya lebih empuk lagi. perlahan mas Daren merebahkan tubuhku diatas ranjang baru ini
"sayang, kita uji coba yuk ranjang baru kita!" ujar mas Daren.
Hanya mengedipkan mata untuk memberikan persetujuan. dan mas Daren memulai aksinya dengan membuka pakaiannya berikut dengan pakaianku.
Hanya beberapa menit, batang besar MilikNya langsung tegak sempurna. dan perlahan masuk ke dalam lubang ku.
Pagi-pagi sekali aroma parfum mas Daren membangunkan tidurku, dengan mengenakan celana pendek dan Koas oblong. mas Daren mencium keningku.
Karena ciuman itu dan aroma parfum mas Daren, kami kembali bergelut di pagi hari ini, pagi yang indah bersama suamiku tercinta.
Setelah mencapai kenikmatan bersama, kami berdua mandi bersama lagi. dan kemudian bersiap untuk berangkat kerja. sebelum kerja kami turun kebawah untuk sarapan, dan ibu mertuaku sudah menunggu kami sarapan. mas Daren duduk di kursi biasa, kursi untuk kepala keluarga dan Mpok Sri menyiapkan makanan kami sambil tersenyum.
"Akhirnya Mpok bisa melihat kebahagiaan neng dan pak Dokter, selamat datang kembali di rumah ini. semoga menjadi keluarga yang sakinah dan mawadah." ujar Mpok Sri sambil melirik kami berdua.
"Amin...... " jawab kami serentak.
Mpok Sri memberitahu kalau peralatan untuk bercocok tanam sudah dibelinya dan terlihat ibu mertuaku sangat bahagia mendengar penjelasan dari Mpok Sri.
"Ma... nanti tolong tanam juga biji daun bintang itu." pinta mas Daren.
__ADS_1
Ibu mertuaku menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya, setelah selesai sarapan kami berangkat kerja bersama.
Kami berdua langsung menuju departemennya mas Daren, dan Profesor Azma dan tim-nya sudah menunggu kedatangan kami, berikut juga dengan ibu Tiodor dan ibu Lasma.
"selamat datang kembali Dokter Daren." ucap Profesor Azma, demikian juga dengan ibu Tiodor dan ibu lasma.
Kemudian Mereka bertiga dengan kompak mengoyak surat pengunduran diri dari mas Daren, atas kelakuan ketika sahabat Almarhumah Mama tersenyum kami semua yang ada disini hanya tertawa.
"bawa apa dari kampung Dokter Daren?" tanya Profesor Azma kepada Mas Daren.
"tentu ada dong Prof, nah ini dia oleh-olehnya." ujar mas Daren sambil menunjukkan botol yang berisi cairan warna hijau.
Dan cairan itu adalah getah daun bintang dari kampung kelahiran ibu mertuaku, dan tentunya hal itu membuat yang ada disini heran dengan hadiah dari mas Daren.
"apa ini nak Daren?" tanya Profesor Azma yang penasaran.
"jadi begini Prof, saat di kampung itu ada pasien Ku yang betisnya sobek saat berburu di hutan, dan pertolongan pertama yang dilakukan oleh rekannya adalah menempel daun yang sudah di remas ke luka tersebut.
Luka berhenti mengeluarkan darah, dan terlihat area luka mengering. setelah lukanya ku bersihkan dan Aku jahit, kemudian luka bekas jahitan ku tempelkan kembali daun yang sama yang dibawanya dari hutan.
Setelah menyuntikkan anti tetanus terhadap pasien dan memberikannya Infus untuk menambah nutrisi. setelah infus habis ku buka kembali daun-daun yang menempel dan luka bekas jahitan sudah mengering.
Dan hebatnya lagi, hanya delapan jam setelah ku jahit lukanya, dan bekas jahitan itu sudah kering dan sudah sembuh. ajaib kan prof?
Jadi Ku bawa lah sampelnya untuk di teliti, siapa tahu saja ada penemuan terbaru dari daun ini." jelas mas Daren dengan semangatnya.
"uhmm..... patut di uji, Dokter Lina. tolong teliti sampel ini." perintah Profesor Azma kepada salah satu Dokter asistennya.
Dokter asisten tersebut langsung berlalu bersama Tim-nya dan tinggal kami disini. Profesor Azma terlihat mengagumi mas Daren.
"Nak, jika seandainya daun itu mujarab. apa kita kita harus mengambil sampelnya lagi ke kampung halaman Mama Dokter Daren?" tanya Profesor Azma.
"oh tenang Prof, Daren sudah membawa biji serta bibitnya untuk di tanam di belakang rumah." jawab mas Daren dengan tegas.
__ADS_1
Antara kagum dan kangen begitu keadaan sekarang dan kami akan lanjutkan untuk ngobrol di ruangan Profesor Azma.